Senin, 26 Januari 2015

My Destiny

Main cast: Park Chanyeol| Wu Yifan| Huan Jiu
Genre: Romance Saeguk
Length: ONE SHOOT


~ My Destiny~
PRANKK!! Tiba-tiba suara pedang beradu dengan pedang terdengar nyaring diatas bukit. Chanyeol diserang oleh para perampok. Mereka mencabut pedangnya dan memberi perlawanan pada Chanyeol dan satu pengawalnya. Sesekali pedang perampok hampir mengenai leher Chanyeol namun namja itu berhasil menepisnya.
BRRAK!! Pengawal Chanyeol terhempas ke tanah dan tak sadarkan diri.
“Dong Woo-ya!” seru Chanyeol.
BLAP!! Tiba-tiba tubuh Chanyeol terhempas ke tanah dan pedangnya terlepas dari genggaman tangan. Seorang perampok mengarahkan mata pedangnya ke arah leher namja itu.
“Hiya! Jauhkan pedang itu dari tuan muda!” seru seorang yeoja yang tiba-tiba muncul dari balik tubuh perampok.
BASHHTT!! Yeoja berambut hitam panjang itu memberi pukulan keras menggunakan rangka pedangnya kearah perampok hingga perampok itu terjatuh ke samping tubuh Chanyeol.
“Jiu-ya…!” ucap Chanyeol yang membelalakan mata sambil memegangi dadanya yang terasa sakit.
“Haaa!!” seru dua perampok lain yang melompat kearah Jiu.
PRRNKK!! Jiu menahan serangan itu dengan pedangnya. Namun satu dari dua perampok itu tiba-tiba menyerang dari arah belakang Jiu. Jiu pun menengok ke belakang, sebilah pedang mengayun di depan matanya.
BLAP! Tiba-tiba seseorang datang dan menghela pedang yang mengayun kearah Jiu.
“Yifan-ssi...” celetuk Jiu yang memandangi sosok berpakaian hitam dengan rambut gondrong yang diikat.
“Gwenchanayo Jiu-ya?” tanya Yifan yang melihat kearah Jiu. Para perampok itu pun berhasil di lumpuhkan oleh Wu Yifan.
“Nde,” jawab Jiu yang menatap Yifan sekilas.
“Ah! Tuan muda! Gwenchanayo?” ucap Jiu yang seketika menghambur kearah Chanyeol yang masih terduduk di atas tanah sambil memegangi dadanya.
KRRSSKK!! KRRSSHHHK!! Namun tiba-tiba beberapa batu besar  jatuh dari atas gunung. Huan Jiu pun berlari kearah Chanyeol.
“Tuan muda!!!” seru Jiu yang seraya meraih tubuh Chanyeol.
BRPP!! Jiu menyambar tubuh Chanyeol untuk menyelamatkannya.
“Argh…” keluh Jiu yang tertimpa tubuh Chanyeol.
“Jiu-ya…!” celetuk Yifan yang menghambur untuk memastikan keadaan Jiu.
“Jiu-ya…gwenchanayo??” tanya Chanyeol yang menepuk-nepuk wajah Jiu. Yeoja itu pun tiba-tiba tersenyum pada Chanyeol.
“Mianhae, Apa kau baik-baik saja tuan muda? Syukurlah…” ucap Jiu yang kemudian tak sadarkan diri karena sebelah lengannya sempat terbentur batu ketika menyelamatkan Chanyeol. Huan Jiu adalah pengawal pribadi Chanyeol yang dipilih karena kemampuannya.
“Jiu-ya!!” seru Yifan yang mengkhawatirkan keadaan Jiu.
“Hyung-ah! kita harus membawanya ke tabib!” ucap Chanyeol pada Yifan yang telah dianggapnya kakak sendiri. Karena sejak berusia lima belas tahun, Yifan telah diutus tuan Park untuk menjaga putranya, Chanyeol.
----SKIP---
-di rumah-
“Ahjuma! Panggilkan tabib! Cepat!” seru Chanyeol, dilihatnya yeoja yang ia baringkan tampak semakin pucat dan mengeluarkan keringat dingin.
“Tuan muda, ini tak apa-apa…” celetuk lirih Jiu yang terbaring. Sedangkan Chanyeol dengan perasaan gugup berlari untuk mengambil kain dan air hangat.
“Anniya…kau sakit Jiu-ya,” ucap Yifan yang juga gugup dan mencoba memeriksa keadaan Huan Jiu.
“Hhhhsh! Hhhhshh!” nafas Jiu terengah dan menyembul di udara. Dahinya mengernyit menahan sakit pada lengannya.
“Andweyo Yifan-ssi..” ucap Jiu yang menggeleng dan menahan tangan Yifan yang akan merobek sebelah pakaiannya.
KKRRRAKK!! Namun Yifan pun tetap merobek lengan pakaian Jiu dan melihat luka memar yang sangat parah di lengan yeoja itu.
“Hiya! Hyung-ah! apa yang kau lakukan!” seru Chanyeol yang seketika menghambur ke dalam kamar dan melihat sebelah lengan pakaian Jiu di robek oleh Yifan.
CRRR!! Chanyeol memeras kain yang dicelupkan pada air hangat lalu membasuh luka itu.
“Arrghh…” keluh Jiu.
“Jiu-ya… tahanlah sebentar.” Ucap Chanyeol. Wu Yifan pun hanya memandangi Chanyeol yang dengan wajah khawatirnya terus membasuh luka Jiu. Perlahan, Yifan memilih untuk meninggalkan kamar itu.
“Kuharap kau baik-baik saja Jiu-ya,” batin Yifan yang kemudian beringsut dari dalam kamar. Bersamaan dengan itu pula tabib yang di panggil ahjuma pun tiba.
------------------------------------------------
Yifan berjalan menuju beranda rumah. Ia berniat menulis surat untuk ayah dan ibu Chanyeol yang tengah berada di Cina jika putra mereka baik-baik saja.
“Yifan-ssi…bagaimana keadaan Chanyeol?” tanya Sunhee yang tiba-tiba muncul dihadapan Yifan.
“Dia baik-baik saja, gereom, sebaiknya kau pulanglah!” ucap Yifan yang menghadang jalan Sunhee.
“Waeyo??!” seru Sunhee yang ingin menemui Chanyeol.
“Dia tak ingin diganggu olehmu, Sunhee-ya..” ucap Yifan.
“Hiya!! Apa maksudmu! Aku tunangannya! Arraseo!” seru Sunhee yang menerobos masuk, namun Yifan menahannya lagi dengan mencengkeram lengan Sunhee.
“Argh! Sakit…” keluh Sunhee.
“Kumohon, jangan temui dia sekarang,” ucap Yifan.
“Geureyo!!” Sunhee pun menghela nafas dan berbalik keluar rumah dengan perasaan marahnya.
~ My Destiny~
Tepat tengah malam, Jiu yang terbaring mengerjap-erjapkan matanya. Di lihatnya seorang namja yang duduk menunduk di samping tubuhnya. Ia pun menyentuh tangan Chanyeol. Seketika itu Chanyeol terbangun.
“Ah! Jiu-ya! Apa kau kesakitan lagi?” tanya Chanyeol yang tiba-tiba terbangun.
“Anniya. Gereomyo, aku hanya ingin mengucapkan terimakasih padamu, tuan muda,” ucap Jiu.
“Apa yang kau bicarakan Jiu-ya, kau sudah seperti adikku sendiri,” ucap Chanyeol.
“Jinjjayo?” tanya Jiu.
“Nde, bahkan kau bisa memanggilku oppa,” jawab Chanyeol. Jiu pun tersenyum pada Chanyeol. rintik hujan mulai turun malam itu.
HHSSSHH!!! Tiba-tiba angin berhembus kencang dari celah pintu dan jendela. Seketika beberapa lilin dalam ruangan itu pun padam. Ruangan tampak begitu gelap.
“Argh!! Apa yang terjadi dengan lilinnya!!” seru Chanyeol yang ketakutan ketika lilin-lilin dalam kamar itu tiba-tiba padam. Jiu pun bangun dan merangkak kearah lilin. Perlahan tangannya meraih pemantik api yang berada didekat lilin.
“Tuan muda? gwenchanayo?” tanya Jiu yang mendapati Chanyeol duduk menekuk lutut dan menunduk memegangi kepalanya. Perlahan, cahaya lilin yang Jiu bawa mengerjap-erjap terang.
“Hhhhsshh! Hhhssshh!” terdengar nafas Chanyeol begitu terengah. Jantungnya akan berdegub kencang ketika ia berada dalam gelap.
“Oppa….” celetuk Jiu yang menyeka keringat dingin yang menyembul pada dahi Chanyeol. Perlahan, Chanyeol mengangkat wajahnya. Dipandangnya wajah Jiu yang diterangi cahaya lilin. Sebelah tangan yeoja itu masih terus menyeka keringat pada dahi Chanyeol tanpa menghiraukan Chanyeol yang terus menatap wajahnya dan menatap luka di sebelah lengannya. Perlahan dan hati-hati, Chanyeol meraih bahu Jiu dan memeluknya.
“Gomawo Jiu-ya, gomawoyo…” celetuk Chanyeol.
GRPP! Suara pintu di geser pun tersamarkan oleh suara hujan yang mulai deras di luar rumah. Chanyeol dan Jiu tak menyadari kehadiran Yifan. Yifan datang karena mendengar jeritan Chanyeol dan bergegas memeriksa keadaan tuan mudanya itu. Namun, seketika Yifan mengurungkan niatnya dan menutup kembali pintu itu.
~ My Destiny~
Pagi menjelang, Chanyeol tampak duduk di beranda rumahnya.
“Eodiga-neunkeoya? (kau ingin kemana)” tanya Chanyeol yang melihat  Jiu bergegas keluar rumah.
“Chanyeol-ssi….” celetuk Jiu yang seketika menghentikan langkahnya dan menengok ke belakang.
“Apa kau pikir lukamu itu sudah sembuh, huh?” ucap Chanyeol.
“Ini sudah tak apa-apa, tuan muda. Anneyongigyeseo,” jawab Jiu yang kemudian memberi salam dan pergi meninggalkan Chanyeol.
“Jiu..-ssi..” celetuk Chanyeol terbata, tangannya hendak melambai namun ia mengurungkan niat itu. Jiu berjalan pasti tanpa menengok ke belakang lagi. Chanyeol terus memandanginya hingga punggung yeoja itu menghilang di tikungan jalan.
“Bagaimana jika seseorang mengajaknya bertarung?” batin Chanyeol. seketika ia pun melangkahkan kaki dan menunggangi kudanya untuk mengikuti Jiu.
---SKIP----
Pasar tampak lebih ramai dibanding hari biasanya. Yeoja itu pun terus berjalan mengikuti langkah kakinya. Ia hanya ingin menanyakan keadaan Dong Woo yang sudah dianggapnya seperti paman sendiri. Kebetulan istri Dong Woo memiliki kedai kecil di pasar itu.
BRAKKK!! Tiba-tiba seorang yeoja bersama pembantunya menabrak Jiu. Jiu pun terjatuh dan memegangi lengannya.
“Jiu-ssi…” celetuk Chanyeol yang hendak beringsut menolong Jiu. Namun langkahnya terhenti. Dipandangnya lagi yeoja yang menabrak Jiu.
“Lee Sunhee?” batin Chanyeol.
 “Joseonghamnida aggashi! Joseonghaeyo (maafkan saya),” ucap pembantu Sunhee yang hendak membantu Jiu berdiri.
“Tak perlu! Ahjumma!!” seru Sunhee pada pembantunya. Yeoja bangsawan itu hanya memandang Jiu dengan sebelah matanya.
“Gwenchana, ahjumma,” ucap Jiu yang tersenyum dan berusaha berdiri sendiri.
BLAP! BLAP! BLAP! Tiba-tiba terdengar beberapa langkah kaki yang berlari kearah Jiu yang masih mencoba untuk berdiri.
BRAKK!! Seorang anak lelaki pun terjatuh tepat di depan Jiu.
“Hiya! Gwenchana??” ucap Jiu yang meraih anak itu. terlihat olehnya jika anak lelaki itu ketakutan. Beberapa pria dewasa yang mengejarnya pun tiba di hadapan mata.
“Ahjussi, joseonghaeyo…aku berjanji akan melunasi hutang ayahku, namun tolong lepaskan aku,” ucap anak itu seraya menangis.
“Apa kau yakin akan melunasinya, huh!!” seru pria itu dan seraya mengayun tongkat kearah anak lelaki tersebut. Seketika Jiu bangkit dan menepis sabetan tongkat.
GLAKK!! Tongkat itu pun terjatuh.
 “Tak perlu kau ikut campur urusan kami, nona!!”
“Cuh! Kalian para renternir tak tahu diri! Arraseo!!” seru Jiu yang meludah pada pria dihadapannya. Para warga di pasar pun terkejut akan keberanian Jiu yang melawan renternir kejam. Sunhee dan pembantunya juga menyingkir dan memandangi Huan Jiu yang menantang renternir itu.
SRRNNKK!!! Beberapa pria yang lain mencabut pedangnya.
BLAP!! Jiu menjatuhkan pria dihadapannya dan meraih pedangnya.
PRRNKK!! Tiga pria lain dengan pedang pun merangsek maju melawan Jiu. Terjadi pertarungan pedang di sana. Chanyeol masih berdiri memandangi Jiu. Ia merasa kagum dengan kemampuan yang dimiliki oleh yeoja itu.
GLAK!! Satu diantara tiga pria itu pun berhasil dilumpuhkan oleh Jiu. Anak lelaki dan para warga pun terkejut ketika salah satu kaki tangan renternir terjatuh di tanah.
PRNNKK!! Suara pedang beradu dengan pedang pun terus terdengar. Jiu masih mencoba melawan dua petarung sekaligus.
SSRKK!! Lengan Jiu yang terluka pun tergores pedang.
“Arghh!” keluh Jiu, darah merembes pada pakaiannya. Yeoja itu memegangi lengannya yang terluka. Salah satu pria itu kembali hendak menghunguskan pedangnya pada Jiu.
“Jiu-ssi!!” seru Chanyeol yang seketika beringsut hendak menolong yeoja itu.
GLAKK!! Tiba-tiba seseorang berpakaian hitam melompat dan memberi tendangan pada punggung salah satu pria itu hingga terjatuh. Chanyeol pun menghentikan langkah kakinya.
BRRPP!! Sosok itu juga memberi pukulan pada pria yang lain hingga tersungkur merasakan sakit.
SRRNNKK!!! Sebilah pedang dikeluarkan dari rangkanya dan diarahkan pada leher renternir tadi.
“Jangan bunuh aku, jebalyo.. aku akan menganggap lunas hutang anak itu,” ucap renternir pada sosok yang hendak menyayat lehernya.
“Geureyo… jika kau masih mengejar anak itu, tamatlah riwayatmu!” ucap sosok itu.
“Nde, kau bisa memegang janjiku, tuan,” ucap renternir itu dan kemudian melarikan diri bersama anak buahnya.
“Yifan-ssi….” celetuk Jiu. Tatapan matanya memandang kedalam mata Wu Yifan.
“Jiu-ya, gwenchana….?,” ucap Yifan yang berjalan menghampiri Jiu. Namun seketika langkahnya kembali terhenti. Seseorang dengan kudanya datang menghampiri Huan Jiu.
“Jiu-ya! gwenchana? Hiya! Kau berdarah!” seru Chanyeol yang seraya datang dan meraih tubuh Jiu yang terluka. Chanyeol pun meraih bahu Jiu dan hendak membawanya pulang. Jiu menengok ke belakang dan memandangi Yifan yang masih memandanginya juga.
“Oppa!! apa yang kau lakukan padanya!!” celetuk Sunhee yang merasa kesal dan memilih pulang bersama pembantunya.
---SKIP—
Tiba dirumah, Chanyeol bergegas mengambil kain dan ramuan obat untuk Jiu.
“Untunglah tak terlalu dalam,” gumam Chanyeol sembari mengobati luka di lengan Jiu. Yeoja itu tampak melamun memandang kearah luar rumah.
“Chanyeol-ssi… gomawoyo..” ucap Jiu yang beralih memandang Chanyeol. Perlahan, Chanyeol meraih bahu Jiu dan memeluknya.
“Chanyeol-ssi….” celetuk Jiu yang bingung. Namun namja itu diam dan hanya terus memeluk. Kedua tangan Jiu pun perlahan menyentuh belakang tubuh Chanyeol.
“Jiu-ya…jangan membuatku selalu mengkhawatirkanmu,” celetuk Chanyeol.
“Tuan muda…” ucap Jiu.
“Sangsini joayo (aku menyukaimu)… Jiu-ya.” Ucap Chanyeol.
“Mwo?” tanya Jiu.
“Bukankah ini yang kau harapkan dariku selama ini?” ucap Chanyeol. Jiu pun terkejut karena ternyata Chanyeol mengetahui perasaannya selama ini. Tiba-tiba sudut matanya melihat seseorang tengah memandangnya dari luar rumah.
“Chakaman!” celetuk Jiu yang seketika melepaskan pelukan Chanyeol dan beringsut keluar rumah. Matanya mengedar pandang dan mencari sosok itu. Ia pun berlari kearah pekarangan belakang yang terdapat sebuah kolam teratai disana.
“Hhsshh! Hhhhshh!!” Jiu terengah mengejar sosok itu.
“Yifan-ssi!” seru Jiu. namja tinggi itu pun menghentikan langkahnya. Tubuhnya membelakangi Jiu yang memanggilnya.
“Cukup! Kumohon padamu untuk tidak mencampuri kehidupanku lagi. Jangan pernah menyelamatkanku lagi, jangan pernah mengamatiku lagi, jangan pernah menatapku lagi. Karena itu mungkin akan membuatku merasa bersalah padamu, Jebalyo,” ujar Jiu. Yifan pun hanya diam dan menggenggam erat lengan pedangnya. Wajahnya hanya menengok sedikit ke belakang.
“Jiu-ya!!” seru Chanyeol yang tiba-tiba datang menghampiri. Sekilas, sorotan mata Chanyeol sempat bertemu dengan tatapan mata Yifan yang terlihat sendu. Namun setelah itu, Chanyeol mengajak Jiu untuk masuk ke dalam rumah karena ia khawatir dengan luka di lengan Jiu.
“Jiu-ya… jangan seperti ini padaku. Kau wanita kedua yang aku sayangi setelah Ibuku,” gumam Yifan yang memandangi Jiu pergi bersama Chanyeol. Angin lembut menyembul dari balik tubuh Yifan dan mengeringkan sudut matanya yang sedikit basah. Permukaan air yang ditumbuhi teratai juga membentuk gelombang kecil akibat hembusan angin itu.
~ My Destiny~
-Malam ke tujuh bulan mei-
Malam begitu tenang. Cahaya bulan menerawang di antara celah awan yang berarak ke barat. Luka di lengan Huan Jiu telah lama mengering. Yeoja itu duduk di atas pagar rumah untuk menyaksikan gerhana bulan yang akan terjadi menurut cenayang yang ia temui sebulan lalu.
“Siapkan hatimu untuk malam ke tujuh bulan mei,” ucap Cenanyang pada Jiu kala itu.
“Chakaman! Apa artinya itu?” batin Jiu yang mengingat-ingat kembali perkataan cenayang padanya. Tiba-tiba sudut mata Jiu melihat sosok Chanyeol yang berjalan kearah pekarangan rumah, tempat Jiu menyaksikan gerhana bulan.
“Chanyeol-ssi…” batin Jiu yang mengembangkan senyuman dibibir. Namun tiba-tiba langkah kaki Chanyeol terhenti, seseorang menghambur seraya memeluk tubuh namja bangsawan itu.
“Oppa..!! kau tahu! apa kabar yang kudapatkan dari cina?” celetuk Sunhee pada Chanyeol.
“Mwoya?” tanya Chanyeol yang tidak menyadari jika Jiu berada di atas pagar rumah mengamatinya.
“Tiga hari lagi kedua orang tuamu pulang dari cina,” jawab Sunhee.
“Jinjjayo?!” seru Chanyeol yang melompat senang hingga tak sadar memeluk Sunhee.
“Dan sepulang mereka dari cina, kita akan menikah, Oppa!” seru Sunhee yang mengguncang tubuh Chanyeol karena gembira.
“Hiya! Apa maksudmu?” sergah Chanyeol yang seketika melepaskan pelukannya pada Sunhee.
“Oppa…. aku sudah menyiapkan semuanya. Tiga hari lagi kita akan menikah,” ucap Sunhee yang menyandarkan kepalanya pada lengan Chanyeol.
“Hiya!! Aku tak mengerti!” seru Chanyeol.
BRRAKK!! Tiba-tiba Jiu melompat dari atas pagar, namun kakinya yang seketika lemah pun tak mampu menopang tubuhnya, sehingga ia terjatuh. Ia melompat kearah luar rumah.
“Arghh..” keluh Jiu. Chanyeol dan Sunhee menyadari seseorang terjatuh dari atas pagar itu.
“Nuguya!” seru Sunhee.
“Jiu-ya… Huan Jiu…” gumam Chanyeol yang seketika menghambur keluar rumah melalui gerbang.
“Andweyo…andwe….” Gumam Jiu yang berusaha berlari sekuat mungkin. Namun di belakangnya, Chanyeol telah mengejar.
“Jiu-ya! Huan Jiu! apa kau mendengar semuanya?! Semua itu tak seperti yang kau dengar! Hiya! Huan Jiu!” seru Chanyeol yang berusaha mengejar Jiu.  Namun seketika seekor kuda melintas.
HUG!! Seseorang yang menunggang kuda meraih tubuh Huan Jiu. Ia pun di bawa pergi oleh orang itu. hembusan angin menerpa rambut panjang Jiu. Yeoja itu memandangi namja yang membawanya pergi.
“Jiu-ya! Huan jiu!” seru Chanyeol yang menghentikan larinya.
“Hhhhss! Hhhhhss! Apakah itu Yifan hyung?” batin Chanyeol yang nafasnya tampak terengah.
--SKIP--
Bulan di langit mulai tertutup benda asing. Bahkan sesekali beberapa awan masih melintas dan menghalangi sinarnya yang tak sempurna lagi. Hembusan angin kecil menerpa helaian rambut Huan Jiu yang duduk dengan menekuk lututnya.
Blup!
Blup!
Begitu suara batuan kecil yang di lemparkan ke tengah sungai yang berarus tenang. Hanya ombak kecil yang tercipta karena angin. Hanya beberapa helai daun yang jatuh terapung karena angin. Hanya beberapa kebisingan ringan yang terdengar karena serangga. Dan semua terasa begitu hening.
GRGKK!! Wu Yifan turun dari kuda cokelatnya. Sudah berjam-jam lamanya ia hanya memandangi yeoja yang terus melempar beberapa batu kecil ke arah sungai. Hingga akhirnya ia pun beringsut menghampirinya.
“Sudah berapa batu yang kau lempar ke sungai?” Tanya Yifan yang kemudian duduk di samping Jiu.
“Dia akan takut jika kegelapan melingkupinya,” ucap Jiu yang memandang bulan yang mulai gelap. Ia teringat akan phobia yang diderita Chanyeol. Chanyeol sangat takut akan gelap.
“Jiu-ya…lihatlah aku…” gumam Yifan yang memandangi Jiu dari samping.
“Yifan-ssi, kenapa kau begitu baik padaku? Waeyo?” ucap Jiu. terlihat jika setetas air keluar dari sudut mata Jiu.
“Jiu-ya…saranghae..” Batin Yifan. Kedua tangan namja itu pun merengkuh tubuh Jiu lalu memeluknya. Jiu hanya diam tanpa membalas pelukan itu.
“Apa kau ingin aku membawamu pergi, Jiu-ya?” tanya Yifan.
“Apa maksudmu?” ucap Jiu.
“Aku sudah menemukan keberadaan ibuku. Dia adalah saudagar di cina, kita bisa memulai semuanya dari awal disana,” ucap Yifan.
BRRAKK! Tiba-tiba Jiu melepaskan pelukan Yifan dan mendorong namja itu. Jiu beringsut kesal menyusuri tepian sungai.
WWSSHH!! Tiba-tiba angin berhembus kencang bahkan menggugurkan daun-daun serta mematahkan rantingnya. Seketika langit berubah gelap. Bulan sepenuhnya menghilang dari malam.
BLAPP!! Kaki Jiu tergelincir karena batuan yang licin.
“Jiu-ya!” seru Yifan yang seketika berlari menghampiri Huan Jiu.
BYURR!!! Tubuh Jiu jatuh hingga menyentuh dasar sungai. Gelembung-gelembung udara menyembul bagaikan buih melalui mulutnya. Matanya masih sedikit terbuka, walau hanya melihat gelapnya dasar sungai karena bulan masih tertutup benda asing.
“Mwoya? Apa aku akan mati seperti ini?” batin Jiu yang tubuhnya terasa ringan bagaikan kapas. Rambut panjangnya terurai. Kedua matanya hampir terpejam. Buih-buih yang keluar dari mulutnya perlahan menghilang.
BLup…blup..blup… Tiba-tiba terdengar suara buih yang lain.
HUG! Lengan seseorang meraih tubuh Jiu yang terombang-ambing di gelapnya dasar sungai. Sosok itu mengangkat tubuh Jiu untuk muncul ke permukaan.
BYURR!!! Ia berhasil muncul ke permukaan bersama tubuh Jiu.
“Huan Jiu! jawab aku!” Ucap Yifan yang menepuk-nepuk pipi yeoja itu namun tak ada jawaban. Yifan tak melihat ada gerakan pada dada Jiu, ia pun mendekatkan telinga ke dekat mulut dan hidung yeoja itu untuk merasakan apakah ada hembusan nafas atau tidak. Yifan tidak dapat menemukan nadi Jiu. Namja itu pun  melakukan kompresi (tekanan berulang-ulang) pada dada Jiu dan memberinya nafas buatan.
“Hhhggk!! Hhhhgkk!” tiba-tiba Jiu terbatuk, matanya mulai mengerjap-erjap terbuka.
“Jiu-ya…gwenchana?” tanya Yifan yang sangat mengkhawatirkan Jiu.
“Yifan-ssi… apa aku sudah mati?” celetuk Jiu.
“Anniya! Aku tak akan membiarkanmu mati, Jiu-ya..” ucap Yifan yang kemudian menggendong tubuh Jiu dan membawanya menggunakan kuda. Jiu yang lemas hanya berusaha tetap berpegangan pada tubuh Yifan.
--SKIP—
“Ahjussi! Bantu aku!” seru Yifan pada Dong Woo. Sosok yang sudah dianggap Jiu seperti paman bahkan ayah sendiri, karena yeoja itu adalah yatim piatu sejak usia sepuluh tahun.
“Hiya! Huan Jiu! apa yang terjadi denganmu?” tanya Dong Woo yang membukakan pintu.
“Apa yang terjadi, bukankah Jiu seharusnya tinggal di rumah tuan muda?” tanya Ahjumma.
“Biarkan dia tinggal disini untuk sementara, ahjumma,” ucap Yifan sembari membaringkan tubuh Jiu.
“Geureyo,” ucap ahjumma yang kemudian mengambil pakaian kering untuk mengganti pakaian Jiu yang basah. Yifan pun beringsut meninggalkan Jiu yang bersama ahjumma dalam kamar.
GRPP! Seketika tangan Jiu meraih tangan Yifan.
“Gomawoyo, Yifan-ssi,” celetuk Jiu. Yifan hanya diam dan mengangguk, lalu pergi.
~ My Destiny~

Semua masyarakat joseon mendengar kabar jika putri tunggal menteri Lee akan segera menikah dengan putra diplomat Joseon yang bernama Park Chanyeol. Pernikahan itu akan diselenggarakan dihari kepulangan kedua orang tua Park Chanyeol dari Cina, dan akan dirayakan dengan pelepasan ratusan lampion ke angkasa. Sekejap, suasana kota terasa begitu ramai walau yang akan menikah bukanlah putri raja.
-dua hari kemudian-
Semua persiapan untuk pernikahan telah selesai dilakukan. Seperti rencana, upacara itu akan diselenggarakan di bantaran sungai Han. Semua lapisan masyarakat diperbolehkan menyaksikannya. Lee Sunhee, sang mempelai wanita telah berada di tempat upacara. Ia tengah menunggu kedatangan Park Chanyeol, sang mempelai pria.
“Berapa lama lagi Park Chanyeol akan tiba, tuan?” Tanya ayah Sunhee pada tuan Park, ayah Chanyeol.
“Maafkan putraku tuan, seharusnya ia sudah berada di tempat upacara ini.” Ucap Ibu Chanyeol yang juga telah berada di lokasi upacara.
Tiba-tiba seorang kaki tangan tuan Park menghambur masuk untuk memberi kabar. Semua pandangan mata pun tertuju pada kaki tangan itu.
“Joseonghamnida (maafkan saya), tuan muda menunggang kuda kearah dermaga!” ucap kaki tangan itu. seketika para tamu terkejut tak terkecuali Sunhee yang langsung beringsut menuju dermaga.
--SKIP—
-di dermaga-
“Hhhhssh! Hhhhssh!” Nafas Jiu terengah, ia berlari menuju dermaga dari rumah paman Dong Woo. Ia mendengar kabar jika Wu Yifan akan berangkat ke Cina hari itu.
“Yifan-ssi! eodiga!” seru Jiu yang mengedar pandang mencari sosok Yifan. Beberapa orang yang lalu lalang di hadapan Jiu membuat kepalanya terasa pusing. Jiu akan merasa pusing jika ia berada dalam keramaian.
“Hhhgkk! Hhhhhgk! Yifan-ssi…eodiga…?” ucap lirih Jiu yang mulai menangis dan menundukkan kepala.
“Andweyo…kau tidak boleh pergi seperti ini,” ucap Jiu.
“Jiu-ya…gwenchana?” celetuk sebuah suara yang kemudian mengangkat wajah Huan Jiu. yeoja itu pun memandang sosok tinggi di hadapannya.
“Yifan-ssi!” ucap Jiu yang seketika memeluk tubuh namja itu.
“Jebal… bawa juga aku pergi bersamamu,” ucap Jiu pada Yifan.
“Mwo?” tanya Yifan.
“Aku telah menyadarinya sekarang, kau adalah takdirku.. Oppa..” jawab Jiu.
“Jiu-ya…mianhae, hal yang paling egois yang bisa aku lakukan padamu adalah….” Ucap Yifan yang dengan perlahan merengkuh tengkuk Jiu lalu menciumnya.
Dari jauh, Chanyeol menghentikan laju kudanya yang menuju dermaga. Ia telah menemukan yeoja yang dikejarnya sampai dermaga.
“Jiu-ya..Mianhae..” celetuk Chanyeol. Matanya memandangi Jiu yang mulai menaiki kapal bersama Yifan.
“Aku berharap kita bisa bertemu lagi, Huan Jiu.” ucap Chanyeol yang memutar balik kudanya.
----------------------------THE END-----------------------------------------

Kamis, 22 Januari 2015

SARANGHAE

Tittle: Saranghae
Main cast: Park Chanyeol | Han Sun Hi | Kris Wu
Genre: Romance & Wedding
Type: ONE SHOOT
DON’T BE PLAGIATORS
Kajja!! Jangan jadi siders, beri komentar anda sebagai penghargaan untuk saya.


~SARANGHAE~
Senja menghambur masuk menggeser sang surya. Padang ilalang menyembul diterpa angin dan menampakkan liukan-liukan indah yang gemulai. Aku berdiri sambil memejamkan mata. Merasakan terpaan udara yang bergerak kearahku. Beberapa helai rambutku terkibas ke belakang akibat angin itu. Begitu juga dengan gaun selututku. Beberapa bayangan akan dirinya juga melintas dalam pikiranku. Tiba-tiba tanganku bergerak untuk mendekap tubuhku sendiri. Kurasakan kehangatan itu menyembul dari belakang tubuhku. Sentuhan itu merasuk dan menjalar ke sekujur tubuhku yang tadi merasa dingin. Perasaan ini sungguh menenangkan jiwaku. Aku masih diam untuk menikmatinya. Enggan sebuah celotehan kecil pun merusak semua rasa ini.
“Han Sun Hi-ya…..” celetuk seseorang yang sedari tadi mendekapku dari belakang. Seketika itu mataku terbuka karena seseorang menyebut namaku. Aku pun berbalik.
“Oppa…” ucapku yang menatap dua mata indah namja yang berdiri tepat di hadapanku itu. Kedua matanya tampak bersinar, rambutnya tertata rapi, tubuhnya di balut sweater yang tampak begitu hangat jika dikenakan. Dua sudut bibirnya tersenyum kala memandangiku.
“Hiduplah dengan benar, Sun Hi-ya!” ucapnya.
“Chanyeol Oppa!” celetukku sedikit kesal karena tangannya mengacak rambutku. Namun setelah itu ia menata kembali rambut panjangku yang di acak olehnya. Aku pun tersenyum.
HUG! Aku pun merentangkan tangan dan datang untuk memeluknya erat. Tangan kiriku ku angkat dan kuterawang. Sebuah benda melingkar di salah satu jari tangan itu. Aku kembali tersenyum kala memandanginya sambil memeluk namja yang aku cintai dengan erat. Aku mulai merasa, apa ini mimpi?
------------------------------------------------
Tidak, ini bukan mimpi. Aku mengingat semuanya, ia datang menjemputku, mengajakku ke suatu tempat.
“Aku akan menjemputmu pukul tiga sore ini.” Ucapnya dalam telepon.
“Mwo? Ini sudah pukul 2.55! yang benar saja!” ucapku yang terperanjat ketika melihat jam dinding kamar yang menunjukkan pukul tiga kurang lima menit itu.
“Tak perlu dandan! Cuci muka saja sudah cukup.” Ucapnya lagi dalam telepon.
“Aish! Jinjja!” gumamku dalam telepon hingga aku pun memutuskan panggilan telepon darinya.
Seketika itu aku berjingkat. Ku buka almari bajuku, ku pilah pilah pakaian yang sedikit pantas untuk di kenakan. Aku pun berlarian menuju kamar mandi untuk sekadar mencuci mukaku seperti katanya.
GREMM!! Tiba-tiba sudah terdengar suara mobil berhenti di depan rumahku. Aku berjingkat menuju balkon kamar.
“Aishh!!” gumamku yang melihat namja itu sudah melambai kearahku dan memintaku untuk segera turun. Aku pun berhamburan sambil mengikat rambut panjangku.
GRPP!! Pintu ku buka, bersamaan dengan itu, ia juga membukakan pintu mobil untukku.
“Kajja!” ucapnya sambil tersenyum. Aku pun menurutinya. Aku berlari menuju mobil.
SRRT!! Tiba-tiba ia melepaskan tali rambut yang aku kenakan.
“Ah! mwoya??” ucapku yang terkejut.
“Lebih baik tak usah di ikat.” Ucapnya sambil tersenyum dan menata rambutku. Aku hanya menurut saja padanya dan masuk ke mobil.
Mobil di kemudikan olehnya. Kami telah melalui beberapa jalan menuju suatu tempat yang tak aku ketahui. Selama perjalanan, aku hanya memandangi wajahnya. Alisnya tergores indah di atas kelopak matanya, bulu mata itu juga tampak indah berpadu dengan bola mata yang terlihat sedikit besar/belo, hidung mancungnya menghadap ke bawah dan berpadu dengan bentuk bibir yang sedikit tebal di bagian bawah. Aku pun mulai merasa jika cintaku mungkin lebih besar dari cintanya.
“Ah! waeyo?” tanyanya yang mencuri pandang kearahku ketika seharusnya pandangannya terfokus ke depan jalan.
“Anniyo..” jawabku singkat.
“Saranghaeyo.” Ucapku lagi yang membuatnya tersenyum dan sebelah tangannya meraih tanganku lalu menciumnya.
GREMM!! Mobil berhenti di depan sebuah toko.
“Untuk apa kita ke tempat ini?” tanyaku.
“Kajja!” ucapnya yang kemudian keluar dari mobil untuk membukakan pintu untukku.
“Letnan! anneyonghaseo!” ucap salah satu pegawai toko yang terlihat seumuran dengan ibuku.
“Apa nona ini yang akan mengenakannya, Letnan?” Tanya pegawai itu lagi. Nampaknya pegawai itu sudah cukup mengenal Chanyeol yang berprofesi seorang polisi. Aku mulai curiga, atau jangan-jangan pegawai itu juga tahu jika Chanyeol membawa pistolnya kemanapun ia pergi. Karena senjata itu adalah nyawa bagi seorang polisi, jadi tak sedetikpun ia melalaikannya sekalipun pergi bersamaku.
“Nde…kuharap cocok untuknya, ahjuma!” ucap Chanyeol yang mendorong tubuhku kearah ahjuma.
“Ah.. mwoya?” celetukku yang melihat kearah Chanyeol. Namun namja itu hanya mengangguk padaku dan tersenyum.
Aku di bawa ahjuma ke sebuah ruangan. Di sana terpajang sebuah gaun putih panjang yang terlihat sangat sangat cantik.
“Yeputa………!” gumamku yang seraya menyentuh gaun itu.
“Mari kita coba nona?” ucap ahjuma pegawai toko.
“Mwo? Aku boleh mencobanya?” tanyaku.
“Gaun ini khusus di jahit untuk anda, nona.” Jawab ahjuma itu.
“Dari mana kalian tahu ukuran tubuhku?” tanyaku lagi sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada. Akan tetapi, ahjuma itu hanya tersenyum saja.
-beberapa menit kemudian-
Aku berjalan sedikit kaku menuju ruang depan. Di sana, Chanyeol telah menunggu.
“Letnan! bagaimana?” Tanya ahjuma sambil memegangi belakang tubuhku. Aku pun hanya tersenyum malu dan memperlihatkan sedikit gigiku. Namun Chanyeol tak berekspresi sedikitpun. Matanya memandangiku dari atas hingga bawah, tak berkedip sedikitpun. Setelah itu, ahjuma meninggalkan kami berdua.
“Ahjuma! Eodiga?” ucapku yang melihat kearah ahjuma yang beringsut sambil tersenyum.
“Sun Hi-ya?” celetuk Chanyeol yang ternyata sudah berdiri tepat di hadapanku. Aku pun terperanjat hingga kakiku sedikit mundur namun tangan kanan namja itu meraih pinggulku. Aku pun semakin terkejut dan menatap kedua matanya.
“Menikahlah denganku.” Ucapnya lirih tepat di depan mataku dan menjalar ke telinga.
“Oppa..?” gumamku.
HUG! Tiba-tiba ia memelukku, perlahan aku pun membalas pelukan itu. kurasakan ada sesuatu yang aneh melingkar di jari manisku. Aku pun menerawangnya dari balik tubuh Chanyeol.
“Kapan ia memasangkan cincin cantik ini di jariku?” Batinku yang melihat sebuah cincin berkilau-kilau terpantul cahaya matahari senja yang menyeruak ke dalam ruangan.
---SKIP—
Setelah dari toko gaun penganti itu. Ia mengajakku ke sebuah padang ilalang yang sangat kusukai. Entah sejak kapan, aku mulai terobsesi dengan padang ilalang. Namun sayang, hari itu malam mulai tiba. Hanya beberapa petak ilalang yang dapat terlihat oleh sinar lampu mobil. Bintang-bintang tampak bertaburan seperti kismis yang di tabur di atas roti. Indah sekali.
FFFSHH!! Angin berhembus perlahan kearahku. Aku pun mendekap tubuhku sendiri yang hanya mengenakan dress pendek selutut seperti kebiasaanku setiap hari.
BRP!! Sebuah jaket tiba-tiba tersemat pada tubuhku.
“Apa kau ingin buat aku terpesona padamu seperti di film-film?” celetukku pada Chanyeol yang kemudian memelukku dari samping. Kami menyandarkan tubuh kami pada mobil.
“Anniyo. Jika memang begitu, sepertinya kau sudah berkali-kali terpesona olehku.” Jawabnya yang membuatku sedikit jengkel. Namun ucapannya ada benarnya juga. Jika ingin di hitung, mungkin telah ratusan kali aku terpesona olehnya.
“Seminggu setelah pernikahan, aku akan mengadakan pesta di rumah baru kita.” Ucapnya yang seketika membuatku melihat kearahnya. Banyak rancangan rencana yang telah ia buat jauh-jauh hari. Mulai rumah tempat tinggal bersama hingga investasi untuk pendidikan anak kelak.
“Aku ingin anak pertama kita laki-laki dan anak kedua perempuan.” Ucapnya lagi sambil memandangi dua bintang di langit yang saling berdampingan.
“Waeyo?” tanyaku.
“Aku ingin dia menjaga adik perempuannya kelak.” Jawabnya yang seraya menengok kearahku dan mencium kepalaku. Tanganku pun bergerak kearah belakang tubuhnya untuk merangkul pinggulnya. Ku sandarkan kepala ini di bahu namja yang sangat aku cintai.
--SKIP—
Upacara pernikahan yang membuatku berdegub ketika berjalan di atas altar pun telah kulalui. Banyak kerabat yang memberi ucapan selamat padaku dan suamiku.
“Chukae..” ucap Kris yang tak lain senior suamiku di departemennya.
“Ah, gomawo seonbae! Mianhae, aku mendahuluimu.” Ucap suamiku yang menyambut jabatan tangan Kris, aku pun juga menyambut jabat tangan namja yang pernah menjadi kekasihku. Kami adalah senior dan junior saat di SMA.
“Khamsahamnida, Kris seonbae.” Ucapku, ia pun memandangi kedua mataku beberapa detik. Terjadi situasi canggung ketika itu, hingga Chanyeol pun mencairkan suasana kembali. Suamiku sudah mengetahui semua cerita tentangku dengan seniornya di kepolisian itu. Tak ada alasan baginya untuk marah dan tak menjalin kerjasama dengan Kris. Karena baginya, masa lalu hanyalah masa lalu.
“Seonbae! Datanglah ke rumahku minggu depan. Kami akan mengadakan pesta perayaan di sana.” Ucap Chanyeol.
“Geure. Aku akan sempatkan datang.” Ucap Kris yang melihat kearahku dengan tatapan tajamnya.
Setelah hari pernikahan, kami langsung menempati rumah yang telah di persiapkan oleh Chanyeol untuk keluarga kecil kami.
GRPP!! Pintu rumah di buka oleh Chanyeol. aku langsung menghambur masuk dan mengedar pandang. Semua tampak tertata rapi. Rumah itu terdiri dari dua lantai. Aku pun melangkahkan kaki ke lantai dua. Kulihat sebuah pintu yang kurasa merupakan pintu kamar kami berdua.
GRRP!! Ku buka pintu itu, kurasakan aroma wangi menyeruak ke hidung. Aku yang telah mengganti gaun pengantinku dengan sweater hangat pun merebahkan tubuh ke atas ranjang besar dalam kamar itu. ku tatap beberapa foto yang terpasang di bagian dinding. Foto-foto itu adalah foto-foto kami ketika sebelum menikah. Aku pun tersenyum.
“Chagi-ah? apa kau suka kamar ini?” Ucap suamiku. Ia memandangiku yang terlihat nyaman merasakan lembutnya ranjang besar itu.
“Oppa?” celetukku yang terkejut dan kemudian terduduk di atas ranjang. Aku pun berdiri menghampirinya yang bersandar pada pintu kamar kami.
“Tentu aku suka.” Jawabku.
“Jinjja?” Ucapnya yang kemudian membelai rambutku. Aku pun hanya tersenyum padanya. Seketika ia menyentuh wajahku lalu memberikan ciuman tulusnya padaku.
“Saranghaeyo, neomu saranghaeyo.” Ucapnya padaku.
“Nado….Oppa.” celetukku lirih, aku pun mulai terbuai olehnya.
Keesokan paginya, ponsel suamiku berdering. Aku memeriksa ponsel itu. Ternyata itu panggilan dari atasannya. Aku tak tega membangunkan suamiku yang masih terlelap.
“Segera datang ke TKP.” Ucap suara dalam telepon yang kuangkat.
“Nde, Aku akan segera membangunkan suamiku.” Jawabku.
 “Waeyo?” Tanya suamiku yang ternyata telah terbangun.
“Anniyo.” Ucapku.
“Ah!” ucap suamiku yang melonjak dari ranjang dan bergegas bersih diri. Aku pun menyiapkan kemeja untuknya. Setelah itu ia bergegas berangkat menuju kantornya.
Hari itu aku masih cuti bekerja. Departemenku di sebuah media masa memberiku cuti beberapa hari. Untuk pertama kalinya aku menjalani hari sebagai istri. Ku lakukan beberapa pekerjaan rumah sendiri karena pembantu rumah kami belum kunjung tiba dari daerah asalnya. Butuh waktu yang cukup lama untuknya tiba di kota seoul.
“Jogeyo!” seru sebuah suara di luar rumah. aku pun memeriksanya.
GRRP! Aku membuka pintu itu. kulihat seorang pria membawa sebuah karangan bunga. Ia memintaku untuk menandatangani bukti terima. Ku lihat bunga itu dan kucari-cari nama pengirimnya, namun sama sekali tak kutemui. Bahkan pengantar bunga juga tak mengatakan siapa yang memberikan bunga untukku.
“Chanyeol oppa?” gumamku, aku pun memajang bunga itu di sudut rumah.
Drrrttt ddrrrrtt!! Ponselku berdering. Aku pun beringsut mengambil ponsel itu.
“Ah! Oppa!” ucapku yang mengangkat panggilan telepon dari suamiku.
“Chagi-ah, aku pulang larut malam ini, mianhae..” ucapnya.
“Geure, gwenchana Oppa!” jawabku. Aku pun meletakkan ponsel itu dan beringsut menuju dapur.
Drrtt drrrtt! Ponselku berbunyi lagi.
“Seonbae?” gumamku sebelum mengangkat telepon itu.
Tlulit! Aku pun menerima panggilan itu.
“Yeobseo?” ucapku.
“Sun Hi-ya? Apa bunganya sudah kau terima?” Tanyanya.
“Nde? Bunga?” celetukku yang sedikit bingung.
“Ah, kurasa sudah kau terima. Geure, aku harus bekerja.” Ucap Kris dalam telepon. Namja itu pun mengakhiri panggilan teleponya.
--SKIP---
Malam menjelang. Aku tetap menyiapkan makan malam di atas meja makan. Beberapa lilin kunyalakan. Cahayanya berpendar ke beberapa sudut ruangan itu. Aku duduk di salah satu kursi pada meja makan. Aku mengedar pandang ke setiap sudut rumah. Terasa ada sesuatu yang kurang menurutku pada dekorasi rumah itu. Tak ada foto pernikahanku dengan suamiku, Park Chanyeol. Hanya beberapa foto prawedding yang terpajang di salah satu bagian dinding tersebut. Aku pun menjulurkan tanganku di atas meja, kuletakkan kepalaku di atasnya. Perlahan, aku terpejam diantara lilin-lilin yang mulai meleleh.
Tiba-tiba, kurasakan sebuah tangan membelai kepalaku. Aku masih tetap terpejam, enggan untuk membuka mata ini.
CHU!! Kali ini sesuatu yang lembut menyentuh bibirku. Aku pun seketika terbangun, membuka mata. Ku lihat punggung seorang namja yang bergerak kearah foto praweddingku. Ia menurunkan foto itu, tangannya mengambil sebuah bingkai besar di sisinya lalu memasangnya.
“Apa itu foto pernikahanku?” batinku yang masih setengah tersadar.
“Ah, suamiku sudah pulang.” pikirku yang kemudian beranjak dan memeluknya dari belakang. Ia pun berbalik setelah ku peluk beberapa waktu.
“Sun Hi-ya, saranghae…” ucapnya lirih sambil mendekapku. Di belainya rambut panjang ini. Aku pun terpejam dan merasakan aroma tubuh suamiku.
“Nado…” ucapku dalam pelukan tubuh tingginya. Aku mendongakkan wajahku untuk memandangi wajah suamiku. Seketika dahiku mengernyit.
“Kris Oppa?” celetukku yang mendapati namja yang memelukku adalah Kris.
“Andwe!” seruku yang seketika terperanjat dan melepaskan diri dari pelukannya.
“Sun Hi-ya…?” celetuk Kris.
“Apa maksudmu, Oppa? aku sudah bersuami.” Ucapku. Telunjuk tanganku pun menunjuk foto pernikahan yang terpajang di dinding pada belakang tubuh Kris. Namja itu pun menengok ke belakang.
“Mw-mwo?” ucapku terbata. Kuamati foto pernikahan itu. Mempelai pria dalam foto bukan Park Chanyeol, tapi Kris, namja yang berdiri di hadapanku saat ini.
“Kau memang sudah bersuami, Sun Hi-ya! Dan suamimu adalah aku.” Ucap Kris yang mendekat ke arahku, namun aku semakin melangkahkan kakiku mundur. Enggan di sentuh oleh Kris.
 “Bisakah kau berhenti membayangkan jika aku adalah Park Chanyeol? biarkan dia tenang di sana.” Ucap Kris.
“Andwe!! Andweyo!!” seruku. Aku memegang kepalaku dengan kedua tangan. Tiba-tiba air mata meluluh begitu saja.
“Sun Hi-ya!” seru Kris yang meraih tubuhku dan memeluknya, namun tubuhku berontak.
“Andwe….!!!” Seruku dengan suara yang mulai serak. Pikiranku mulai melayang-layang. Mengingat kejadian demi kejadian yang aku alami. Aku ingat sekarang!
Hari ketika Chanyeol meneleponku mendadak dan memintaku untuk tak berdandan adalah hari terakhirnya. Ia mengatakan akan tiba di rumah dalam lima menit, ketika itu aku bergegas mencuci muka dan berganti pakaian seperti permintaannya. Namun di hari itu, aku bahkan telah menunggunya hingga malam menjelang. Aku duduk di luar rumah menunggu kedatangannya, akan tetapi ia tak kunjung datang.
GREMM!!! Sebuah mobil masuk ke pelataran rumahku. Seseorang dalam mobil itu seketika menghambur kearahku. Ia menarik tanganku dan memasukkanku ke dalam mobil.
“Seonbae! Ada apa, huh? Aku ada janji dengan Chanyeol Oppa!!” seruku. Namun namja bernama Kris itu tidak menghiraukanku. Ia langsung memasang sabuk pengaman untukku dan untuk dirinya. Mobil melaju kencang. Selama perjalanan aku terus bertanya. Apa yang sebenarnya terjadi.
“Turunlah!” ucap Kris yang membukakan pintu untukku. Setelah itu aku langsung di tariknya menuju sebuah gedung tinggi yang bagian dalamnya serba berwarna putih.
“Ada apa sebenarnya?” ucapku sambil berlari karena tanganku di tarik oleh Kris.
“HHsshh hhshhh!!” nafasku terengah. Langkah kaki Kris juga seketika berhenti di depan sebuah ruangan. Mataku pun melihat kedalam ruangan berkaca itu. Perlahan, mataku mulai menangkap sosok yang terbaring dan beberapa tim medis tengah melakukan pertolongan untuknya. Perlahan tanganku melepaskan cengkraman tangan Kris yang tadi menarik tanganku dan mengajakku berlari. Tubuhku beringsut ke muka pintu kaca. Ku raba pintu kaca itu, setitik air pun meluluh dari kedua mataku.
“Dokter! Saluran nafasnya tersumbat!” seru salah seorang dokter muda dalam ruangan itu.
“Hiya! Segera cari sumber penyumbatan! Jika ini terjadi lebih dari empat menit maka otak akan berhenti bekerja!” seru dokter lain. Seorang perawat terlihat terus mengecek elektrokardiogram yang menunjukkan guratan detak jantung kekasihku, Park Chanyeol.
“Dokter! Jantungnya melemah!” seru perawat. Kedua kakiku pun melemah, aku hampir terhuyung jatuh.
“Aku tak bisa melihat sumber sumbatan! Darah yang keluar menutupi objek! Ambil penyedot!” seru dokter.
“Dokter! Jantungnya semakin melemah!” seru perawat. Ketika itu sudah lebih dari empat menit. Sedangkan gagal nafas yang terjadi selama sepuluh menit, maka jantung akan benar-benar berhenti.
Seketika itu bunyi beep panjang terdengar. Segaris hijau terus tampak pada elektrokardiogram. seketika itu pula kakiku tak dapat lagi menopang tubuhku. Kris menghambur untuk memapahku. Dokter dan timnya menunduk kecewa karena mereka terlambat untuk menyelamatkan namja bernama Park Chanyeol yang mendapat beberapa luka tembak pada tubuhnya. Ia mendapat serangan dari komplotan bersenjata ketika hendak datang untuk menjemputku. Komplotan itu adalah agen penjualan senjata illegal yang tengah di selidiki oleh kekasihku, Park Chanyeol.
“Andwe..!! kau berjanji akan menikahiku, Oppa!” ucapku lirih. Kakiku benar-benar lemas. Aku terduduk di depan ruang UGD. Tangisku pun seketika pecah. Tanganku masih meraba-raba pintu itu.
“Andweyo Oppa! andweyo..!” ucapku. Kris pun memelukku, mencoba menenangkan. Namun aku beringsut masuk ke dalam ruangan. Kondisi wajahku sudah kacau, air mata telah berleleran melalui pipi.
“Hiya! Kenapa kalian melepasnya!” Ucapku. Namun para perawat hanya diam saat menatap mataku.
“Sun Hi-ya?” ucap Kris.
“Andwe! Kalian tak boleh melepasnya! Bagaimana kekasihku akan bertahan jika kalian melepaskan alat alat itu. biarkan tetap terpasang!” seruku yang menghalangi perawat melepas alat medis dari tubuh Chanyeol.
“Sun Hi-ya…” ucap Kris yang hendak meraih lenganku, tapi aku menepisnya.
“Andweyo..” celetukku. Aku menghambur kearah tubuh Chanyeol yang terbaring. Ku belai wajahnya yang semakin memucat. Alisnya, matanya, hidungnya, bibir hingga dagu.
“Saranghae, neomu saranghaeyo, Oppa!” ucapku di dekat telinganya. Seketika itu pandangan mataku gelap, aku merasa kacau. Hingga aku pun tak sadarkan diri.
-----------------------------------------------------------------------
Semilir angin tiba-tiba menerpa wajahku. Aroma tanah basah tiba-tiba menyembul di hidungku. Gerimis yang tipis turun di atas padang ilalang senja itu. Beberapa titik airnya mengenai wajahku.  Aku masih terpejam. Tanganku bergerak untuk mendekap tubuhku sendiri yang merasa dingin. Seketika kurasakan kehangatan menyembul dari belakang tubuhku. Sentuhan itu merasuk dan menjalar ke sekujur tubuhku yang tadi merasa dingin. Aku pun berbalik. Ku lihat sosok namja tinggi tersenyum padaku. Ia membelai wajahku. Aku pun melihatnya tersenyum, tampilannya terasa hangat dengan sweater yang membalut tubuhnya. Aku tersadar, dia adalah suamiku. Aku dengan bodohnya selama ini membayangkan jika ia adalah Park Chanyeol, kekasihku yang telah tiada.
“Kris Oppa....” celetukku.
“Aku yakin dia pasti bahagia di alam sana.” Ucapnya lirih yang kemudian membalikkan tubuhku lagi dan memelukku dari belakang. Tangannya melingkar kedepan tubuhku dan menyentuh kedua tanganku yang tengah berpangku. Pandangan mata kami tertuju pada langit senja dengan beberapa goresan mega emas di atas sana.
“Oppa, mianhae, saranghae…” ucapku. Aku telah tersadar jika Kris adalah masa depanku.
“Nado….saranghaeyo.” ucapnya tepat di telingaku.

-------------------THE END---------------------------------------

ECLIPSE (Shoot 2)

Tittle: Eclipse
Main cast: Park Chanyeol | Wu Yifan | Shinae
Genre: Fusion Fantasy Saeguk
Length: Two Shoot
Don’t be siders! Don’t be plagiators!
Mianhae kalo jelek ya….  ;)


~ECLIPSE~
SHOOT 2
“Yang mulia…” ucap Shinae, langkah kaki Wufan sempat terhenti sebentar.
“Hyung-ah, apa kau tak ingin mendengar alasannya?” tanya Chanyeol. Namun langkah Wufan semakin pasti. Beberapa saat kemudian para prajurit utusan istana tiba. Mereka mendengar kabar jika rombongan putra mahkota diserang oleh kawanan ninja.
“Yang mulia putra mahkota!” seru Chanyeol lagi, Shinae pun meraih lengan Chanyeol agar namja itu tak mengejar hyungnya.
“Shinae-ya! Lepaskan!” seru Chanyeol.
“Andweyo, andwe!” ucap Shinae. Yeoja itu pun kembali terduduk di atas tanah yang basah dan memegangi kaki Chanyeol. Pakaian baru yang ia kenakan tampak lusuh, basah dan kotor. Rambut panjangnya pun tak seperti tatanan ketika tadi. Air mata tak tampak keluar lagi dari mata yeoja itu karena tersapu hujan.
--beberapa saat kemudian---
Shinae beringsut. Kakinya melangkah kesuatu tempat.
“Jangan ikuti aku!” seru Shinae pada Chanyeol yang mengikutinya dari belakang.
“Apa kau akan pulang ke khayangan dan menerima hukuman kaisar langit?” tanya Chanyeol.
“Itu bukan urusanmu. Gomawo, sudah membantuku sejauh ini,” jawab Shinae. Yeoja itu pun berjalan menunduk menuju tepi hutan.
“Shinae-ya, tak bisakah kau mulai melihat matahari lain?” batin Chanyeol, ia mengeluarkan jepit rambut berbentuk matahari yang ia beli di pasar. Itu adalah jepit pilihan Shinae yang tak jadi dibeli.
“Shinae-ya!!” seru Chanyeol yang tersadar dan kehilangan jejak yeoja itu. ia pun menghambur menunggangi kuda untuk mengejar Shinae.
“Tak mungkin ia secepat itu menghilang,” batin Chanyeol. matanya mengedar pandang. Tiba-tiba sudut matanya menangkap sesuatu. Ia melihat seseorang yang tengah bersimpuh di atas tanah, ia menundukkan kepalanya.
“Shinae.” Celetuk Chanyeol, ia pun memacu kudanya untuk beringsut menghampiri yeoja itu. Chanyeol mengaitkan tali kudanya ke sebuah pohon di sekitarnya.
“Gwenchanayo?” Tanya Chanyeol. seketika itu Shinae bangkit. Kepalanya yang tadi menunduk memandang tanah pun kini mendongak memandang Chanyeol.
SRK! SRK! Langkah Shinae semakin mundur. Sedangkan beberapa langkah di belakangnya terdapat jurang yang cukup curam. Batu-batu cadas yang runcing siap menusuk tubuhnya jika terjatuh.
“Hiya!! Ada apa denganmu!” Seru Chanyeol yang seraya menghambur ke  arah Shinae dan meninggalkan kudanya.
“Jangan mendekat!!” seru Shinae pada Chanyeol yang berada dua langkah di depannya. Seketika itu langkah kaki Chanyeol terhenti.
“Shinae-ya! aku rasa kau tidak mungkin berniat jatuh  ke jurang, geurechi?” Tanya Chanyeol.
“Anniyo. Aku pantas untuk jatuh ke jurang. Jika tubuhku tertancap batu cadas itu, maka aku akan mati,” jawab Shinae. Rasa sedih dalam hatinya begitu besar.
“Mwo?” Tanya Chanyeol, ia mengernyitkan dahinya. Ia tertegun memandangi Shinae.
SRK! SRK! Terdengar langkah kaki Shinae semakin mundur. Beberapa runtuhan tanah pun jatuh ke dasar jurang.
Hhssh………..! Tiupan angin menyembulkan helaian rambut Shinae kearah muka. Beberapa saat yang lalu, hujan reda. Seketika itu tubuhnya terasa ringan. Ia memejamkan mata dan merasakan keringanan tubuhnya yang di terpa angin. Kedua tangannya menyilang didepan dada. Seketika itu pula tubuh Shinae condong ke belakang kearah jurang.
“Shinae-ya!” Seru Chanyeol yang tiba-tiba menyeringai, ia tersadar dari lamunannya. Seketika itu ia menghambur ke arah muka.
HUG!! Chanyeol berhasil meraih tangan Shinae yang tubuhnya mulai roboh kearah jurang lalu menjatuhkan yeoja itu ke dalam pelukannya.
“Andweyo!” ucap Chanyeol. Tangan kirinya yang masih menggenggam jepit rambut pun memeluk tubuh Shinae, sedangkan yang lainnya menyentuh belakang kepala yeoja itu.
“HHssh! Hhssh!!” terdengar nafas Chanyeol yang sedikit terengah. Dahinya juga masih tampak mengernyit. Sedangkan Shinae tidak memberikan ekspresi apapun, ia hanya diam dalam pelukan Chanyeol.
“Sudah ku putuskan untuk melindungimu.” Batin Chanyeol, kedua matanya ikut terpejam dan merasakan hembusan angin yang sesekali menerpa wajahnya dari balik tubuh Shinae.
“Jangan pernah lupakan kejadian ini.” Ucap Chanyeol pada Shinae. Yeoja itu tertegun dan hanya bisa diam.
------SKIP----------
Pagi menjelang. Chanyeol menuju bilik Shinae untuk mengetahui keadaannya.
“Mama!!! (kaisar!!)” Seru Shinae yang terlonjak bangun dengan nafas terengah dan mengeluarkan keringat dingin.
“Shinae-ya! Gwenchana?” tanya Chanyeol yang seketika menghambur memasuki kamar Shinae. Di sentuhnya wajah yeoja itu dengan kedua tangan.
“Akan terjadi gerhana matahari lusa,” ucap Shinae, matanya berkaca-kaca memandangi Chanyeol.
“Apa arti peristiwa itu?” tanya Chanyeol bingung.
“Jika aku belum mendapatkan cinta tulus putra mahkota, maka tubuhku akan terbakar seketika setelah matahari kembali muncul.” Jawab Shinae.
“Aku akan lenyap dari dunia ini,” celetuk Shinae menimpali.
“Shinae-ya… anniya… tak akan kubiarkan kau lenyap dari dunia ini,” ucap Chanyeol yang seraya meraih bahu Shinae dan memeluknya.
“Yang mulia pangeran…” ucap ahjuma dari luar bilik. Chanyeol pun menengok kearah pintu, dilepaskanlah pelukannya pada Shinae yang masih mengeluarkan keringat dinginnya.
GRRPP! Pintu pun di buka oleh Chanyeol.
“Waeyo?” tanya Chanyeol pada ahjumma yang berdiri di depan pintu.
“Anda mendapat kiriman surat dari istana, yang mulia,” ucap ahjumma sambil memberikan segulung kertas.
“Surat apa ini?” tanya Chanyeol, ia pun menengok kearah Shinae yang masih duduk menunduk dan menekuk lututnya.
“Mollaseoyo, utusan istana tak menjelaskan isi suratnya. Hanya saja, surat itu dari putra mahkota,” jawab ahjumma. Seketika itu kepala Shinae terangkat dan memandangi Chanyeol dan ahjumma yang masih di depan pintu. Ia berharap surat itu berisi tentang arti keberadaan dirinya bagi putra mahkota.
“Gereomyo, apakah nona Shinae sudah baik-baik saja?” tanya ahjumma yang menengok kearah dalam kamar.
“Ah, nde ahjumma, gwenchana..” ucap Shinae yang menyeringai sambil tersenyum pada ahjumma.
“Syukurlah, akan kuambilkan bubur hangat untukmu nona,” ucap ahjumma.
“Gomawoyo, ahjumma.” Ucap Shinae yang kembali tersenyum. Ahjumma pun memberi salam pada Chanyeol dan beringsut pergi. Chanyeol masih berdiri di depan pintu dan membuka surat tersebut. Dahinya tampak mengerut ketika membacanya.
“Waeyo Chanyeol-ssi? kenapa kau tampak kecewa?” tanya Shinae, sudut bibirnya masih mempertahankan guratan senyum yang tadi ia tunjukkan pada ahjumma.
“Akan ada upacara pengangkatan putra mahkota sebagai raja joseon. Hyung memintaku untuk menghadiri upacara tersebut,” ucap Chanyeol.
“Mwo? Raja?” celetuk Shinae. Seketika sisa guratan senyum itu menghilang dari sudut bibirnya. Tak ada sedikitpun kalimat dalam surat itu yang menyebut nama Shinae.
“Hhhhhss!” Chanyeol menghela nafasnya. Ia tak sanggup menatap kedalam mata Shinae. Dalam pikirannya terus teringat dengan gerhana matahari yang akan terjadi lusa.
“Yang mulia pangeran, ini bubur untuk nona Shinae,” ucap Ahjumma yang kembali sambil membawa semangkuk bubur.
“Berikan padanya,” ucap Chanyeol yang beringsut dan menjatuhkan begitu saja surat dari istana.
“Yang mulia,” celetuk ahjumma yang bingung akan sikap Chanyeol.
“Nona, makanlah selagi hangat,” ucap ahjumma yang meletakkan semangkuk bubur itu di depan Shinae.
“Gomawo ahjumma,” ucap Shinae. Ahjumma pun mengangguk dan pergi meninggalkan Shinae.
---SKIP---
GRP! GRP! GRP! Langkah Chanyeol terdengar beradu dengan lantai kayu.  Malam terang karena sinar bulan menyinari. Segurat senyum terkembang pada sudut bibir Chanyeol. ia membawa sebuah cincin pemberian ibunya.
“Yang mulia pangeran, bagaimana kabar yang mulia selir?” tanya ahjuma yang menjumpai Chanyeol di lorong menuju kamar Shinae.
“Ibu baik-baik saja ahjumma. Gereom, dimana Shinae?” tanya Chanyeol.
“Sehari ini saya tidak melihat nona Shinae keluar kamar, yang mulia,” jawab ahjumma. Chanyeol pun mempercepat langkahnya menuju kamar Shinae.
BRP!! Pintu dibuka oleh Chanyeol. namun tak dilihatnya sosok Shinae di dalam kamar itu. semua tertata rapi. Semangkuk bubur masih utuh seperti pagi tadi.
“Shinae-ya! Eodiga!!” seru Chanyeol yang membelalakan mata. Ia tak melihat yeoja itu.
“Yang mulia! Ada apa?” tanya ahjumma.
“Ahjumma, bukankah kau bilang jika dia tak keluar kamar sehari ini?” ucap Chanyeol.
“Nde…” ucap ahjumma yang juga bingung.
“Shinae-ya!” seru Chanyeol yang menghambur keluar rumah. ia mengedar pandang ke sekitar rumah. namun tak juga ia temukan yeoja itu.
“Hhhss! Hhhss!” nafas Chanyeol menyembul di udara malam. Sinar bulan masih setia menyinarinya. Chanyeol membawa Jong untuk mencari Shinae diluar.
“Ha!” seru Chanyeol yang memacu Jong keluar rumah untuk mencari Shinae. Jepit rambut dan cincin itu masih ia selipkan dalam lipatan pakaiannya.
“Shinae-ya…khajima (jangan pergi),” ucap Chanyeol lirih.
Semua tempat telah didatangi oleh Chanyeol. Malam semakin larut, namun Chanyeol tak kunjung menemukan Shinae. Di pandangnya langit yang berhias bulan di atas sana.
“Apa dia kembali ke khayangan?” batin Chanyeol yang masih memandangi langit malam. Wajahnya tampak kacau dan putus asa. Ia tak tahu lagi harus mencari Shinae kemana.
----SKIP---
Chanyeol berjalan mondar mandir di beranda rumah. hari itu matahari malu-malu menampakkan sinarnya.
“Yang mulia, sudah tiga hari anda seperti ini,” ucap ahjumma yang cemas akan sikap Chanyeol. namun namja itu tak menanggapi perkataan wanita itu. ia hanya sibuk memainkan jepit rambut di tangannya.
“Apa anda tidak menghadiri upacara pengangkatan putra mahkota, yang mulia?” tanya ahjumma. Seketika langkah Chanyeol terhenti. Wajahnya menengok kearah ahjumma.
“Ah, geure…!” seru Chanyeol. seketika ia mengambil kudanya.
“Ha..!” Chanyeol memacu kudanya untuk menuju istana. Ia merasa ada yang dapat ia lakukan agar Shinae kembali.
FLSSHH!! Kuda cokelat itu melesat cepat menuju istana.
------------------------------------
--tiba di istana—
Semua prajurit dan para dayang memberi hormat pada Chanyeol ketika ia memasuki istana. Namun berbeda, Chanyeol tak menanggapi salam hormat mereka. Ia langsung melangkah menuju altar putra mahkota. Tangannya mengepal. Tatapannya hanya tertuju pada putra mahkota. Raja, permaisuri, ibu suri, termasuk selir yang tak lain ibunda Chanyeol pun terkejut melihat sikap pangeran itu.
“Waeyo, Chanyeol-ah?” tanya Wufan yang menyeringai ketika Chanyeol sudah berada dua langkah di depannya.
SRNNKK!! Tiba-tiba Chanyeol mengeluarkan pedangnya dan mengarahkannya pada leher Wufan. Para prajurit istana bersiaga dengan mengeluarkan pedang mereka pula. Para hadirin yang datang juga bangun dari duduknya.
“Waeyo?” tanya Wufan.
“Pangeran Cha! Apa yang ingin kau lakukan pada putra mahkota!” seru Raja. Permaisuri juga tampak cemas.
“Putraku… turunkan pedangmu!” ucap selir yang merasa cemas. Ia memegangi dadanya.
“Prajurit! Lindungi putra mahkota!” seru permaisuri, ibunda Wufan.
“Apa kau pernah merasakan sakitnya terhungus pedang, yang mulia?” tanya Chanyeol pada Wufan. Pedangnya tidak bergeser sedikit pun. Justru semakin menukik kearah leher putra mahkota.
“Apa maksudmu?” ucap Wufan.
“Apa kau rela orang yang kau cintai mati begitu saja di hadapanmu….. Hyung?” tanya Chanyeol lagi.
“Tentu tidak, Chanyeol-ah.” jawab Wufan.
“Lalu, apakah kau tahu rasanya kehilangan sebuah harapan dan cinta!!!” seru Chanyeol marah. Wajahnya tampak kemerahan.
“Mwo?” celetuk Wufan.
“Aku telah merelakannya untukmu, tapi lihatlah! Apa yang telah kau lakukan padanya!! Asal kau tahu, Shinae mencintaimu, Hyung!” seru Chanyeol. Tangannya semakin menggenggam pedang di tangannya. Wufan tertegun di atas singgasananya. Ia teringat pada Shinae, hingga muncul gambaran ketika ia pertama bertemu dengannya, hingga kejadian di hutan yang membuat semuanya berakhir begitu saja. Permaisuri dan Raja lekas menghampiri putra mahkota yang terdiam.
“Pangeran! Lepaskan putra mahkota!” seru prajurit istana yang seraya menyerang Chanyeol. Seketika itu Chanyeol menghindar. Kakinya berjingkat menjauh dari Wufan.
PRNNKK!! Suara pedang beradu dengan pedang terdengar. Semua prajurit menyerang Chanyeol. beberapa tendangan mengenai tubuh namja itu. namun Chanyeol juga menebas beberapa prajurit dengan pedangnya.
GLAK!! Tiba-tiba Chanyeol terjatuh di atas tanah ketika mendapat serangan dari berbagai arah. Ia pun sedikit kehilangan kesadarannya.
“Hhhss! Hhhss!” Nafasnya terengah, urat lehernya terlihat menonjol menahan sakit. Air mata keluar dari sudut matanya yang memandang matahari di atas langit.
“Putraku!! Andwe…” seru ibunda Chanyeol yang tak tega melihat putranya diserang para prajurit.
“Hentikan!” seru Wufan.
“Seret dia dan beri hukuman mati!!” seru Raja.
“Yang mulia! Andweyo…dia adikku!” ucap Wufan yang memohon.
“Yang mulia… kasihanilah putraku,” ucap selir.
“Dia hampir membunuh calon raja negeri ini! Sudah sepantasnya dia dijatuhi hukuman mati! Siapkan hukuman itu sekarang!!” seru Raja pada para hulubalangnya.
“Algessimnida! (baiklah)” ucap hulubalang Raja.
“Yang mulia! Dia adalah putramu! Jika kau memberinya hukuman mati padanya, maka hukumlah juga aku! Aku yang menyebabkan semua kekacauan ini!” ucap Wufan. Seketika Raja luluh. Ia pun menarik ucapannya.
“Khamsahammida Mama!!” seru ibunda Chanyeol yang berlutut di depan Raja.
“Sebagai gantinya, beri dia ramuan lupa ingatan! Aku tak ingin ia melakukan hal yang sama seperti ini dikemudian hari,” ucap Raja.
“Yang mulia..!!!” seru Wufan dan selir. Mereka tak dapat lagi memohon keringanan hukuman bagi Chanyeol. chanyeol pun dimasukkan ke penjara untuk setelahnya dijatuhi hukuman esok hari.
----SKIP---
Malam menjelang. Beberapa obor menerangi lorong menuju penjara tempat Chanyeol dikurung. Wufan ingin menemui adiknya. pengawalnya pun meminta prajurit untuk meninggalkan kakak beradik itu berdua.
“Chanyeol-ah?” ucap Wufan di depan jeruji penjara. Chanyeol hanya duduk diam menekuk lutut di sudut penjara.
“Bicaralah, Chanyeol-ah, tak ada siapapun kecuali kita,” ucap Wufan lagi, ia berjongkok di depan jeruji.
“Gerhana matahari akan datang, ketika itu terjadi, maka dia akan lenyap. Dan jika itu terjadi, maka aku akan membunuhmu, yang mulia,” ucap Chanyeol yang tak memandang wajah Wufan.
“Mwo?” celetuk Wufan.
“Apa kau benar-benar tak menaruh hati padanya sedikitpun. Putra mahkota? Ah, anniya anniya… yang mulia Raja?” tanya Chanyeol, wajahnya menengok kearah Wufan yang telah diangkat menjadi Raja joseon.
“Jawab aku!” seru Chanyeol.
“Chanyeol-ah?” celetuk Wufan.
“Jika kau menaruh hati padanya, carilah dia sebelum gerhana tiba! Katakan jika kau mencintainya. Maka dia akan menjadi manusia seutuhnya,” ucap Chanyeol.
“Shinae-ya…” celetuk Wufan. Seketika ia beringsut meninggalkan Chanyeol. ia mengeluarkan perintah untuk mencari yeoja bernama Shinae dengan cirri-ciri yang telah disebutkan.
“Hanya tersisa tiga hari lagi,” batin Chanyeol dalam penjara. Ia masih berharap jika Shinae berhasil ditemukan.
-----SKIP---
“Anda akan menjalani hukuman hari ini, pangeran,” ucap prajurit yang kemudian membawa Chanyeol keluar penjara.
Sebuah meja dengan mangkuk kecil berisi ramuan telah tersedia. Chanyeol yang mengenakan pakaian putih pun memberi penghormatan sebanyak tiga kali. Selir Hee bin dan Wufan berdiri dibelakang Chanyeol sambil menundukkan kepalanya.
“Putraku… hhhgk! Hhhgkk!” ibu Chanyeol menangis.
“Kumohon janganlah kau lupa pada kami, Chanyeol-ah. cukup lupakan kejadian kemarin,” ucap Wufan.
“Terima kasih atas kemurahan hati kalian, Ibunda dan yang mulia Raja,” ucap Chanyeol.
“Akan kupastikan jika aku menemukan Shinae,” ucap Wufan.
“Khamsahammida, Mama, tolong jaga dia.” ucap Chanyeol. Tangannya meraih mangkuk, di pandangnya air berwarna kecokelatan itu. bayangan dirinya terpantul ke dalam mangkuk.
“Putraku….”celetuk ibunda Chanyeol.
GLEG GLEG! Chanyeol meminum habis ramuan itu.
BRAKK! Tiba-tiba Chanyeol rubuh dan tak sadarkan diri. Dahinya mengerut, air mukanya tampak kacau. Air mata keluar dari sudut matanya.
“Putraku! Pangeran Cha!!” seru ibunda Chanyeol.
“Chanyeol-ah!” seru Wufan. Ia mengguncang tubuh Chanyeol.
“Cepat panggil tabib istana!” seru Wufan pada prajurit yang berjaga.
“Joseonghamnida Mama! (Maafkan kami yang mulia) Pangeran Cha tidak diperkenankan diperiksa oleh tabib istana, itu karena ia tengah menjalani hukuman,” ucap prajurit itu.
“Yang mulia Raja, sebaiknya aku membawanya pulang,” ucap Ibunda Chanyeol. ia terus menangisi putranya.
“Baiklah,” ucap Wufan. Sebuah tandu pun disiapkan untuk membawa Chanyeol pulang.
-----------------------------
--tiba di rumah—
“Yang mulia Raja tiba….” Seru prajurit. Ahjumma pun memberi hormat.
“Yang mulia pangeran, apa yang terjadi denganmu?” ucap ahjumma cemas karena sejak kemarin tuannya tak pulang kerumah. Dan Ketika pulang dalam keadaan tak sadarkan diri.
“Ada sesuatu yang terjadi pada putraku, ahjumma,” ucap ibu Chanyeol yang mengiringi Chanyeol.
Tubuh Chanyeol direbahkan dalam bilik. Ibunya pun tak beranjak sedikitpun dari sisi putranya.
“Kau istirahatlah, selir,” ucap Wufan yang juga menunggui Chanyeol.
“Anniymnida yang mulia, ini tugasku sebagai seorang ibu,” ucap ibu Chanyeol.
“Namun ini juga tugasku sebagai seorang kakak,” celetuk Wufan, ibu Chanyeol pun terkejut.
Perlahan, jemari Chanyeol mulai bergerak. Bola matanya pun bergulir ke kanan dan kiri.
“Putraku…”
Mata Chanyeol pun terbuka sedikit demi sedikit.
“Chanyeol-ah? gwenchana?” tanya Wufan.
“Dimana aku, Eomma?” tanya Chanyeol yang melihat kearah ibunya.
“Apa yang terjadi denganku, Hyung-ah?” tanya Chanyeol yang meihat kearah Wufan. Dahinya kembali mengerut dan tangannya memegangi kepalanya.
“Chakaman! Apa kau sudah diangkat menjadi raja, yang mulia putra mahkota? Kapan itu? kenapa aku tak menyaksikannya?” ucap Chanyeol yang melihat Wufan telah mengenakan pakaian Raja joseon. Pakaian berwarna merah dengan gambar naga berwarna emas.
“Chanyeol-ah…” ucap Wufan.
GRRP GRRPP! Terdengar langkah kaki yang mendekat.
“Yang mulia Raja! Hamba kemari hendak melapor,” seru hulubalang Raja dari luar bilik.
“Masuklah!” ucap Wufan.
“Kami belum menemukan nona Shinae, hanya saja kami menemukan jepit rambut ini di hutan,” ucap hulubalang sambil menyerahkan jepit rambut berbentuk bunga pada Wufan.
“Itu milik nona Shinae, yang mulia!” celetuk Ahjumma yang melihat jepit yang ia berikan pada Shinae.
“Yang mulia? Siapa Shinae?” tanya Chanyeol pada Wufan dengan wajah bingung.
“Putraku…. Dia adalah wanita yang kau ceritakan pada ibu beberapa hari lalu,” ucap ibu Chanyeol. karena bahkan Chanyeol membawa cincin keluarga untuk diberikan pada wanita yang Chanyeol cintai.
“Chanyeol-ah? kau tak ingat siapa dia?” tanya Wufan yang terkejut.
“Dimana cincin yang kuberikan padamu, nak?” tanya Ibu Chanyeol pada putranya.
“Mwo? cincin?” tanya Chanyeol bingung.
“Apa ini yang anda maksud nyonya? Saya menemukan ini ketika membenahi pakaian pangeran kemarin,” ucap dayang istana yang merupakan pelayan selir. Pelayan itu memberikan sebuah cincin dan jepit rambut berbentuk matahari.
“Hiya! Sejak kapan aku mengenakan jepit seperti itu?” ucap Chanyeol.
“Yang mulia Pangeran ingin memberikan jepit itu pada nona Shinae,” celetuk ahjumma yang sering melihat tuannya memainkan jepit rambut itu.
“Mwo? Hiya!! Siapa Shinae?” tanya Chanyeol. ia benar-benar lupa dengan yeoja itu. semua yang berhubungan dengan Shinae lenyap dari pikiran Chanyeol.
“Chanyeol-ah? apa kau benar-benar lupa padanya?” tanya Wufan.
“Ah, waeyo? Apa dia calon permaisurimu, yang mulia?” jawab Chanyeol. Wufan pun tak dapat berkata apa-apa, ia menundukkan kepala.
-------SKIP----
--tiga hari kemudian—
Suasana dalam aula utama tampak tenang. Para menteri melaporkan beberapa hal yang perlu dilaporkan pada Raja.
“Hamba dengar, hari ini akan terjadi gerhana matahari total, yang mulia,” celetuk salah satu menteri.
“Apa kita perlu mengadakan upacara?” celetuk menteri yang lain menanggapi.
“Gerhana?” ucap Wufan lirih. Ia pun teringat akan perkataan Chanyeol (“carilah dia sebelum gerhana tiba! Katakan jika kau mencintainya. Maka dia akan menjadi manusia seutuhnya,”). Seketika itu Wufan beringsut, ia meminta pelayan menyiapkan kuda baginya. Hulubalang yang sempat menemukan jepit rambut Shinae pun dipanggilnya.
“Ha!” seru Wufan yang memacu kudanya. Hulubalang itu mengikuti dibelakang sang Raja.
FLSSHH! Dua kuda itu melesat kearah hutan.
“Hamba menemukan jepit ini di sini, yang mulia,” ucap hulubalang.
“Shinae-ya...dimana kau.” batin Wufan yang kembali memacu kudanya. Raut wajahnya tampak cemas, sesekali dilihatnya matahari yang masih bersinar terik.
-------------------------------------------------------------------
--di rumah Chanyeol—
“Ahjumma! Dimana putraku!” seru selir.
“Pangeran pergi sejak pagi buta, nyonya.” Ucap ahjumma.
“Kemana dia?” tanya ibu Chanyeol cemas.
“Mollaseoyo.” Jawab ahjumma.
--------------------------------------------------------------------------
Ngiiikk!!! Kuda Chanyeol, Jong, meringik ketika membawa tuannya ke tebing dekat sungai di tepian hutan.
“Jong-ie? Waeyo?” tanya Chanyeol. ia sendiri bingung mengapa kudanya membawanya ke tempat ini. Padahal sebelumnya Chanyeol hanya ingin berjalan-jalan sebentar.
GRPP! Chanyeol turun dari kudanya. BLPP! Tiba-tiba sebuah benda ikut terjatuh di bawah pakaian Chanyeol. ia pun memungutnya. Itu sebuah jepit rambut berbentuk matahari yang kemarin ditunjukkan pelayan.
“Hiya… ada apa denganku, mengapa aku membawa benda seperti ini?” celetuk Chanyeol bingung.
“Jong-ie……!!!” seru sebuah suara. Chanyeol pun terkejut mendengar seseorang memanggil nama kudanya.
BRRP! BRRP! BRRP! Seorang yeoja berlari kearah kuda Chanyeol. Chanyeol memandanginya dengan bingung.
“Chanyeol-ssi, kau datang mencariku?” tanya yeoja yang tak lain adalah Shinae.
“Mwo?” tanya Chanyeol.
“Aku sadar, jika cinta putra mahkota tak dapat dipaksakan. Aku akan rela menerima hukuman dari kaisar langit. Lagipula, aku mulai melihat matahari lain terbit disuatu tempat,” ucap Shinae sambil menatap langit.
“Hiya! Siapa kau?” tanya Chanyeol. seketika Shinae menengok kearah Chanyeol yang berdiri beberapa langkah didepannya.
“Apa maksudmu? Apa kau bergurau?” ucap Shinae yang mendekat kearah Chanyeol.
“Nuguya??” tanya Chanyeol lagi. Kakinya berjalan mundur menghindari Shinae yang semakin mendekat.
“Chanyeol-ssi…. apa yang terjadi denganmu?” ucap Shinae. Tangannya meraih wajah Chanyeol.
BASHHHTTT!!! Seketika Chanyeol menepis tangan Shinae yang menyentuh wajahnya.
“Hhhhh!!” Shinae terkejut hingga menarik nafasnya. Yeoja itu memandangi tangannya yang ditepis oleh Chanyeol.
“Aku tak pernah mengenal wanita gila sepertimu!!” seru Chanyeol. ia berjalan melalui Shinae.
HUG!! Tiba-tiba yeoja itu berbalik dan memeluk tubuh Chanyeol dari belakang.
“Khajima….khajimayo (jangan pergi), tetaplah disini hingga gerhana matahari usai,” ucap Shinae yang memeluk erat tubuh Chanyeol. Pada saat yang bersamaan, Wufan ternyata telah tiba bersama hulubalangnya.
“Yang mulia, kenapa kau tak menemui nona Shinae,” ucap hulubalang. Namun Wufan hanya diam. Dipandangnya Shinae yang masih memeluk Chanyeol.
WWSSHH!! Tiba-tiba angin berhembus kencang. Debu-debu berterbangan kesana-kemari. Daun-daun berguguran.
BRRAKK!! Tiba-tiba tubuh Shinae terjatuh ditanah karena dihempaskan oleh Chanyeol. namja itu lekas menunggangi kudanya dan berbalik arah. Angin semakin berhembus kencang bahkan menggugurkan daun-daun serta mematahkan rantingnya. Seketika langit berubah gelap. Matahari tertutup benda asing. Dan Gelap!
Ngiikk!!! Kuda Chanyeol kembali meringik, kuda itu memberontak pada perintah tuannya. Dan badan kuda itu tak mampu menyeimbangkan posisinya. Chanyeol pun kebingungan mengendalikan Jong, kuda kesayangannya.
“Jong-ie…. Waeyo?” celetuk Chanyeol panik.
BLAPP!! kuda itu menjatuhkan tuannya. Chanyeol terpental menghantam bebatuan dan terjatuh ke sungai yang dalam.
BYURR!!! Tubuh Chanyeol jatuh hingga menyentuh dasar sungai. Gelembung-gelembung udara menyembul bagaikan buih melalui mulutnya. Matanya masih sedikit terbuka, walau hanya melihat gelapnya dasar sungai karena matahari masih tertutup benda asing.
“Chanyeol-ssi!!” seru Shinae panik, begitu juga dengan Wufan yang langsung memacu kudanya menuju tepi tebing.
“Mwoya? Apa aku akan mati seperti ini?” batin Chanyeol yang tubuhnya terasa ringan bagaikan kapas. Jepit rambut matahari ditangannya masih digenggam dengan erat. Kedua matanya hampir terpejam. Buih-buih yang keluar dari mulutnya perlahan menghilang.
BYURR!! Tanpa pikir panjang Shinae melompat ke dalam sungai.
BLup…Blup…Blup…. Buih-buih putih menyembul dari mulut yeoja itu. Matanya mengedar pandang ke sekitar dasar sungai. Rambut panjang dan gaunnya terurai berlawanan arah dengan gerak tubuhnya. Hingga tiba-tiba matanya menangkap sosok yang melayang di dalam air. Tangannya pun mendayung dengan kuat kearah sosok itu.
“Siapa dia? Apa dia bidadari surga?” batin Chanyeol yang melihat sosok putih mendekat kearahnya. Perlahan, sosok putih itu semakin jelas terlihat.
“Shinae?” batin Chanyeol, ia pun teringat akan Shinae. Seketika tangannya yang lemah pun mendayung kearah yeoja itu. dasar sungai mulai terang seiring matahari yang perlahan kembali terlihat kembali.
HUG!! Chanyeol memeluk Shinae ketika berhasil mencapainya. Di sentuhnya wajah Shinae dengan lembut. Setelah itu, mereka pun mendayung menuju permukaan air.
BYURR!! Chanyeol dan Shinae berhasil mencapai permukaan air. Seketika itu pula gerhana usai, matahari kembali terlihat terang. Wufan memandangi Shinae dari atas tebing.
“Kurasa takkan ada yang lenyap, karena kau telah berhasil meraih hatiku, Shinae-ya.” Celetuk Wufan, ia pun meninggalkan Shinae dan Chanyeol.
“Shinae-ya… khajima..” ucap Chanyeol pada Shinae yang ada dihadapan matanya. Mereka masih berada di permukaan air.
“Kau mengingatku, Chanyeol-ssi? geure, matahari yang kulihat terbit di suatu tempat adalah kau, Oppa,” ucap Shinae. Yeoja itu pun menatap langit, ia tersenyum pada kaisar langit yang tak membuatnya menghilang setelah gerhana.
“Kau telah menjadi manusia seutuhnya, Shinae,” ucap sebuah suara yang menggema diantara tebing-tebing batu.
“Shinae-ya…” celetuk Chanyeol. Chanyeol pun memasangkan jepit rambut berbentuk matahari pada Shinae. Setelah itu, tangan Chanyeol meraih tengkuk Shinae.
Chu~ tiba-tiba Shinae menerima sebuah ciuman dari Chanyeol.
-----------TAMAT------------------


R+C+L nde…gomawo udh baca,, ;) jangan kapok baca FF nae :D