Kamis, 22 Januari 2015

ECLIPSE (Shoot 2)

Tittle: Eclipse
Main cast: Park Chanyeol | Wu Yifan | Shinae
Genre: Fusion Fantasy Saeguk
Length: Two Shoot
Don’t be siders! Don’t be plagiators!
Mianhae kalo jelek ya….  ;)


~ECLIPSE~
SHOOT 2
“Yang mulia…” ucap Shinae, langkah kaki Wufan sempat terhenti sebentar.
“Hyung-ah, apa kau tak ingin mendengar alasannya?” tanya Chanyeol. Namun langkah Wufan semakin pasti. Beberapa saat kemudian para prajurit utusan istana tiba. Mereka mendengar kabar jika rombongan putra mahkota diserang oleh kawanan ninja.
“Yang mulia putra mahkota!” seru Chanyeol lagi, Shinae pun meraih lengan Chanyeol agar namja itu tak mengejar hyungnya.
“Shinae-ya! Lepaskan!” seru Chanyeol.
“Andweyo, andwe!” ucap Shinae. Yeoja itu pun kembali terduduk di atas tanah yang basah dan memegangi kaki Chanyeol. Pakaian baru yang ia kenakan tampak lusuh, basah dan kotor. Rambut panjangnya pun tak seperti tatanan ketika tadi. Air mata tak tampak keluar lagi dari mata yeoja itu karena tersapu hujan.
--beberapa saat kemudian---
Shinae beringsut. Kakinya melangkah kesuatu tempat.
“Jangan ikuti aku!” seru Shinae pada Chanyeol yang mengikutinya dari belakang.
“Apa kau akan pulang ke khayangan dan menerima hukuman kaisar langit?” tanya Chanyeol.
“Itu bukan urusanmu. Gomawo, sudah membantuku sejauh ini,” jawab Shinae. Yeoja itu pun berjalan menunduk menuju tepi hutan.
“Shinae-ya, tak bisakah kau mulai melihat matahari lain?” batin Chanyeol, ia mengeluarkan jepit rambut berbentuk matahari yang ia beli di pasar. Itu adalah jepit pilihan Shinae yang tak jadi dibeli.
“Shinae-ya!!” seru Chanyeol yang tersadar dan kehilangan jejak yeoja itu. ia pun menghambur menunggangi kuda untuk mengejar Shinae.
“Tak mungkin ia secepat itu menghilang,” batin Chanyeol. matanya mengedar pandang. Tiba-tiba sudut matanya menangkap sesuatu. Ia melihat seseorang yang tengah bersimpuh di atas tanah, ia menundukkan kepalanya.
“Shinae.” Celetuk Chanyeol, ia pun memacu kudanya untuk beringsut menghampiri yeoja itu. Chanyeol mengaitkan tali kudanya ke sebuah pohon di sekitarnya.
“Gwenchanayo?” Tanya Chanyeol. seketika itu Shinae bangkit. Kepalanya yang tadi menunduk memandang tanah pun kini mendongak memandang Chanyeol.
SRK! SRK! Langkah Shinae semakin mundur. Sedangkan beberapa langkah di belakangnya terdapat jurang yang cukup curam. Batu-batu cadas yang runcing siap menusuk tubuhnya jika terjatuh.
“Hiya!! Ada apa denganmu!” Seru Chanyeol yang seraya menghambur ke  arah Shinae dan meninggalkan kudanya.
“Jangan mendekat!!” seru Shinae pada Chanyeol yang berada dua langkah di depannya. Seketika itu langkah kaki Chanyeol terhenti.
“Shinae-ya! aku rasa kau tidak mungkin berniat jatuh  ke jurang, geurechi?” Tanya Chanyeol.
“Anniyo. Aku pantas untuk jatuh ke jurang. Jika tubuhku tertancap batu cadas itu, maka aku akan mati,” jawab Shinae. Rasa sedih dalam hatinya begitu besar.
“Mwo?” Tanya Chanyeol, ia mengernyitkan dahinya. Ia tertegun memandangi Shinae.
SRK! SRK! Terdengar langkah kaki Shinae semakin mundur. Beberapa runtuhan tanah pun jatuh ke dasar jurang.
Hhssh………..! Tiupan angin menyembulkan helaian rambut Shinae kearah muka. Beberapa saat yang lalu, hujan reda. Seketika itu tubuhnya terasa ringan. Ia memejamkan mata dan merasakan keringanan tubuhnya yang di terpa angin. Kedua tangannya menyilang didepan dada. Seketika itu pula tubuh Shinae condong ke belakang kearah jurang.
“Shinae-ya!” Seru Chanyeol yang tiba-tiba menyeringai, ia tersadar dari lamunannya. Seketika itu ia menghambur ke arah muka.
HUG!! Chanyeol berhasil meraih tangan Shinae yang tubuhnya mulai roboh kearah jurang lalu menjatuhkan yeoja itu ke dalam pelukannya.
“Andweyo!” ucap Chanyeol. Tangan kirinya yang masih menggenggam jepit rambut pun memeluk tubuh Shinae, sedangkan yang lainnya menyentuh belakang kepala yeoja itu.
“HHssh! Hhssh!!” terdengar nafas Chanyeol yang sedikit terengah. Dahinya juga masih tampak mengernyit. Sedangkan Shinae tidak memberikan ekspresi apapun, ia hanya diam dalam pelukan Chanyeol.
“Sudah ku putuskan untuk melindungimu.” Batin Chanyeol, kedua matanya ikut terpejam dan merasakan hembusan angin yang sesekali menerpa wajahnya dari balik tubuh Shinae.
“Jangan pernah lupakan kejadian ini.” Ucap Chanyeol pada Shinae. Yeoja itu tertegun dan hanya bisa diam.
------SKIP----------
Pagi menjelang. Chanyeol menuju bilik Shinae untuk mengetahui keadaannya.
“Mama!!! (kaisar!!)” Seru Shinae yang terlonjak bangun dengan nafas terengah dan mengeluarkan keringat dingin.
“Shinae-ya! Gwenchana?” tanya Chanyeol yang seketika menghambur memasuki kamar Shinae. Di sentuhnya wajah yeoja itu dengan kedua tangan.
“Akan terjadi gerhana matahari lusa,” ucap Shinae, matanya berkaca-kaca memandangi Chanyeol.
“Apa arti peristiwa itu?” tanya Chanyeol bingung.
“Jika aku belum mendapatkan cinta tulus putra mahkota, maka tubuhku akan terbakar seketika setelah matahari kembali muncul.” Jawab Shinae.
“Aku akan lenyap dari dunia ini,” celetuk Shinae menimpali.
“Shinae-ya… anniya… tak akan kubiarkan kau lenyap dari dunia ini,” ucap Chanyeol yang seraya meraih bahu Shinae dan memeluknya.
“Yang mulia pangeran…” ucap ahjuma dari luar bilik. Chanyeol pun menengok kearah pintu, dilepaskanlah pelukannya pada Shinae yang masih mengeluarkan keringat dinginnya.
GRRPP! Pintu pun di buka oleh Chanyeol.
“Waeyo?” tanya Chanyeol pada ahjumma yang berdiri di depan pintu.
“Anda mendapat kiriman surat dari istana, yang mulia,” ucap ahjumma sambil memberikan segulung kertas.
“Surat apa ini?” tanya Chanyeol, ia pun menengok kearah Shinae yang masih duduk menunduk dan menekuk lututnya.
“Mollaseoyo, utusan istana tak menjelaskan isi suratnya. Hanya saja, surat itu dari putra mahkota,” jawab ahjumma. Seketika itu kepala Shinae terangkat dan memandangi Chanyeol dan ahjumma yang masih di depan pintu. Ia berharap surat itu berisi tentang arti keberadaan dirinya bagi putra mahkota.
“Gereomyo, apakah nona Shinae sudah baik-baik saja?” tanya ahjumma yang menengok kearah dalam kamar.
“Ah, nde ahjumma, gwenchana..” ucap Shinae yang menyeringai sambil tersenyum pada ahjumma.
“Syukurlah, akan kuambilkan bubur hangat untukmu nona,” ucap ahjumma.
“Gomawoyo, ahjumma.” Ucap Shinae yang kembali tersenyum. Ahjumma pun memberi salam pada Chanyeol dan beringsut pergi. Chanyeol masih berdiri di depan pintu dan membuka surat tersebut. Dahinya tampak mengerut ketika membacanya.
“Waeyo Chanyeol-ssi? kenapa kau tampak kecewa?” tanya Shinae, sudut bibirnya masih mempertahankan guratan senyum yang tadi ia tunjukkan pada ahjumma.
“Akan ada upacara pengangkatan putra mahkota sebagai raja joseon. Hyung memintaku untuk menghadiri upacara tersebut,” ucap Chanyeol.
“Mwo? Raja?” celetuk Shinae. Seketika sisa guratan senyum itu menghilang dari sudut bibirnya. Tak ada sedikitpun kalimat dalam surat itu yang menyebut nama Shinae.
“Hhhhhss!” Chanyeol menghela nafasnya. Ia tak sanggup menatap kedalam mata Shinae. Dalam pikirannya terus teringat dengan gerhana matahari yang akan terjadi lusa.
“Yang mulia pangeran, ini bubur untuk nona Shinae,” ucap Ahjumma yang kembali sambil membawa semangkuk bubur.
“Berikan padanya,” ucap Chanyeol yang beringsut dan menjatuhkan begitu saja surat dari istana.
“Yang mulia,” celetuk ahjumma yang bingung akan sikap Chanyeol.
“Nona, makanlah selagi hangat,” ucap ahjumma yang meletakkan semangkuk bubur itu di depan Shinae.
“Gomawo ahjumma,” ucap Shinae. Ahjumma pun mengangguk dan pergi meninggalkan Shinae.
---SKIP---
GRP! GRP! GRP! Langkah Chanyeol terdengar beradu dengan lantai kayu.  Malam terang karena sinar bulan menyinari. Segurat senyum terkembang pada sudut bibir Chanyeol. ia membawa sebuah cincin pemberian ibunya.
“Yang mulia pangeran, bagaimana kabar yang mulia selir?” tanya ahjuma yang menjumpai Chanyeol di lorong menuju kamar Shinae.
“Ibu baik-baik saja ahjumma. Gereom, dimana Shinae?” tanya Chanyeol.
“Sehari ini saya tidak melihat nona Shinae keluar kamar, yang mulia,” jawab ahjumma. Chanyeol pun mempercepat langkahnya menuju kamar Shinae.
BRP!! Pintu dibuka oleh Chanyeol. namun tak dilihatnya sosok Shinae di dalam kamar itu. semua tertata rapi. Semangkuk bubur masih utuh seperti pagi tadi.
“Shinae-ya! Eodiga!!” seru Chanyeol yang membelalakan mata. Ia tak melihat yeoja itu.
“Yang mulia! Ada apa?” tanya ahjumma.
“Ahjumma, bukankah kau bilang jika dia tak keluar kamar sehari ini?” ucap Chanyeol.
“Nde…” ucap ahjumma yang juga bingung.
“Shinae-ya!” seru Chanyeol yang menghambur keluar rumah. ia mengedar pandang ke sekitar rumah. namun tak juga ia temukan yeoja itu.
“Hhhss! Hhhss!” nafas Chanyeol menyembul di udara malam. Sinar bulan masih setia menyinarinya. Chanyeol membawa Jong untuk mencari Shinae diluar.
“Ha!” seru Chanyeol yang memacu Jong keluar rumah untuk mencari Shinae. Jepit rambut dan cincin itu masih ia selipkan dalam lipatan pakaiannya.
“Shinae-ya…khajima (jangan pergi),” ucap Chanyeol lirih.
Semua tempat telah didatangi oleh Chanyeol. Malam semakin larut, namun Chanyeol tak kunjung menemukan Shinae. Di pandangnya langit yang berhias bulan di atas sana.
“Apa dia kembali ke khayangan?” batin Chanyeol yang masih memandangi langit malam. Wajahnya tampak kacau dan putus asa. Ia tak tahu lagi harus mencari Shinae kemana.
----SKIP---
Chanyeol berjalan mondar mandir di beranda rumah. hari itu matahari malu-malu menampakkan sinarnya.
“Yang mulia, sudah tiga hari anda seperti ini,” ucap ahjumma yang cemas akan sikap Chanyeol. namun namja itu tak menanggapi perkataan wanita itu. ia hanya sibuk memainkan jepit rambut di tangannya.
“Apa anda tidak menghadiri upacara pengangkatan putra mahkota, yang mulia?” tanya ahjumma. Seketika langkah Chanyeol terhenti. Wajahnya menengok kearah ahjumma.
“Ah, geure…!” seru Chanyeol. seketika ia mengambil kudanya.
“Ha..!” Chanyeol memacu kudanya untuk menuju istana. Ia merasa ada yang dapat ia lakukan agar Shinae kembali.
FLSSHH!! Kuda cokelat itu melesat cepat menuju istana.
------------------------------------
--tiba di istana—
Semua prajurit dan para dayang memberi hormat pada Chanyeol ketika ia memasuki istana. Namun berbeda, Chanyeol tak menanggapi salam hormat mereka. Ia langsung melangkah menuju altar putra mahkota. Tangannya mengepal. Tatapannya hanya tertuju pada putra mahkota. Raja, permaisuri, ibu suri, termasuk selir yang tak lain ibunda Chanyeol pun terkejut melihat sikap pangeran itu.
“Waeyo, Chanyeol-ah?” tanya Wufan yang menyeringai ketika Chanyeol sudah berada dua langkah di depannya.
SRNNKK!! Tiba-tiba Chanyeol mengeluarkan pedangnya dan mengarahkannya pada leher Wufan. Para prajurit istana bersiaga dengan mengeluarkan pedang mereka pula. Para hadirin yang datang juga bangun dari duduknya.
“Waeyo?” tanya Wufan.
“Pangeran Cha! Apa yang ingin kau lakukan pada putra mahkota!” seru Raja. Permaisuri juga tampak cemas.
“Putraku… turunkan pedangmu!” ucap selir yang merasa cemas. Ia memegangi dadanya.
“Prajurit! Lindungi putra mahkota!” seru permaisuri, ibunda Wufan.
“Apa kau pernah merasakan sakitnya terhungus pedang, yang mulia?” tanya Chanyeol pada Wufan. Pedangnya tidak bergeser sedikit pun. Justru semakin menukik kearah leher putra mahkota.
“Apa maksudmu?” ucap Wufan.
“Apa kau rela orang yang kau cintai mati begitu saja di hadapanmu….. Hyung?” tanya Chanyeol lagi.
“Tentu tidak, Chanyeol-ah.” jawab Wufan.
“Lalu, apakah kau tahu rasanya kehilangan sebuah harapan dan cinta!!!” seru Chanyeol marah. Wajahnya tampak kemerahan.
“Mwo?” celetuk Wufan.
“Aku telah merelakannya untukmu, tapi lihatlah! Apa yang telah kau lakukan padanya!! Asal kau tahu, Shinae mencintaimu, Hyung!” seru Chanyeol. Tangannya semakin menggenggam pedang di tangannya. Wufan tertegun di atas singgasananya. Ia teringat pada Shinae, hingga muncul gambaran ketika ia pertama bertemu dengannya, hingga kejadian di hutan yang membuat semuanya berakhir begitu saja. Permaisuri dan Raja lekas menghampiri putra mahkota yang terdiam.
“Pangeran! Lepaskan putra mahkota!” seru prajurit istana yang seraya menyerang Chanyeol. Seketika itu Chanyeol menghindar. Kakinya berjingkat menjauh dari Wufan.
PRNNKK!! Suara pedang beradu dengan pedang terdengar. Semua prajurit menyerang Chanyeol. beberapa tendangan mengenai tubuh namja itu. namun Chanyeol juga menebas beberapa prajurit dengan pedangnya.
GLAK!! Tiba-tiba Chanyeol terjatuh di atas tanah ketika mendapat serangan dari berbagai arah. Ia pun sedikit kehilangan kesadarannya.
“Hhhss! Hhhss!” Nafasnya terengah, urat lehernya terlihat menonjol menahan sakit. Air mata keluar dari sudut matanya yang memandang matahari di atas langit.
“Putraku!! Andwe…” seru ibunda Chanyeol yang tak tega melihat putranya diserang para prajurit.
“Hentikan!” seru Wufan.
“Seret dia dan beri hukuman mati!!” seru Raja.
“Yang mulia! Andweyo…dia adikku!” ucap Wufan yang memohon.
“Yang mulia… kasihanilah putraku,” ucap selir.
“Dia hampir membunuh calon raja negeri ini! Sudah sepantasnya dia dijatuhi hukuman mati! Siapkan hukuman itu sekarang!!” seru Raja pada para hulubalangnya.
“Algessimnida! (baiklah)” ucap hulubalang Raja.
“Yang mulia! Dia adalah putramu! Jika kau memberinya hukuman mati padanya, maka hukumlah juga aku! Aku yang menyebabkan semua kekacauan ini!” ucap Wufan. Seketika Raja luluh. Ia pun menarik ucapannya.
“Khamsahammida Mama!!” seru ibunda Chanyeol yang berlutut di depan Raja.
“Sebagai gantinya, beri dia ramuan lupa ingatan! Aku tak ingin ia melakukan hal yang sama seperti ini dikemudian hari,” ucap Raja.
“Yang mulia..!!!” seru Wufan dan selir. Mereka tak dapat lagi memohon keringanan hukuman bagi Chanyeol. chanyeol pun dimasukkan ke penjara untuk setelahnya dijatuhi hukuman esok hari.
----SKIP---
Malam menjelang. Beberapa obor menerangi lorong menuju penjara tempat Chanyeol dikurung. Wufan ingin menemui adiknya. pengawalnya pun meminta prajurit untuk meninggalkan kakak beradik itu berdua.
“Chanyeol-ah?” ucap Wufan di depan jeruji penjara. Chanyeol hanya duduk diam menekuk lutut di sudut penjara.
“Bicaralah, Chanyeol-ah, tak ada siapapun kecuali kita,” ucap Wufan lagi, ia berjongkok di depan jeruji.
“Gerhana matahari akan datang, ketika itu terjadi, maka dia akan lenyap. Dan jika itu terjadi, maka aku akan membunuhmu, yang mulia,” ucap Chanyeol yang tak memandang wajah Wufan.
“Mwo?” celetuk Wufan.
“Apa kau benar-benar tak menaruh hati padanya sedikitpun. Putra mahkota? Ah, anniya anniya… yang mulia Raja?” tanya Chanyeol, wajahnya menengok kearah Wufan yang telah diangkat menjadi Raja joseon.
“Jawab aku!” seru Chanyeol.
“Chanyeol-ah?” celetuk Wufan.
“Jika kau menaruh hati padanya, carilah dia sebelum gerhana tiba! Katakan jika kau mencintainya. Maka dia akan menjadi manusia seutuhnya,” ucap Chanyeol.
“Shinae-ya…” celetuk Wufan. Seketika ia beringsut meninggalkan Chanyeol. ia mengeluarkan perintah untuk mencari yeoja bernama Shinae dengan cirri-ciri yang telah disebutkan.
“Hanya tersisa tiga hari lagi,” batin Chanyeol dalam penjara. Ia masih berharap jika Shinae berhasil ditemukan.
-----SKIP---
“Anda akan menjalani hukuman hari ini, pangeran,” ucap prajurit yang kemudian membawa Chanyeol keluar penjara.
Sebuah meja dengan mangkuk kecil berisi ramuan telah tersedia. Chanyeol yang mengenakan pakaian putih pun memberi penghormatan sebanyak tiga kali. Selir Hee bin dan Wufan berdiri dibelakang Chanyeol sambil menundukkan kepalanya.
“Putraku… hhhgk! Hhhgkk!” ibu Chanyeol menangis.
“Kumohon janganlah kau lupa pada kami, Chanyeol-ah. cukup lupakan kejadian kemarin,” ucap Wufan.
“Terima kasih atas kemurahan hati kalian, Ibunda dan yang mulia Raja,” ucap Chanyeol.
“Akan kupastikan jika aku menemukan Shinae,” ucap Wufan.
“Khamsahammida, Mama, tolong jaga dia.” ucap Chanyeol. Tangannya meraih mangkuk, di pandangnya air berwarna kecokelatan itu. bayangan dirinya terpantul ke dalam mangkuk.
“Putraku….”celetuk ibunda Chanyeol.
GLEG GLEG! Chanyeol meminum habis ramuan itu.
BRAKK! Tiba-tiba Chanyeol rubuh dan tak sadarkan diri. Dahinya mengerut, air mukanya tampak kacau. Air mata keluar dari sudut matanya.
“Putraku! Pangeran Cha!!” seru ibunda Chanyeol.
“Chanyeol-ah!” seru Wufan. Ia mengguncang tubuh Chanyeol.
“Cepat panggil tabib istana!” seru Wufan pada prajurit yang berjaga.
“Joseonghamnida Mama! (Maafkan kami yang mulia) Pangeran Cha tidak diperkenankan diperiksa oleh tabib istana, itu karena ia tengah menjalani hukuman,” ucap prajurit itu.
“Yang mulia Raja, sebaiknya aku membawanya pulang,” ucap Ibunda Chanyeol. ia terus menangisi putranya.
“Baiklah,” ucap Wufan. Sebuah tandu pun disiapkan untuk membawa Chanyeol pulang.
-----------------------------
--tiba di rumah—
“Yang mulia Raja tiba….” Seru prajurit. Ahjumma pun memberi hormat.
“Yang mulia pangeran, apa yang terjadi denganmu?” ucap ahjumma cemas karena sejak kemarin tuannya tak pulang kerumah. Dan Ketika pulang dalam keadaan tak sadarkan diri.
“Ada sesuatu yang terjadi pada putraku, ahjumma,” ucap ibu Chanyeol yang mengiringi Chanyeol.
Tubuh Chanyeol direbahkan dalam bilik. Ibunya pun tak beranjak sedikitpun dari sisi putranya.
“Kau istirahatlah, selir,” ucap Wufan yang juga menunggui Chanyeol.
“Anniymnida yang mulia, ini tugasku sebagai seorang ibu,” ucap ibu Chanyeol.
“Namun ini juga tugasku sebagai seorang kakak,” celetuk Wufan, ibu Chanyeol pun terkejut.
Perlahan, jemari Chanyeol mulai bergerak. Bola matanya pun bergulir ke kanan dan kiri.
“Putraku…”
Mata Chanyeol pun terbuka sedikit demi sedikit.
“Chanyeol-ah? gwenchana?” tanya Wufan.
“Dimana aku, Eomma?” tanya Chanyeol yang melihat kearah ibunya.
“Apa yang terjadi denganku, Hyung-ah?” tanya Chanyeol yang meihat kearah Wufan. Dahinya kembali mengerut dan tangannya memegangi kepalanya.
“Chakaman! Apa kau sudah diangkat menjadi raja, yang mulia putra mahkota? Kapan itu? kenapa aku tak menyaksikannya?” ucap Chanyeol yang melihat Wufan telah mengenakan pakaian Raja joseon. Pakaian berwarna merah dengan gambar naga berwarna emas.
“Chanyeol-ah…” ucap Wufan.
GRRP GRRPP! Terdengar langkah kaki yang mendekat.
“Yang mulia Raja! Hamba kemari hendak melapor,” seru hulubalang Raja dari luar bilik.
“Masuklah!” ucap Wufan.
“Kami belum menemukan nona Shinae, hanya saja kami menemukan jepit rambut ini di hutan,” ucap hulubalang sambil menyerahkan jepit rambut berbentuk bunga pada Wufan.
“Itu milik nona Shinae, yang mulia!” celetuk Ahjumma yang melihat jepit yang ia berikan pada Shinae.
“Yang mulia? Siapa Shinae?” tanya Chanyeol pada Wufan dengan wajah bingung.
“Putraku…. Dia adalah wanita yang kau ceritakan pada ibu beberapa hari lalu,” ucap ibu Chanyeol. karena bahkan Chanyeol membawa cincin keluarga untuk diberikan pada wanita yang Chanyeol cintai.
“Chanyeol-ah? kau tak ingat siapa dia?” tanya Wufan yang terkejut.
“Dimana cincin yang kuberikan padamu, nak?” tanya Ibu Chanyeol pada putranya.
“Mwo? cincin?” tanya Chanyeol bingung.
“Apa ini yang anda maksud nyonya? Saya menemukan ini ketika membenahi pakaian pangeran kemarin,” ucap dayang istana yang merupakan pelayan selir. Pelayan itu memberikan sebuah cincin dan jepit rambut berbentuk matahari.
“Hiya! Sejak kapan aku mengenakan jepit seperti itu?” ucap Chanyeol.
“Yang mulia Pangeran ingin memberikan jepit itu pada nona Shinae,” celetuk ahjumma yang sering melihat tuannya memainkan jepit rambut itu.
“Mwo? Hiya!! Siapa Shinae?” tanya Chanyeol. ia benar-benar lupa dengan yeoja itu. semua yang berhubungan dengan Shinae lenyap dari pikiran Chanyeol.
“Chanyeol-ah? apa kau benar-benar lupa padanya?” tanya Wufan.
“Ah, waeyo? Apa dia calon permaisurimu, yang mulia?” jawab Chanyeol. Wufan pun tak dapat berkata apa-apa, ia menundukkan kepala.
-------SKIP----
--tiga hari kemudian—
Suasana dalam aula utama tampak tenang. Para menteri melaporkan beberapa hal yang perlu dilaporkan pada Raja.
“Hamba dengar, hari ini akan terjadi gerhana matahari total, yang mulia,” celetuk salah satu menteri.
“Apa kita perlu mengadakan upacara?” celetuk menteri yang lain menanggapi.
“Gerhana?” ucap Wufan lirih. Ia pun teringat akan perkataan Chanyeol (“carilah dia sebelum gerhana tiba! Katakan jika kau mencintainya. Maka dia akan menjadi manusia seutuhnya,”). Seketika itu Wufan beringsut, ia meminta pelayan menyiapkan kuda baginya. Hulubalang yang sempat menemukan jepit rambut Shinae pun dipanggilnya.
“Ha!” seru Wufan yang memacu kudanya. Hulubalang itu mengikuti dibelakang sang Raja.
FLSSHH! Dua kuda itu melesat kearah hutan.
“Hamba menemukan jepit ini di sini, yang mulia,” ucap hulubalang.
“Shinae-ya...dimana kau.” batin Wufan yang kembali memacu kudanya. Raut wajahnya tampak cemas, sesekali dilihatnya matahari yang masih bersinar terik.
-------------------------------------------------------------------
--di rumah Chanyeol—
“Ahjumma! Dimana putraku!” seru selir.
“Pangeran pergi sejak pagi buta, nyonya.” Ucap ahjumma.
“Kemana dia?” tanya ibu Chanyeol cemas.
“Mollaseoyo.” Jawab ahjumma.
--------------------------------------------------------------------------
Ngiiikk!!! Kuda Chanyeol, Jong, meringik ketika membawa tuannya ke tebing dekat sungai di tepian hutan.
“Jong-ie? Waeyo?” tanya Chanyeol. ia sendiri bingung mengapa kudanya membawanya ke tempat ini. Padahal sebelumnya Chanyeol hanya ingin berjalan-jalan sebentar.
GRPP! Chanyeol turun dari kudanya. BLPP! Tiba-tiba sebuah benda ikut terjatuh di bawah pakaian Chanyeol. ia pun memungutnya. Itu sebuah jepit rambut berbentuk matahari yang kemarin ditunjukkan pelayan.
“Hiya… ada apa denganku, mengapa aku membawa benda seperti ini?” celetuk Chanyeol bingung.
“Jong-ie……!!!” seru sebuah suara. Chanyeol pun terkejut mendengar seseorang memanggil nama kudanya.
BRRP! BRRP! BRRP! Seorang yeoja berlari kearah kuda Chanyeol. Chanyeol memandanginya dengan bingung.
“Chanyeol-ssi, kau datang mencariku?” tanya yeoja yang tak lain adalah Shinae.
“Mwo?” tanya Chanyeol.
“Aku sadar, jika cinta putra mahkota tak dapat dipaksakan. Aku akan rela menerima hukuman dari kaisar langit. Lagipula, aku mulai melihat matahari lain terbit disuatu tempat,” ucap Shinae sambil menatap langit.
“Hiya! Siapa kau?” tanya Chanyeol. seketika Shinae menengok kearah Chanyeol yang berdiri beberapa langkah didepannya.
“Apa maksudmu? Apa kau bergurau?” ucap Shinae yang mendekat kearah Chanyeol.
“Nuguya??” tanya Chanyeol lagi. Kakinya berjalan mundur menghindari Shinae yang semakin mendekat.
“Chanyeol-ssi…. apa yang terjadi denganmu?” ucap Shinae. Tangannya meraih wajah Chanyeol.
BASHHHTTT!!! Seketika Chanyeol menepis tangan Shinae yang menyentuh wajahnya.
“Hhhhh!!” Shinae terkejut hingga menarik nafasnya. Yeoja itu memandangi tangannya yang ditepis oleh Chanyeol.
“Aku tak pernah mengenal wanita gila sepertimu!!” seru Chanyeol. ia berjalan melalui Shinae.
HUG!! Tiba-tiba yeoja itu berbalik dan memeluk tubuh Chanyeol dari belakang.
“Khajima….khajimayo (jangan pergi), tetaplah disini hingga gerhana matahari usai,” ucap Shinae yang memeluk erat tubuh Chanyeol. Pada saat yang bersamaan, Wufan ternyata telah tiba bersama hulubalangnya.
“Yang mulia, kenapa kau tak menemui nona Shinae,” ucap hulubalang. Namun Wufan hanya diam. Dipandangnya Shinae yang masih memeluk Chanyeol.
WWSSHH!! Tiba-tiba angin berhembus kencang. Debu-debu berterbangan kesana-kemari. Daun-daun berguguran.
BRRAKK!! Tiba-tiba tubuh Shinae terjatuh ditanah karena dihempaskan oleh Chanyeol. namja itu lekas menunggangi kudanya dan berbalik arah. Angin semakin berhembus kencang bahkan menggugurkan daun-daun serta mematahkan rantingnya. Seketika langit berubah gelap. Matahari tertutup benda asing. Dan Gelap!
Ngiikk!!! Kuda Chanyeol kembali meringik, kuda itu memberontak pada perintah tuannya. Dan badan kuda itu tak mampu menyeimbangkan posisinya. Chanyeol pun kebingungan mengendalikan Jong, kuda kesayangannya.
“Jong-ie…. Waeyo?” celetuk Chanyeol panik.
BLAPP!! kuda itu menjatuhkan tuannya. Chanyeol terpental menghantam bebatuan dan terjatuh ke sungai yang dalam.
BYURR!!! Tubuh Chanyeol jatuh hingga menyentuh dasar sungai. Gelembung-gelembung udara menyembul bagaikan buih melalui mulutnya. Matanya masih sedikit terbuka, walau hanya melihat gelapnya dasar sungai karena matahari masih tertutup benda asing.
“Chanyeol-ssi!!” seru Shinae panik, begitu juga dengan Wufan yang langsung memacu kudanya menuju tepi tebing.
“Mwoya? Apa aku akan mati seperti ini?” batin Chanyeol yang tubuhnya terasa ringan bagaikan kapas. Jepit rambut matahari ditangannya masih digenggam dengan erat. Kedua matanya hampir terpejam. Buih-buih yang keluar dari mulutnya perlahan menghilang.
BYURR!! Tanpa pikir panjang Shinae melompat ke dalam sungai.
BLup…Blup…Blup…. Buih-buih putih menyembul dari mulut yeoja itu. Matanya mengedar pandang ke sekitar dasar sungai. Rambut panjang dan gaunnya terurai berlawanan arah dengan gerak tubuhnya. Hingga tiba-tiba matanya menangkap sosok yang melayang di dalam air. Tangannya pun mendayung dengan kuat kearah sosok itu.
“Siapa dia? Apa dia bidadari surga?” batin Chanyeol yang melihat sosok putih mendekat kearahnya. Perlahan, sosok putih itu semakin jelas terlihat.
“Shinae?” batin Chanyeol, ia pun teringat akan Shinae. Seketika tangannya yang lemah pun mendayung kearah yeoja itu. dasar sungai mulai terang seiring matahari yang perlahan kembali terlihat kembali.
HUG!! Chanyeol memeluk Shinae ketika berhasil mencapainya. Di sentuhnya wajah Shinae dengan lembut. Setelah itu, mereka pun mendayung menuju permukaan air.
BYURR!! Chanyeol dan Shinae berhasil mencapai permukaan air. Seketika itu pula gerhana usai, matahari kembali terlihat terang. Wufan memandangi Shinae dari atas tebing.
“Kurasa takkan ada yang lenyap, karena kau telah berhasil meraih hatiku, Shinae-ya.” Celetuk Wufan, ia pun meninggalkan Shinae dan Chanyeol.
“Shinae-ya… khajima..” ucap Chanyeol pada Shinae yang ada dihadapan matanya. Mereka masih berada di permukaan air.
“Kau mengingatku, Chanyeol-ssi? geure, matahari yang kulihat terbit di suatu tempat adalah kau, Oppa,” ucap Shinae. Yeoja itu pun menatap langit, ia tersenyum pada kaisar langit yang tak membuatnya menghilang setelah gerhana.
“Kau telah menjadi manusia seutuhnya, Shinae,” ucap sebuah suara yang menggema diantara tebing-tebing batu.
“Shinae-ya…” celetuk Chanyeol. Chanyeol pun memasangkan jepit rambut berbentuk matahari pada Shinae. Setelah itu, tangan Chanyeol meraih tengkuk Shinae.
Chu~ tiba-tiba Shinae menerima sebuah ciuman dari Chanyeol.
-----------TAMAT------------------


R+C+L nde…gomawo udh baca,, ;) jangan kapok baca FF nae :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar