Kamis, 22 Januari 2015

SARANGHAE

Tittle: Saranghae
Main cast: Park Chanyeol | Han Sun Hi | Kris Wu
Genre: Romance & Wedding
Type: ONE SHOOT
DON’T BE PLAGIATORS
Kajja!! Jangan jadi siders, beri komentar anda sebagai penghargaan untuk saya.


~SARANGHAE~
Senja menghambur masuk menggeser sang surya. Padang ilalang menyembul diterpa angin dan menampakkan liukan-liukan indah yang gemulai. Aku berdiri sambil memejamkan mata. Merasakan terpaan udara yang bergerak kearahku. Beberapa helai rambutku terkibas ke belakang akibat angin itu. Begitu juga dengan gaun selututku. Beberapa bayangan akan dirinya juga melintas dalam pikiranku. Tiba-tiba tanganku bergerak untuk mendekap tubuhku sendiri. Kurasakan kehangatan itu menyembul dari belakang tubuhku. Sentuhan itu merasuk dan menjalar ke sekujur tubuhku yang tadi merasa dingin. Perasaan ini sungguh menenangkan jiwaku. Aku masih diam untuk menikmatinya. Enggan sebuah celotehan kecil pun merusak semua rasa ini.
“Han Sun Hi-ya…..” celetuk seseorang yang sedari tadi mendekapku dari belakang. Seketika itu mataku terbuka karena seseorang menyebut namaku. Aku pun berbalik.
“Oppa…” ucapku yang menatap dua mata indah namja yang berdiri tepat di hadapanku itu. Kedua matanya tampak bersinar, rambutnya tertata rapi, tubuhnya di balut sweater yang tampak begitu hangat jika dikenakan. Dua sudut bibirnya tersenyum kala memandangiku.
“Hiduplah dengan benar, Sun Hi-ya!” ucapnya.
“Chanyeol Oppa!” celetukku sedikit kesal karena tangannya mengacak rambutku. Namun setelah itu ia menata kembali rambut panjangku yang di acak olehnya. Aku pun tersenyum.
HUG! Aku pun merentangkan tangan dan datang untuk memeluknya erat. Tangan kiriku ku angkat dan kuterawang. Sebuah benda melingkar di salah satu jari tangan itu. Aku kembali tersenyum kala memandanginya sambil memeluk namja yang aku cintai dengan erat. Aku mulai merasa, apa ini mimpi?
------------------------------------------------
Tidak, ini bukan mimpi. Aku mengingat semuanya, ia datang menjemputku, mengajakku ke suatu tempat.
“Aku akan menjemputmu pukul tiga sore ini.” Ucapnya dalam telepon.
“Mwo? Ini sudah pukul 2.55! yang benar saja!” ucapku yang terperanjat ketika melihat jam dinding kamar yang menunjukkan pukul tiga kurang lima menit itu.
“Tak perlu dandan! Cuci muka saja sudah cukup.” Ucapnya lagi dalam telepon.
“Aish! Jinjja!” gumamku dalam telepon hingga aku pun memutuskan panggilan telepon darinya.
Seketika itu aku berjingkat. Ku buka almari bajuku, ku pilah pilah pakaian yang sedikit pantas untuk di kenakan. Aku pun berlarian menuju kamar mandi untuk sekadar mencuci mukaku seperti katanya.
GREMM!! Tiba-tiba sudah terdengar suara mobil berhenti di depan rumahku. Aku berjingkat menuju balkon kamar.
“Aishh!!” gumamku yang melihat namja itu sudah melambai kearahku dan memintaku untuk segera turun. Aku pun berhamburan sambil mengikat rambut panjangku.
GRPP!! Pintu ku buka, bersamaan dengan itu, ia juga membukakan pintu mobil untukku.
“Kajja!” ucapnya sambil tersenyum. Aku pun menurutinya. Aku berlari menuju mobil.
SRRT!! Tiba-tiba ia melepaskan tali rambut yang aku kenakan.
“Ah! mwoya??” ucapku yang terkejut.
“Lebih baik tak usah di ikat.” Ucapnya sambil tersenyum dan menata rambutku. Aku hanya menurut saja padanya dan masuk ke mobil.
Mobil di kemudikan olehnya. Kami telah melalui beberapa jalan menuju suatu tempat yang tak aku ketahui. Selama perjalanan, aku hanya memandangi wajahnya. Alisnya tergores indah di atas kelopak matanya, bulu mata itu juga tampak indah berpadu dengan bola mata yang terlihat sedikit besar/belo, hidung mancungnya menghadap ke bawah dan berpadu dengan bentuk bibir yang sedikit tebal di bagian bawah. Aku pun mulai merasa jika cintaku mungkin lebih besar dari cintanya.
“Ah! waeyo?” tanyanya yang mencuri pandang kearahku ketika seharusnya pandangannya terfokus ke depan jalan.
“Anniyo..” jawabku singkat.
“Saranghaeyo.” Ucapku lagi yang membuatnya tersenyum dan sebelah tangannya meraih tanganku lalu menciumnya.
GREMM!! Mobil berhenti di depan sebuah toko.
“Untuk apa kita ke tempat ini?” tanyaku.
“Kajja!” ucapnya yang kemudian keluar dari mobil untuk membukakan pintu untukku.
“Letnan! anneyonghaseo!” ucap salah satu pegawai toko yang terlihat seumuran dengan ibuku.
“Apa nona ini yang akan mengenakannya, Letnan?” Tanya pegawai itu lagi. Nampaknya pegawai itu sudah cukup mengenal Chanyeol yang berprofesi seorang polisi. Aku mulai curiga, atau jangan-jangan pegawai itu juga tahu jika Chanyeol membawa pistolnya kemanapun ia pergi. Karena senjata itu adalah nyawa bagi seorang polisi, jadi tak sedetikpun ia melalaikannya sekalipun pergi bersamaku.
“Nde…kuharap cocok untuknya, ahjuma!” ucap Chanyeol yang mendorong tubuhku kearah ahjuma.
“Ah.. mwoya?” celetukku yang melihat kearah Chanyeol. Namun namja itu hanya mengangguk padaku dan tersenyum.
Aku di bawa ahjuma ke sebuah ruangan. Di sana terpajang sebuah gaun putih panjang yang terlihat sangat sangat cantik.
“Yeputa………!” gumamku yang seraya menyentuh gaun itu.
“Mari kita coba nona?” ucap ahjuma pegawai toko.
“Mwo? Aku boleh mencobanya?” tanyaku.
“Gaun ini khusus di jahit untuk anda, nona.” Jawab ahjuma itu.
“Dari mana kalian tahu ukuran tubuhku?” tanyaku lagi sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada. Akan tetapi, ahjuma itu hanya tersenyum saja.
-beberapa menit kemudian-
Aku berjalan sedikit kaku menuju ruang depan. Di sana, Chanyeol telah menunggu.
“Letnan! bagaimana?” Tanya ahjuma sambil memegangi belakang tubuhku. Aku pun hanya tersenyum malu dan memperlihatkan sedikit gigiku. Namun Chanyeol tak berekspresi sedikitpun. Matanya memandangiku dari atas hingga bawah, tak berkedip sedikitpun. Setelah itu, ahjuma meninggalkan kami berdua.
“Ahjuma! Eodiga?” ucapku yang melihat kearah ahjuma yang beringsut sambil tersenyum.
“Sun Hi-ya?” celetuk Chanyeol yang ternyata sudah berdiri tepat di hadapanku. Aku pun terperanjat hingga kakiku sedikit mundur namun tangan kanan namja itu meraih pinggulku. Aku pun semakin terkejut dan menatap kedua matanya.
“Menikahlah denganku.” Ucapnya lirih tepat di depan mataku dan menjalar ke telinga.
“Oppa..?” gumamku.
HUG! Tiba-tiba ia memelukku, perlahan aku pun membalas pelukan itu. kurasakan ada sesuatu yang aneh melingkar di jari manisku. Aku pun menerawangnya dari balik tubuh Chanyeol.
“Kapan ia memasangkan cincin cantik ini di jariku?” Batinku yang melihat sebuah cincin berkilau-kilau terpantul cahaya matahari senja yang menyeruak ke dalam ruangan.
---SKIP—
Setelah dari toko gaun penganti itu. Ia mengajakku ke sebuah padang ilalang yang sangat kusukai. Entah sejak kapan, aku mulai terobsesi dengan padang ilalang. Namun sayang, hari itu malam mulai tiba. Hanya beberapa petak ilalang yang dapat terlihat oleh sinar lampu mobil. Bintang-bintang tampak bertaburan seperti kismis yang di tabur di atas roti. Indah sekali.
FFFSHH!! Angin berhembus perlahan kearahku. Aku pun mendekap tubuhku sendiri yang hanya mengenakan dress pendek selutut seperti kebiasaanku setiap hari.
BRP!! Sebuah jaket tiba-tiba tersemat pada tubuhku.
“Apa kau ingin buat aku terpesona padamu seperti di film-film?” celetukku pada Chanyeol yang kemudian memelukku dari samping. Kami menyandarkan tubuh kami pada mobil.
“Anniyo. Jika memang begitu, sepertinya kau sudah berkali-kali terpesona olehku.” Jawabnya yang membuatku sedikit jengkel. Namun ucapannya ada benarnya juga. Jika ingin di hitung, mungkin telah ratusan kali aku terpesona olehnya.
“Seminggu setelah pernikahan, aku akan mengadakan pesta di rumah baru kita.” Ucapnya yang seketika membuatku melihat kearahnya. Banyak rancangan rencana yang telah ia buat jauh-jauh hari. Mulai rumah tempat tinggal bersama hingga investasi untuk pendidikan anak kelak.
“Aku ingin anak pertama kita laki-laki dan anak kedua perempuan.” Ucapnya lagi sambil memandangi dua bintang di langit yang saling berdampingan.
“Waeyo?” tanyaku.
“Aku ingin dia menjaga adik perempuannya kelak.” Jawabnya yang seraya menengok kearahku dan mencium kepalaku. Tanganku pun bergerak kearah belakang tubuhnya untuk merangkul pinggulnya. Ku sandarkan kepala ini di bahu namja yang sangat aku cintai.
--SKIP—
Upacara pernikahan yang membuatku berdegub ketika berjalan di atas altar pun telah kulalui. Banyak kerabat yang memberi ucapan selamat padaku dan suamiku.
“Chukae..” ucap Kris yang tak lain senior suamiku di departemennya.
“Ah, gomawo seonbae! Mianhae, aku mendahuluimu.” Ucap suamiku yang menyambut jabatan tangan Kris, aku pun juga menyambut jabat tangan namja yang pernah menjadi kekasihku. Kami adalah senior dan junior saat di SMA.
“Khamsahamnida, Kris seonbae.” Ucapku, ia pun memandangi kedua mataku beberapa detik. Terjadi situasi canggung ketika itu, hingga Chanyeol pun mencairkan suasana kembali. Suamiku sudah mengetahui semua cerita tentangku dengan seniornya di kepolisian itu. Tak ada alasan baginya untuk marah dan tak menjalin kerjasama dengan Kris. Karena baginya, masa lalu hanyalah masa lalu.
“Seonbae! Datanglah ke rumahku minggu depan. Kami akan mengadakan pesta perayaan di sana.” Ucap Chanyeol.
“Geure. Aku akan sempatkan datang.” Ucap Kris yang melihat kearahku dengan tatapan tajamnya.
Setelah hari pernikahan, kami langsung menempati rumah yang telah di persiapkan oleh Chanyeol untuk keluarga kecil kami.
GRPP!! Pintu rumah di buka oleh Chanyeol. aku langsung menghambur masuk dan mengedar pandang. Semua tampak tertata rapi. Rumah itu terdiri dari dua lantai. Aku pun melangkahkan kaki ke lantai dua. Kulihat sebuah pintu yang kurasa merupakan pintu kamar kami berdua.
GRRP!! Ku buka pintu itu, kurasakan aroma wangi menyeruak ke hidung. Aku yang telah mengganti gaun pengantinku dengan sweater hangat pun merebahkan tubuh ke atas ranjang besar dalam kamar itu. ku tatap beberapa foto yang terpasang di bagian dinding. Foto-foto itu adalah foto-foto kami ketika sebelum menikah. Aku pun tersenyum.
“Chagi-ah? apa kau suka kamar ini?” Ucap suamiku. Ia memandangiku yang terlihat nyaman merasakan lembutnya ranjang besar itu.
“Oppa?” celetukku yang terkejut dan kemudian terduduk di atas ranjang. Aku pun berdiri menghampirinya yang bersandar pada pintu kamar kami.
“Tentu aku suka.” Jawabku.
“Jinjja?” Ucapnya yang kemudian membelai rambutku. Aku pun hanya tersenyum padanya. Seketika ia menyentuh wajahku lalu memberikan ciuman tulusnya padaku.
“Saranghaeyo, neomu saranghaeyo.” Ucapnya padaku.
“Nado….Oppa.” celetukku lirih, aku pun mulai terbuai olehnya.
Keesokan paginya, ponsel suamiku berdering. Aku memeriksa ponsel itu. Ternyata itu panggilan dari atasannya. Aku tak tega membangunkan suamiku yang masih terlelap.
“Segera datang ke TKP.” Ucap suara dalam telepon yang kuangkat.
“Nde, Aku akan segera membangunkan suamiku.” Jawabku.
 “Waeyo?” Tanya suamiku yang ternyata telah terbangun.
“Anniyo.” Ucapku.
“Ah!” ucap suamiku yang melonjak dari ranjang dan bergegas bersih diri. Aku pun menyiapkan kemeja untuknya. Setelah itu ia bergegas berangkat menuju kantornya.
Hari itu aku masih cuti bekerja. Departemenku di sebuah media masa memberiku cuti beberapa hari. Untuk pertama kalinya aku menjalani hari sebagai istri. Ku lakukan beberapa pekerjaan rumah sendiri karena pembantu rumah kami belum kunjung tiba dari daerah asalnya. Butuh waktu yang cukup lama untuknya tiba di kota seoul.
“Jogeyo!” seru sebuah suara di luar rumah. aku pun memeriksanya.
GRRP! Aku membuka pintu itu. kulihat seorang pria membawa sebuah karangan bunga. Ia memintaku untuk menandatangani bukti terima. Ku lihat bunga itu dan kucari-cari nama pengirimnya, namun sama sekali tak kutemui. Bahkan pengantar bunga juga tak mengatakan siapa yang memberikan bunga untukku.
“Chanyeol oppa?” gumamku, aku pun memajang bunga itu di sudut rumah.
Drrrttt ddrrrrtt!! Ponselku berdering. Aku pun beringsut mengambil ponsel itu.
“Ah! Oppa!” ucapku yang mengangkat panggilan telepon dari suamiku.
“Chagi-ah, aku pulang larut malam ini, mianhae..” ucapnya.
“Geure, gwenchana Oppa!” jawabku. Aku pun meletakkan ponsel itu dan beringsut menuju dapur.
Drrtt drrrtt! Ponselku berbunyi lagi.
“Seonbae?” gumamku sebelum mengangkat telepon itu.
Tlulit! Aku pun menerima panggilan itu.
“Yeobseo?” ucapku.
“Sun Hi-ya? Apa bunganya sudah kau terima?” Tanyanya.
“Nde? Bunga?” celetukku yang sedikit bingung.
“Ah, kurasa sudah kau terima. Geure, aku harus bekerja.” Ucap Kris dalam telepon. Namja itu pun mengakhiri panggilan teleponya.
--SKIP---
Malam menjelang. Aku tetap menyiapkan makan malam di atas meja makan. Beberapa lilin kunyalakan. Cahayanya berpendar ke beberapa sudut ruangan itu. Aku duduk di salah satu kursi pada meja makan. Aku mengedar pandang ke setiap sudut rumah. Terasa ada sesuatu yang kurang menurutku pada dekorasi rumah itu. Tak ada foto pernikahanku dengan suamiku, Park Chanyeol. Hanya beberapa foto prawedding yang terpajang di salah satu bagian dinding tersebut. Aku pun menjulurkan tanganku di atas meja, kuletakkan kepalaku di atasnya. Perlahan, aku terpejam diantara lilin-lilin yang mulai meleleh.
Tiba-tiba, kurasakan sebuah tangan membelai kepalaku. Aku masih tetap terpejam, enggan untuk membuka mata ini.
CHU!! Kali ini sesuatu yang lembut menyentuh bibirku. Aku pun seketika terbangun, membuka mata. Ku lihat punggung seorang namja yang bergerak kearah foto praweddingku. Ia menurunkan foto itu, tangannya mengambil sebuah bingkai besar di sisinya lalu memasangnya.
“Apa itu foto pernikahanku?” batinku yang masih setengah tersadar.
“Ah, suamiku sudah pulang.” pikirku yang kemudian beranjak dan memeluknya dari belakang. Ia pun berbalik setelah ku peluk beberapa waktu.
“Sun Hi-ya, saranghae…” ucapnya lirih sambil mendekapku. Di belainya rambut panjang ini. Aku pun terpejam dan merasakan aroma tubuh suamiku.
“Nado…” ucapku dalam pelukan tubuh tingginya. Aku mendongakkan wajahku untuk memandangi wajah suamiku. Seketika dahiku mengernyit.
“Kris Oppa?” celetukku yang mendapati namja yang memelukku adalah Kris.
“Andwe!” seruku yang seketika terperanjat dan melepaskan diri dari pelukannya.
“Sun Hi-ya…?” celetuk Kris.
“Apa maksudmu, Oppa? aku sudah bersuami.” Ucapku. Telunjuk tanganku pun menunjuk foto pernikahan yang terpajang di dinding pada belakang tubuh Kris. Namja itu pun menengok ke belakang.
“Mw-mwo?” ucapku terbata. Kuamati foto pernikahan itu. Mempelai pria dalam foto bukan Park Chanyeol, tapi Kris, namja yang berdiri di hadapanku saat ini.
“Kau memang sudah bersuami, Sun Hi-ya! Dan suamimu adalah aku.” Ucap Kris yang mendekat ke arahku, namun aku semakin melangkahkan kakiku mundur. Enggan di sentuh oleh Kris.
 “Bisakah kau berhenti membayangkan jika aku adalah Park Chanyeol? biarkan dia tenang di sana.” Ucap Kris.
“Andwe!! Andweyo!!” seruku. Aku memegang kepalaku dengan kedua tangan. Tiba-tiba air mata meluluh begitu saja.
“Sun Hi-ya!” seru Kris yang meraih tubuhku dan memeluknya, namun tubuhku berontak.
“Andwe….!!!” Seruku dengan suara yang mulai serak. Pikiranku mulai melayang-layang. Mengingat kejadian demi kejadian yang aku alami. Aku ingat sekarang!
Hari ketika Chanyeol meneleponku mendadak dan memintaku untuk tak berdandan adalah hari terakhirnya. Ia mengatakan akan tiba di rumah dalam lima menit, ketika itu aku bergegas mencuci muka dan berganti pakaian seperti permintaannya. Namun di hari itu, aku bahkan telah menunggunya hingga malam menjelang. Aku duduk di luar rumah menunggu kedatangannya, akan tetapi ia tak kunjung datang.
GREMM!!! Sebuah mobil masuk ke pelataran rumahku. Seseorang dalam mobil itu seketika menghambur kearahku. Ia menarik tanganku dan memasukkanku ke dalam mobil.
“Seonbae! Ada apa, huh? Aku ada janji dengan Chanyeol Oppa!!” seruku. Namun namja bernama Kris itu tidak menghiraukanku. Ia langsung memasang sabuk pengaman untukku dan untuk dirinya. Mobil melaju kencang. Selama perjalanan aku terus bertanya. Apa yang sebenarnya terjadi.
“Turunlah!” ucap Kris yang membukakan pintu untukku. Setelah itu aku langsung di tariknya menuju sebuah gedung tinggi yang bagian dalamnya serba berwarna putih.
“Ada apa sebenarnya?” ucapku sambil berlari karena tanganku di tarik oleh Kris.
“HHsshh hhshhh!!” nafasku terengah. Langkah kaki Kris juga seketika berhenti di depan sebuah ruangan. Mataku pun melihat kedalam ruangan berkaca itu. Perlahan, mataku mulai menangkap sosok yang terbaring dan beberapa tim medis tengah melakukan pertolongan untuknya. Perlahan tanganku melepaskan cengkraman tangan Kris yang tadi menarik tanganku dan mengajakku berlari. Tubuhku beringsut ke muka pintu kaca. Ku raba pintu kaca itu, setitik air pun meluluh dari kedua mataku.
“Dokter! Saluran nafasnya tersumbat!” seru salah seorang dokter muda dalam ruangan itu.
“Hiya! Segera cari sumber penyumbatan! Jika ini terjadi lebih dari empat menit maka otak akan berhenti bekerja!” seru dokter lain. Seorang perawat terlihat terus mengecek elektrokardiogram yang menunjukkan guratan detak jantung kekasihku, Park Chanyeol.
“Dokter! Jantungnya melemah!” seru perawat. Kedua kakiku pun melemah, aku hampir terhuyung jatuh.
“Aku tak bisa melihat sumber sumbatan! Darah yang keluar menutupi objek! Ambil penyedot!” seru dokter.
“Dokter! Jantungnya semakin melemah!” seru perawat. Ketika itu sudah lebih dari empat menit. Sedangkan gagal nafas yang terjadi selama sepuluh menit, maka jantung akan benar-benar berhenti.
Seketika itu bunyi beep panjang terdengar. Segaris hijau terus tampak pada elektrokardiogram. seketika itu pula kakiku tak dapat lagi menopang tubuhku. Kris menghambur untuk memapahku. Dokter dan timnya menunduk kecewa karena mereka terlambat untuk menyelamatkan namja bernama Park Chanyeol yang mendapat beberapa luka tembak pada tubuhnya. Ia mendapat serangan dari komplotan bersenjata ketika hendak datang untuk menjemputku. Komplotan itu adalah agen penjualan senjata illegal yang tengah di selidiki oleh kekasihku, Park Chanyeol.
“Andwe..!! kau berjanji akan menikahiku, Oppa!” ucapku lirih. Kakiku benar-benar lemas. Aku terduduk di depan ruang UGD. Tangisku pun seketika pecah. Tanganku masih meraba-raba pintu itu.
“Andweyo Oppa! andweyo..!” ucapku. Kris pun memelukku, mencoba menenangkan. Namun aku beringsut masuk ke dalam ruangan. Kondisi wajahku sudah kacau, air mata telah berleleran melalui pipi.
“Hiya! Kenapa kalian melepasnya!” Ucapku. Namun para perawat hanya diam saat menatap mataku.
“Sun Hi-ya?” ucap Kris.
“Andwe! Kalian tak boleh melepasnya! Bagaimana kekasihku akan bertahan jika kalian melepaskan alat alat itu. biarkan tetap terpasang!” seruku yang menghalangi perawat melepas alat medis dari tubuh Chanyeol.
“Sun Hi-ya…” ucap Kris yang hendak meraih lenganku, tapi aku menepisnya.
“Andweyo..” celetukku. Aku menghambur kearah tubuh Chanyeol yang terbaring. Ku belai wajahnya yang semakin memucat. Alisnya, matanya, hidungnya, bibir hingga dagu.
“Saranghae, neomu saranghaeyo, Oppa!” ucapku di dekat telinganya. Seketika itu pandangan mataku gelap, aku merasa kacau. Hingga aku pun tak sadarkan diri.
-----------------------------------------------------------------------
Semilir angin tiba-tiba menerpa wajahku. Aroma tanah basah tiba-tiba menyembul di hidungku. Gerimis yang tipis turun di atas padang ilalang senja itu. Beberapa titik airnya mengenai wajahku.  Aku masih terpejam. Tanganku bergerak untuk mendekap tubuhku sendiri yang merasa dingin. Seketika kurasakan kehangatan menyembul dari belakang tubuhku. Sentuhan itu merasuk dan menjalar ke sekujur tubuhku yang tadi merasa dingin. Aku pun berbalik. Ku lihat sosok namja tinggi tersenyum padaku. Ia membelai wajahku. Aku pun melihatnya tersenyum, tampilannya terasa hangat dengan sweater yang membalut tubuhnya. Aku tersadar, dia adalah suamiku. Aku dengan bodohnya selama ini membayangkan jika ia adalah Park Chanyeol, kekasihku yang telah tiada.
“Kris Oppa....” celetukku.
“Aku yakin dia pasti bahagia di alam sana.” Ucapnya lirih yang kemudian membalikkan tubuhku lagi dan memelukku dari belakang. Tangannya melingkar kedepan tubuhku dan menyentuh kedua tanganku yang tengah berpangku. Pandangan mata kami tertuju pada langit senja dengan beberapa goresan mega emas di atas sana.
“Oppa, mianhae, saranghae…” ucapku. Aku telah tersadar jika Kris adalah masa depanku.
“Nado….saranghaeyo.” ucapnya tepat di telingaku.

-------------------THE END---------------------------------------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar