Tittle: Saranghae
Main cast: Park Chanyeol | Han Sun Hi | Kris Wu
Genre: Romance & Wedding
Type: ONE SHOOT
DON’T BE PLAGIATORS
Kajja!! Jangan jadi siders, beri komentar anda sebagai
penghargaan untuk saya.
~SARANGHAE~
Senja menghambur masuk menggeser sang
surya. Padang ilalang menyembul diterpa angin dan menampakkan liukan-liukan
indah yang gemulai. Aku berdiri sambil memejamkan mata. Merasakan terpaan udara
yang bergerak kearahku. Beberapa helai rambutku terkibas ke belakang akibat
angin itu. Begitu juga dengan gaun selututku. Beberapa bayangan akan dirinya
juga melintas dalam pikiranku. Tiba-tiba tanganku bergerak untuk mendekap
tubuhku sendiri. Kurasakan kehangatan itu menyembul dari belakang tubuhku.
Sentuhan itu merasuk dan menjalar ke sekujur tubuhku yang tadi merasa dingin.
Perasaan ini sungguh menenangkan jiwaku. Aku masih diam untuk menikmatinya.
Enggan sebuah celotehan kecil pun merusak semua rasa ini.
“Han Sun Hi-ya…..” celetuk seseorang
yang sedari tadi mendekapku dari belakang. Seketika itu mataku terbuka karena
seseorang menyebut namaku. Aku pun berbalik.
“Oppa…” ucapku yang menatap dua mata
indah namja yang berdiri tepat di hadapanku itu. Kedua matanya tampak bersinar,
rambutnya tertata rapi, tubuhnya di balut sweater yang tampak begitu hangat
jika dikenakan. Dua sudut bibirnya tersenyum kala memandangiku.
“Hiduplah dengan benar, Sun Hi-ya!”
ucapnya.
“Chanyeol Oppa!” celetukku sedikit
kesal karena tangannya mengacak rambutku. Namun setelah itu ia menata kembali
rambut panjangku yang di acak olehnya. Aku pun tersenyum.
HUG! Aku pun merentangkan tangan dan
datang untuk memeluknya erat. Tangan kiriku ku angkat dan kuterawang. Sebuah
benda melingkar di salah satu jari tangan itu. Aku kembali tersenyum kala
memandanginya sambil memeluk namja yang aku cintai dengan erat. Aku mulai merasa,
apa ini mimpi?
------------------------------------------------
Tidak, ini bukan mimpi. Aku mengingat
semuanya, ia datang menjemputku, mengajakku ke suatu tempat.
“Aku akan menjemputmu pukul tiga sore
ini.” Ucapnya dalam telepon.
“Mwo? Ini sudah pukul 2.55! yang
benar saja!” ucapku yang terperanjat ketika melihat jam dinding kamar yang
menunjukkan pukul tiga kurang lima menit itu.
“Tak perlu dandan! Cuci muka saja
sudah cukup.” Ucapnya lagi dalam telepon.
“Aish! Jinjja!” gumamku dalam telepon
hingga aku pun memutuskan panggilan telepon darinya.
Seketika itu aku berjingkat. Ku buka
almari bajuku, ku pilah pilah pakaian yang sedikit pantas untuk di kenakan. Aku
pun berlarian menuju kamar mandi untuk sekadar mencuci mukaku seperti katanya.
GREMM!! Tiba-tiba sudah terdengar
suara mobil berhenti di depan rumahku. Aku berjingkat menuju balkon kamar.
“Aishh!!” gumamku yang melihat namja
itu sudah melambai kearahku dan memintaku untuk segera turun. Aku pun berhamburan
sambil mengikat rambut panjangku.
GRPP!! Pintu ku buka, bersamaan
dengan itu, ia juga membukakan pintu mobil untukku.
“Kajja!” ucapnya sambil tersenyum.
Aku pun menurutinya. Aku berlari menuju mobil.
SRRT!! Tiba-tiba ia melepaskan tali
rambut yang aku kenakan.
“Ah! mwoya??” ucapku yang terkejut.
“Lebih baik tak usah di ikat.”
Ucapnya sambil tersenyum dan menata rambutku. Aku hanya menurut saja padanya
dan masuk ke mobil.
Mobil di kemudikan olehnya. Kami
telah melalui beberapa jalan menuju suatu tempat yang tak aku ketahui. Selama
perjalanan, aku hanya memandangi wajahnya. Alisnya tergores indah di atas
kelopak matanya, bulu mata itu juga tampak indah berpadu dengan bola mata yang
terlihat sedikit besar/belo, hidung mancungnya menghadap ke bawah dan berpadu
dengan bentuk bibir yang sedikit tebal di bagian bawah. Aku pun mulai merasa
jika cintaku mungkin lebih besar dari cintanya.
“Ah! waeyo?” tanyanya yang mencuri
pandang kearahku ketika seharusnya pandangannya terfokus ke depan jalan.
“Anniyo..” jawabku singkat.
“Saranghaeyo.” Ucapku lagi yang
membuatnya tersenyum dan sebelah tangannya meraih tanganku lalu menciumnya.
GREMM!! Mobil berhenti di depan
sebuah toko.
“Untuk apa kita ke tempat ini?”
tanyaku.
“Kajja!” ucapnya yang kemudian keluar
dari mobil untuk membukakan pintu untukku.
“Letnan! anneyonghaseo!” ucap salah
satu pegawai toko yang terlihat seumuran dengan ibuku.
“Apa nona ini yang akan
mengenakannya, Letnan?” Tanya pegawai itu lagi. Nampaknya pegawai itu sudah
cukup mengenal Chanyeol yang berprofesi seorang polisi. Aku mulai curiga, atau
jangan-jangan pegawai itu juga tahu jika Chanyeol membawa pistolnya kemanapun
ia pergi. Karena senjata itu adalah nyawa bagi seorang polisi, jadi tak
sedetikpun ia melalaikannya sekalipun pergi bersamaku.
“Nde…kuharap cocok untuknya, ahjuma!”
ucap Chanyeol yang mendorong tubuhku kearah ahjuma.
“Ah.. mwoya?” celetukku yang melihat
kearah Chanyeol. Namun namja itu hanya mengangguk padaku dan tersenyum.
Aku di bawa ahjuma ke sebuah ruangan.
Di sana terpajang sebuah gaun putih panjang yang terlihat sangat sangat cantik.
“Yeputa………!” gumamku yang seraya
menyentuh gaun itu.
“Mari kita coba nona?” ucap ahjuma
pegawai toko.
“Mwo? Aku boleh mencobanya?” tanyaku.
“Gaun ini khusus di jahit untuk anda,
nona.” Jawab ahjuma itu.
“Dari mana kalian tahu ukuran
tubuhku?” tanyaku lagi sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada. Akan
tetapi, ahjuma itu hanya tersenyum saja.
-beberapa menit kemudian-
Aku berjalan sedikit kaku menuju
ruang depan. Di sana, Chanyeol telah menunggu.
“Letnan! bagaimana?” Tanya ahjuma sambil
memegangi belakang tubuhku. Aku pun hanya tersenyum malu dan memperlihatkan
sedikit gigiku. Namun Chanyeol tak berekspresi sedikitpun. Matanya memandangiku
dari atas hingga bawah, tak berkedip sedikitpun. Setelah itu, ahjuma
meninggalkan kami berdua.
“Ahjuma! Eodiga?” ucapku yang melihat
kearah ahjuma yang beringsut sambil tersenyum.
“Sun Hi-ya?” celetuk Chanyeol yang
ternyata sudah berdiri tepat di hadapanku. Aku pun terperanjat hingga kakiku
sedikit mundur namun tangan kanan namja itu meraih pinggulku. Aku pun semakin
terkejut dan menatap kedua matanya.
“Menikahlah denganku.” Ucapnya lirih
tepat di depan mataku dan menjalar ke telinga.
“Oppa..?” gumamku.
HUG! Tiba-tiba ia memelukku, perlahan
aku pun membalas pelukan itu. kurasakan ada sesuatu yang aneh melingkar di jari
manisku. Aku pun menerawangnya dari balik tubuh Chanyeol.
“Kapan ia memasangkan cincin cantik
ini di jariku?” Batinku yang melihat sebuah cincin berkilau-kilau terpantul
cahaya matahari senja yang menyeruak ke dalam ruangan.
---SKIP—
Setelah dari toko gaun penganti itu.
Ia mengajakku ke sebuah padang ilalang yang sangat kusukai. Entah sejak kapan,
aku mulai terobsesi dengan padang ilalang. Namun sayang, hari itu malam mulai
tiba. Hanya beberapa petak ilalang yang dapat terlihat oleh sinar lampu mobil.
Bintang-bintang tampak bertaburan seperti kismis yang di tabur di atas roti.
Indah sekali.
FFFSHH!! Angin berhembus perlahan
kearahku. Aku pun mendekap tubuhku sendiri yang hanya mengenakan dress pendek
selutut seperti kebiasaanku setiap hari.
BRP!! Sebuah jaket tiba-tiba tersemat
pada tubuhku.
“Apa kau ingin buat aku terpesona
padamu seperti di film-film?” celetukku pada Chanyeol yang kemudian memelukku
dari samping. Kami menyandarkan tubuh kami pada mobil.
“Anniyo. Jika memang begitu,
sepertinya kau sudah berkali-kali terpesona olehku.” Jawabnya yang membuatku
sedikit jengkel. Namun ucapannya ada benarnya juga. Jika ingin di hitung,
mungkin telah ratusan kali aku terpesona olehnya.
“Seminggu setelah pernikahan, aku
akan mengadakan pesta di rumah baru kita.” Ucapnya yang seketika membuatku
melihat kearahnya. Banyak rancangan rencana yang telah ia buat jauh-jauh hari.
Mulai rumah tempat tinggal bersama hingga investasi untuk pendidikan anak kelak.
“Aku ingin anak pertama kita
laki-laki dan anak kedua perempuan.” Ucapnya lagi sambil memandangi dua bintang
di langit yang saling berdampingan.
“Waeyo?” tanyaku.
“Aku ingin dia menjaga adik
perempuannya kelak.” Jawabnya yang seraya menengok kearahku dan mencium
kepalaku. Tanganku pun bergerak kearah belakang tubuhnya untuk merangkul
pinggulnya. Ku sandarkan kepala ini di bahu namja yang sangat aku cintai.
--SKIP—
Upacara pernikahan yang membuatku
berdegub ketika berjalan di atas altar pun telah kulalui. Banyak kerabat yang
memberi ucapan selamat padaku dan suamiku.
“Chukae..” ucap Kris yang tak lain
senior suamiku di departemennya.
“Ah, gomawo seonbae! Mianhae, aku
mendahuluimu.” Ucap suamiku yang menyambut jabatan tangan Kris, aku pun juga
menyambut jabat tangan namja yang pernah menjadi kekasihku. Kami adalah senior
dan junior saat di SMA.
“Khamsahamnida, Kris seonbae.”
Ucapku, ia pun memandangi kedua mataku beberapa detik. Terjadi situasi canggung
ketika itu, hingga Chanyeol pun mencairkan suasana kembali. Suamiku sudah mengetahui
semua cerita tentangku dengan seniornya di kepolisian itu. Tak ada alasan
baginya untuk marah dan tak menjalin kerjasama dengan Kris. Karena baginya, masa
lalu hanyalah masa lalu.
“Seonbae! Datanglah ke rumahku minggu
depan. Kami akan mengadakan pesta perayaan di sana.” Ucap Chanyeol.
“Geure. Aku akan sempatkan datang.”
Ucap Kris yang melihat kearahku dengan tatapan tajamnya.
Setelah hari pernikahan, kami
langsung menempati rumah yang telah di persiapkan oleh Chanyeol untuk keluarga
kecil kami.
GRPP!! Pintu rumah di buka oleh
Chanyeol. aku langsung menghambur masuk dan mengedar pandang. Semua tampak
tertata rapi. Rumah itu terdiri dari dua lantai. Aku pun melangkahkan kaki ke
lantai dua. Kulihat sebuah pintu yang kurasa merupakan pintu kamar kami berdua.
GRRP!! Ku buka pintu itu, kurasakan
aroma wangi menyeruak ke hidung. Aku yang telah mengganti gaun pengantinku
dengan sweater hangat pun merebahkan tubuh ke atas ranjang besar dalam kamar
itu. ku tatap beberapa foto yang terpasang di bagian dinding. Foto-foto itu
adalah foto-foto kami ketika sebelum menikah. Aku pun tersenyum.
“Chagi-ah? apa kau suka kamar ini?”
Ucap suamiku. Ia memandangiku yang terlihat nyaman merasakan lembutnya ranjang
besar itu.
“Oppa?” celetukku yang terkejut dan
kemudian terduduk di atas ranjang. Aku pun berdiri menghampirinya yang
bersandar pada pintu kamar kami.
“Tentu aku suka.” Jawabku.
“Jinjja?” Ucapnya yang kemudian membelai
rambutku. Aku pun hanya tersenyum padanya. Seketika ia menyentuh wajahku lalu
memberikan ciuman tulusnya padaku.
“Saranghaeyo, neomu saranghaeyo.”
Ucapnya padaku.
“Nado….Oppa.” celetukku lirih, aku pun
mulai terbuai olehnya.
Keesokan paginya, ponsel suamiku
berdering. Aku memeriksa ponsel itu. Ternyata itu panggilan dari atasannya. Aku
tak tega membangunkan suamiku yang masih terlelap.
“Segera datang ke TKP.” Ucap suara
dalam telepon yang kuangkat.
“Nde, Aku akan segera membangunkan
suamiku.” Jawabku.
“Waeyo?” Tanya suamiku yang ternyata telah terbangun.
“Anniyo.” Ucapku.
“Ah!” ucap suamiku yang melonjak dari
ranjang dan bergegas bersih diri. Aku pun menyiapkan kemeja untuknya. Setelah
itu ia bergegas berangkat menuju kantornya.
Hari itu aku masih cuti bekerja.
Departemenku di sebuah media masa memberiku cuti beberapa hari. Untuk pertama
kalinya aku menjalani hari sebagai istri. Ku lakukan beberapa pekerjaan rumah
sendiri karena pembantu rumah kami belum kunjung tiba dari daerah asalnya.
Butuh waktu yang cukup lama untuknya tiba di kota seoul.
“Jogeyo!” seru sebuah suara di luar
rumah. aku pun memeriksanya.
GRRP! Aku membuka pintu itu. kulihat
seorang pria membawa sebuah karangan bunga. Ia memintaku untuk menandatangani
bukti terima. Ku lihat bunga itu dan kucari-cari nama pengirimnya, namun sama
sekali tak kutemui. Bahkan pengantar bunga juga tak mengatakan siapa yang
memberikan bunga untukku.
“Chanyeol oppa?” gumamku, aku pun memajang
bunga itu di sudut rumah.
Drrrttt ddrrrrtt!! Ponselku
berdering. Aku pun beringsut mengambil ponsel itu.
“Ah! Oppa!” ucapku yang mengangkat
panggilan telepon dari suamiku.
“Chagi-ah, aku pulang larut malam
ini, mianhae..” ucapnya.
“Geure, gwenchana Oppa!” jawabku. Aku
pun meletakkan ponsel itu dan beringsut menuju dapur.
Drrtt drrrtt! Ponselku berbunyi lagi.
“Seonbae?” gumamku sebelum mengangkat
telepon itu.
Tlulit! Aku pun menerima panggilan
itu.
“Yeobseo?” ucapku.
“Sun Hi-ya? Apa bunganya sudah kau
terima?” Tanyanya.
“Nde? Bunga?” celetukku yang sedikit
bingung.
“Ah, kurasa sudah kau terima. Geure,
aku harus bekerja.” Ucap Kris dalam telepon. Namja itu pun mengakhiri panggilan
teleponya.
--SKIP---
Malam menjelang. Aku tetap menyiapkan
makan malam di atas meja makan. Beberapa lilin kunyalakan. Cahayanya berpendar
ke beberapa sudut ruangan itu. Aku duduk di salah satu kursi pada meja makan. Aku
mengedar pandang ke setiap sudut rumah. Terasa ada sesuatu yang kurang
menurutku pada dekorasi rumah itu. Tak ada foto pernikahanku dengan suamiku,
Park Chanyeol. Hanya beberapa foto prawedding yang terpajang di salah satu
bagian dinding tersebut. Aku pun menjulurkan tanganku di atas meja, kuletakkan
kepalaku di atasnya. Perlahan, aku terpejam diantara lilin-lilin yang mulai
meleleh.
Tiba-tiba, kurasakan sebuah tangan
membelai kepalaku. Aku masih tetap terpejam, enggan untuk membuka mata ini.
CHU!! Kali ini sesuatu yang lembut
menyentuh bibirku. Aku pun seketika terbangun, membuka mata. Ku lihat punggung
seorang namja yang bergerak kearah foto praweddingku. Ia menurunkan foto itu,
tangannya mengambil sebuah bingkai besar di sisinya lalu memasangnya.
“Apa itu foto pernikahanku?” batinku
yang masih setengah tersadar.
“Ah, suamiku sudah pulang.” pikirku
yang kemudian beranjak dan memeluknya dari belakang. Ia pun berbalik setelah ku
peluk beberapa waktu.
“Sun Hi-ya, saranghae…” ucapnya lirih
sambil mendekapku. Di belainya rambut panjang ini. Aku pun terpejam dan
merasakan aroma tubuh suamiku.
“Nado…” ucapku dalam pelukan tubuh
tingginya. Aku mendongakkan wajahku untuk memandangi wajah suamiku. Seketika
dahiku mengernyit.
“Kris Oppa?” celetukku yang mendapati
namja yang memelukku adalah Kris.
“Andwe!” seruku yang seketika
terperanjat dan melepaskan diri dari pelukannya.
“Sun Hi-ya…?” celetuk Kris.
“Apa maksudmu, Oppa? aku sudah
bersuami.” Ucapku. Telunjuk tanganku pun menunjuk foto pernikahan yang
terpajang di dinding pada belakang tubuh Kris. Namja itu pun menengok ke
belakang.
“Mw-mwo?” ucapku terbata. Kuamati
foto pernikahan itu. Mempelai pria dalam foto bukan Park Chanyeol, tapi Kris,
namja yang berdiri di hadapanku saat ini.
“Kau memang sudah bersuami, Sun
Hi-ya! Dan suamimu adalah aku.” Ucap Kris yang mendekat ke arahku, namun aku
semakin melangkahkan kakiku mundur. Enggan di sentuh oleh Kris.
“Bisakah kau berhenti membayangkan jika aku
adalah Park Chanyeol? biarkan dia tenang di sana.” Ucap Kris.
“Andwe!! Andweyo!!” seruku. Aku
memegang kepalaku dengan kedua tangan. Tiba-tiba air mata meluluh begitu saja.
“Sun Hi-ya!” seru Kris yang meraih
tubuhku dan memeluknya, namun tubuhku berontak.
“Andwe….!!!” Seruku dengan suara yang
mulai serak. Pikiranku mulai melayang-layang. Mengingat kejadian demi kejadian
yang aku alami. Aku ingat sekarang!
Hari ketika Chanyeol meneleponku
mendadak dan memintaku untuk tak berdandan adalah hari terakhirnya. Ia
mengatakan akan tiba di rumah dalam lima menit, ketika itu aku bergegas mencuci
muka dan berganti pakaian seperti permintaannya. Namun di hari itu, aku bahkan
telah menunggunya hingga malam menjelang. Aku duduk di luar rumah menunggu
kedatangannya, akan tetapi ia tak kunjung datang.
GREMM!!! Sebuah mobil masuk ke
pelataran rumahku. Seseorang dalam mobil itu seketika menghambur kearahku. Ia
menarik tanganku dan memasukkanku ke dalam mobil.
“Seonbae! Ada apa, huh? Aku ada janji
dengan Chanyeol Oppa!!” seruku. Namun namja bernama Kris itu tidak
menghiraukanku. Ia langsung memasang sabuk pengaman untukku dan untuk dirinya.
Mobil melaju kencang. Selama perjalanan aku terus bertanya. Apa yang sebenarnya
terjadi.
“Turunlah!” ucap Kris yang membukakan
pintu untukku. Setelah itu aku langsung di tariknya menuju sebuah gedung tinggi
yang bagian dalamnya serba berwarna putih.
“Ada apa sebenarnya?” ucapku sambil
berlari karena tanganku di tarik oleh Kris.
“HHsshh hhshhh!!” nafasku terengah.
Langkah kaki Kris juga seketika berhenti di depan sebuah ruangan. Mataku pun
melihat kedalam ruangan berkaca itu. Perlahan, mataku mulai menangkap sosok
yang terbaring dan beberapa tim medis tengah melakukan pertolongan untuknya. Perlahan
tanganku melepaskan cengkraman tangan Kris yang tadi menarik tanganku dan
mengajakku berlari. Tubuhku beringsut ke muka pintu kaca. Ku raba pintu kaca
itu, setitik air pun meluluh dari kedua mataku.
“Dokter! Saluran nafasnya tersumbat!”
seru salah seorang dokter muda dalam ruangan itu.
“Hiya! Segera cari sumber
penyumbatan! Jika ini terjadi lebih dari empat menit maka otak akan berhenti
bekerja!” seru dokter lain. Seorang perawat terlihat terus mengecek
elektrokardiogram yang menunjukkan guratan detak jantung kekasihku, Park
Chanyeol.
“Dokter! Jantungnya melemah!” seru
perawat. Kedua kakiku pun melemah, aku hampir terhuyung jatuh.
“Aku tak bisa melihat sumber
sumbatan! Darah yang keluar menutupi objek! Ambil penyedot!” seru dokter.
“Dokter! Jantungnya semakin melemah!”
seru perawat. Ketika itu sudah lebih dari empat menit. Sedangkan gagal nafas
yang terjadi selama sepuluh menit, maka jantung akan benar-benar berhenti.
Seketika itu bunyi beep panjang
terdengar. Segaris hijau terus tampak pada elektrokardiogram. seketika itu pula
kakiku tak dapat lagi menopang tubuhku. Kris menghambur untuk memapahku. Dokter
dan timnya menunduk kecewa karena mereka terlambat untuk menyelamatkan namja
bernama Park Chanyeol yang mendapat beberapa luka tembak pada tubuhnya. Ia
mendapat serangan dari komplotan bersenjata ketika hendak datang untuk
menjemputku. Komplotan itu adalah agen penjualan senjata illegal yang tengah di
selidiki oleh kekasihku, Park Chanyeol.
“Andwe..!! kau berjanji akan
menikahiku, Oppa!” ucapku lirih. Kakiku benar-benar lemas. Aku terduduk di
depan ruang UGD. Tangisku pun seketika pecah. Tanganku masih meraba-raba pintu
itu.
“Andweyo Oppa! andweyo..!” ucapku.
Kris pun memelukku, mencoba menenangkan. Namun aku beringsut masuk ke dalam
ruangan. Kondisi wajahku sudah kacau, air mata telah berleleran melalui pipi.
“Hiya! Kenapa kalian melepasnya!”
Ucapku. Namun para perawat hanya diam saat menatap mataku.
“Sun Hi-ya?” ucap Kris.
“Andwe! Kalian tak boleh melepasnya!
Bagaimana kekasihku akan bertahan jika kalian melepaskan alat alat itu. biarkan
tetap terpasang!” seruku yang menghalangi perawat melepas alat medis dari tubuh
Chanyeol.
“Sun Hi-ya…” ucap Kris yang hendak
meraih lenganku, tapi aku menepisnya.
“Andweyo..” celetukku. Aku menghambur
kearah tubuh Chanyeol yang terbaring. Ku belai wajahnya yang semakin memucat.
Alisnya, matanya, hidungnya, bibir hingga dagu.
“Saranghae, neomu saranghaeyo, Oppa!”
ucapku di dekat telinganya. Seketika itu pandangan mataku gelap, aku merasa
kacau. Hingga aku pun tak sadarkan diri.
-----------------------------------------------------------------------
Semilir angin tiba-tiba menerpa
wajahku. Aroma tanah basah tiba-tiba menyembul di hidungku. Gerimis yang tipis
turun di atas padang ilalang senja itu. Beberapa titik airnya mengenai
wajahku. Aku masih terpejam. Tanganku
bergerak untuk mendekap tubuhku sendiri yang merasa dingin. Seketika kurasakan
kehangatan menyembul dari belakang tubuhku. Sentuhan itu merasuk dan menjalar
ke sekujur tubuhku yang tadi merasa dingin. Aku pun berbalik. Ku lihat sosok
namja tinggi tersenyum padaku. Ia membelai wajahku. Aku pun melihatnya
tersenyum, tampilannya terasa hangat dengan sweater yang membalut tubuhnya. Aku
tersadar, dia adalah suamiku. Aku dengan bodohnya selama ini membayangkan jika
ia adalah Park Chanyeol, kekasihku yang telah tiada.
“Kris Oppa....” celetukku.
“Aku yakin dia pasti bahagia di alam
sana.” Ucapnya lirih yang kemudian membalikkan tubuhku lagi dan memelukku dari
belakang. Tangannya melingkar kedepan tubuhku dan menyentuh kedua tanganku yang
tengah berpangku. Pandangan mata kami tertuju pada langit senja dengan beberapa
goresan mega emas di atas sana.
“Oppa, mianhae, saranghae…” ucapku.
Aku telah tersadar jika Kris adalah masa depanku.
“Nado….saranghaeyo.” ucapnya tepat di
telingaku.
-------------------THE
END---------------------------------------

Tidak ada komentar:
Posting Komentar