Tittle: Eclipse
Main cast: Park Chanyeol | Wu Yifan | Shinae
Genre: Fusion Fantasy Saeguk
Length: Two Shoot
Don’t be siders! Don’t be plagiators!
Mianhae kalo jelek ya….
;)
~ECLIPSE~
SHOOT 2
“Yang mulia…” ucap Shinae, langkah
kaki Wufan sempat terhenti sebentar.
“Hyung-ah, apa kau tak ingin
mendengar alasannya?” tanya Chanyeol. Namun langkah Wufan semakin pasti.
Beberapa saat kemudian para prajurit utusan istana tiba. Mereka mendengar kabar
jika rombongan putra mahkota diserang oleh kawanan ninja.
“Yang mulia putra mahkota!” seru
Chanyeol lagi, Shinae pun meraih lengan Chanyeol agar namja itu tak mengejar
hyungnya.
“Shinae-ya! Lepaskan!” seru Chanyeol.
“Andweyo, andwe!” ucap Shinae. Yeoja
itu pun kembali terduduk di atas tanah yang basah dan memegangi kaki Chanyeol.
Pakaian baru yang ia kenakan tampak lusuh, basah dan kotor. Rambut panjangnya
pun tak seperti tatanan ketika tadi. Air mata tak tampak keluar lagi dari mata
yeoja itu karena tersapu hujan.
--beberapa saat kemudian---
Shinae beringsut. Kakinya melangkah
kesuatu tempat.
“Jangan ikuti aku!” seru Shinae pada
Chanyeol yang mengikutinya dari belakang.
“Apa kau akan pulang ke khayangan dan
menerima hukuman kaisar langit?” tanya Chanyeol.
“Itu bukan urusanmu. Gomawo, sudah
membantuku sejauh ini,” jawab Shinae. Yeoja itu pun berjalan menunduk menuju
tepi hutan.
“Shinae-ya, tak bisakah kau mulai
melihat matahari lain?” batin Chanyeol, ia mengeluarkan jepit rambut berbentuk
matahari yang ia beli di pasar. Itu adalah jepit pilihan Shinae yang tak jadi
dibeli.
“Shinae-ya!!” seru Chanyeol yang tersadar
dan kehilangan jejak yeoja itu. ia pun menghambur menunggangi kuda untuk
mengejar Shinae.
“Tak mungkin ia secepat itu
menghilang,” batin Chanyeol. matanya mengedar pandang. Tiba-tiba sudut matanya
menangkap sesuatu. Ia melihat seseorang yang tengah bersimpuh di atas tanah, ia
menundukkan kepalanya.
“Shinae.” Celetuk Chanyeol, ia pun
memacu kudanya untuk beringsut menghampiri yeoja itu. Chanyeol mengaitkan tali
kudanya ke sebuah pohon di sekitarnya.
“Gwenchanayo?” Tanya Chanyeol.
seketika itu Shinae bangkit. Kepalanya yang tadi menunduk memandang tanah pun
kini mendongak memandang Chanyeol.
SRK! SRK! Langkah Shinae semakin
mundur. Sedangkan beberapa langkah di belakangnya terdapat jurang yang cukup
curam. Batu-batu cadas yang runcing siap menusuk tubuhnya jika terjatuh.
“Hiya!! Ada apa denganmu!” Seru
Chanyeol yang seraya menghambur ke arah
Shinae dan meninggalkan kudanya.
“Jangan mendekat!!” seru Shinae pada
Chanyeol yang berada dua langkah di depannya. Seketika itu langkah kaki
Chanyeol terhenti.
“Shinae-ya! aku rasa kau tidak
mungkin berniat jatuh ke jurang,
geurechi?” Tanya Chanyeol.
“Anniyo. Aku pantas untuk jatuh ke
jurang. Jika tubuhku tertancap batu cadas itu, maka aku akan mati,” jawab
Shinae. Rasa sedih dalam hatinya begitu besar.
“Mwo?” Tanya Chanyeol, ia
mengernyitkan dahinya. Ia tertegun memandangi Shinae.
SRK! SRK! Terdengar langkah kaki
Shinae semakin mundur. Beberapa runtuhan tanah pun jatuh ke dasar jurang.
Hhssh………..! Tiupan angin menyembulkan
helaian rambut Shinae kearah muka. Beberapa saat yang lalu, hujan reda.
Seketika itu tubuhnya terasa ringan. Ia memejamkan mata dan merasakan
keringanan tubuhnya yang di terpa angin. Kedua tangannya menyilang didepan
dada. Seketika itu pula tubuh Shinae condong ke belakang kearah jurang.
“Shinae-ya!” Seru Chanyeol yang
tiba-tiba menyeringai, ia tersadar dari lamunannya. Seketika itu ia menghambur
ke arah muka.
HUG!! Chanyeol berhasil meraih tangan
Shinae yang tubuhnya mulai roboh kearah jurang lalu menjatuhkan yeoja itu ke
dalam pelukannya.
“Andweyo!” ucap Chanyeol. Tangan
kirinya yang masih menggenggam jepit rambut pun memeluk tubuh Shinae, sedangkan
yang lainnya menyentuh belakang kepala yeoja itu.
“HHssh! Hhssh!!” terdengar nafas
Chanyeol yang sedikit terengah. Dahinya juga masih tampak mengernyit. Sedangkan
Shinae tidak memberikan ekspresi apapun, ia hanya diam dalam pelukan Chanyeol.
“Sudah ku putuskan untuk
melindungimu.” Batin Chanyeol, kedua matanya ikut terpejam dan merasakan
hembusan angin yang sesekali menerpa wajahnya dari balik tubuh Shinae.
“Jangan pernah lupakan kejadian ini.”
Ucap Chanyeol pada Shinae. Yeoja itu tertegun dan hanya bisa diam.
------SKIP----------
Pagi menjelang. Chanyeol menuju bilik
Shinae untuk mengetahui keadaannya.
“Mama!!! (kaisar!!)” Seru Shinae yang
terlonjak bangun dengan nafas terengah dan mengeluarkan keringat dingin.
“Shinae-ya! Gwenchana?” tanya
Chanyeol yang seketika menghambur memasuki kamar Shinae. Di sentuhnya wajah
yeoja itu dengan kedua tangan.
“Akan terjadi gerhana matahari lusa,”
ucap Shinae, matanya berkaca-kaca memandangi Chanyeol.
“Apa arti peristiwa itu?” tanya
Chanyeol bingung.
“Jika aku belum mendapatkan cinta
tulus putra mahkota, maka tubuhku akan terbakar seketika setelah matahari
kembali muncul.” Jawab Shinae.
“Aku akan lenyap dari dunia ini,”
celetuk Shinae menimpali.
“Shinae-ya… anniya… tak akan
kubiarkan kau lenyap dari dunia ini,” ucap Chanyeol yang seraya meraih bahu
Shinae dan memeluknya.
“Yang mulia pangeran…” ucap ahjuma
dari luar bilik. Chanyeol pun menengok kearah pintu, dilepaskanlah pelukannya
pada Shinae yang masih mengeluarkan keringat dinginnya.
GRRPP! Pintu pun di buka oleh
Chanyeol.
“Waeyo?” tanya Chanyeol pada ahjumma
yang berdiri di depan pintu.
“Anda mendapat kiriman surat dari
istana, yang mulia,” ucap ahjumma sambil memberikan segulung kertas.
“Surat apa ini?” tanya Chanyeol, ia
pun menengok kearah Shinae yang masih duduk menunduk dan menekuk lututnya.
“Mollaseoyo, utusan istana tak
menjelaskan isi suratnya. Hanya saja, surat itu dari putra mahkota,” jawab
ahjumma. Seketika itu kepala Shinae terangkat dan memandangi Chanyeol dan
ahjumma yang masih di depan pintu. Ia berharap surat itu berisi tentang arti
keberadaan dirinya bagi putra mahkota.
“Gereomyo, apakah nona Shinae sudah
baik-baik saja?” tanya ahjumma yang menengok kearah dalam kamar.
“Ah, nde ahjumma, gwenchana..” ucap
Shinae yang menyeringai sambil tersenyum pada ahjumma.
“Syukurlah, akan kuambilkan bubur
hangat untukmu nona,” ucap ahjumma.
“Gomawoyo, ahjumma.” Ucap Shinae yang
kembali tersenyum. Ahjumma pun memberi salam pada Chanyeol dan beringsut pergi.
Chanyeol masih berdiri di depan pintu dan membuka surat tersebut. Dahinya
tampak mengerut ketika membacanya.
“Waeyo Chanyeol-ssi? kenapa kau
tampak kecewa?” tanya Shinae, sudut bibirnya masih mempertahankan guratan
senyum yang tadi ia tunjukkan pada ahjumma.
“Akan ada upacara pengangkatan putra
mahkota sebagai raja joseon. Hyung memintaku untuk menghadiri upacara
tersebut,” ucap Chanyeol.
“Mwo? Raja?” celetuk Shinae. Seketika
sisa guratan senyum itu menghilang dari sudut bibirnya. Tak ada sedikitpun
kalimat dalam surat itu yang menyebut nama Shinae.
“Hhhhhss!” Chanyeol menghela
nafasnya. Ia tak sanggup menatap kedalam mata Shinae. Dalam pikirannya terus
teringat dengan gerhana matahari yang akan terjadi lusa.
“Yang mulia pangeran, ini bubur untuk
nona Shinae,” ucap Ahjumma yang kembali sambil membawa semangkuk bubur.
“Berikan padanya,” ucap Chanyeol yang
beringsut dan menjatuhkan begitu saja surat dari istana.
“Yang mulia,” celetuk ahjumma yang
bingung akan sikap Chanyeol.
“Nona, makanlah selagi hangat,” ucap
ahjumma yang meletakkan semangkuk bubur itu di depan Shinae.
“Gomawo ahjumma,” ucap Shinae.
Ahjumma pun mengangguk dan pergi meninggalkan Shinae.
---SKIP---
GRP! GRP! GRP! Langkah Chanyeol
terdengar beradu dengan lantai kayu.
Malam terang karena sinar bulan menyinari. Segurat senyum terkembang
pada sudut bibir Chanyeol. ia membawa sebuah cincin pemberian ibunya.
“Yang mulia pangeran, bagaimana kabar
yang mulia selir?” tanya ahjuma yang menjumpai Chanyeol di lorong menuju kamar
Shinae.
“Ibu baik-baik saja ahjumma. Gereom,
dimana Shinae?” tanya Chanyeol.
“Sehari ini saya tidak melihat nona
Shinae keluar kamar, yang mulia,” jawab ahjumma. Chanyeol pun mempercepat
langkahnya menuju kamar Shinae.
BRP!! Pintu dibuka oleh Chanyeol.
namun tak dilihatnya sosok Shinae di dalam kamar itu. semua tertata rapi.
Semangkuk bubur masih utuh seperti pagi tadi.
“Shinae-ya! Eodiga!!” seru Chanyeol
yang membelalakan mata. Ia tak melihat yeoja itu.
“Yang mulia! Ada apa?” tanya ahjumma.
“Ahjumma, bukankah kau bilang jika
dia tak keluar kamar sehari ini?” ucap Chanyeol.
“Nde…” ucap ahjumma yang juga
bingung.
“Shinae-ya!” seru Chanyeol yang
menghambur keluar rumah. ia mengedar pandang ke sekitar rumah. namun tak juga
ia temukan yeoja itu.
“Hhhss! Hhhss!” nafas Chanyeol
menyembul di udara malam. Sinar bulan masih setia menyinarinya. Chanyeol
membawa Jong untuk mencari Shinae diluar.
“Ha!” seru Chanyeol yang memacu Jong
keluar rumah untuk mencari Shinae. Jepit rambut dan cincin itu masih ia
selipkan dalam lipatan pakaiannya.
“Shinae-ya…khajima (jangan pergi),”
ucap Chanyeol lirih.
Semua tempat telah didatangi oleh
Chanyeol. Malam semakin larut, namun Chanyeol tak kunjung menemukan Shinae. Di
pandangnya langit yang berhias bulan di atas sana.
“Apa dia kembali ke khayangan?” batin
Chanyeol yang masih memandangi langit malam. Wajahnya tampak kacau dan putus
asa. Ia tak tahu lagi harus mencari Shinae kemana.
----SKIP---
Chanyeol berjalan mondar mandir di
beranda rumah. hari itu matahari malu-malu menampakkan sinarnya.
“Yang mulia, sudah tiga hari anda
seperti ini,” ucap ahjumma yang cemas akan sikap Chanyeol. namun namja itu tak
menanggapi perkataan wanita itu. ia hanya sibuk memainkan jepit rambut di
tangannya.
“Apa anda tidak menghadiri upacara
pengangkatan putra mahkota, yang mulia?” tanya ahjumma. Seketika langkah
Chanyeol terhenti. Wajahnya menengok kearah ahjumma.
“Ah, geure…!” seru Chanyeol. seketika
ia mengambil kudanya.
“Ha..!” Chanyeol memacu kudanya untuk
menuju istana. Ia merasa ada yang dapat ia lakukan agar Shinae kembali.
FLSSHH!! Kuda cokelat itu melesat
cepat menuju istana.
------------------------------------
--tiba di istana—
Semua prajurit dan para dayang
memberi hormat pada Chanyeol ketika ia memasuki istana. Namun berbeda, Chanyeol
tak menanggapi salam hormat mereka. Ia langsung melangkah menuju altar putra
mahkota. Tangannya mengepal. Tatapannya hanya tertuju pada putra mahkota. Raja,
permaisuri, ibu suri, termasuk selir yang tak lain ibunda Chanyeol pun terkejut
melihat sikap pangeran itu.
“Waeyo, Chanyeol-ah?” tanya Wufan
yang menyeringai ketika Chanyeol sudah berada dua langkah di depannya.
SRNNKK!! Tiba-tiba Chanyeol
mengeluarkan pedangnya dan mengarahkannya pada leher Wufan. Para prajurit
istana bersiaga dengan mengeluarkan pedang mereka pula. Para hadirin yang
datang juga bangun dari duduknya.
“Waeyo?” tanya Wufan.
“Pangeran Cha! Apa yang ingin kau
lakukan pada putra mahkota!” seru Raja. Permaisuri juga tampak cemas.
“Putraku… turunkan pedangmu!” ucap
selir yang merasa cemas. Ia memegangi dadanya.
“Prajurit! Lindungi putra mahkota!”
seru permaisuri, ibunda Wufan.
“Apa kau pernah merasakan sakitnya
terhungus pedang, yang mulia?” tanya Chanyeol pada Wufan. Pedangnya tidak
bergeser sedikit pun. Justru semakin menukik kearah leher putra mahkota.
“Apa maksudmu?” ucap Wufan.
“Apa kau rela orang yang kau cintai
mati begitu saja di hadapanmu….. Hyung?” tanya Chanyeol lagi.
“Tentu tidak, Chanyeol-ah.” jawab
Wufan.
“Lalu, apakah kau tahu rasanya
kehilangan sebuah harapan dan cinta!!!” seru Chanyeol marah. Wajahnya tampak
kemerahan.
“Mwo?” celetuk Wufan.
“Aku telah merelakannya untukmu, tapi
lihatlah! Apa yang telah kau lakukan padanya!! Asal kau tahu, Shinae mencintaimu,
Hyung!” seru Chanyeol. Tangannya semakin menggenggam pedang di tangannya. Wufan
tertegun di atas singgasananya. Ia teringat pada Shinae, hingga muncul gambaran
ketika ia pertama bertemu dengannya, hingga kejadian di hutan yang membuat
semuanya berakhir begitu saja. Permaisuri dan Raja lekas menghampiri putra
mahkota yang terdiam.
“Pangeran! Lepaskan putra mahkota!”
seru prajurit istana yang seraya menyerang Chanyeol. Seketika itu Chanyeol
menghindar. Kakinya berjingkat menjauh dari Wufan.
PRNNKK!! Suara pedang beradu dengan
pedang terdengar. Semua prajurit menyerang Chanyeol. beberapa tendangan
mengenai tubuh namja itu. namun Chanyeol juga menebas beberapa prajurit dengan
pedangnya.
GLAK!! Tiba-tiba Chanyeol terjatuh di
atas tanah ketika mendapat serangan dari berbagai arah. Ia pun sedikit
kehilangan kesadarannya.
“Hhhss! Hhhss!” Nafasnya terengah,
urat lehernya terlihat menonjol menahan sakit. Air mata keluar dari sudut
matanya yang memandang matahari di atas langit.
“Putraku!! Andwe…” seru ibunda
Chanyeol yang tak tega melihat putranya diserang para prajurit.
“Hentikan!” seru Wufan.
“Seret dia dan beri hukuman mati!!”
seru Raja.
“Yang mulia! Andweyo…dia adikku!”
ucap Wufan yang memohon.
“Yang mulia… kasihanilah putraku,”
ucap selir.
“Dia hampir membunuh calon raja
negeri ini! Sudah sepantasnya dia dijatuhi hukuman mati! Siapkan hukuman itu
sekarang!!” seru Raja pada para hulubalangnya.
“Algessimnida! (baiklah)” ucap
hulubalang Raja.
“Yang mulia! Dia adalah putramu! Jika
kau memberinya hukuman mati padanya, maka hukumlah juga aku! Aku yang
menyebabkan semua kekacauan ini!” ucap Wufan. Seketika Raja luluh. Ia pun
menarik ucapannya.
“Khamsahammida Mama!!” seru ibunda
Chanyeol yang berlutut di depan Raja.
“Sebagai gantinya, beri dia ramuan
lupa ingatan! Aku tak ingin ia melakukan hal yang sama seperti ini dikemudian
hari,” ucap Raja.
“Yang mulia..!!!” seru Wufan dan
selir. Mereka tak dapat lagi memohon keringanan hukuman bagi Chanyeol. chanyeol
pun dimasukkan ke penjara untuk setelahnya dijatuhi hukuman esok hari.
----SKIP---
Malam menjelang. Beberapa obor
menerangi lorong menuju penjara tempat Chanyeol dikurung. Wufan ingin menemui
adiknya. pengawalnya pun meminta prajurit untuk meninggalkan kakak beradik itu
berdua.
“Chanyeol-ah?” ucap Wufan di depan
jeruji penjara. Chanyeol hanya duduk diam menekuk lutut di sudut penjara.
“Bicaralah, Chanyeol-ah, tak ada
siapapun kecuali kita,” ucap Wufan lagi, ia berjongkok di depan jeruji.
“Gerhana matahari akan datang, ketika
itu terjadi, maka dia akan lenyap. Dan jika itu terjadi, maka aku akan
membunuhmu, yang mulia,” ucap Chanyeol yang tak memandang wajah Wufan.
“Mwo?” celetuk Wufan.
“Apa kau benar-benar tak menaruh hati
padanya sedikitpun. Putra mahkota? Ah, anniya anniya… yang mulia Raja?” tanya
Chanyeol, wajahnya menengok kearah Wufan yang telah diangkat menjadi Raja
joseon.
“Jawab aku!” seru Chanyeol.
“Chanyeol-ah?” celetuk Wufan.
“Jika kau menaruh hati padanya,
carilah dia sebelum gerhana tiba! Katakan jika kau mencintainya. Maka dia akan
menjadi manusia seutuhnya,” ucap Chanyeol.
“Shinae-ya…” celetuk Wufan. Seketika
ia beringsut meninggalkan Chanyeol. ia mengeluarkan perintah untuk mencari
yeoja bernama Shinae dengan cirri-ciri yang telah disebutkan.
“Hanya tersisa tiga hari lagi,” batin
Chanyeol dalam penjara. Ia masih berharap jika Shinae berhasil ditemukan.
-----SKIP---
“Anda akan menjalani hukuman hari
ini, pangeran,” ucap prajurit yang kemudian membawa Chanyeol keluar penjara.
Sebuah meja dengan mangkuk kecil
berisi ramuan telah tersedia. Chanyeol yang mengenakan pakaian putih pun
memberi penghormatan sebanyak tiga kali. Selir Hee bin dan Wufan berdiri
dibelakang Chanyeol sambil menundukkan kepalanya.
“Putraku… hhhgk! Hhhgkk!” ibu
Chanyeol menangis.
“Kumohon janganlah kau lupa pada
kami, Chanyeol-ah. cukup lupakan kejadian kemarin,” ucap Wufan.
“Terima kasih atas kemurahan hati
kalian, Ibunda dan yang mulia Raja,” ucap Chanyeol.
“Akan kupastikan jika aku menemukan
Shinae,” ucap Wufan.
“Khamsahammida, Mama, tolong jaga
dia.” ucap Chanyeol. Tangannya meraih mangkuk, di pandangnya air berwarna
kecokelatan itu. bayangan dirinya terpantul ke dalam mangkuk.
“Putraku….”celetuk ibunda Chanyeol.
GLEG GLEG! Chanyeol meminum habis
ramuan itu.
BRAKK! Tiba-tiba Chanyeol rubuh dan
tak sadarkan diri. Dahinya mengerut, air mukanya tampak kacau. Air mata keluar
dari sudut matanya.
“Putraku! Pangeran Cha!!” seru ibunda
Chanyeol.
“Chanyeol-ah!” seru Wufan. Ia
mengguncang tubuh Chanyeol.
“Cepat panggil tabib istana!” seru
Wufan pada prajurit yang berjaga.
“Joseonghamnida Mama! (Maafkan kami
yang mulia) Pangeran Cha tidak diperkenankan diperiksa oleh tabib istana, itu
karena ia tengah menjalani hukuman,” ucap prajurit itu.
“Yang mulia Raja, sebaiknya aku
membawanya pulang,” ucap Ibunda Chanyeol. ia terus menangisi putranya.
“Baiklah,” ucap Wufan. Sebuah tandu
pun disiapkan untuk membawa Chanyeol pulang.
-----------------------------
--tiba di rumah—
“Yang mulia Raja tiba….” Seru
prajurit. Ahjumma pun memberi hormat.
“Yang mulia pangeran, apa yang
terjadi denganmu?” ucap ahjumma cemas karena sejak kemarin tuannya tak pulang
kerumah. Dan Ketika pulang dalam keadaan tak sadarkan diri.
“Ada sesuatu yang terjadi pada
putraku, ahjumma,” ucap ibu Chanyeol yang mengiringi Chanyeol.
Tubuh Chanyeol direbahkan dalam
bilik. Ibunya pun tak beranjak sedikitpun dari sisi putranya.
“Kau istirahatlah, selir,” ucap Wufan
yang juga menunggui Chanyeol.
“Anniymnida yang mulia, ini tugasku
sebagai seorang ibu,” ucap ibu Chanyeol.
“Namun ini juga tugasku sebagai
seorang kakak,” celetuk Wufan, ibu Chanyeol pun terkejut.
Perlahan, jemari Chanyeol mulai
bergerak. Bola matanya pun bergulir ke kanan dan kiri.
“Putraku…”
Mata Chanyeol pun terbuka sedikit
demi sedikit.
“Chanyeol-ah? gwenchana?” tanya
Wufan.
“Dimana aku, Eomma?” tanya Chanyeol
yang melihat kearah ibunya.
“Apa yang terjadi denganku,
Hyung-ah?” tanya Chanyeol yang meihat kearah Wufan. Dahinya kembali mengerut
dan tangannya memegangi kepalanya.
“Chakaman! Apa kau sudah diangkat
menjadi raja, yang mulia putra mahkota? Kapan itu? kenapa aku tak
menyaksikannya?” ucap Chanyeol yang melihat Wufan telah mengenakan pakaian Raja
joseon. Pakaian berwarna merah dengan gambar naga berwarna emas.
“Chanyeol-ah…” ucap Wufan.
GRRP GRRPP! Terdengar langkah kaki
yang mendekat.
“Yang mulia Raja! Hamba kemari hendak
melapor,” seru hulubalang Raja dari luar bilik.
“Masuklah!” ucap Wufan.
“Kami belum menemukan nona Shinae,
hanya saja kami menemukan jepit rambut ini di hutan,” ucap hulubalang sambil
menyerahkan jepit rambut berbentuk bunga pada Wufan.
“Itu milik nona Shinae, yang mulia!”
celetuk Ahjumma yang melihat jepit yang ia berikan pada Shinae.
“Yang mulia? Siapa Shinae?” tanya
Chanyeol pada Wufan dengan wajah bingung.
“Putraku…. Dia adalah wanita yang kau
ceritakan pada ibu beberapa hari lalu,” ucap ibu Chanyeol. karena bahkan
Chanyeol membawa cincin keluarga untuk diberikan pada wanita yang Chanyeol
cintai.
“Chanyeol-ah? kau tak ingat siapa
dia?” tanya Wufan yang terkejut.
“Dimana cincin yang kuberikan padamu,
nak?” tanya Ibu Chanyeol pada putranya.
“Mwo? cincin?” tanya Chanyeol
bingung.
“Apa ini yang anda maksud nyonya?
Saya menemukan ini ketika membenahi pakaian pangeran kemarin,” ucap dayang
istana yang merupakan pelayan selir. Pelayan itu memberikan sebuah cincin dan
jepit rambut berbentuk matahari.
“Hiya! Sejak kapan aku mengenakan
jepit seperti itu?” ucap Chanyeol.
“Yang mulia Pangeran ingin memberikan
jepit itu pada nona Shinae,” celetuk ahjumma yang sering melihat tuannya
memainkan jepit rambut itu.
“Mwo? Hiya!! Siapa Shinae?” tanya
Chanyeol. ia benar-benar lupa dengan yeoja itu. semua yang berhubungan dengan
Shinae lenyap dari pikiran Chanyeol.
“Chanyeol-ah? apa kau benar-benar
lupa padanya?” tanya Wufan.
“Ah, waeyo? Apa dia calon
permaisurimu, yang mulia?” jawab Chanyeol. Wufan pun tak dapat berkata apa-apa,
ia menundukkan kepala.
-------SKIP----
--tiga hari kemudian—
Suasana dalam aula utama tampak
tenang. Para menteri melaporkan beberapa hal yang perlu dilaporkan pada Raja.
“Hamba dengar, hari ini akan terjadi
gerhana matahari total, yang mulia,” celetuk salah satu menteri.
“Apa kita perlu mengadakan upacara?”
celetuk menteri yang lain menanggapi.
“Gerhana?” ucap Wufan lirih. Ia pun
teringat akan perkataan Chanyeol (“carilah dia sebelum gerhana tiba! Katakan
jika kau mencintainya. Maka dia akan menjadi manusia seutuhnya,”). Seketika itu
Wufan beringsut, ia meminta pelayan menyiapkan kuda baginya. Hulubalang yang
sempat menemukan jepit rambut Shinae pun dipanggilnya.
“Ha!” seru Wufan yang memacu kudanya.
Hulubalang itu mengikuti dibelakang sang Raja.
FLSSHH! Dua kuda itu melesat kearah
hutan.
“Hamba menemukan jepit ini di sini,
yang mulia,” ucap hulubalang.
“Shinae-ya...dimana kau.” batin Wufan
yang kembali memacu kudanya. Raut wajahnya tampak cemas, sesekali dilihatnya
matahari yang masih bersinar terik.
-------------------------------------------------------------------
--di rumah Chanyeol—
“Ahjumma! Dimana putraku!” seru
selir.
“Pangeran pergi sejak pagi buta,
nyonya.” Ucap ahjumma.
“Kemana dia?” tanya ibu Chanyeol
cemas.
“Mollaseoyo.” Jawab ahjumma.
--------------------------------------------------------------------------
Ngiiikk!!! Kuda Chanyeol, Jong,
meringik ketika membawa tuannya ke tebing dekat sungai di tepian hutan.
“Jong-ie? Waeyo?” tanya Chanyeol. ia
sendiri bingung mengapa kudanya membawanya ke tempat ini. Padahal sebelumnya
Chanyeol hanya ingin berjalan-jalan sebentar.
GRPP! Chanyeol turun dari kudanya.
BLPP! Tiba-tiba sebuah benda ikut terjatuh di bawah pakaian Chanyeol. ia pun
memungutnya. Itu sebuah jepit rambut berbentuk matahari yang kemarin
ditunjukkan pelayan.
“Hiya… ada apa denganku, mengapa aku
membawa benda seperti ini?” celetuk Chanyeol bingung.
“Jong-ie……!!!” seru sebuah suara.
Chanyeol pun terkejut mendengar seseorang memanggil nama kudanya.
BRRP! BRRP! BRRP! Seorang yeoja
berlari kearah kuda Chanyeol. Chanyeol memandanginya dengan bingung.
“Chanyeol-ssi, kau datang mencariku?”
tanya yeoja yang tak lain adalah Shinae.
“Mwo?” tanya Chanyeol.
“Aku sadar, jika cinta putra mahkota
tak dapat dipaksakan. Aku akan rela menerima hukuman dari kaisar langit.
Lagipula, aku mulai melihat matahari lain terbit disuatu tempat,” ucap Shinae
sambil menatap langit.
“Hiya! Siapa kau?” tanya Chanyeol.
seketika Shinae menengok kearah Chanyeol yang berdiri beberapa langkah
didepannya.
“Apa maksudmu? Apa kau bergurau?”
ucap Shinae yang mendekat kearah Chanyeol.
“Nuguya??” tanya Chanyeol lagi.
Kakinya berjalan mundur menghindari Shinae yang semakin mendekat.
“Chanyeol-ssi…. apa yang terjadi
denganmu?” ucap Shinae. Tangannya meraih wajah Chanyeol.
BASHHHTTT!!! Seketika Chanyeol
menepis tangan Shinae yang menyentuh wajahnya.
“Hhhhh!!” Shinae terkejut hingga
menarik nafasnya. Yeoja itu memandangi tangannya yang ditepis oleh Chanyeol.
“Aku tak pernah mengenal wanita gila
sepertimu!!” seru Chanyeol. ia berjalan melalui Shinae.
HUG!! Tiba-tiba yeoja itu berbalik
dan memeluk tubuh Chanyeol dari belakang.
“Khajima….khajimayo (jangan pergi),
tetaplah disini hingga gerhana matahari usai,” ucap Shinae yang memeluk erat
tubuh Chanyeol. Pada saat yang bersamaan, Wufan ternyata telah tiba bersama
hulubalangnya.
“Yang mulia, kenapa kau tak menemui
nona Shinae,” ucap hulubalang. Namun Wufan hanya diam. Dipandangnya Shinae yang
masih memeluk Chanyeol.
WWSSHH!! Tiba-tiba angin berhembus kencang.
Debu-debu berterbangan kesana-kemari. Daun-daun berguguran.
BRRAKK!! Tiba-tiba tubuh Shinae
terjatuh ditanah karena dihempaskan oleh Chanyeol. namja itu lekas menunggangi
kudanya dan berbalik arah. Angin semakin berhembus kencang bahkan menggugurkan
daun-daun serta mematahkan rantingnya. Seketika langit berubah gelap. Matahari
tertutup benda asing. Dan Gelap!
Ngiikk!!! Kuda Chanyeol kembali
meringik, kuda itu memberontak pada perintah tuannya. Dan badan kuda itu tak
mampu menyeimbangkan posisinya. Chanyeol pun kebingungan mengendalikan Jong,
kuda kesayangannya.
“Jong-ie…. Waeyo?” celetuk Chanyeol
panik.
BLAPP!! kuda itu menjatuhkan tuannya.
Chanyeol terpental menghantam bebatuan dan terjatuh ke sungai yang dalam.
BYURR!!! Tubuh Chanyeol jatuh hingga
menyentuh dasar sungai. Gelembung-gelembung udara menyembul bagaikan buih
melalui mulutnya. Matanya masih sedikit terbuka, walau hanya melihat gelapnya
dasar sungai karena matahari masih tertutup benda asing.
“Chanyeol-ssi!!” seru Shinae panik,
begitu juga dengan Wufan yang langsung memacu kudanya menuju tepi tebing.
“Mwoya? Apa aku akan mati seperti
ini?” batin Chanyeol yang tubuhnya terasa ringan bagaikan kapas. Jepit rambut
matahari ditangannya masih digenggam dengan erat. Kedua matanya hampir terpejam.
Buih-buih yang keluar dari mulutnya perlahan menghilang.
BYURR!! Tanpa pikir panjang Shinae
melompat ke dalam sungai.
BLup…Blup…Blup…. Buih-buih putih
menyembul dari mulut yeoja itu. Matanya mengedar pandang ke sekitar dasar
sungai. Rambut panjang dan gaunnya terurai berlawanan arah dengan gerak
tubuhnya. Hingga tiba-tiba matanya menangkap sosok yang melayang di dalam air.
Tangannya pun mendayung dengan kuat kearah sosok itu.
“Siapa dia? Apa dia bidadari surga?”
batin Chanyeol yang melihat sosok putih mendekat kearahnya. Perlahan, sosok
putih itu semakin jelas terlihat.
“Shinae?” batin Chanyeol, ia pun
teringat akan Shinae. Seketika tangannya yang lemah pun mendayung kearah yeoja
itu. dasar sungai mulai terang seiring matahari yang perlahan kembali terlihat
kembali.
HUG!! Chanyeol memeluk Shinae ketika
berhasil mencapainya. Di sentuhnya wajah Shinae dengan lembut. Setelah itu,
mereka pun mendayung menuju permukaan air.
BYURR!! Chanyeol dan Shinae berhasil
mencapai permukaan air. Seketika itu pula gerhana usai, matahari kembali
terlihat terang. Wufan memandangi Shinae dari atas tebing.
“Kurasa takkan ada yang lenyap,
karena kau telah berhasil meraih hatiku, Shinae-ya.” Celetuk Wufan, ia pun
meninggalkan Shinae dan Chanyeol.
“Shinae-ya… khajima..” ucap Chanyeol
pada Shinae yang ada dihadapan matanya. Mereka masih berada di permukaan air.
“Kau mengingatku, Chanyeol-ssi?
geure, matahari yang kulihat terbit di suatu tempat adalah kau, Oppa,” ucap
Shinae. Yeoja itu pun menatap langit, ia tersenyum pada kaisar langit yang tak
membuatnya menghilang setelah gerhana.
“Kau telah menjadi manusia seutuhnya,
Shinae,” ucap sebuah suara yang menggema diantara tebing-tebing batu.
“Shinae-ya…” celetuk Chanyeol. Chanyeol
pun memasangkan jepit rambut berbentuk matahari pada Shinae. Setelah itu,
tangan Chanyeol meraih tengkuk Shinae.
Chu~ tiba-tiba Shinae menerima sebuah
ciuman dari Chanyeol.
-----------TAMAT------------------
R+C+L nde…gomawo udh baca,, ;) jangan
kapok baca FF nae :D

Tidak ada komentar:
Posting Komentar