Kamis, 22 Januari 2015

SHADOW (FF One Shoot)

Tittle: SHADOW
Main Cast: Oh Sehun | Park Chanyeol | Kwan Jiu
Genre: Romance Mistery
Type: ONE SHOOT


 ~SHADOW~
-Kwan Jiu Pov-
PTARR!! Petir menyambar di langit. Aku pun terlonjak karena terkejut, kututupi kedua telingaku dengan tangan, aku pun mempercepat langkah kaki ini. Ku langkahkan kaki dengan pasti. Sebuah jalanan aspal sepi yang di kanan kirinya terdapat pohon pinus lah yang menemani kesunyianku.
BRPP! BRP! BRP!! Alas sepatuku beradu dengan aspal jalan.
WWFHH!!! Angin menyembul dan mengibaskan rambutku.
PTARR!! Petir kembali menyambar. Awan mendung telah bergelayut gelap dan siap memuntahkan airnya.
BRRSS!! Tiba-tiba air hujan mengguyur dengan derasnya. Aku meneduhkan diri di bawah salah satu pohon sekitaran area itu.

“Ah…eothoke….” Gumamku. Rambut panjangku mulai jatuh basah. Mantel hitamku juga tak cukup menepis hawa dingin karena angin yang berhembus kencang. Titik-titik air jatuh dari sela-sela ranting pohon. Aku menjulurkan tangan untuk menyentuh titik-titik itu. Tanpa sadar, setitik air luluh dari mataku.
“Jangan menangis.” Celetuk sebuah suara. Aku pun menengok ke arah suara tersebut. Tiba-tiba aku melihat sesosok namja tinggi yang berdiri tepat di samping kananku dan juga menjulurkan tangan untuk menyentuh hujan. Aku pun terkejut.
“Oppa…!” celetukku.
“Mianhae...” ucap namja tinggi itu yang kemudian memelukku. Mungkin memang berat untuk melupakan semua kejadian yang membuatku pilu. Namun bagaimana lagi, aku benar-benar telah jatuh hati padanya.
~SHADOW~
FLASHBACK
-AUTHOR POV-
Hujan mengguyur senja itu. Kwan Jiu yang mengenakan payung dan menjinjing sebuah kotak kue. Ia berjalan menuju taman kampus untuk memberi kejutan pada Chanyeol di hari jadi hubungan mereka yang kedua.
“Jiu-ya! Eodiga?” Tanya Sehun yang melihat Jiu berjalan menuju taman.
“Sehun-ah!” ucap Jiu yang mengangkat kotak kue untuk memperlihatkannya pada Sehun, sahabatnya. Sehun pun tampak tersenyum pada Jiu. Yeoja itu juga mengembangkan senyum manisnya dan kembali melangkah menuju taman.
“Jiu-ya…” gumam Sehun yang memandangi Jiu berjalan menjauh.
“Andaikan kau tahu perasaanku yang sebenarnya, Jiu-ya?” Batin Sehun yang tak lain sahabat Jiu sejak SMA, dan kini mereka kuliah di jurusan yang berbeda. Sehun mengambil konsentrasi dokter kejiwaan/psikiater, sedangkan Jiu mengambil konsentrasi ilmu komunikasi untuk mencapai cita-citanya menjadi seorang jurnalis handal.
Langkah Jiu pun sampai di sebuah taman kampus yang dihiasi cekungan danau yang airnya tampak menghijau. Terdapat beberapa gazebo di sekitaran danau. Jiu pun mengedar pandang ke beberapa gazebo tersebut. Gerimis yang mengguyur masih belum mereda senja itu.
“Ah! Oppa!” seru Jiu yang tersenyum dan hendak menghambur ke salah satu gazebo. Namun seketika senyumannya meredup. Di lihatnya Chanyeol tengah bersama seorang yeoja. Namja itu membelai rambut yeoja yang tak dikenal Jiu dan yeoja itu pun mendaratkan ciuman di pipi Chanyeol.
BRAKK!! Kotak kue yang di bawa Jiu pun terlepas dari tangannya. Seketika Chanyeol menengok kearah Kwan Jiu.
“Jiu-ya! Kwan Jiu!!” seru Chanyeol yang seraya mengejar Jiu yang berlari.
“Kau jahat! Kau jahat, Oppa!” gumam Jiu yang mengepalkan tangan di dekat hidung untuk menahan tangisannya. Hujan tak kunjung reda, justru semakin deras lama kelamaan. Jiu pun tak mampu memikirkan untuk menggenggam payung itu lagi. Seketika itu ia menjatuhkan payungnya.
BRP! BRP! BRP! Langkah kaki Jiu membuat beberapa genangan yang dilalui mencuatkan airnya.
“Jiu-ya?” gumam Sehun yang melihat sahabatnya melintas tanpa payung. Ia pun mengejar yeoja itu. Namun, di saat bersamaan, Sehun berpapasan dengan Chanyeol.
“Biar aku!” ucap Sehun yang menyentuh dada Chanyeol untuk menghentikan langkahnya. Setelah itu, Sehun lah yang meneruskan mengejar Kwan Jiu.
“Jiu-ya!” seru Sehun. Ia mengedar pandang ke sekitar. Langkahnya mengejar Jiu hingga keluar kampus.
“Hhhss! Hhss!” terdengar nafas Sehun terengah, tangannya pun mengusap bulir air hujan yang membasahi wajahnya. Tiba-tiba ia melihat sosok yeoja dari sudut matanya. Yeoja itu tampak tengah duduk di sebuah halte sepi sambil menenggelamkan wajahnya dengan kedua tangan. Rambut panjangnya tampak basah. Kemeja putih dan celana panjang yang dikenakan juga tampak basah kuyup.
“Jiu-ya?” celetuk Sehun yang duduk di sebelah Jiu. Beberapa kendaraan terlihat lalu lalang di jalan raya menerobos hujan lebat itu. Sehun semakin menggeser duduknya untuk mendekat pada Jiu. Hingga tangannya pun menyentuh bahu kanan Jiu dengan perlahan.
HUG!! Seketika Kwan Jiu memeluk Sehun dan menangis di bahu sahabatnya itu. Pada saat yang bersamaan, ternyata Chanyeol masih mengejar Jiu. Hingga pada akhirnya ia melihat yeojanya yang telah bersama Sehun di sebuah halte.
“Hhhhsh! Hhsshhh! Jiu-ya….” Gumam Chanyeol dengan nafas terengah. Air hujan yang mengguyur pun menetes melalui dagunya dan terjatuh ke tanah.
“HHhhgkk! Hhhgkk!! Apa aku tak pantas untuk dicintai, Sehun-ah?” ucap  Jiu sambil menangis hingga sesenggukan.
“Jiu-ya..?” celetuk Sehun sambil menepuk-nepuk punggung Jiu dan akhirnya juga membalas pelukan itu.
END FLASHBACK
~SHADOW~
-Kwan Jiu Pov-
“Kau tahu? gadis itu adalah gadis bisu yang kuceritakan padamu, Jiu-ya?” ucap Chanyeol.
“Mianhae Oppa, aku yang terlalu bodoh dan tak mau mendengarkan penjelasanmu. Aku hanya tak ingin kehilanganmu.” Ucapku yang kemudian memeluknya erat, tak ingin rasanya aku melepaskan pelukan itu.
Tiba-tiba hujan mereda, awan mendung menyingkir pergi, matahari pun menyembul dan memantulkan sinarnya pada ranting pohon yang basah. Aku berjalan berdua dengan kekasihku, Park Chanyeol, menyusuri aspal jalan yang basah menuju sebuah halte bus.
GREMM!! Bus yang kami tunggu pun berhenti di depan halte. Kami pun menaiki bus tersebut. Chanyeol terus menggandeng tanganku. Mataku mengedar pandang, kulihat tak ada satupun penumpang lain kecuali kami berdua.
“Apa hanya kita penumpang bus ini?” gumamku.
“Waeyo?” Tanya Chanyeol yang mendengar perkataanku, jelas saja, ia duduk tepat di sampingku.
“Anniyo….” Jawabku singkat. setelah itu, aku pun tertidur sambil menyandarkan kepala pada bahu Chanyeol. Kurasakan tangannya membelai wajahku, aku hanya terus terpejam dan menikmati sentuhannya. Hingga sepertinya beberapa halte telah kami lalui, namun tak ada satu penumpangpun yang naik kecuali kami.
“Jiu-ya! Kwan Jiu!” seru sebuah suara dalam telingaku. Aku pun terbangun dan membuka mata.
“Waeyo?” Tanya Chanyeol yang mendapatiku tiba-tiba terbangun.
“Seperti ada yang memanggilku, Oppa!” ucapku.
“Tak ada orang lain selain kita.” Ucap Chanyeol.
GREMMM!!! Bus pun berhenti.
“Kajja!” ucap Chanyeol yang menggandeng tanganku untuk turun.
“Dimana ini?” tanyaku yang melihat hamparan ilalang menyembul-nyembul tertiup angin.
“Bukankah kau tak ingin kehilanganku?” Tanya Chanyeol.
“Nde, Oppa!” jawabku. Namja itu pun menggandeng tanganku untuk menyusuri padang ilalang. kami berjalan kearah matahari senja yang hampir temaram. Aku berjalan di belakang Chanyeol yang terus menggandeng tanganku.
“Kwan Jiu!!” seru sebuah suara lagi yang memanggil namaku, aku pun menengok ke belakang. Kulihat sosok namja yang menghambur kearahku.
HUG!! Tiba-tiba ia memelukku dan mendekap erat tubuh ini hingga genggaman tangan Chanyeol pun terlepas dari tanganku.
“Khajima! Khajimayo (jangan pergi).” Ucap namja yang ternyata Oh Sehun. Wajahnya tampak kacau dan cemas.
“Mianhae, Sehun-ah, aku harus pergi bersama Chanyeol Oppa.” ucapku tepat di telinga Sehun.
“Andweyo!” ucap Sehun.
“Tak ada alasan untukmu menahannya pergi bersamaku, Sehun-nie.” celetuk Chanyeol yang menjulurkan tangannya untuk meraih tanganku lagi.
“Oppa…” gumamku yang kemudian beringsut untuk meraih tangan Chanyeol.
“Jiu-ya, khajima…!” ucap Sehun yang seraya meraih tubuhku. Tiba-tiba sesuatu yang lembut terasa menyentuh bibir ini hingga akupun terpejam.
WFFHHH!!! Angin kencang mendadak menyembul dan menerpa tubuhku. Seketika kedua mataku terbuka.
Beep! Beep! Beep! Terdengar suara yang berasal dari elektrokardiogram/pendeteksi detak jantung di samping tubuhku. Sebuah nasal kanula/ masker oksigen juga terpasang pada hidung dan mulutku. Tanganku bergerak dan meraih sosok yang tertidur di samping tubuhku.
“Sehun-ah?” gumamku. Nafasku menyembul pada masker itu. Kulihat, Sehun terlonjak kaget dan seraya memeriksa keadaanku. Jas putih dokternya memantul pada mataku, ia adalah dokter magang di rumah sakit itu.
“Jiu-ya! Gwenchana?” sergah Sehun. Rupanya ia menemaniku di rumah sakit selama aku mengalami koma tiga hari ini.
“Chanyeol Oppa??? eothoke….?” Gumamku yang memandang nanar kearah Sehun.
“Jiu-ya….” Gumam Sehun yang seraya mendekatkan wajahnya dan mencium keningku. Seketika air mata luluh dari sudut mataku. Aku mulai mengingat semuanya.
FLASHBACK
-AUTHOR POV-
Malam itu, Chanyeol meminta Jiu menemuinya di sebuah gang. Ada sesuatu yang ingin namja itu sampaikan dan jelaskan pada Kwan Jiu. Beberapa kali ia mengirim pesan pada Jiu untuk datang.
“Jiu-ya…jebalyo, ada yang ingin kujelaskan padamu.” Gumam Chanyeol yang berdiri sambil mondar-mandir di jalanan sepi. Jalanan itu berjarak tak jauh dari rumah Jiu, hanya saja letaknya yang berada di lereng bukit, sehingga jalanan itu begitu sepi.
Langit terlihat mendung dan hendak memuntahkan airnya.
GRRMM!! GRMM!! Tiba-tiba terdengar segerombolan suara motor yang di geber menuju jalan itu. Mereka tiba-tiba turun dari motor dan menghampiri Chanyeol yang berdiri mondar-mandir di dekat mobilnya.
BASSHTT!! Sebuah tinjuan melayang kearah wajah Chanyeol.
“Mwoya??” seru Chanyeol.
“Siapa yang mengijinkanmu memarkir mobil di area ini, huh?” ucap salah seorang anggota geng motor.
“Ini jalan umum, siapapun berhak!” seru Chanyeol.
BASHHT!! Pukulan dari anggota lain juga melayang kearah Chanyeol. Namja itu berusaha untuk membalas pukulan-pukulan itu. Akan tetapi jumlah mereka yang terlampau banyak, membuat Chanyeol kualahan. Tubuhnya di kunci oleh dua orang anggota geng motor, sedangkan anggota lain menghajarnya bertubi-tubi.
“Argghh!!” keluh Chanyeol yang mendapatkan pukulan tepat di ulu hati.
BRAK!! Chanyeol pun terjatuh ke tanah. Sudut bibirnya telah mencuatkan darah karena pukulan.
BASHTT!! Beberapa tendangan juga menghujam tubuh Chanyeol yang hampir tak berdaya.
PTARR!!! Kilatan cahaya petir yang menyambar tak menyudahi perlakuan geng motor terhadap Chanyeol.
“Oppa!!!” seru sebuah suara yang tiba-tiba menyembul di langit malam. Para anggota geng motor pun menengok kearah yeoja yang berteriak. Salah satu diantara mereka pun mengayunkan balok kearah belakang kepala Chanyeol.
“Andweyo!!” seru yeoja yang ternyata Kwan Jiu.
GLAKK!! Balok itu menghujam kepala Chanyeol hingga namja itu tersungkur diatas aspal jalan.
“Oppa!!” seru Jiu yang seraya berlari kearah Chanyeol.
GREMM!! GREMM!! Para anggota geng motor itu memacu motornya dan meninggalkan tubuh Chanyeol yang telah tergeletak tak berdaya.
Seketika cairan berwarna merah merembes di antara rambut Chanyeol yang hitam. Tangan Jiu gemetar saat mendapatinya.
“Hhhhhgk! Hhhggk! Oppa!” seru Jiu yang menatap mata Chanyeol yang mulai meredup sinarnya.
“Jiu-ya…jangan menangis.” Celetuk Chanyeol. Namja itu menghapus air mata yeoja yang memangku kepalanya. Usapan tangan Chanyeol membuat wajah Jiu terkena noda darah dari tangannya.
“Oppa….” gumam Jiu yang menggenggam tangan Chanyeol yang mengusap wajahnya.
“Hhhhh!!” tiba-tiba sebuah tarikan nafas dalam terdengar dari hidung Chanyeol dan membuat lehernya tampak mencekung.
“Oppa!” seru Jiu yang mendekap tubuh Chanyeol.
“Jiu-ya…percayalah, aku tak pernah mengkhianatimu…” ucap Chanyeol yang diikuti helaan nafas panjangnya, seraya dengan itu, matanya tertutup.
“Oppa! khajima!!!” teriak Jiu. Air matanya jatuh pada pelipis Chanyeol yang tubuhnya ia dekap. Air mata itu pun menyeka darah yang mengering di sekitarnya.
“Oppa!!! HHhhhgk Hhhhhggk!! Andweyo..” seru Jiu. Tangisannya memekakan malam sepi di tepi jalanan yang juga sunyi tanpa ada satupun kendaraan yang lalu lalang. Titik-titik air pun terjatuh dari langit kelam. Airnya menetes, menghujani Jiu yang masih memeluk Chanyeol. Butir itu semakin banyak dan lebat hingga menyeka darah yang tadi berleleran pada wajah putih Chanyeol. Hujan yang menggenang di sekitar tubuh Chanyeol pun berubah merah.
BRP! BRRP! BRPP! Tiba-tiba sebuah langkah kaki terdengar mendekat pada Kwan Jiu.
“Hhhss! Hhss!” nafas itu terdengar walau hujan mengguyur.
“Jiu-ya…” celetuk namja yang berlari mendekat yang ternyata Oh Sehun. Namja itu semakin mendekat untuk melihat keadaan Chanyeol yang berada dalam dekapan Jiu. Sehun menyentuh leher Chanyeol untuk memeriksa nadinya. Dahinya pun mengernyit ketika tak dapat merasakan denyut apapun.
CRRKK!! Tiba-tiba tubuh Sehun terduduk di atas jalan dengan genangan air diatasnya. Namja itu terhuyung lemah dan tak mampu berkata-kata lagi. Mulutnya menganga dan matanya menatap Chanyeol yang mulai memucat.
“Oppa!! khajima…!” ucap Jiu.
---SKIP---
Area pemakaman mulai sepi dari para pelayat. Ibu Chanyeol yang tadi sempat berulang kali pingsan pun juga sudah beringsut dari depan makam putranya. Wanita paruh baya itu sempat mencium kening Kwan Jiu sebelum benar-benar meninggalkan makam.
“Gomawo Jiu-ya, kau sudah memberinya cinta, dan kau adalah orang yang sangat dicintai olehnya.” Ucap Ibu Park Chanyeol pada Kwan Jiu.
“Ahjuma…” celetuk Jiu yang seketika menengok memandang Ibu Chanyeol yang telah berjalan pergi sambil di bantu oleh Sehun. Mata Kwan Jiu yang sendu berpadu dengan hidungnya yang memerah karena menangis sejak semalam. Namun angin di area pemakaman mulai mengeringkan bekas tangisan Jiu. Kala itu, langit tampak semakin menghitam dan mendung.
PTARR!! Tiba-tiba sebuah kilat menyambar di langit mendung.
WWFFH!! Sebuah angin tiba-tiba menyembul pada telinga Jiu.
“Aku akan selalu bersamamu, Jiu-ya…” ucap sebuah suara yang seraya membuat Kwan Jiu tersentak membelalakkan mata. Yeoja itu menengok ke arah angin yang menyembul pada telinganya. Matanya mengedar melihat ke sekeliling. Namun ia tak menemukan satu sosok pun disana. Hanya tinggal ia sendiri di makam itu. Akan tetapi Jiu pun tak mengindahkan suara yang tadi didengarnya. Ia lantas menyentuh nisan Chanyeol dan mulai beranjak pergi.
“Khajima!” bisik sebuah suara lagi yang menyembul pada telinga Kwan Jiu. Yeoja itu pun  tersentak dan seraya menyentuh bulu kuduknya yang tiba-tiba berdiri.
PTARR!! Petir pun kembali menyambar di langit. Kwan Jiu terlonjak karena terkejut, ia menutupi kedua telinganya dengan tangan dan  semakin mempercepat langkah kakinya sambil sesekali menengok ke belakang namun tetap tak dilihatnya seorang pun di tempat itu.
Ia langkahkan kaki dengan cepat dan pasti. Sebuah jalanan aspal sepi yang di kanan kirinya terdapat pohon pinus lah yang menemani kesunyiannya.
BRPP! BRP! BRP!! Alas sepatu Jiu beradu dengan aspal jalan.
WWFHH!!! Angin kembali menyembul dan mengibaskan rambut Jiu.
PTARR!! Petir kembali menyambar. Awan mendung telah bergelayut gelap dan siap memuntahkan airnya.
BRRSS!! Tiba-tiba air hujan mengguyur dengan derasnya. Yeoja itu hendak pun meneduhkan diri di bawah salah satu pohon sekitaran area pemakaman. Ia menyeberang jalan dengan tergesa.
TINN!!! Tiba-tiba sebuah mobil melaju kencang kearah Jiu.
BRAKK!!! Tubuh Jiu terpental melalui bagian atas mobil dan akhirnya terjatuh di atas aspal yang basah dan sedikit tergenang air hujan. Genangan air bersemu merah karena darah yang mengucur dari kepala Jiu. Tiba-tiba mata Jiu melihat setitik cahaya yang berpendar di depan matanya. Sesosok namja tinggi yang ia kenal melambai kearahnya.
“Oppa…” gumam Jiu yang matanya mulai meredup.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Terlihat Sehun kembali ke pemakaman setelah mengantar ibu Chanyeol. Ia merasa khawatir karena Jiu tak kunjung kembali ke rumah.
GRMM!!! Mobil yang menabrak Jiu pun melarikan diri. Seketika itu Sehun membawa mobilnya kearah Jiu yang tergeletak di atas aspal jalan.
“Jiu-ya? Kwan Jiu?” seru Sehun yang mendapati Jiu tak sadarkan diri. Ia pun lekas membawanya ke rumah sakit.
END FLASHBACK
-Kwan Jiu Pov-
“Jiu-ya…kau harus sembuh, masih ada orang yang mencintaimu.” Ucap Sehun tepat di telingaku.
“Sehun-ah….” gumamku yang menatap kedua mata Sehun. Namja itu pun mencium keningku lagi.
--SKIP—
-Satu Tahun Kemudian-
-Author Pov-
Salju musim dingin menyelimuti sebuah taman di kota Seoul. Malam itu seorang yeoja tengah duduk di salah satu bangku panjang yang terdapat di sana. Tubuhnya di balut mantel warna cream lembut dan sepasang sarung tangan yang tampak begitu hangat. Sesekali ia menggosok-gosokkan kedua tangannya dan meniupkan udara dari dalam mulutnya. Yeoja bernama Kwan Jiu itu pun merogoh saku mantelnya untuk mengambil ponsel.
“Ah…kenapa kau lama sekali, Sehun-ah!” keluh Jiu yang nafasnya terlihat menyembul di udara malam. Ia pun berdiri dan berjalan mondar mandir untuk menghilangkan rasa dingin. Di genggamnya ponsel yang menunjukkan pukul delapan malam itu. Ia tengah mencoba melakukan panggilan telepon pada namja bernama Sehun.
“Setidaknya jawablah teleponku, arrachi!” gumam Jiu yang masih terus mondar-mandir dan menggerakkan tangannya untuk menepis hawa dingin yang menusuk tulang.
BRPP!! Tiba-tiba tubuh Jiu menabrak sosok tinggi saat ia berbalik arah.
“Hhhhh!!” celetuk Jiu yang menarik nafasnya karena terkejut. Ponsel yang tengah melakukan panggilan telepon pun terjatuh ke tanah. Seketika itu Jiu hendak berbalik dan beringsut dari hadapan namja yang tiba-tiba berdiri di depannya. Terlihat beberapa orang lalu lalang memandangi Jiu dengan sebelah mata. Beberapa diantaranya berbisik dan mengira yeoja itu gila.

HAPP!! Tangan namja itu mencengkeram tangan Jiu yang tubuhnya hendak beringsut pergi.
“Chanyeol Oppa!!” seru Jiu, suaranya terdengar oleh Sehun yang menerima panggilan telepon Jiu.
“Jiu-ya!” seru Sehun dalam telepon.
Yeoja itu pun melepaskan cengkeraman tangan Chanyeol. ia menghambur kearah jalan raya. Di lihatnya lampu lalu lintas yang belum menghijau bagi pejalan kaki. Dari sudut mata Jiu, ia melihat Chanyeol yang terus menatap kearahnya.
BRP! BRP! Jiu melangkahkan kaki untuk menyeberang jalan dengan tergesa, padahal lampu lalu lintas belum menghijau baginya.
TIN!!!! Sebuah klakson panjang dan memekakan telinga terdengar dari mobil yang melaju kearah Jiu. Yeoja itu pun terkejut dan membelalakan mata.
HAP!!! Tiba-tiba seseorang meraih tubuh Jiu dan membawanya ke arah lain.
“Hhhss! Hhhss! Hhhss!” terdengar beberapa potong nafas terengah menyembul dari mulut Sehun, namja yang menyelamatkan Jiu. Namja itu tepat berada di bawah tubuh Jiu. Jiu pun dapat melihat jelas lekukan wajah Oh Sehun.
Deg! Seketika, Jiu terlonjak karena jantungnya berdegub kencang.
“Sehun-ah? gwenchana??” Tanya Jiu yang seraya bangkit dari atas tubuh Sehun yang tergeletak di atas aspal.
“Pabbo-ya!!” seru Sehun yang seraya bangkit.
“Mianhae…” celetuk Jiu. Yeoja itu menengok kearah Chanyeol yang tadi menemuinya di taman. Terlihat disana jika namja itu masih berdiri sambil memandangi Jiu yang bersama Sehun.
“Jiu-ya? Apa kau masih melihat sosok Chanyeol seonbae?” Tanya Sehun yang sempat mendengar Jiu mengucapkan nama Chanyeol dalam ponsel.
“Nde, Sehun-ah? Sampai kapan aku akan terus seperti ini?” celetuk Jiu. Ia mengalami sedikit depresi hingga terbayang-bayang akan sosok Chanyeol yang telah tiada.
“Tenanglah, aku psikiater yang dapat kau andalkan.” Ucap Sehun yang seraya meraih bahu Jiu dan menyeberang jalan dengan benar. Sekilas, Jiu kembali menengok kearah Chanyeol yang berdiri di taman, namun matanya sudah tak menangkap sosok itu lagi.
“Jiu-ya? Saranghae….” Celetuk Sehun lirih. Seketika itu langkah Jiu terhenti tepat di bawah sinar lampu jalan.
“Sehun-ah….?” ucap Jiu yang menatap kedua mata Sehun dengan lekat. Tangannya menyentuh dada, ada sesuatu yang bergerak-gerak aneh dalam dadanya.
Deg! Deg! Jantung Jiu berdebar lagi.
Sehun yang melihat Jiu tertegun diam pun beringsut perlahan dan meraih bahu Jiu lalu menjatuhkan yeoja itu dalam pelukannya.
“Perlahan kau akan mencintaiku lalu melupakannya.” Ucap Sehun yang memeluk Jiu dan membelai rambutnya. Jiu masih memegangi dadanya dan memandang lurus ke belakang tubuh Sehun.
“Oppa….?” celetuk Jiu yang melihat sosok Chanyeol berdiri di seberang. Yeoja itu pun memejamkan matanya dan menenggelamkan wajahnya di bahu Sehun.
“Sehun-ah, bantu aku untuk mencintaimu dan melupakannya.” Ucap Jiu yang merentangkan tangannya dan membalas pelukan Sehun. Malam itu, salju pertama pun turun.

-------------------------------------------THE END--------------------------------------------------------------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar