Senin, 26 Januari 2015

My Destiny

Main cast: Park Chanyeol| Wu Yifan| Huan Jiu
Genre: Romance Saeguk
Length: ONE SHOOT


~ My Destiny~
PRANKK!! Tiba-tiba suara pedang beradu dengan pedang terdengar nyaring diatas bukit. Chanyeol diserang oleh para perampok. Mereka mencabut pedangnya dan memberi perlawanan pada Chanyeol dan satu pengawalnya. Sesekali pedang perampok hampir mengenai leher Chanyeol namun namja itu berhasil menepisnya.
BRRAK!! Pengawal Chanyeol terhempas ke tanah dan tak sadarkan diri.
“Dong Woo-ya!” seru Chanyeol.
BLAP!! Tiba-tiba tubuh Chanyeol terhempas ke tanah dan pedangnya terlepas dari genggaman tangan. Seorang perampok mengarahkan mata pedangnya ke arah leher namja itu.
“Hiya! Jauhkan pedang itu dari tuan muda!” seru seorang yeoja yang tiba-tiba muncul dari balik tubuh perampok.
BASHHTT!! Yeoja berambut hitam panjang itu memberi pukulan keras menggunakan rangka pedangnya kearah perampok hingga perampok itu terjatuh ke samping tubuh Chanyeol.
“Jiu-ya…!” ucap Chanyeol yang membelalakan mata sambil memegangi dadanya yang terasa sakit.
“Haaa!!” seru dua perampok lain yang melompat kearah Jiu.
PRRNKK!! Jiu menahan serangan itu dengan pedangnya. Namun satu dari dua perampok itu tiba-tiba menyerang dari arah belakang Jiu. Jiu pun menengok ke belakang, sebilah pedang mengayun di depan matanya.
BLAP! Tiba-tiba seseorang datang dan menghela pedang yang mengayun kearah Jiu.
“Yifan-ssi...” celetuk Jiu yang memandangi sosok berpakaian hitam dengan rambut gondrong yang diikat.
“Gwenchanayo Jiu-ya?” tanya Yifan yang melihat kearah Jiu. Para perampok itu pun berhasil di lumpuhkan oleh Wu Yifan.
“Nde,” jawab Jiu yang menatap Yifan sekilas.
“Ah! Tuan muda! Gwenchanayo?” ucap Jiu yang seketika menghambur kearah Chanyeol yang masih terduduk di atas tanah sambil memegangi dadanya.
KRRSSKK!! KRRSSHHHK!! Namun tiba-tiba beberapa batu besar  jatuh dari atas gunung. Huan Jiu pun berlari kearah Chanyeol.
“Tuan muda!!!” seru Jiu yang seraya meraih tubuh Chanyeol.
BRPP!! Jiu menyambar tubuh Chanyeol untuk menyelamatkannya.
“Argh…” keluh Jiu yang tertimpa tubuh Chanyeol.
“Jiu-ya…!” celetuk Yifan yang menghambur untuk memastikan keadaan Jiu.
“Jiu-ya…gwenchanayo??” tanya Chanyeol yang menepuk-nepuk wajah Jiu. Yeoja itu pun tiba-tiba tersenyum pada Chanyeol.
“Mianhae, Apa kau baik-baik saja tuan muda? Syukurlah…” ucap Jiu yang kemudian tak sadarkan diri karena sebelah lengannya sempat terbentur batu ketika menyelamatkan Chanyeol. Huan Jiu adalah pengawal pribadi Chanyeol yang dipilih karena kemampuannya.
“Jiu-ya!!” seru Yifan yang mengkhawatirkan keadaan Jiu.
“Hyung-ah! kita harus membawanya ke tabib!” ucap Chanyeol pada Yifan yang telah dianggapnya kakak sendiri. Karena sejak berusia lima belas tahun, Yifan telah diutus tuan Park untuk menjaga putranya, Chanyeol.
----SKIP---
-di rumah-
“Ahjuma! Panggilkan tabib! Cepat!” seru Chanyeol, dilihatnya yeoja yang ia baringkan tampak semakin pucat dan mengeluarkan keringat dingin.
“Tuan muda, ini tak apa-apa…” celetuk lirih Jiu yang terbaring. Sedangkan Chanyeol dengan perasaan gugup berlari untuk mengambil kain dan air hangat.
“Anniya…kau sakit Jiu-ya,” ucap Yifan yang juga gugup dan mencoba memeriksa keadaan Huan Jiu.
“Hhhhsh! Hhhhshh!” nafas Jiu terengah dan menyembul di udara. Dahinya mengernyit menahan sakit pada lengannya.
“Andweyo Yifan-ssi..” ucap Jiu yang menggeleng dan menahan tangan Yifan yang akan merobek sebelah pakaiannya.
KKRRRAKK!! Namun Yifan pun tetap merobek lengan pakaian Jiu dan melihat luka memar yang sangat parah di lengan yeoja itu.
“Hiya! Hyung-ah! apa yang kau lakukan!” seru Chanyeol yang seketika menghambur ke dalam kamar dan melihat sebelah lengan pakaian Jiu di robek oleh Yifan.
CRRR!! Chanyeol memeras kain yang dicelupkan pada air hangat lalu membasuh luka itu.
“Arrghh…” keluh Jiu.
“Jiu-ya… tahanlah sebentar.” Ucap Chanyeol. Wu Yifan pun hanya memandangi Chanyeol yang dengan wajah khawatirnya terus membasuh luka Jiu. Perlahan, Yifan memilih untuk meninggalkan kamar itu.
“Kuharap kau baik-baik saja Jiu-ya,” batin Yifan yang kemudian beringsut dari dalam kamar. Bersamaan dengan itu pula tabib yang di panggil ahjuma pun tiba.
------------------------------------------------
Yifan berjalan menuju beranda rumah. Ia berniat menulis surat untuk ayah dan ibu Chanyeol yang tengah berada di Cina jika putra mereka baik-baik saja.
“Yifan-ssi…bagaimana keadaan Chanyeol?” tanya Sunhee yang tiba-tiba muncul dihadapan Yifan.
“Dia baik-baik saja, gereom, sebaiknya kau pulanglah!” ucap Yifan yang menghadang jalan Sunhee.
“Waeyo??!” seru Sunhee yang ingin menemui Chanyeol.
“Dia tak ingin diganggu olehmu, Sunhee-ya..” ucap Yifan.
“Hiya!! Apa maksudmu! Aku tunangannya! Arraseo!” seru Sunhee yang menerobos masuk, namun Yifan menahannya lagi dengan mencengkeram lengan Sunhee.
“Argh! Sakit…” keluh Sunhee.
“Kumohon, jangan temui dia sekarang,” ucap Yifan.
“Geureyo!!” Sunhee pun menghela nafas dan berbalik keluar rumah dengan perasaan marahnya.
~ My Destiny~
Tepat tengah malam, Jiu yang terbaring mengerjap-erjapkan matanya. Di lihatnya seorang namja yang duduk menunduk di samping tubuhnya. Ia pun menyentuh tangan Chanyeol. Seketika itu Chanyeol terbangun.
“Ah! Jiu-ya! Apa kau kesakitan lagi?” tanya Chanyeol yang tiba-tiba terbangun.
“Anniya. Gereomyo, aku hanya ingin mengucapkan terimakasih padamu, tuan muda,” ucap Jiu.
“Apa yang kau bicarakan Jiu-ya, kau sudah seperti adikku sendiri,” ucap Chanyeol.
“Jinjjayo?” tanya Jiu.
“Nde, bahkan kau bisa memanggilku oppa,” jawab Chanyeol. Jiu pun tersenyum pada Chanyeol. rintik hujan mulai turun malam itu.
HHSSSHH!!! Tiba-tiba angin berhembus kencang dari celah pintu dan jendela. Seketika beberapa lilin dalam ruangan itu pun padam. Ruangan tampak begitu gelap.
“Argh!! Apa yang terjadi dengan lilinnya!!” seru Chanyeol yang ketakutan ketika lilin-lilin dalam kamar itu tiba-tiba padam. Jiu pun bangun dan merangkak kearah lilin. Perlahan tangannya meraih pemantik api yang berada didekat lilin.
“Tuan muda? gwenchanayo?” tanya Jiu yang mendapati Chanyeol duduk menekuk lutut dan menunduk memegangi kepalanya. Perlahan, cahaya lilin yang Jiu bawa mengerjap-erjap terang.
“Hhhhsshh! Hhhssshh!” terdengar nafas Chanyeol begitu terengah. Jantungnya akan berdegub kencang ketika ia berada dalam gelap.
“Oppa….” celetuk Jiu yang menyeka keringat dingin yang menyembul pada dahi Chanyeol. Perlahan, Chanyeol mengangkat wajahnya. Dipandangnya wajah Jiu yang diterangi cahaya lilin. Sebelah tangan yeoja itu masih terus menyeka keringat pada dahi Chanyeol tanpa menghiraukan Chanyeol yang terus menatap wajahnya dan menatap luka di sebelah lengannya. Perlahan dan hati-hati, Chanyeol meraih bahu Jiu dan memeluknya.
“Gomawo Jiu-ya, gomawoyo…” celetuk Chanyeol.
GRPP! Suara pintu di geser pun tersamarkan oleh suara hujan yang mulai deras di luar rumah. Chanyeol dan Jiu tak menyadari kehadiran Yifan. Yifan datang karena mendengar jeritan Chanyeol dan bergegas memeriksa keadaan tuan mudanya itu. Namun, seketika Yifan mengurungkan niatnya dan menutup kembali pintu itu.
~ My Destiny~
Pagi menjelang, Chanyeol tampak duduk di beranda rumahnya.
“Eodiga-neunkeoya? (kau ingin kemana)” tanya Chanyeol yang melihat  Jiu bergegas keluar rumah.
“Chanyeol-ssi….” celetuk Jiu yang seketika menghentikan langkahnya dan menengok ke belakang.
“Apa kau pikir lukamu itu sudah sembuh, huh?” ucap Chanyeol.
“Ini sudah tak apa-apa, tuan muda. Anneyongigyeseo,” jawab Jiu yang kemudian memberi salam dan pergi meninggalkan Chanyeol.
“Jiu..-ssi..” celetuk Chanyeol terbata, tangannya hendak melambai namun ia mengurungkan niat itu. Jiu berjalan pasti tanpa menengok ke belakang lagi. Chanyeol terus memandanginya hingga punggung yeoja itu menghilang di tikungan jalan.
“Bagaimana jika seseorang mengajaknya bertarung?” batin Chanyeol. seketika ia pun melangkahkan kaki dan menunggangi kudanya untuk mengikuti Jiu.
---SKIP----
Pasar tampak lebih ramai dibanding hari biasanya. Yeoja itu pun terus berjalan mengikuti langkah kakinya. Ia hanya ingin menanyakan keadaan Dong Woo yang sudah dianggapnya seperti paman sendiri. Kebetulan istri Dong Woo memiliki kedai kecil di pasar itu.
BRAKKK!! Tiba-tiba seorang yeoja bersama pembantunya menabrak Jiu. Jiu pun terjatuh dan memegangi lengannya.
“Jiu-ssi…” celetuk Chanyeol yang hendak beringsut menolong Jiu. Namun langkahnya terhenti. Dipandangnya lagi yeoja yang menabrak Jiu.
“Lee Sunhee?” batin Chanyeol.
 “Joseonghamnida aggashi! Joseonghaeyo (maafkan saya),” ucap pembantu Sunhee yang hendak membantu Jiu berdiri.
“Tak perlu! Ahjumma!!” seru Sunhee pada pembantunya. Yeoja bangsawan itu hanya memandang Jiu dengan sebelah matanya.
“Gwenchana, ahjumma,” ucap Jiu yang tersenyum dan berusaha berdiri sendiri.
BLAP! BLAP! BLAP! Tiba-tiba terdengar beberapa langkah kaki yang berlari kearah Jiu yang masih mencoba untuk berdiri.
BRAKK!! Seorang anak lelaki pun terjatuh tepat di depan Jiu.
“Hiya! Gwenchana??” ucap Jiu yang meraih anak itu. terlihat olehnya jika anak lelaki itu ketakutan. Beberapa pria dewasa yang mengejarnya pun tiba di hadapan mata.
“Ahjussi, joseonghaeyo…aku berjanji akan melunasi hutang ayahku, namun tolong lepaskan aku,” ucap anak itu seraya menangis.
“Apa kau yakin akan melunasinya, huh!!” seru pria itu dan seraya mengayun tongkat kearah anak lelaki tersebut. Seketika Jiu bangkit dan menepis sabetan tongkat.
GLAKK!! Tongkat itu pun terjatuh.
 “Tak perlu kau ikut campur urusan kami, nona!!”
“Cuh! Kalian para renternir tak tahu diri! Arraseo!!” seru Jiu yang meludah pada pria dihadapannya. Para warga di pasar pun terkejut akan keberanian Jiu yang melawan renternir kejam. Sunhee dan pembantunya juga menyingkir dan memandangi Huan Jiu yang menantang renternir itu.
SRRNNKK!!! Beberapa pria yang lain mencabut pedangnya.
BLAP!! Jiu menjatuhkan pria dihadapannya dan meraih pedangnya.
PRRNKK!! Tiga pria lain dengan pedang pun merangsek maju melawan Jiu. Terjadi pertarungan pedang di sana. Chanyeol masih berdiri memandangi Jiu. Ia merasa kagum dengan kemampuan yang dimiliki oleh yeoja itu.
GLAK!! Satu diantara tiga pria itu pun berhasil dilumpuhkan oleh Jiu. Anak lelaki dan para warga pun terkejut ketika salah satu kaki tangan renternir terjatuh di tanah.
PRNNKK!! Suara pedang beradu dengan pedang pun terus terdengar. Jiu masih mencoba melawan dua petarung sekaligus.
SSRKK!! Lengan Jiu yang terluka pun tergores pedang.
“Arghh!” keluh Jiu, darah merembes pada pakaiannya. Yeoja itu memegangi lengannya yang terluka. Salah satu pria itu kembali hendak menghunguskan pedangnya pada Jiu.
“Jiu-ssi!!” seru Chanyeol yang seketika beringsut hendak menolong yeoja itu.
GLAKK!! Tiba-tiba seseorang berpakaian hitam melompat dan memberi tendangan pada punggung salah satu pria itu hingga terjatuh. Chanyeol pun menghentikan langkah kakinya.
BRRPP!! Sosok itu juga memberi pukulan pada pria yang lain hingga tersungkur merasakan sakit.
SRRNNKK!!! Sebilah pedang dikeluarkan dari rangkanya dan diarahkan pada leher renternir tadi.
“Jangan bunuh aku, jebalyo.. aku akan menganggap lunas hutang anak itu,” ucap renternir pada sosok yang hendak menyayat lehernya.
“Geureyo… jika kau masih mengejar anak itu, tamatlah riwayatmu!” ucap sosok itu.
“Nde, kau bisa memegang janjiku, tuan,” ucap renternir itu dan kemudian melarikan diri bersama anak buahnya.
“Yifan-ssi….” celetuk Jiu. Tatapan matanya memandang kedalam mata Wu Yifan.
“Jiu-ya, gwenchana….?,” ucap Yifan yang berjalan menghampiri Jiu. Namun seketika langkahnya kembali terhenti. Seseorang dengan kudanya datang menghampiri Huan Jiu.
“Jiu-ya! gwenchana? Hiya! Kau berdarah!” seru Chanyeol yang seraya datang dan meraih tubuh Jiu yang terluka. Chanyeol pun meraih bahu Jiu dan hendak membawanya pulang. Jiu menengok ke belakang dan memandangi Yifan yang masih memandanginya juga.
“Oppa!! apa yang kau lakukan padanya!!” celetuk Sunhee yang merasa kesal dan memilih pulang bersama pembantunya.
---SKIP—
Tiba dirumah, Chanyeol bergegas mengambil kain dan ramuan obat untuk Jiu.
“Untunglah tak terlalu dalam,” gumam Chanyeol sembari mengobati luka di lengan Jiu. Yeoja itu tampak melamun memandang kearah luar rumah.
“Chanyeol-ssi… gomawoyo..” ucap Jiu yang beralih memandang Chanyeol. Perlahan, Chanyeol meraih bahu Jiu dan memeluknya.
“Chanyeol-ssi….” celetuk Jiu yang bingung. Namun namja itu diam dan hanya terus memeluk. Kedua tangan Jiu pun perlahan menyentuh belakang tubuh Chanyeol.
“Jiu-ya…jangan membuatku selalu mengkhawatirkanmu,” celetuk Chanyeol.
“Tuan muda…” ucap Jiu.
“Sangsini joayo (aku menyukaimu)… Jiu-ya.” Ucap Chanyeol.
“Mwo?” tanya Jiu.
“Bukankah ini yang kau harapkan dariku selama ini?” ucap Chanyeol. Jiu pun terkejut karena ternyata Chanyeol mengetahui perasaannya selama ini. Tiba-tiba sudut matanya melihat seseorang tengah memandangnya dari luar rumah.
“Chakaman!” celetuk Jiu yang seketika melepaskan pelukan Chanyeol dan beringsut keluar rumah. Matanya mengedar pandang dan mencari sosok itu. Ia pun berlari kearah pekarangan belakang yang terdapat sebuah kolam teratai disana.
“Hhsshh! Hhhhshh!!” Jiu terengah mengejar sosok itu.
“Yifan-ssi!” seru Jiu. namja tinggi itu pun menghentikan langkahnya. Tubuhnya membelakangi Jiu yang memanggilnya.
“Cukup! Kumohon padamu untuk tidak mencampuri kehidupanku lagi. Jangan pernah menyelamatkanku lagi, jangan pernah mengamatiku lagi, jangan pernah menatapku lagi. Karena itu mungkin akan membuatku merasa bersalah padamu, Jebalyo,” ujar Jiu. Yifan pun hanya diam dan menggenggam erat lengan pedangnya. Wajahnya hanya menengok sedikit ke belakang.
“Jiu-ya!!” seru Chanyeol yang tiba-tiba datang menghampiri. Sekilas, sorotan mata Chanyeol sempat bertemu dengan tatapan mata Yifan yang terlihat sendu. Namun setelah itu, Chanyeol mengajak Jiu untuk masuk ke dalam rumah karena ia khawatir dengan luka di lengan Jiu.
“Jiu-ya… jangan seperti ini padaku. Kau wanita kedua yang aku sayangi setelah Ibuku,” gumam Yifan yang memandangi Jiu pergi bersama Chanyeol. Angin lembut menyembul dari balik tubuh Yifan dan mengeringkan sudut matanya yang sedikit basah. Permukaan air yang ditumbuhi teratai juga membentuk gelombang kecil akibat hembusan angin itu.
~ My Destiny~
-Malam ke tujuh bulan mei-
Malam begitu tenang. Cahaya bulan menerawang di antara celah awan yang berarak ke barat. Luka di lengan Huan Jiu telah lama mengering. Yeoja itu duduk di atas pagar rumah untuk menyaksikan gerhana bulan yang akan terjadi menurut cenayang yang ia temui sebulan lalu.
“Siapkan hatimu untuk malam ke tujuh bulan mei,” ucap Cenanyang pada Jiu kala itu.
“Chakaman! Apa artinya itu?” batin Jiu yang mengingat-ingat kembali perkataan cenayang padanya. Tiba-tiba sudut mata Jiu melihat sosok Chanyeol yang berjalan kearah pekarangan rumah, tempat Jiu menyaksikan gerhana bulan.
“Chanyeol-ssi…” batin Jiu yang mengembangkan senyuman dibibir. Namun tiba-tiba langkah kaki Chanyeol terhenti, seseorang menghambur seraya memeluk tubuh namja bangsawan itu.
“Oppa..!! kau tahu! apa kabar yang kudapatkan dari cina?” celetuk Sunhee pada Chanyeol.
“Mwoya?” tanya Chanyeol yang tidak menyadari jika Jiu berada di atas pagar rumah mengamatinya.
“Tiga hari lagi kedua orang tuamu pulang dari cina,” jawab Sunhee.
“Jinjjayo?!” seru Chanyeol yang melompat senang hingga tak sadar memeluk Sunhee.
“Dan sepulang mereka dari cina, kita akan menikah, Oppa!” seru Sunhee yang mengguncang tubuh Chanyeol karena gembira.
“Hiya! Apa maksudmu?” sergah Chanyeol yang seketika melepaskan pelukannya pada Sunhee.
“Oppa…. aku sudah menyiapkan semuanya. Tiga hari lagi kita akan menikah,” ucap Sunhee yang menyandarkan kepalanya pada lengan Chanyeol.
“Hiya!! Aku tak mengerti!” seru Chanyeol.
BRRAKK!! Tiba-tiba Jiu melompat dari atas pagar, namun kakinya yang seketika lemah pun tak mampu menopang tubuhnya, sehingga ia terjatuh. Ia melompat kearah luar rumah.
“Arghh..” keluh Jiu. Chanyeol dan Sunhee menyadari seseorang terjatuh dari atas pagar itu.
“Nuguya!” seru Sunhee.
“Jiu-ya… Huan Jiu…” gumam Chanyeol yang seketika menghambur keluar rumah melalui gerbang.
“Andweyo…andwe….” Gumam Jiu yang berusaha berlari sekuat mungkin. Namun di belakangnya, Chanyeol telah mengejar.
“Jiu-ya! Huan Jiu! apa kau mendengar semuanya?! Semua itu tak seperti yang kau dengar! Hiya! Huan Jiu!” seru Chanyeol yang berusaha mengejar Jiu.  Namun seketika seekor kuda melintas.
HUG!! Seseorang yang menunggang kuda meraih tubuh Huan Jiu. Ia pun di bawa pergi oleh orang itu. hembusan angin menerpa rambut panjang Jiu. Yeoja itu memandangi namja yang membawanya pergi.
“Jiu-ya! Huan jiu!” seru Chanyeol yang menghentikan larinya.
“Hhhhss! Hhhhhss! Apakah itu Yifan hyung?” batin Chanyeol yang nafasnya tampak terengah.
--SKIP--
Bulan di langit mulai tertutup benda asing. Bahkan sesekali beberapa awan masih melintas dan menghalangi sinarnya yang tak sempurna lagi. Hembusan angin kecil menerpa helaian rambut Huan Jiu yang duduk dengan menekuk lututnya.
Blup!
Blup!
Begitu suara batuan kecil yang di lemparkan ke tengah sungai yang berarus tenang. Hanya ombak kecil yang tercipta karena angin. Hanya beberapa helai daun yang jatuh terapung karena angin. Hanya beberapa kebisingan ringan yang terdengar karena serangga. Dan semua terasa begitu hening.
GRGKK!! Wu Yifan turun dari kuda cokelatnya. Sudah berjam-jam lamanya ia hanya memandangi yeoja yang terus melempar beberapa batu kecil ke arah sungai. Hingga akhirnya ia pun beringsut menghampirinya.
“Sudah berapa batu yang kau lempar ke sungai?” Tanya Yifan yang kemudian duduk di samping Jiu.
“Dia akan takut jika kegelapan melingkupinya,” ucap Jiu yang memandang bulan yang mulai gelap. Ia teringat akan phobia yang diderita Chanyeol. Chanyeol sangat takut akan gelap.
“Jiu-ya…lihatlah aku…” gumam Yifan yang memandangi Jiu dari samping.
“Yifan-ssi, kenapa kau begitu baik padaku? Waeyo?” ucap Jiu. terlihat jika setetas air keluar dari sudut mata Jiu.
“Jiu-ya…saranghae..” Batin Yifan. Kedua tangan namja itu pun merengkuh tubuh Jiu lalu memeluknya. Jiu hanya diam tanpa membalas pelukan itu.
“Apa kau ingin aku membawamu pergi, Jiu-ya?” tanya Yifan.
“Apa maksudmu?” ucap Jiu.
“Aku sudah menemukan keberadaan ibuku. Dia adalah saudagar di cina, kita bisa memulai semuanya dari awal disana,” ucap Yifan.
BRRAKK! Tiba-tiba Jiu melepaskan pelukan Yifan dan mendorong namja itu. Jiu beringsut kesal menyusuri tepian sungai.
WWSSHH!! Tiba-tiba angin berhembus kencang bahkan menggugurkan daun-daun serta mematahkan rantingnya. Seketika langit berubah gelap. Bulan sepenuhnya menghilang dari malam.
BLAPP!! Kaki Jiu tergelincir karena batuan yang licin.
“Jiu-ya!” seru Yifan yang seketika berlari menghampiri Huan Jiu.
BYURR!!! Tubuh Jiu jatuh hingga menyentuh dasar sungai. Gelembung-gelembung udara menyembul bagaikan buih melalui mulutnya. Matanya masih sedikit terbuka, walau hanya melihat gelapnya dasar sungai karena bulan masih tertutup benda asing.
“Mwoya? Apa aku akan mati seperti ini?” batin Jiu yang tubuhnya terasa ringan bagaikan kapas. Rambut panjangnya terurai. Kedua matanya hampir terpejam. Buih-buih yang keluar dari mulutnya perlahan menghilang.
BLup…blup..blup… Tiba-tiba terdengar suara buih yang lain.
HUG! Lengan seseorang meraih tubuh Jiu yang terombang-ambing di gelapnya dasar sungai. Sosok itu mengangkat tubuh Jiu untuk muncul ke permukaan.
BYURR!!! Ia berhasil muncul ke permukaan bersama tubuh Jiu.
“Huan Jiu! jawab aku!” Ucap Yifan yang menepuk-nepuk pipi yeoja itu namun tak ada jawaban. Yifan tak melihat ada gerakan pada dada Jiu, ia pun mendekatkan telinga ke dekat mulut dan hidung yeoja itu untuk merasakan apakah ada hembusan nafas atau tidak. Yifan tidak dapat menemukan nadi Jiu. Namja itu pun  melakukan kompresi (tekanan berulang-ulang) pada dada Jiu dan memberinya nafas buatan.
“Hhhggk!! Hhhhgkk!” tiba-tiba Jiu terbatuk, matanya mulai mengerjap-erjap terbuka.
“Jiu-ya…gwenchana?” tanya Yifan yang sangat mengkhawatirkan Jiu.
“Yifan-ssi… apa aku sudah mati?” celetuk Jiu.
“Anniya! Aku tak akan membiarkanmu mati, Jiu-ya..” ucap Yifan yang kemudian menggendong tubuh Jiu dan membawanya menggunakan kuda. Jiu yang lemas hanya berusaha tetap berpegangan pada tubuh Yifan.
--SKIP—
“Ahjussi! Bantu aku!” seru Yifan pada Dong Woo. Sosok yang sudah dianggap Jiu seperti paman bahkan ayah sendiri, karena yeoja itu adalah yatim piatu sejak usia sepuluh tahun.
“Hiya! Huan Jiu! apa yang terjadi denganmu?” tanya Dong Woo yang membukakan pintu.
“Apa yang terjadi, bukankah Jiu seharusnya tinggal di rumah tuan muda?” tanya Ahjumma.
“Biarkan dia tinggal disini untuk sementara, ahjumma,” ucap Yifan sembari membaringkan tubuh Jiu.
“Geureyo,” ucap ahjumma yang kemudian mengambil pakaian kering untuk mengganti pakaian Jiu yang basah. Yifan pun beringsut meninggalkan Jiu yang bersama ahjumma dalam kamar.
GRPP! Seketika tangan Jiu meraih tangan Yifan.
“Gomawoyo, Yifan-ssi,” celetuk Jiu. Yifan hanya diam dan mengangguk, lalu pergi.
~ My Destiny~

Semua masyarakat joseon mendengar kabar jika putri tunggal menteri Lee akan segera menikah dengan putra diplomat Joseon yang bernama Park Chanyeol. Pernikahan itu akan diselenggarakan dihari kepulangan kedua orang tua Park Chanyeol dari Cina, dan akan dirayakan dengan pelepasan ratusan lampion ke angkasa. Sekejap, suasana kota terasa begitu ramai walau yang akan menikah bukanlah putri raja.
-dua hari kemudian-
Semua persiapan untuk pernikahan telah selesai dilakukan. Seperti rencana, upacara itu akan diselenggarakan di bantaran sungai Han. Semua lapisan masyarakat diperbolehkan menyaksikannya. Lee Sunhee, sang mempelai wanita telah berada di tempat upacara. Ia tengah menunggu kedatangan Park Chanyeol, sang mempelai pria.
“Berapa lama lagi Park Chanyeol akan tiba, tuan?” Tanya ayah Sunhee pada tuan Park, ayah Chanyeol.
“Maafkan putraku tuan, seharusnya ia sudah berada di tempat upacara ini.” Ucap Ibu Chanyeol yang juga telah berada di lokasi upacara.
Tiba-tiba seorang kaki tangan tuan Park menghambur masuk untuk memberi kabar. Semua pandangan mata pun tertuju pada kaki tangan itu.
“Joseonghamnida (maafkan saya), tuan muda menunggang kuda kearah dermaga!” ucap kaki tangan itu. seketika para tamu terkejut tak terkecuali Sunhee yang langsung beringsut menuju dermaga.
--SKIP—
-di dermaga-
“Hhhhssh! Hhhhssh!” Nafas Jiu terengah, ia berlari menuju dermaga dari rumah paman Dong Woo. Ia mendengar kabar jika Wu Yifan akan berangkat ke Cina hari itu.
“Yifan-ssi! eodiga!” seru Jiu yang mengedar pandang mencari sosok Yifan. Beberapa orang yang lalu lalang di hadapan Jiu membuat kepalanya terasa pusing. Jiu akan merasa pusing jika ia berada dalam keramaian.
“Hhhgkk! Hhhhhgk! Yifan-ssi…eodiga…?” ucap lirih Jiu yang mulai menangis dan menundukkan kepala.
“Andweyo…kau tidak boleh pergi seperti ini,” ucap Jiu.
“Jiu-ya…gwenchana?” celetuk sebuah suara yang kemudian mengangkat wajah Huan Jiu. yeoja itu pun memandang sosok tinggi di hadapannya.
“Yifan-ssi!” ucap Jiu yang seketika memeluk tubuh namja itu.
“Jebal… bawa juga aku pergi bersamamu,” ucap Jiu pada Yifan.
“Mwo?” tanya Yifan.
“Aku telah menyadarinya sekarang, kau adalah takdirku.. Oppa..” jawab Jiu.
“Jiu-ya…mianhae, hal yang paling egois yang bisa aku lakukan padamu adalah….” Ucap Yifan yang dengan perlahan merengkuh tengkuk Jiu lalu menciumnya.
Dari jauh, Chanyeol menghentikan laju kudanya yang menuju dermaga. Ia telah menemukan yeoja yang dikejarnya sampai dermaga.
“Jiu-ya..Mianhae..” celetuk Chanyeol. Matanya memandangi Jiu yang mulai menaiki kapal bersama Yifan.
“Aku berharap kita bisa bertemu lagi, Huan Jiu.” ucap Chanyeol yang memutar balik kudanya.
----------------------------THE END-----------------------------------------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar