Tittle: SHADOW
Main Cast: Oh Sehun | Park Chanyeol |
Kwan Jiu
Genre: Romance Mistery
Type: ONE SHOOT
~SHADOW~
-Kwan Jiu Pov-
PTARR!! Petir menyambar di langit.
Aku pun terlonjak karena terkejut, kututupi kedua telingaku dengan tangan, aku
pun mempercepat langkah kaki ini. Ku langkahkan kaki dengan pasti. Sebuah
jalanan aspal sepi yang di kanan kirinya terdapat pohon pinus lah yang menemani
kesunyianku.
BRPP! BRP! BRP!! Alas sepatuku beradu
dengan aspal jalan.
WWFHH!!! Angin menyembul dan mengibaskan
rambutku.
PTARR!! Petir kembali menyambar. Awan
mendung telah bergelayut gelap dan siap memuntahkan airnya.
BRRSS!! Tiba-tiba air hujan mengguyur
dengan derasnya. Aku meneduhkan diri di bawah salah satu pohon sekitaran area
itu.
“Ah…eothoke….” Gumamku. Rambut
panjangku mulai jatuh basah. Mantel hitamku juga tak cukup menepis hawa dingin
karena angin yang berhembus kencang. Titik-titik air jatuh dari sela-sela
ranting pohon. Aku menjulurkan tangan untuk menyentuh titik-titik itu. Tanpa
sadar, setitik air luluh dari mataku.
“Jangan menangis.” Celetuk sebuah
suara. Aku pun menengok ke arah suara tersebut. Tiba-tiba aku melihat sesosok
namja tinggi yang berdiri tepat di samping kananku dan juga menjulurkan tangan
untuk menyentuh hujan. Aku pun terkejut.
“Oppa…!” celetukku.
“Mianhae...” ucap namja tinggi itu
yang kemudian memelukku. Mungkin memang berat untuk melupakan semua kejadian
yang membuatku pilu. Namun bagaimana lagi, aku benar-benar telah jatuh hati
padanya.
~SHADOW~
FLASHBACK
-AUTHOR POV-
Hujan mengguyur senja itu. Kwan Jiu
yang mengenakan payung dan menjinjing sebuah kotak kue. Ia berjalan menuju
taman kampus untuk memberi kejutan pada Chanyeol di hari jadi hubungan mereka
yang kedua.
“Jiu-ya! Eodiga?” Tanya Sehun yang
melihat Jiu berjalan menuju taman.
“Sehun-ah!” ucap Jiu yang mengangkat
kotak kue untuk memperlihatkannya pada Sehun, sahabatnya. Sehun pun tampak
tersenyum pada Jiu. Yeoja itu juga mengembangkan senyum manisnya dan kembali
melangkah menuju taman.
“Jiu-ya…” gumam Sehun yang memandangi
Jiu berjalan menjauh.
“Andaikan kau tahu perasaanku yang
sebenarnya, Jiu-ya?” Batin Sehun yang tak lain sahabat Jiu sejak SMA, dan kini
mereka kuliah di jurusan yang berbeda. Sehun mengambil konsentrasi dokter
kejiwaan/psikiater, sedangkan Jiu mengambil konsentrasi ilmu komunikasi untuk
mencapai cita-citanya menjadi seorang jurnalis handal.
Langkah Jiu pun sampai di sebuah
taman kampus yang dihiasi cekungan danau yang airnya tampak menghijau. Terdapat
beberapa gazebo di sekitaran danau. Jiu pun mengedar pandang ke beberapa gazebo
tersebut. Gerimis yang mengguyur masih belum mereda senja itu.
“Ah! Oppa!” seru Jiu yang tersenyum
dan hendak menghambur ke salah satu gazebo. Namun seketika senyumannya meredup.
Di lihatnya Chanyeol tengah bersama seorang yeoja. Namja itu membelai rambut
yeoja yang tak dikenal Jiu dan yeoja itu pun mendaratkan ciuman di pipi
Chanyeol.
BRAKK!! Kotak kue yang di bawa Jiu
pun terlepas dari tangannya. Seketika Chanyeol menengok kearah Kwan Jiu.
“Jiu-ya! Kwan Jiu!!” seru Chanyeol
yang seraya mengejar Jiu yang berlari.
“Kau jahat! Kau jahat, Oppa!” gumam
Jiu yang mengepalkan tangan di dekat hidung untuk menahan tangisannya. Hujan
tak kunjung reda, justru semakin deras lama kelamaan. Jiu pun tak mampu
memikirkan untuk menggenggam payung itu lagi. Seketika itu ia menjatuhkan
payungnya.
BRP! BRP! BRP! Langkah kaki Jiu
membuat beberapa genangan yang dilalui mencuatkan airnya.
“Jiu-ya?” gumam Sehun yang melihat
sahabatnya melintas tanpa payung. Ia pun mengejar yeoja itu. Namun, di saat
bersamaan, Sehun berpapasan dengan Chanyeol.
“Biar aku!” ucap Sehun yang menyentuh
dada Chanyeol untuk menghentikan langkahnya. Setelah itu, Sehun lah yang
meneruskan mengejar Kwan Jiu.
“Jiu-ya!” seru Sehun. Ia mengedar
pandang ke sekitar. Langkahnya mengejar Jiu hingga keluar kampus.
“Hhhss! Hhss!” terdengar nafas Sehun
terengah, tangannya pun mengusap bulir air hujan yang membasahi wajahnya.
Tiba-tiba ia melihat sosok yeoja dari sudut matanya. Yeoja itu tampak tengah
duduk di sebuah halte sepi sambil menenggelamkan wajahnya dengan kedua tangan.
Rambut panjangnya tampak basah. Kemeja putih dan celana panjang yang dikenakan
juga tampak basah kuyup.
“Jiu-ya?” celetuk Sehun yang duduk di
sebelah Jiu. Beberapa kendaraan terlihat lalu lalang di jalan raya menerobos
hujan lebat itu. Sehun semakin menggeser duduknya untuk mendekat pada Jiu.
Hingga tangannya pun menyentuh bahu kanan Jiu dengan perlahan.
HUG!! Seketika Kwan Jiu memeluk Sehun
dan menangis di bahu sahabatnya itu. Pada saat yang bersamaan, ternyata
Chanyeol masih mengejar Jiu. Hingga pada akhirnya ia melihat yeojanya yang
telah bersama Sehun di sebuah halte.
“Hhhhsh! Hhsshhh! Jiu-ya….” Gumam
Chanyeol dengan nafas terengah. Air hujan yang mengguyur pun menetes melalui
dagunya dan terjatuh ke tanah.
“HHhhgkk! Hhhgkk!! Apa aku tak pantas
untuk dicintai, Sehun-ah?” ucap Jiu sambil
menangis hingga sesenggukan.
“Jiu-ya..?” celetuk Sehun sambil
menepuk-nepuk punggung Jiu dan akhirnya juga membalas pelukan itu.
END FLASHBACK
~SHADOW~
-Kwan Jiu Pov-
“Kau tahu? gadis itu adalah gadis
bisu yang kuceritakan padamu, Jiu-ya?” ucap Chanyeol.
“Mianhae Oppa, aku yang terlalu bodoh
dan tak mau mendengarkan penjelasanmu. Aku hanya tak ingin kehilanganmu.”
Ucapku yang kemudian memeluknya erat, tak ingin rasanya aku melepaskan pelukan
itu.
Tiba-tiba hujan mereda, awan mendung
menyingkir pergi, matahari pun menyembul dan memantulkan sinarnya pada ranting
pohon yang basah. Aku berjalan berdua dengan kekasihku, Park Chanyeol, menyusuri
aspal jalan yang basah menuju sebuah halte bus.
GREMM!! Bus yang kami tunggu pun
berhenti di depan halte. Kami pun menaiki bus tersebut. Chanyeol terus
menggandeng tanganku. Mataku mengedar pandang, kulihat tak ada satupun
penumpang lain kecuali kami berdua.
“Apa hanya kita penumpang bus ini?”
gumamku.
“Waeyo?” Tanya Chanyeol yang
mendengar perkataanku, jelas saja, ia duduk tepat di sampingku.
“Anniyo….” Jawabku singkat. setelah
itu, aku pun tertidur sambil menyandarkan kepala pada bahu Chanyeol. Kurasakan
tangannya membelai wajahku, aku hanya terus terpejam dan menikmati sentuhannya.
Hingga sepertinya beberapa halte telah kami lalui, namun tak ada satu
penumpangpun yang naik kecuali kami.
“Jiu-ya! Kwan Jiu!” seru sebuah suara
dalam telingaku. Aku pun terbangun dan membuka mata.
“Waeyo?” Tanya Chanyeol yang
mendapatiku tiba-tiba terbangun.
“Seperti ada yang memanggilku, Oppa!”
ucapku.
“Tak ada orang lain selain kita.”
Ucap Chanyeol.
GREMMM!!! Bus pun berhenti.
“Kajja!” ucap Chanyeol yang
menggandeng tanganku untuk turun.
“Dimana ini?” tanyaku yang melihat
hamparan ilalang menyembul-nyembul tertiup angin.
“Bukankah kau tak ingin
kehilanganku?” Tanya Chanyeol.
“Nde, Oppa!” jawabku. Namja itu pun
menggandeng tanganku untuk menyusuri padang ilalang. kami berjalan kearah
matahari senja yang hampir temaram. Aku berjalan di belakang Chanyeol yang
terus menggandeng tanganku.
“Kwan Jiu!!” seru sebuah suara lagi
yang memanggil namaku, aku pun menengok ke belakang. Kulihat sosok namja yang
menghambur kearahku.
HUG!! Tiba-tiba ia memelukku dan
mendekap erat tubuh ini hingga genggaman tangan Chanyeol pun terlepas dari
tanganku.
“Khajima! Khajimayo (jangan pergi).”
Ucap namja yang ternyata Oh Sehun. Wajahnya tampak kacau dan cemas.
“Mianhae, Sehun-ah, aku harus pergi
bersama Chanyeol Oppa.” ucapku tepat di telinga Sehun.
“Andweyo!” ucap Sehun.
“Tak ada alasan untukmu menahannya
pergi bersamaku, Sehun-nie.” celetuk Chanyeol yang menjulurkan tangannya untuk
meraih tanganku lagi.
“Oppa…” gumamku yang kemudian
beringsut untuk meraih tangan Chanyeol.
“Jiu-ya, khajima…!” ucap Sehun yang
seraya meraih tubuhku. Tiba-tiba sesuatu yang lembut terasa menyentuh bibir ini
hingga akupun terpejam.
WFFHHH!!! Angin kencang mendadak
menyembul dan menerpa tubuhku. Seketika kedua mataku terbuka.
Beep! Beep! Beep! Terdengar suara
yang berasal dari elektrokardiogram/pendeteksi detak jantung di samping
tubuhku. Sebuah nasal kanula/ masker oksigen juga terpasang pada hidung dan
mulutku. Tanganku bergerak dan meraih sosok yang tertidur di samping tubuhku.
“Sehun-ah?” gumamku. Nafasku
menyembul pada masker itu. Kulihat, Sehun terlonjak kaget dan seraya memeriksa
keadaanku. Jas putih dokternya memantul pada mataku, ia adalah dokter magang di
rumah sakit itu.
“Jiu-ya! Gwenchana?” sergah Sehun. Rupanya
ia menemaniku di rumah sakit selama aku mengalami koma tiga hari ini.
“Chanyeol Oppa??? eothoke….?” Gumamku
yang memandang nanar kearah Sehun.
“Jiu-ya….” Gumam Sehun yang seraya
mendekatkan wajahnya dan mencium keningku. Seketika air mata luluh dari sudut
mataku. Aku mulai mengingat semuanya.
FLASHBACK
-AUTHOR POV-
Malam itu, Chanyeol meminta Jiu
menemuinya di sebuah gang. Ada sesuatu yang ingin namja itu sampaikan dan
jelaskan pada Kwan Jiu. Beberapa kali ia mengirim pesan pada Jiu untuk datang.
“Jiu-ya…jebalyo, ada yang ingin kujelaskan
padamu.” Gumam Chanyeol yang berdiri sambil mondar-mandir di jalanan sepi.
Jalanan itu berjarak tak jauh dari rumah Jiu, hanya saja letaknya yang berada
di lereng bukit, sehingga jalanan itu begitu sepi.
Langit terlihat mendung dan hendak
memuntahkan airnya.
GRRMM!! GRMM!! Tiba-tiba terdengar
segerombolan suara motor yang di geber menuju jalan itu. Mereka tiba-tiba turun
dari motor dan menghampiri Chanyeol yang berdiri mondar-mandir di dekat
mobilnya.
BASSHTT!! Sebuah tinjuan melayang
kearah wajah Chanyeol.
“Mwoya??” seru Chanyeol.
“Siapa yang mengijinkanmu memarkir
mobil di area ini, huh?” ucap salah seorang anggota geng motor.
“Ini jalan umum, siapapun berhak!”
seru Chanyeol.
BASHHT!! Pukulan dari anggota lain juga
melayang kearah Chanyeol. Namja itu berusaha untuk membalas pukulan-pukulan itu.
Akan tetapi jumlah mereka yang terlampau banyak, membuat Chanyeol kualahan.
Tubuhnya di kunci oleh dua orang anggota geng motor, sedangkan anggota lain
menghajarnya bertubi-tubi.
“Argghh!!” keluh Chanyeol yang
mendapatkan pukulan tepat di ulu hati.
BRAK!! Chanyeol pun terjatuh ke
tanah. Sudut bibirnya telah mencuatkan darah karena pukulan.
BASHTT!! Beberapa tendangan juga
menghujam tubuh Chanyeol yang hampir tak berdaya.
PTARR!!! Kilatan cahaya petir yang
menyambar tak menyudahi perlakuan geng motor terhadap Chanyeol.
“Oppa!!!” seru sebuah suara yang
tiba-tiba menyembul di langit malam. Para anggota geng motor pun menengok
kearah yeoja yang berteriak. Salah satu diantara mereka pun mengayunkan balok kearah
belakang kepala Chanyeol.
“Andweyo!!” seru yeoja yang ternyata
Kwan Jiu.
GLAKK!! Balok itu menghujam kepala
Chanyeol hingga namja itu tersungkur diatas aspal jalan.
“Oppa!!” seru Jiu yang seraya berlari
kearah Chanyeol.
GREMM!! GREMM!! Para anggota geng
motor itu memacu motornya dan meninggalkan tubuh Chanyeol yang telah tergeletak
tak berdaya.
Seketika cairan berwarna merah
merembes di antara rambut Chanyeol yang hitam. Tangan Jiu gemetar saat
mendapatinya.
“Hhhhhgk! Hhhggk! Oppa!” seru Jiu
yang menatap mata Chanyeol yang mulai meredup sinarnya.
“Jiu-ya…jangan menangis.” Celetuk
Chanyeol. Namja itu menghapus air mata yeoja yang memangku kepalanya. Usapan
tangan Chanyeol membuat wajah Jiu terkena noda darah dari tangannya.
“Oppa….” gumam Jiu yang menggenggam
tangan Chanyeol yang mengusap wajahnya.
“Hhhhh!!” tiba-tiba sebuah tarikan
nafas dalam terdengar dari hidung Chanyeol dan membuat lehernya tampak
mencekung.
“Oppa!” seru Jiu yang mendekap tubuh
Chanyeol.
“Jiu-ya…percayalah, aku tak pernah
mengkhianatimu…” ucap Chanyeol yang diikuti helaan nafas panjangnya, seraya
dengan itu, matanya tertutup.
“Oppa! khajima!!!” teriak Jiu. Air
matanya jatuh pada pelipis Chanyeol yang tubuhnya ia dekap. Air mata itu pun
menyeka darah yang mengering di sekitarnya.
“Oppa!!! HHhhhgk Hhhhhggk!!
Andweyo..” seru Jiu. Tangisannya memekakan malam sepi di tepi jalanan yang juga
sunyi tanpa ada satupun kendaraan yang lalu lalang. Titik-titik air pun
terjatuh dari langit kelam. Airnya menetes, menghujani Jiu yang masih memeluk
Chanyeol. Butir itu semakin banyak dan lebat hingga menyeka darah yang tadi
berleleran pada wajah putih Chanyeol. Hujan yang menggenang di sekitar tubuh
Chanyeol pun berubah merah.
BRP! BRRP! BRPP! Tiba-tiba sebuah
langkah kaki terdengar mendekat pada Kwan Jiu.
“Hhhss! Hhss!” nafas itu terdengar
walau hujan mengguyur.
“Jiu-ya…” celetuk namja yang berlari
mendekat yang ternyata Oh Sehun. Namja itu semakin mendekat untuk melihat
keadaan Chanyeol yang berada dalam dekapan Jiu. Sehun menyentuh leher Chanyeol
untuk memeriksa nadinya. Dahinya pun mengernyit ketika tak dapat merasakan
denyut apapun.
CRRKK!! Tiba-tiba tubuh Sehun terduduk
di atas jalan dengan genangan air diatasnya. Namja itu terhuyung lemah dan tak
mampu berkata-kata lagi. Mulutnya menganga dan matanya menatap Chanyeol yang
mulai memucat.
“Oppa!! khajima…!” ucap Jiu.
---SKIP---
Area pemakaman mulai sepi dari para pelayat.
Ibu Chanyeol yang tadi sempat berulang kali pingsan pun juga sudah beringsut
dari depan makam putranya. Wanita paruh baya itu sempat mencium kening Kwan Jiu
sebelum benar-benar meninggalkan makam.
“Gomawo Jiu-ya, kau sudah memberinya
cinta, dan kau adalah orang yang sangat dicintai olehnya.” Ucap Ibu Park
Chanyeol pada Kwan Jiu.
“Ahjuma…” celetuk Jiu yang seketika
menengok memandang Ibu Chanyeol yang telah berjalan pergi sambil di bantu oleh
Sehun. Mata Kwan Jiu yang sendu berpadu dengan hidungnya yang memerah karena
menangis sejak semalam. Namun angin di area pemakaman mulai mengeringkan bekas
tangisan Jiu. Kala itu, langit tampak semakin menghitam dan mendung.
PTARR!! Tiba-tiba sebuah kilat
menyambar di langit mendung.
WWFFH!! Sebuah angin tiba-tiba
menyembul pada telinga Jiu.
“Aku akan selalu bersamamu, Jiu-ya…”
ucap sebuah suara yang seraya membuat Kwan Jiu tersentak membelalakkan mata.
Yeoja itu menengok ke arah angin yang menyembul pada telinganya. Matanya
mengedar melihat ke sekeliling. Namun ia tak menemukan satu sosok pun disana.
Hanya tinggal ia sendiri di makam itu. Akan tetapi Jiu pun tak mengindahkan
suara yang tadi didengarnya. Ia lantas menyentuh nisan Chanyeol dan mulai
beranjak pergi.
“Khajima!” bisik sebuah suara lagi
yang menyembul pada telinga Kwan Jiu. Yeoja itu pun tersentak dan seraya menyentuh bulu kuduknya
yang tiba-tiba berdiri.
PTARR!! Petir pun kembali menyambar
di langit. Kwan Jiu terlonjak karena terkejut, ia menutupi kedua telinganya
dengan tangan dan semakin mempercepat
langkah kakinya sambil sesekali menengok ke belakang namun tetap tak dilihatnya
seorang pun di tempat itu.
Ia langkahkan kaki dengan cepat dan
pasti. Sebuah jalanan aspal sepi yang di kanan kirinya terdapat pohon pinus lah
yang menemani kesunyiannya.
BRPP! BRP! BRP!! Alas sepatu Jiu
beradu dengan aspal jalan.
WWFHH!!! Angin kembali menyembul dan
mengibaskan rambut Jiu.
PTARR!! Petir kembali menyambar. Awan
mendung telah bergelayut gelap dan siap memuntahkan airnya.
BRRSS!! Tiba-tiba air hujan mengguyur
dengan derasnya. Yeoja itu hendak pun meneduhkan diri di bawah salah satu pohon
sekitaran area pemakaman. Ia menyeberang jalan dengan tergesa.
TINN!!! Tiba-tiba sebuah mobil melaju
kencang kearah Jiu.
BRAKK!!! Tubuh Jiu terpental melalui
bagian atas mobil dan akhirnya terjatuh di atas aspal yang basah dan sedikit
tergenang air hujan. Genangan air bersemu merah karena darah yang mengucur dari
kepala Jiu. Tiba-tiba mata Jiu melihat setitik cahaya yang berpendar di depan
matanya. Sesosok namja tinggi yang ia kenal melambai kearahnya.
“Oppa…” gumam Jiu yang matanya mulai
meredup.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Terlihat Sehun kembali ke pemakaman
setelah mengantar ibu Chanyeol. Ia merasa khawatir karena Jiu tak kunjung
kembali ke rumah.
GRMM!!! Mobil yang menabrak Jiu pun
melarikan diri. Seketika itu Sehun membawa mobilnya kearah Jiu yang tergeletak
di atas aspal jalan.
“Jiu-ya? Kwan Jiu?” seru Sehun yang
mendapati Jiu tak sadarkan diri. Ia pun lekas membawanya ke rumah sakit.
END FLASHBACK
-Kwan Jiu Pov-
“Jiu-ya…kau harus sembuh, masih ada
orang yang mencintaimu.” Ucap Sehun tepat di telingaku.
“Sehun-ah….” gumamku yang menatap
kedua mata Sehun. Namja itu pun mencium keningku lagi.
--SKIP—
-Satu Tahun Kemudian-
-Author Pov-
Salju musim dingin menyelimuti sebuah
taman di kota Seoul. Malam itu seorang yeoja tengah duduk di salah satu bangku
panjang yang terdapat di sana. Tubuhnya di balut mantel warna cream lembut dan
sepasang sarung tangan yang tampak begitu hangat. Sesekali ia
menggosok-gosokkan kedua tangannya dan meniupkan udara dari dalam mulutnya.
Yeoja bernama Kwan Jiu itu pun merogoh saku mantelnya untuk mengambil ponsel.
“Ah…kenapa kau lama sekali,
Sehun-ah!” keluh Jiu yang nafasnya terlihat menyembul di udara malam. Ia pun
berdiri dan berjalan mondar mandir untuk menghilangkan rasa dingin. Di
genggamnya ponsel yang menunjukkan pukul delapan malam itu. Ia tengah mencoba
melakukan panggilan telepon pada namja bernama Sehun.
“Setidaknya jawablah teleponku,
arrachi!” gumam Jiu yang masih terus mondar-mandir dan menggerakkan tangannya
untuk menepis hawa dingin yang menusuk tulang.
BRPP!! Tiba-tiba tubuh Jiu menabrak
sosok tinggi saat ia berbalik arah.
“Hhhhh!!” celetuk Jiu yang menarik nafasnya
karena terkejut. Ponsel yang tengah melakukan panggilan telepon pun terjatuh ke
tanah. Seketika itu Jiu hendak berbalik dan beringsut dari hadapan namja yang
tiba-tiba berdiri di depannya. Terlihat beberapa orang lalu lalang memandangi
Jiu dengan sebelah mata. Beberapa diantaranya berbisik dan mengira yeoja itu
gila.
HAPP!! Tangan namja itu mencengkeram
tangan Jiu yang tubuhnya hendak beringsut pergi.
“Chanyeol Oppa!!” seru Jiu, suaranya
terdengar oleh Sehun yang menerima panggilan telepon Jiu.
“Jiu-ya!” seru Sehun dalam telepon.
Yeoja itu pun melepaskan cengkeraman
tangan Chanyeol. ia menghambur kearah jalan raya. Di lihatnya lampu lalu lintas
yang belum menghijau bagi pejalan kaki. Dari sudut mata Jiu, ia melihat
Chanyeol yang terus menatap kearahnya.
BRP! BRP! Jiu melangkahkan kaki untuk
menyeberang jalan dengan tergesa, padahal lampu lalu lintas belum menghijau
baginya.
TIN!!!! Sebuah klakson panjang dan
memekakan telinga terdengar dari mobil yang melaju kearah Jiu. Yeoja itu pun
terkejut dan membelalakan mata.
HAP!!! Tiba-tiba seseorang meraih
tubuh Jiu dan membawanya ke arah lain.
“Hhhss! Hhhss! Hhhss!” terdengar
beberapa potong nafas terengah menyembul dari mulut Sehun, namja yang
menyelamatkan Jiu. Namja itu tepat berada di bawah tubuh Jiu. Jiu pun dapat
melihat jelas lekukan wajah Oh Sehun.
Deg! Seketika, Jiu terlonjak karena
jantungnya berdegub kencang.
“Sehun-ah? gwenchana??” Tanya Jiu
yang seraya bangkit dari atas tubuh Sehun yang tergeletak di atas aspal.
“Pabbo-ya!!” seru Sehun yang seraya
bangkit.
“Mianhae…” celetuk Jiu. Yeoja itu
menengok kearah Chanyeol yang tadi menemuinya di taman. Terlihat disana jika
namja itu masih berdiri sambil memandangi Jiu yang bersama Sehun.
“Jiu-ya? Apa kau masih melihat sosok
Chanyeol seonbae?” Tanya Sehun yang sempat mendengar Jiu mengucapkan nama
Chanyeol dalam ponsel.
“Nde, Sehun-ah? Sampai kapan aku akan
terus seperti ini?” celetuk Jiu. Ia mengalami sedikit depresi hingga
terbayang-bayang akan sosok Chanyeol yang telah tiada.
“Tenanglah, aku psikiater yang dapat
kau andalkan.” Ucap Sehun yang seraya meraih bahu Jiu dan menyeberang jalan
dengan benar. Sekilas, Jiu kembali menengok kearah Chanyeol yang berdiri di
taman, namun matanya sudah tak menangkap sosok itu lagi.
“Jiu-ya? Saranghae….” Celetuk Sehun
lirih. Seketika itu langkah Jiu terhenti tepat di bawah sinar lampu jalan.
“Sehun-ah….?” ucap Jiu yang menatap
kedua mata Sehun dengan lekat. Tangannya menyentuh dada, ada sesuatu yang
bergerak-gerak aneh dalam dadanya.
Deg! Deg! Jantung Jiu berdebar lagi.
Sehun yang melihat Jiu tertegun diam
pun beringsut perlahan dan meraih bahu Jiu lalu menjatuhkan yeoja itu dalam
pelukannya.
“Perlahan kau akan mencintaiku lalu
melupakannya.” Ucap Sehun yang memeluk Jiu dan membelai rambutnya. Jiu masih
memegangi dadanya dan memandang lurus ke belakang tubuh Sehun.
“Oppa….?” celetuk Jiu yang melihat
sosok Chanyeol berdiri di seberang. Yeoja itu pun memejamkan matanya dan
menenggelamkan wajahnya di bahu Sehun.
“Sehun-ah, bantu aku untuk
mencintaimu dan melupakannya.” Ucap Jiu yang merentangkan tangannya dan
membalas pelukan Sehun. Malam itu, salju pertama pun turun.
-------------------------------------------THE
END--------------------------------------------------------------

Tidak ada komentar:
Posting Komentar