Main cast: Park Chanyeol| Wu Yifan|
Huan Jiu
Genre: Romance Saeguk
Length: ONE SHOOT
~ My Destiny~
PRANKK!! Tiba-tiba suara pedang
beradu dengan pedang terdengar nyaring diatas bukit. Chanyeol diserang oleh
para perampok. Mereka mencabut pedangnya dan memberi perlawanan pada Chanyeol
dan satu pengawalnya. Sesekali pedang perampok hampir mengenai leher Chanyeol
namun namja itu berhasil menepisnya.
BRRAK!! Pengawal Chanyeol terhempas
ke tanah dan tak sadarkan diri.
“Dong Woo-ya!” seru Chanyeol.
BLAP!! Tiba-tiba tubuh Chanyeol
terhempas ke tanah dan pedangnya terlepas dari genggaman tangan. Seorang
perampok mengarahkan mata pedangnya ke arah leher namja itu.
“Hiya! Jauhkan pedang itu dari tuan
muda!” seru seorang yeoja yang tiba-tiba muncul dari balik tubuh perampok.
BASHHTT!! Yeoja berambut hitam
panjang itu memberi pukulan keras menggunakan rangka pedangnya kearah perampok
hingga perampok itu terjatuh ke samping tubuh Chanyeol.
“Jiu-ya…!” ucap Chanyeol yang
membelalakan mata sambil memegangi dadanya yang terasa sakit.
“Haaa!!” seru dua perampok lain yang
melompat kearah Jiu.
PRRNKK!! Jiu menahan serangan itu
dengan pedangnya. Namun satu dari dua perampok itu tiba-tiba menyerang dari
arah belakang Jiu. Jiu pun menengok ke belakang, sebilah pedang mengayun di
depan matanya.
BLAP! Tiba-tiba seseorang datang dan
menghela pedang yang mengayun kearah Jiu.
“Yifan-ssi...” celetuk Jiu yang
memandangi sosok berpakaian hitam dengan rambut gondrong yang diikat.
“Gwenchanayo Jiu-ya?” tanya Yifan yang
melihat kearah Jiu. Para perampok itu pun berhasil di lumpuhkan oleh Wu Yifan.
“Nde,” jawab Jiu yang menatap Yifan
sekilas.
“Ah! Tuan muda! Gwenchanayo?” ucap
Jiu yang seketika menghambur kearah Chanyeol yang masih terduduk di atas tanah
sambil memegangi dadanya.
KRRSSKK!! KRRSSHHHK!! Namun tiba-tiba
beberapa batu besar jatuh dari atas
gunung. Huan Jiu pun berlari kearah Chanyeol.
“Tuan muda!!!” seru Jiu yang seraya
meraih tubuh Chanyeol.
BRPP!! Jiu menyambar tubuh Chanyeol untuk
menyelamatkannya.
“Argh…” keluh Jiu yang tertimpa tubuh
Chanyeol.
“Jiu-ya…!” celetuk Yifan yang
menghambur untuk memastikan keadaan Jiu.
“Jiu-ya…gwenchanayo??” tanya Chanyeol
yang menepuk-nepuk wajah Jiu. Yeoja itu pun tiba-tiba tersenyum pada Chanyeol.
“Mianhae, Apa kau baik-baik saja tuan
muda? Syukurlah…” ucap Jiu yang kemudian tak sadarkan diri karena sebelah
lengannya sempat terbentur batu ketika menyelamatkan Chanyeol. Huan Jiu adalah
pengawal pribadi Chanyeol yang dipilih karena kemampuannya.
“Jiu-ya!!” seru Yifan yang
mengkhawatirkan keadaan Jiu.
“Hyung-ah! kita harus membawanya ke
tabib!” ucap Chanyeol pada Yifan yang telah dianggapnya kakak sendiri. Karena
sejak berusia lima belas tahun, Yifan telah diutus tuan Park untuk menjaga
putranya, Chanyeol.
----SKIP---
-di rumah-
“Ahjuma! Panggilkan tabib! Cepat!”
seru Chanyeol, dilihatnya yeoja yang ia baringkan tampak semakin pucat dan
mengeluarkan keringat dingin.
“Tuan muda, ini tak apa-apa…” celetuk
lirih Jiu yang terbaring. Sedangkan Chanyeol dengan perasaan gugup berlari
untuk mengambil kain dan air hangat.
“Anniya…kau sakit Jiu-ya,” ucap Yifan
yang juga gugup dan mencoba memeriksa keadaan Huan Jiu.
“Hhhhsh! Hhhhshh!” nafas Jiu terengah
dan menyembul di udara. Dahinya mengernyit menahan sakit pada lengannya.
“Andweyo Yifan-ssi..” ucap Jiu yang menggeleng
dan menahan tangan Yifan yang akan merobek sebelah pakaiannya.
KKRRRAKK!! Namun Yifan pun tetap merobek
lengan pakaian Jiu dan melihat luka memar yang sangat parah di lengan yeoja
itu.
“Hiya! Hyung-ah! apa yang kau
lakukan!” seru Chanyeol yang seketika menghambur ke dalam kamar dan melihat
sebelah lengan pakaian Jiu di robek oleh Yifan.
CRRR!! Chanyeol memeras kain yang
dicelupkan pada air hangat lalu membasuh luka itu.
“Arrghh…” keluh Jiu.
“Jiu-ya… tahanlah sebentar.” Ucap
Chanyeol. Wu Yifan pun hanya memandangi Chanyeol yang dengan wajah khawatirnya
terus membasuh luka Jiu. Perlahan, Yifan memilih untuk meninggalkan kamar itu.
“Kuharap kau baik-baik saja Jiu-ya,”
batin Yifan yang kemudian beringsut dari dalam kamar. Bersamaan dengan itu pula
tabib yang di panggil ahjuma pun tiba.
------------------------------------------------
Yifan berjalan menuju beranda rumah.
Ia berniat menulis surat untuk ayah dan ibu Chanyeol yang tengah berada di Cina
jika putra mereka baik-baik saja.
“Yifan-ssi…bagaimana keadaan
Chanyeol?” tanya Sunhee yang tiba-tiba muncul dihadapan Yifan.
“Dia baik-baik saja, gereom,
sebaiknya kau pulanglah!” ucap Yifan yang menghadang jalan Sunhee.
“Waeyo??!” seru Sunhee yang ingin
menemui Chanyeol.
“Dia tak ingin diganggu olehmu,
Sunhee-ya..” ucap Yifan.
“Hiya!! Apa maksudmu! Aku
tunangannya! Arraseo!” seru Sunhee yang menerobos masuk, namun Yifan menahannya
lagi dengan mencengkeram lengan Sunhee.
“Argh! Sakit…” keluh Sunhee.
“Kumohon, jangan temui dia sekarang,”
ucap Yifan.
“Geureyo!!” Sunhee pun menghela nafas
dan berbalik keluar rumah dengan perasaan marahnya.
~ My Destiny~
Tepat tengah malam, Jiu yang
terbaring mengerjap-erjapkan matanya. Di lihatnya seorang namja yang duduk
menunduk di samping tubuhnya. Ia pun menyentuh tangan Chanyeol. Seketika itu
Chanyeol terbangun.
“Ah! Jiu-ya! Apa kau kesakitan lagi?”
tanya Chanyeol yang tiba-tiba terbangun.
“Anniya. Gereomyo, aku hanya ingin
mengucapkan terimakasih padamu, tuan muda,” ucap Jiu.
“Apa yang kau bicarakan Jiu-ya, kau
sudah seperti adikku sendiri,” ucap Chanyeol.
“Jinjjayo?” tanya Jiu.
“Nde, bahkan kau bisa memanggilku
oppa,” jawab Chanyeol. Jiu pun tersenyum pada Chanyeol. rintik hujan mulai
turun malam itu.
HHSSSHH!!! Tiba-tiba angin berhembus
kencang dari celah pintu dan jendela. Seketika beberapa lilin dalam ruangan itu
pun padam. Ruangan tampak begitu gelap.
“Argh!! Apa yang terjadi dengan
lilinnya!!” seru Chanyeol yang ketakutan ketika lilin-lilin dalam kamar itu
tiba-tiba padam. Jiu pun bangun dan merangkak kearah lilin. Perlahan tangannya
meraih pemantik api yang berada didekat lilin.
“Tuan muda? gwenchanayo?” tanya Jiu
yang mendapati Chanyeol duduk menekuk lutut dan menunduk memegangi kepalanya.
Perlahan, cahaya lilin yang Jiu bawa mengerjap-erjap terang.
“Hhhhsshh! Hhhssshh!” terdengar nafas
Chanyeol begitu terengah. Jantungnya akan berdegub kencang ketika ia berada
dalam gelap.
“Oppa….” celetuk Jiu yang menyeka
keringat dingin yang menyembul pada dahi Chanyeol. Perlahan, Chanyeol
mengangkat wajahnya. Dipandangnya wajah Jiu yang diterangi cahaya lilin.
Sebelah tangan yeoja itu masih terus menyeka keringat pada dahi Chanyeol tanpa
menghiraukan Chanyeol yang terus menatap wajahnya dan menatap luka di sebelah
lengannya. Perlahan dan hati-hati, Chanyeol meraih bahu Jiu dan memeluknya.
“Gomawo Jiu-ya, gomawoyo…” celetuk
Chanyeol.
GRPP! Suara pintu di geser pun
tersamarkan oleh suara hujan yang mulai deras di luar rumah. Chanyeol dan Jiu
tak menyadari kehadiran Yifan. Yifan datang karena mendengar jeritan Chanyeol
dan bergegas memeriksa keadaan tuan mudanya itu. Namun, seketika Yifan
mengurungkan niatnya dan menutup kembali pintu itu.
~ My Destiny~
Pagi menjelang, Chanyeol tampak duduk
di beranda rumahnya.
“Eodiga-neunkeoya? (kau ingin kemana)”
tanya Chanyeol yang melihat Jiu bergegas
keluar rumah.
“Chanyeol-ssi….” celetuk Jiu yang
seketika menghentikan langkahnya dan menengok ke belakang.
“Apa kau pikir lukamu itu sudah
sembuh, huh?” ucap Chanyeol.
“Ini sudah tak apa-apa, tuan muda.
Anneyongigyeseo,” jawab Jiu yang kemudian memberi salam dan pergi meninggalkan
Chanyeol.
“Jiu..-ssi..” celetuk Chanyeol
terbata, tangannya hendak melambai namun ia mengurungkan niat itu. Jiu berjalan
pasti tanpa menengok ke belakang lagi. Chanyeol terus memandanginya hingga
punggung yeoja itu menghilang di tikungan jalan.
“Bagaimana jika seseorang mengajaknya
bertarung?” batin Chanyeol. seketika ia pun melangkahkan kaki dan menunggangi
kudanya untuk mengikuti Jiu.
---SKIP----
Pasar tampak lebih ramai dibanding
hari biasanya. Yeoja itu pun terus berjalan mengikuti langkah kakinya. Ia hanya
ingin menanyakan keadaan Dong Woo yang sudah dianggapnya seperti paman sendiri.
Kebetulan istri Dong Woo memiliki kedai kecil di pasar itu.
BRAKKK!! Tiba-tiba seorang yeoja
bersama pembantunya menabrak Jiu. Jiu pun terjatuh dan memegangi lengannya.
“Jiu-ssi…” celetuk Chanyeol yang
hendak beringsut menolong Jiu. Namun langkahnya terhenti. Dipandangnya lagi yeoja
yang menabrak Jiu.
“Lee Sunhee?” batin Chanyeol.
“Joseonghamnida aggashi! Joseonghaeyo (maafkan
saya),” ucap pembantu Sunhee yang hendak membantu Jiu berdiri.
“Tak perlu! Ahjumma!!” seru Sunhee
pada pembantunya. Yeoja bangsawan itu hanya memandang Jiu dengan sebelah
matanya.
“Gwenchana, ahjumma,” ucap Jiu yang
tersenyum dan berusaha berdiri sendiri.
BLAP! BLAP! BLAP! Tiba-tiba terdengar
beberapa langkah kaki yang berlari kearah Jiu yang masih mencoba untuk berdiri.
BRAKK!! Seorang anak lelaki pun
terjatuh tepat di depan Jiu.
“Hiya! Gwenchana??” ucap Jiu yang
meraih anak itu. terlihat olehnya jika anak lelaki itu ketakutan. Beberapa pria
dewasa yang mengejarnya pun tiba di hadapan mata.
“Ahjussi, joseonghaeyo…aku berjanji
akan melunasi hutang ayahku, namun tolong lepaskan aku,” ucap anak itu seraya
menangis.
“Apa kau yakin akan melunasinya,
huh!!” seru pria itu dan seraya mengayun tongkat kearah anak lelaki tersebut.
Seketika Jiu bangkit dan menepis sabetan tongkat.
GLAKK!! Tongkat itu pun terjatuh.
“Tak perlu kau ikut campur urusan kami,
nona!!”
“Cuh! Kalian para renternir tak tahu
diri! Arraseo!!” seru Jiu yang meludah pada pria dihadapannya. Para warga di
pasar pun terkejut akan keberanian Jiu yang melawan renternir kejam. Sunhee dan
pembantunya juga menyingkir dan memandangi Huan Jiu yang menantang renternir
itu.
SRRNNKK!!! Beberapa pria yang lain
mencabut pedangnya.
BLAP!! Jiu menjatuhkan pria
dihadapannya dan meraih pedangnya.
PRRNKK!! Tiga pria lain dengan pedang
pun merangsek maju melawan Jiu. Terjadi pertarungan pedang di sana. Chanyeol
masih berdiri memandangi Jiu. Ia merasa kagum dengan kemampuan yang dimiliki
oleh yeoja itu.
GLAK!! Satu diantara tiga pria itu
pun berhasil dilumpuhkan oleh Jiu. Anak lelaki dan para warga pun terkejut
ketika salah satu kaki tangan renternir terjatuh di tanah.
PRNNKK!! Suara pedang beradu dengan
pedang pun terus terdengar. Jiu masih mencoba melawan dua petarung sekaligus.
SSRKK!! Lengan Jiu yang terluka pun
tergores pedang.
“Arghh!” keluh Jiu, darah merembes
pada pakaiannya. Yeoja itu memegangi lengannya yang terluka. Salah satu pria
itu kembali hendak menghunguskan pedangnya pada Jiu.
“Jiu-ssi!!” seru Chanyeol yang
seketika beringsut hendak menolong yeoja itu.
GLAKK!! Tiba-tiba seseorang
berpakaian hitam melompat dan memberi tendangan pada punggung salah satu pria
itu hingga terjatuh. Chanyeol pun menghentikan langkah kakinya.
BRRPP!! Sosok itu juga memberi
pukulan pada pria yang lain hingga tersungkur merasakan sakit.
SRRNNKK!!! Sebilah pedang dikeluarkan
dari rangkanya dan diarahkan pada leher renternir tadi.
“Jangan bunuh aku, jebalyo.. aku akan
menganggap lunas hutang anak itu,” ucap renternir pada sosok yang hendak
menyayat lehernya.
“Geureyo… jika kau masih mengejar
anak itu, tamatlah riwayatmu!” ucap sosok itu.
“Nde, kau bisa memegang janjiku,
tuan,” ucap renternir itu dan kemudian melarikan diri bersama anak buahnya.
“Yifan-ssi….” celetuk Jiu. Tatapan
matanya memandang kedalam mata Wu Yifan.
“Jiu-ya, gwenchana….?,” ucap Yifan
yang berjalan menghampiri Jiu. Namun seketika langkahnya kembali terhenti.
Seseorang dengan kudanya datang menghampiri Huan Jiu.
“Jiu-ya! gwenchana? Hiya! Kau
berdarah!” seru Chanyeol yang seraya datang dan meraih tubuh Jiu yang terluka. Chanyeol
pun meraih bahu Jiu dan hendak membawanya pulang. Jiu menengok ke belakang dan
memandangi Yifan yang masih memandanginya juga.
“Oppa!! apa yang kau lakukan
padanya!!” celetuk Sunhee yang merasa kesal dan memilih pulang bersama
pembantunya.
---SKIP—
Tiba dirumah, Chanyeol bergegas
mengambil kain dan ramuan obat untuk Jiu.
“Untunglah tak terlalu dalam,” gumam
Chanyeol sembari mengobati luka di lengan Jiu. Yeoja itu tampak melamun
memandang kearah luar rumah.
“Chanyeol-ssi… gomawoyo..” ucap Jiu
yang beralih memandang Chanyeol. Perlahan, Chanyeol meraih bahu Jiu dan
memeluknya.
“Chanyeol-ssi….” celetuk Jiu yang
bingung. Namun namja itu diam dan hanya terus memeluk. Kedua tangan Jiu pun
perlahan menyentuh belakang tubuh Chanyeol.
“Jiu-ya…jangan membuatku selalu
mengkhawatirkanmu,” celetuk Chanyeol.
“Tuan muda…” ucap Jiu.
“Sangsini joayo (aku menyukaimu)…
Jiu-ya.” Ucap Chanyeol.
“Mwo?” tanya Jiu.
“Bukankah ini yang kau harapkan
dariku selama ini?” ucap Chanyeol. Jiu pun terkejut karena ternyata Chanyeol
mengetahui perasaannya selama ini. Tiba-tiba sudut matanya melihat seseorang tengah
memandangnya dari luar rumah.
“Chakaman!” celetuk Jiu yang seketika
melepaskan pelukan Chanyeol dan beringsut keluar rumah. Matanya mengedar
pandang dan mencari sosok itu. Ia pun berlari kearah pekarangan belakang yang
terdapat sebuah kolam teratai disana.
“Hhsshh! Hhhhshh!!” Jiu terengah
mengejar sosok itu.
“Yifan-ssi!” seru Jiu. namja tinggi
itu pun menghentikan langkahnya. Tubuhnya membelakangi Jiu yang memanggilnya.
“Cukup! Kumohon padamu untuk tidak
mencampuri kehidupanku lagi. Jangan pernah menyelamatkanku lagi, jangan pernah mengamatiku
lagi, jangan pernah menatapku lagi. Karena itu mungkin akan membuatku merasa
bersalah padamu, Jebalyo,” ujar Jiu. Yifan pun hanya diam dan menggenggam erat
lengan pedangnya. Wajahnya hanya menengok sedikit ke belakang.
“Jiu-ya!!” seru Chanyeol yang
tiba-tiba datang menghampiri. Sekilas, sorotan mata Chanyeol sempat bertemu
dengan tatapan mata Yifan yang terlihat sendu. Namun setelah itu, Chanyeol
mengajak Jiu untuk masuk ke dalam rumah karena ia khawatir dengan luka di
lengan Jiu.
“Jiu-ya… jangan seperti ini padaku.
Kau wanita kedua yang aku sayangi setelah Ibuku,” gumam Yifan yang memandangi
Jiu pergi bersama Chanyeol. Angin lembut menyembul dari balik tubuh Yifan dan
mengeringkan sudut matanya yang sedikit basah. Permukaan air yang ditumbuhi
teratai juga membentuk gelombang kecil akibat hembusan angin itu.
~ My Destiny~
-Malam ke tujuh bulan mei-
Malam begitu tenang. Cahaya bulan
menerawang di antara celah awan yang berarak ke barat. Luka di lengan Huan Jiu
telah lama mengering. Yeoja itu duduk di atas pagar rumah untuk menyaksikan
gerhana bulan yang akan terjadi menurut cenayang yang ia temui sebulan lalu.
“Siapkan hatimu untuk malam ke tujuh
bulan mei,” ucap Cenanyang pada Jiu kala itu.
“Chakaman! Apa artinya itu?” batin
Jiu yang mengingat-ingat kembali perkataan cenayang padanya. Tiba-tiba sudut
mata Jiu melihat sosok Chanyeol yang berjalan kearah pekarangan rumah, tempat
Jiu menyaksikan gerhana bulan.
“Chanyeol-ssi…” batin Jiu yang
mengembangkan senyuman dibibir. Namun tiba-tiba langkah kaki Chanyeol terhenti,
seseorang menghambur seraya memeluk tubuh namja bangsawan itu.
“Oppa..!! kau tahu! apa kabar yang
kudapatkan dari cina?” celetuk Sunhee pada Chanyeol.
“Mwoya?” tanya Chanyeol yang tidak
menyadari jika Jiu berada di atas pagar rumah mengamatinya.
“Tiga hari lagi kedua orang tuamu
pulang dari cina,” jawab Sunhee.
“Jinjjayo?!” seru Chanyeol yang
melompat senang hingga tak sadar memeluk Sunhee.
“Dan sepulang mereka dari cina, kita
akan menikah, Oppa!” seru Sunhee yang mengguncang tubuh Chanyeol karena
gembira.
“Hiya! Apa maksudmu?” sergah Chanyeol
yang seketika melepaskan pelukannya pada Sunhee.
“Oppa…. aku sudah menyiapkan
semuanya. Tiga hari lagi kita akan menikah,” ucap Sunhee yang menyandarkan
kepalanya pada lengan Chanyeol.
“Hiya!! Aku tak mengerti!” seru
Chanyeol.
BRRAKK!! Tiba-tiba Jiu melompat dari
atas pagar, namun kakinya yang seketika lemah pun tak mampu menopang tubuhnya,
sehingga ia terjatuh. Ia melompat kearah luar rumah.
“Arghh..” keluh Jiu. Chanyeol dan
Sunhee menyadari seseorang terjatuh dari atas pagar itu.
“Nuguya!” seru Sunhee.
“Jiu-ya… Huan Jiu…” gumam Chanyeol
yang seketika menghambur keluar rumah melalui gerbang.
“Andweyo…andwe….” Gumam Jiu yang
berusaha berlari sekuat mungkin. Namun di belakangnya, Chanyeol telah mengejar.
“Jiu-ya! Huan Jiu! apa kau mendengar
semuanya?! Semua itu tak seperti yang kau dengar! Hiya! Huan Jiu!” seru
Chanyeol yang berusaha mengejar Jiu.
Namun seketika seekor kuda melintas.
HUG!! Seseorang yang menunggang kuda
meraih tubuh Huan Jiu. Ia pun di bawa pergi oleh orang itu. hembusan angin
menerpa rambut panjang Jiu. Yeoja itu memandangi namja yang membawanya pergi.
“Jiu-ya! Huan jiu!” seru Chanyeol
yang menghentikan larinya.
“Hhhhss! Hhhhhss! Apakah itu Yifan
hyung?” batin Chanyeol yang nafasnya tampak terengah.
--SKIP--
Bulan di langit mulai tertutup benda
asing. Bahkan sesekali beberapa awan masih melintas dan menghalangi sinarnya
yang tak sempurna lagi. Hembusan angin kecil menerpa helaian rambut Huan Jiu
yang duduk dengan menekuk lututnya.
Blup!
Blup!
Begitu suara batuan kecil yang di
lemparkan ke tengah sungai yang berarus tenang. Hanya ombak kecil yang tercipta
karena angin. Hanya beberapa helai daun yang jatuh terapung karena angin. Hanya
beberapa kebisingan ringan yang terdengar karena serangga. Dan semua terasa
begitu hening.
GRGKK!! Wu Yifan turun dari kuda
cokelatnya. Sudah berjam-jam lamanya ia hanya memandangi yeoja yang terus
melempar beberapa batu kecil ke arah sungai. Hingga akhirnya ia pun beringsut
menghampirinya.
“Sudah berapa batu yang kau lempar ke
sungai?” Tanya Yifan yang kemudian duduk di samping Jiu.
“Dia akan takut jika kegelapan
melingkupinya,” ucap Jiu yang memandang bulan yang mulai gelap. Ia teringat
akan phobia yang diderita Chanyeol. Chanyeol sangat takut akan gelap.
“Jiu-ya…lihatlah aku…” gumam Yifan
yang memandangi Jiu dari samping.
“Yifan-ssi, kenapa kau begitu baik
padaku? Waeyo?” ucap Jiu. terlihat jika setetas air keluar dari sudut mata Jiu.
“Jiu-ya…saranghae..” Batin Yifan.
Kedua tangan namja itu pun merengkuh tubuh Jiu lalu memeluknya. Jiu hanya diam
tanpa membalas pelukan itu.
“Apa kau ingin aku membawamu pergi,
Jiu-ya?” tanya Yifan.
“Apa maksudmu?” ucap Jiu.
“Aku sudah menemukan keberadaan
ibuku. Dia adalah saudagar di cina, kita bisa memulai semuanya dari awal
disana,” ucap Yifan.
BRRAKK! Tiba-tiba Jiu melepaskan
pelukan Yifan dan mendorong namja itu. Jiu beringsut kesal menyusuri tepian
sungai.
WWSSHH!! Tiba-tiba angin berhembus
kencang bahkan menggugurkan daun-daun serta mematahkan rantingnya. Seketika
langit berubah gelap. Bulan sepenuhnya menghilang dari malam.
BLAPP!! Kaki Jiu tergelincir karena
batuan yang licin.
“Jiu-ya!” seru Yifan yang seketika
berlari menghampiri Huan Jiu.
BYURR!!! Tubuh Jiu jatuh hingga
menyentuh dasar sungai. Gelembung-gelembung udara menyembul bagaikan buih
melalui mulutnya. Matanya masih sedikit terbuka, walau hanya melihat gelapnya
dasar sungai karena bulan masih tertutup benda asing.
“Mwoya? Apa aku akan mati seperti
ini?” batin Jiu yang tubuhnya terasa ringan bagaikan kapas. Rambut panjangnya
terurai. Kedua matanya hampir terpejam. Buih-buih yang keluar dari mulutnya
perlahan menghilang.
BLup…blup..blup… Tiba-tiba terdengar
suara buih yang lain.
HUG! Lengan seseorang meraih tubuh Jiu
yang terombang-ambing di gelapnya dasar sungai. Sosok itu mengangkat tubuh Jiu
untuk muncul ke permukaan.
BYURR!!! Ia berhasil muncul ke
permukaan bersama tubuh Jiu.
“Huan Jiu! jawab aku!” Ucap Yifan yang
menepuk-nepuk pipi yeoja itu namun tak ada jawaban. Yifan tak melihat ada
gerakan pada dada Jiu, ia pun mendekatkan telinga ke dekat mulut dan hidung
yeoja itu untuk merasakan apakah ada hembusan nafas atau tidak. Yifan tidak
dapat menemukan nadi Jiu. Namja itu pun melakukan kompresi (tekanan berulang-ulang) pada
dada Jiu dan memberinya nafas buatan.
“Hhhggk!! Hhhhgkk!” tiba-tiba Jiu
terbatuk, matanya mulai mengerjap-erjap terbuka.
“Jiu-ya…gwenchana?” tanya Yifan yang
sangat mengkhawatirkan Jiu.
“Yifan-ssi… apa aku sudah mati?”
celetuk Jiu.
“Anniya! Aku tak akan membiarkanmu
mati, Jiu-ya..” ucap Yifan yang kemudian menggendong tubuh Jiu dan membawanya
menggunakan kuda. Jiu yang lemas hanya berusaha tetap berpegangan pada tubuh
Yifan.
--SKIP—
“Ahjussi! Bantu aku!” seru Yifan pada
Dong Woo. Sosok yang sudah dianggap Jiu seperti paman bahkan ayah sendiri,
karena yeoja itu adalah yatim piatu sejak usia sepuluh tahun.
“Hiya! Huan Jiu! apa yang terjadi
denganmu?” tanya Dong Woo yang membukakan pintu.
“Apa yang terjadi, bukankah Jiu seharusnya
tinggal di rumah tuan muda?” tanya Ahjumma.
“Biarkan dia tinggal disini untuk
sementara, ahjumma,” ucap Yifan sembari membaringkan tubuh Jiu.
“Geureyo,” ucap ahjumma yang kemudian
mengambil pakaian kering untuk mengganti pakaian Jiu yang basah. Yifan pun
beringsut meninggalkan Jiu yang bersama ahjumma dalam kamar.
GRPP! Seketika tangan Jiu meraih
tangan Yifan.
“Gomawoyo, Yifan-ssi,” celetuk Jiu.
Yifan hanya diam dan mengangguk, lalu pergi.
~ My Destiny~
Semua masyarakat joseon mendengar
kabar jika putri tunggal menteri Lee akan segera menikah dengan putra diplomat
Joseon yang bernama Park Chanyeol. Pernikahan itu akan diselenggarakan dihari
kepulangan kedua orang tua Park Chanyeol dari Cina, dan akan dirayakan dengan
pelepasan ratusan lampion ke angkasa. Sekejap, suasana kota terasa begitu ramai
walau yang akan menikah bukanlah putri raja.
-dua hari kemudian-
Semua persiapan untuk pernikahan
telah selesai dilakukan. Seperti rencana, upacara itu akan diselenggarakan di
bantaran sungai Han. Semua lapisan masyarakat diperbolehkan menyaksikannya. Lee
Sunhee, sang mempelai wanita telah berada di tempat upacara. Ia tengah menunggu
kedatangan Park Chanyeol, sang mempelai pria.
“Berapa lama lagi Park Chanyeol akan
tiba, tuan?” Tanya ayah Sunhee pada tuan Park, ayah Chanyeol.
“Maafkan putraku tuan, seharusnya ia
sudah berada di tempat upacara ini.” Ucap Ibu Chanyeol yang juga telah berada
di lokasi upacara.
Tiba-tiba seorang kaki tangan tuan
Park menghambur masuk untuk memberi kabar. Semua pandangan mata pun tertuju
pada kaki tangan itu.
“Joseonghamnida (maafkan saya), tuan
muda menunggang kuda kearah dermaga!” ucap kaki tangan itu. seketika para tamu
terkejut tak terkecuali Sunhee yang langsung beringsut menuju dermaga.
--SKIP—
-di dermaga-
“Hhhhssh! Hhhhssh!” Nafas Jiu
terengah, ia berlari menuju dermaga dari rumah paman Dong Woo. Ia mendengar
kabar jika Wu Yifan akan berangkat ke Cina hari itu.
“Yifan-ssi! eodiga!” seru Jiu yang
mengedar pandang mencari sosok Yifan. Beberapa orang yang lalu lalang di
hadapan Jiu membuat kepalanya terasa pusing. Jiu akan merasa pusing jika ia
berada dalam keramaian.
“Hhhgkk! Hhhhhgk! Yifan-ssi…eodiga…?”
ucap lirih Jiu yang mulai menangis dan menundukkan kepala.
“Andweyo…kau tidak boleh pergi
seperti ini,” ucap Jiu.
“Jiu-ya…gwenchana?” celetuk sebuah
suara yang kemudian mengangkat wajah Huan Jiu. yeoja itu pun memandang sosok
tinggi di hadapannya.
“Yifan-ssi!” ucap Jiu yang seketika
memeluk tubuh namja itu.
“Jebal… bawa juga aku pergi
bersamamu,” ucap Jiu pada Yifan.
“Mwo?” tanya Yifan.
“Aku telah menyadarinya sekarang, kau
adalah takdirku.. Oppa..” jawab Jiu.
“Jiu-ya…mianhae, hal yang paling
egois yang bisa aku lakukan padamu adalah….” Ucap Yifan yang dengan perlahan
merengkuh tengkuk Jiu lalu menciumnya.
Dari jauh, Chanyeol menghentikan laju
kudanya yang menuju dermaga. Ia telah menemukan yeoja yang dikejarnya sampai
dermaga.
“Jiu-ya..Mianhae..” celetuk Chanyeol.
Matanya memandangi Jiu yang mulai menaiki kapal bersama Yifan.
“Aku berharap kita bisa bertemu lagi,
Huan Jiu.” ucap Chanyeol yang memutar balik kudanya.
----------------------------THE
END-----------------------------------------

Tidak ada komentar:
Posting Komentar