Tittle: Eclipse
Main cast: Park Chanyeol | Wu Yifan | Shinae
Genre: Fusion Fantasy Saeguk
Length: Two Shoot
Don’t be siders! Don’t be plagiators!
Angin berhembus lembut ditepian
hulu sungai Han. Suara gemericik air beradu dengan bebatuan dan terdengar
seirama dengan suara alam. Seorang namja menunggangi kudanya dan menikmati
pemandangan tersebut.
SRRNNNKK!!! Tiba-tiba suara
pedang dicabut dari rangkanya terdengar. Sontak, Chanyeol terkejut dan
membelalakkan mata.
“HHhhsshhh!!” seseorang mengayun
pedang ke arah Chanyeol yang masih di
atas kudanya.
SRRNKK!! Chanyeol pun mencabut
pedangnya. Ditangkisnya serangan mendadak itu. tubuhnya melompat dari atas kuda
dan berjingkat untuk melawan orang misterius tersebut. Ringikkan kuda memekakan
telinga yang mendengarnya.
BLAP BLAP!! Beberapa pukulan
mengenai dada Chanyeol, ia sempat merintih menahan sakit. Namun ia segera
bangkit dan menyerang.
GLAK!! SHHRKK!! Chanyeol berhasil
menjatuhkan pedang lawannya dan membuatnya tersungkur di tanah.
“Huh! Siapa kau!” seru Chanyeol,
mata pedang tajamnya mengarah pada leher sosok bertopeng hitam.
“Kemampuanmu jauh lebih baik
daripada aku,” ucap sosok itu yang seraya membuka topengnya.
“Hah! Yang mulia! Joseonghamnida
Mama (maafkan aku yang mulia),” ucap Chanyeol sambil berlutut di depan Wufan,
sang putra mahkota.
“Hiya! Tak ada siapapun disini,
panggillah aku seperti biasa,” celetuk Wufan yang membenarkan posisi duduknya,
sementara Chanyeol masih tetap berlutut.
“Mianhae, Wufan Hyung, aku tak
tahu jika itu dirimu. Lagipula, bagaimana bisa seorang putra mahkota pergi
sendiri meninggalkan istana?” ucap Chanyeol.
“Aku bosan berada di istana,
Chanyeol-ah. terlebih setelah kau pergi meninggalkan istana,” jawab Wufan.
“Memang sudah peraturan istana
jika seorang pangeran harus meninggalkan kerajaan ketika putra mahkota hendak
diangkat menjadi seorang raja,” ucap Chanyeol dengan dahi yang mengerut.
“Nde, aku mengerti, tapi
setidaknya, aku ingin kau menjadi pejabat pemerintah ketika aku naik tahta.
Oleh karena itu, janganlah kau pergi jauh meninggalkan joseon ini,” ucap Wufan,
keringatnya mengalir melalui pelipisnya.
“Hyung-ah, sudah berapa kali ku
katakan jika keluarga kerajaan tidak diperbolehkan menjadi pejabat pemerintah,”
ucap Chanyeol, ia beringsut dan berdiri mendekati kudanya.
“Chanyeol-ah…” celetuk Wufan.
“Yang Mulia..!!” seru para
pengawal dan kepala polisi istana. Mereka datang untuk menjemput putra mahkota.
“Segera antar yang mulia pulang
ke istana,” ucap Chanyeol pada para pengawal. Setelah itu, ia menaiki kudanya
dan meninggalkan Wufan.
“Chanyeol-ah, kuharap kau tidak
pergi meninggalkan joseon! Arraseo!!” seru Wufan pada Chanyeol yang mulai
menjauh dan tak terlihat lagi.
WWSSHH!! Tiba-tiba angin
berhembus kencang. Debu-debu berterbangan kesana-kemari. Daun-daun berguguran.
“Ada apa ini!!” seru tuan Nam,
ketua polisi istana. Semua prajurit pun merapatkan barisan diantara kuda putra
mahkota. Seketika langit berubah menjadi gelap.
Di tempat yang berbeda, Chanyeol
pun merasakan hal yang sama. Kudanya meringik. Angin berhembus kencang bahkan
menggugurkan daun-daun serta mematahkan rantingnya. Seketika langit berubah
gelap. Matahari tertutup benda asing. Dan Gelap!
Ngiikk!!! Kuda Chanyeol kembali
meringik, kakinya terselip diantara bebatuan. Badan kuda tak mampu
menyeimbangkan posisinya. Chanyeol pun kebingungan mengendalikan Jong, kuda
kesayangannya.
“Jong-ie…. Waeyo?” celetuk
Chanyeol panik.
BLAPP!! kuda itu menjatuhkan
tuannya. Chanyeol terpental menghantam bebatuan dan terjatuh ke sungai yang
dalam.
BYURR!!! Tubuh Chanyeol jatuh
hingga menyentuh dasar sungai. Gelembung-gelembung udara menyembul bagaikan
buih melalui mulutnya. Matanya masih sedikit terbuka, walau hanya melihat
gelapnya dasar sungai karena matahari masih tertutup benda asing.
“Mwoya? Apa aku akan mati seperti
ini?” batin Chanyeol yang tubuhnya terasa ringan bagaikan kapas. Pedang
ditangannya telah terlepas begitu saja. Kedua matanya hampir terpejam.
Buih-buih yang keluar dari mulutnya perlahan menghilang.
BLup…blup..blup… Tiba-tiba terdengar
suara buih yang lain.
HUG! Lengan seseorang meraih
tubuh Chanyeol yang terombang-ambing di gelapnya dasar sungai. Sosok itu
mengangkat tubuh Chanyeol untuk muncul ke permukaan.
BYURR!!! Ia berhasil muncul ke
permukaan bersama tubuh Chanyeol. seketika itu pula gerhana matahari usai.
Langit kembali cerah dan terang. Sosok itu membawa tubuh Chanyeol ke sebuah goa
yang berada di sekitaran tebing dekat sungai.
“Ahjussi! Sadarlah!” seru yeoja
yang menyelamatkan Chanyeol. wajah Chanyeol masih tampak pucat dan tubuhnya
terasa begitu dingin. Yeoja itu pun mengulurkan kedua tangannya ke wajah
Chanyeol. ia memejamkan mata dan memberikan energi hangat pada tubuh Chanyeol.
Hggk!! Hggk!! Tiba-tiba Chanyeol
terbatuk dan mulai membuka mata perlahan. Chanyeol menangkap kedua tangan yeoja
yang menyentuh wajahnya.
“Apa ini surga?” celetuk Chanyeol
yang terbaring dekat dengan perapian.
“Ahjussi? Kau sadar? Gwenchana?”
tanya yeoja itu, wajahnya bersinar begitu cantik.
“Hiya! Apa kau bidadari surga?”
tanya Chanyeol yang melihat sosok yeoja bergaun putih didepannya.
“Nde, aku memang bidadari yang
turun ke bumi karena murka kaisar langit padaku,” ucap yeoja itu. seketika,
Chanyeol melepaskan kedua tangan yeoja yang digenggamnya.
“Mwo? haha, Apa kau bergurau?
Siapa kau!” seru Chanyeol yang bangkit dan menjauh dari yeoja itu.
“Aku Shinae, ahjussi, apa kau
ingat gerhana matahari yang tadi terjadi?” tanya Shinae.
“Hiya! Jangan panggil aku dengan
sebutan ahjussi!” seru Chanyeol marah.
“Ah, mianhae, gereomyo, aku harus
memanggilmu apa, tuan?” tanya Shinae.
“Park Chanyeol, itu namaku. Aku
adalah pangeran negeri ini.” Jawab Chanyeol.
“jinjjayo? Chanyeol-ssi, geure,
kalau begitu aku dapat meminta bantuanmu,” ucap Shinae. Perapian yang tadi
menyala-nyala pun mulai mati.
Wuuffhh! Shinae melempar udara ke
arah perapian itu, seketika api menyala kembali.
“Hah!!” seru Chanyeol terkejut.
“Waeyo? Apa kau mulai percaya
jika aku adalah bidadari?” tanya Shinae.
“Shinae-ssi? gereom, apa yang
membuat kaisar langit marah padamu?” tanya Chanyeol. shinae pun beringsut
mendekati Chanyeol yang duduk bersandar di dinding goa.
“Itu karena aku menyukai anak
manusia,” jawab Shinae.
“Mwo!” ucap Chanyeol terkejut.
“Putra mahkota negeri ini.
Apabila aku mampu mendapatkan cinta tulusnya, maka aku akan menjadi manusia
seutuhnya,” jawab Shinae.
“Apa yang terjadi jika kau tidak
mendapatkan cintanya?” tanya Chanyeol.
“Aku harus kembali ke khayangan
dan menerima hukuman,” jawab Shinae.
“Hukuman apa itu?” tanya
Chanyeol.
“Mollayo…” celetuk Shinae. Yeoja
itu pun termenung.
Senja mulai tiba. Kawanan
kelelawar mulai bergerak keluar goa. Suara petang mulai menyambut malam.
Chanyeol memutuskan untuk pulang kerumahnya.
“Kajja! Hari mulai gelap,” ucap
Chanyeol.
“Kau ingin mengajakku kemana?
Bertemu putra mahkota?” tanya Shinae.
“Nde,” jawab Chanyeol singkat, ia
pun meraih tangan Shinae dan menggandengnya keluar goa.
“Jeongmalyo? Khamsahamnida Chanyeol-ssi!” seru
Shinae sambil menjinjing hanboknya.
FLSHHH! Kuda cokelat itu melaju. Chanyeol
meletakkan kedua tangan Shinae untuk melingkar pada perutnya agar tak terjatuh.
Rambut panjang Shinae tampak terkibas
kearah belakang.
---SKIP---
--di rumah—
Perjalanan yang sedikit panjang membuat
Shinae yang baru jatuh ke bumi merasa lelah. Yeoja itupun tak mampu menopang
tubuhnya ketika turun dari kuda.
BRRAKK!
“Hiya! Shinae-ssi? gwenchana?”
tanya Chanyeol yang refleks menolong Shinae. Di raihnya tubuh yeoja yang
menolongnya itu. ia merasakan hanbok basah dan dingin melekat pada tubuh Shinae
ketika memapahnya.
“Nde, Chanyeol-ssi, gomawo.
Sepertinya energiku terkuras habis,” jawab Shinae yang berusaha berdiri tegak.
Dalam pikiran Chanyeol, ia teringat ketika Shinae terjun ke sungai dan menolongnya.
Di tatapnya yeoja yang berjalan disampingnya. Butir keringat terlihat jelas
mencuat pada dahi dan mengalir melalui pelipis Shinae.
“Hhhhsshhh! Hhhhshh!” terdengar
nafas Shinae yang menyembul ke udara malam yang dingin. Matanya tampak sayu,
keringatnya semakin banyak keluar, hingga yeoja itu pun tak mampu berjalan
sendiri memasuki gerbang rumah meski dipapah oleh Chanyeol.
“Shinae-ssi! Shinae-ya!!” seru
Chanyeol. Ia pun segera menggendong tubuh Shinae memasuki rumahnya.
“Ahjumma! Bantu aku!” seru Chanyeol
pada salah satu pembantu rumahnya. Ia hanya tinggal sendiri, sedangkan sang
Ibu, selir Hee Bin (selir tingkat satu), tetap tinggal di istana bersama Raja.
“Nde, yang mulia,” ucap Ahjumma.
Chanyeol membaringkan tubuh
Shinae dalam sebuah bilik. Tampak olehnya jika yeoja itu menggigil.
“Biar saya mengganti pakaian nona
ini, yang mulia,” ucap ahjumma.
“Geure, aku akan membawakan air
hangat untuknya,” ucap Chanyeol yang kemudian beringsut untuk mengambil air
hangat.
--setelah beberapa menit—
Chanyeol kembali dengan membawa
air hangat untuk Shinae.
“Ah!” celetuk Chanyeol yang tanpa
mengetuk pintu langsung menghambur memasuki kamar. Ketika itu ahjumma belum
selesai mengganti pakaian Shinae. Chanyeol pun berbalik badan.
“Apa aku sudah boleh masuk
ahjumma?” tanya Chanyeol.
“Nde, yang mulia,” jawab Ahjumma.
Ahjumma pun membasuh wajah Shinae dengan air hangat yang dibawa Chanyeol. Tubuh
Shinae telah dibalut dengan kain berlipat-lipat, akan tetapi suhu tubuhnya
masih saja terasa begitu dingin ketika disentuh.
Hari mulai larut. Angin malam
perlahan menerobos masuk melalui ventilasi. Rintik hujan mulai terdengar
diluar.
“Ahjumma, kau istirahatlah,” ucap
Chanyeol.
“Tapi yang mulia?” ucap ahjumma.
“Aku akan menjaga nona Shinae,”
ucap Chanyeol lagi.
“Arraseo…” ahjumma pun beringsut
pergi.
Angin semakin bertiup kencang.
Hujan semakin lebat.
WWSHHH!! Tiba-tiba angin
memadamkan lilin-lilin pada kamar itu. chanyeol pun beringsut untuk
menghidupkannya kembali.
“Joseonghamnida MaMa!!
Joseonghamnida (Maafkan aku, Kaisar!)” Ucap Shinae, matanya masih terpejam.
Wajahnya tampak pucat dan berkeringat. Ia bermimpi dijatuhi hukuman oleh kaisar
langit karena gagal mendapatkan cinta tulus putra mahkota.
“Shinae-ssi! gwenchana?” ucap
Chanyeol yang mendapati yeoja itu mengigau. Ia pun meraih tubuh Shinae dan
memeluknya. Mata Shinae masih terpejam namun mulutnya yang terus menyebut
kaisar langit pun perlahan berhenti.
“Shinae-ya…” celetuk Chanyeol
yang perlahan melepaskan pelukannya dan membaringkan Shinae kembali.
Dipandangnya wajah Shinae dengan begitu lekat. Seketika, ia kembali teringat
dengan kejadian yang baru terjadi, ketika ia jatuh ke dasar sungai dan bidadari
itu menolongnya. Tanpa sadar, Chanyeol menyentuh wajah Shinae mulai dari dahi
hingga ke dagu.
“Bagaimana jika aku mengurungkan
niat untuk membawamu bertemu putra mahkota,” ucap Chanyeol yang masih
memandangi yeoja yang terbaring itu.
-----SKIP-----
Pagi menjelang, Chanyeol masih
tertidur dengan bersandar pada dinding kamar. Perlahan, Shinae terbangun,
dipandangnya namja tampan yang masih terpejam itu.
“Manusia berhati mulia,” celetuk
Shinae, ia beringsut mendekat pada Chanyeol.
“Apakah semua manusia bumi baik
seperti orang ini, kaisar?” batin Shinae, ia memandangi wajah Chanyeol dengan
begitu dekat.
“Jinjja! Ternyata kau cukup tampan,”
ucap Shinae lirih, tangannya menyentuh bulu mata Chanyeol.
HAPP!! Tiba-tiba Chanyeol
menggenggam tangan Shinae dan matanya terbuka.
“Omo!!” seru Shinae yang
terkejut, tubuhnya melonjak ke arah belakang.
“Hiya!! Kenapa kau
mengejutkanku?” tanya Shinae.
“Anni… kau yang mengganggu
tidurku, Shinae-ya.” Jawab Chanyeol.
“Mw-mwo? ah, mianhae,” ucap
Shinae.
“Yang Mulia, semuanya sudah
siap,” ucap ahjumma dari luar kamar.
“Nde, ahjumma!” ucap Chanyeol.
GRRPP!! Ahjumma membuka pintu dan
memasuki kamar. Wanita tua itu membawa sebuah hanbok beserta alat riasnya.
“Ini nona,” ucap Ahjumma yang
memberikan benda-benda itu pada Shinae.
“Ini?” tanya Shinae.
“Palliwa! Aku ingin segera
membalas budimu yang telah menolongku.” Jawab Chanyeol.
“Mwo?”
“Aku akan membawamu memasuki
istana,” jawab Chanyeol.
“Jeongmalyo? Khamsahamnida
Chanyeol-ssi!” seru Shinae senang. Setelah itu, Chanyeol beringsut meninggalkan
Shinae.
“Chakaman!” ucap Chanyeol, ia
kembali menghampiri Shinae. Diulurkan tangannya ke dahi yeoja itu.
“Mwoya?” tanya Shinae.
“Geure, kurasa kau sudah sembuh,”
jawab Chanyeol yang kemudian melepaskan sentuhan tangannya pada dahi Shinae. Ia
pun benar-benar meninggalkan Shinae dalam kamarnya. Setelah Chanyeol
meninggalkannya, tangan Shinae menyentuh dahinya sendiri.
“Hiya….ini pertama kalinya ada
yang memperhatikanku,” batin Shinae.
--SKIP---
Chanyeol tengah duduk sambil
menikmati hidangan dan teh hijau yang disiapkan Ahjumma. Pagi itu, cuaca tampak
cerah meski semalam hujan cukup lebat.
GRRPP! Pintu dibuka oleh ahjumma.
“Silahkan nona,” celetuk ahjumma
yang mempersilahkan Shinae masuk. Perlahan, Shinae melangkah memasuki ruangan.
Tangannya menjinjing hanbok merah muda yang dikenakannya. Senyuman manis
tergurat pada bibirnya, sebelah tangannya membenarkan posisi jepit bunga pada
rambut panjangnya.
Hhhggkk! Tiba-tiba Chanyeol
terbatuk karena tersedak teh hijau.
“Eotheyo, bukankah nona Shinae
sangat cantik, yang mulia?” tanya Ahjumma. Namun Chanyeol tak menjawab, ia
masih memandangi Shinae yang berdiri dihadapannya.
“Chanyeol-ssi!” seru Shinae yang
melihat Chanyeol tertegun.
“Ah, nde! Duduklah,” ucap
Chanyeol.
“Saya permisi, yang mulia.” Ucap
ahjumma.
“Bagaimana? Apakah putra mahkota
akan menyukaiku?” tanya Shinae. Namun, Chanyeol tak menjawab, ia justru
menyodorkan semangkuk nasi beserta lauk pada yeoja itu.
“Makanlah,” celetuk Chanyeol.
“Geureyo…” ucap Shinae. Yeoja itu
pun menikmati hidangan yang disiapkan untuknya.
“Ahh jinjja,” celetuk Chanyeol
yang tangannya seraya membersihkan saus yang mengotori sudut bibir Shinae. Yeoja
itu pun terkejut, kedua matanya menatap Chanyeol.
“Manusia ini sungguh baik,
kaisar…” batin Shinae sambil memandangi Chanyeol.
“Hhhhhfff!!” tiba-tiba Chanyeol
menghela nafas, ia tersadar akan apa yang telah ia lakukan.
“Mianhae Shinae-ya, kau jangan sampai
salah paham dengan ini,” ucap Chanyeol.
“Ah, anniya…gomawoyo, aku terlalu
ceroboh,” ucap Shinae yang tersenyum dan melanjutkan makannya.
“Hiyaa….mwoya…? ada apa denganku
ini, huh?” batin Chanyeol yang memegangi dadanya.
---SKIP---
“Kajja!” ucap Chanyeol yang sudah
membawa kudanya. Shinae pun menjinjing hanbok dan berjalan menghampiri
Chanyeol.
“Ah! eothoke…” keluh Shinae yang
tak kunjung berhasil naik ke atas kuda.
HAPP! Chanyeol membantunya naik
dengan kedua tangannya.
“Gomawoyo,” ucap Shinae yang sedikit
tersipu malu, karena bahkan seorang bidadari tak mampu naik ke atas kuda.
“Gereom, kenapa tak kau tunjukkan
lagi padaku kekuatanmu?” tanya Chanyeol sedikit mengejek.
“Hiya!! Separuh kekuatanku
dicabut oleh kaisar langit, sedangkan sisanya….”jawab Shinae yang tak
melanjutkan ucapannya.
“Wae?” tanya Chanyeol yang belum
naik ke atas kuda.
“Untuk menyelamatkan
kehidupanmu,” jawab Shinae. Seketika ekspresi Chanyeol berubah, suasana menjadi
hening.
“Hiya! Cepatlah naik!” seru
Shinae pada Chanyeol.
“Ah, nde..” celetuk Chanyeol, ia
semakin merasa berhutang budi pada yeoja itu.
-------------------------
--tiba di istana—
“Chanyeol-ah!” seru Wufan yang
tengah berolahraga panah. Chanyeol pun melambai, Shinae mengekor dibelakangnya.
“Salam yang mulia,” ucap Chanyeol.
“Cuaca begitu cerah, memanahlah
bersamaku Chanyeol-ah,” ajak Wufan, ia belum menyadari kehadiran seorang yeoja.
“Nde, gereomyo…” celetuk
Chanyeol, Shinae pun keluar dari balik tubuh Chanyeol.
“Anneyonghaseo, yang mulia,” ucap
Shinae.
“Yeputa..” batin Wufan.
“Yang mulia, Shinae-ssi adalah
orang yang menyelamatkanku kemarin,” ucap Chanyeol.
“Mwo? apa yang terjadi denganmu?”
tanya Wufan yang terkejut.
“Aku terjatuh ke dasar sungai
ketika gerhana terjadi,” jawab Chanyeol.
“Jeongmalyo? Bagian mana yang
terluka? Huh?” tanya Wufan, ia memeriksa keadaan adiknya.
“Anniymida, Mama. Chanyeol-ssi
baik-baik saja.” Ucap Shinae.
“khamsahamnida, Shinae-ssi,” ucap
Wufan.
“Nde, yang mulia,” ucap Shinae.
“Gereom, apa kau ingin coba?”
ucap Wufan yang seraya memberikan busur dan anak panah pada Shinae.
“Suatu kehormatan bagi saya untuk
mencobanya yang mulia,” jawab Shinae yang menerima busur dan anak panah dengan
kedua tangan.
KRRKK!! Tali busur ditarik kuat
oleh Shinae, matanya memicing untuk membidik papan kayu yang berjarak sekian
meter di depannya.
“Aku tak yakin kau bisa, haha,”
celetuk Chanyeol yang menertawakan yeoja itu.
“Lihatlah!” seru Shinae.
Tangannya melepaskan anak panah itu.
GLAKK! Anak panah terjatuh di
atas tanah.
“Haha! Bahkan sampai pun tidak!”
seru Chanyeol yang terus menertawakan Shinae. Yeoja itu tampak kesal, raut
mukanya ditekuk dan memandang marah kearah Chanyeol. Wufan yang berdiri
disamping Chanyeol pun beringsut menghampiri Shinae.
“Akan kuajari kau cara memanah
dengan benar,” ucap Wufan yang seraya menyentuh tangan Shinae yang menggenggam
busur. Shinae pun terkejut, ditatapnya kedua mata Wufan yang juga menatapnya.
“Yang mulia…” ucap Shinae lirih.
Wufan pun tersenyum pada Shinae.
“Apa yang mereka lakukan….” Batin
Chanyeol, kakinya hendak melangkah menghampiri. Namun ia menghentikannya dan
berbalik pergi meninggalkan Shinae bersama putra mahkota. Kepalanya sempat
menengok kembali kearah Wufan, dilihatnya senyuman Shinae yang terlihat begitu
manis dihadapan Wufan.
----SKIP----
Hari mulai petang. Chanyeol
berjalan mondar-mandir di beranda rumahnya.
“Aishh..apa saja yang dia lakukan
disana?” ucap Chanyeol yang menggerutu.
“Apa dia menginap di istana?”
Chanyeol menggerutu lagi.
“Yang mulia, apa yang membuatmu
risau?” tanya ahjumma.
“Yang mulia…” ucap Ahjumma lagi
karena Chanyeol tak memberinya tanggapan.
“Wae!!” seru Chanyeol kesal.
“Ah, mianhae ahjumma,” ucap
Chanyeol lagi yang merasa tak sopan pada ahjumma, pembantu rumah yang sudah ia
anggap seperti ibunya sendiri.
“Apa yang mulia memikirkan nona itu?”
tanya ahjumma.
“Mwo? memikirkannya?” ucap
Chanyeol yang berbalik bertanya.
“Ah,…anni…aku memikirkan cara
untuk merebut tahta dari kakakku, ahjumma!” ucap Chanyeol yang membelalakan
mata dan mengepalkan tangan.
“Yang mulia…! Itu sama saja
dengan pengkhianatan,” ucap ahjumma.
“Hiya! Ahjumma! Aku hanya
bergurau, arraseo!” seru Chanyeol yang diikuti tawanya.
“Ahjumma!!” seru sebuah suara
dari arah gerbang. sosok itu menghambur masuk dan memeluk ahjuma di depan
Chanyeol.
“Nona Shinae? Apa yang membuatmu
tampak bahagia?” tanya ahjumma.
“Yang mulia putra mahkota
mengajakku berburu di hutan lusa,” jawab Shinae.
“Jeongmalyo? Tapi nona, hutan itu
tempat yang berbahaya,” ucap ahjumma.
“Biarlah! Biar saja dia diterkam
harimau atau dipatuk ular ahjumma,” ucap Chanyeol menyeringai dan beringsut
masuk rumah.
“Hiya! Chanyeol-ssi!” seru
Shinae.
“Geure, ahjumma, apa kau mau
menemaniku ke pasar esok? Putra mahkota memberiku ini,” ucap Shinae sambil
menunjukkan beberapa ikat koin.
“Tentu nona,” jawab ahjumma.
Chanyeol mendengarkan percakapan ahjuma dengan Shinae dari balik pintu.
--SKIP---
“Ahjumma! Kajja!” seru Shinae, ia
telah berdiri di depan pintu. Tangannya langsung menggandeng lengan ahjumma dan
bergegas pergi.
“ahjumma! Kau ingin pergi
kemana?” tanya Chanyeol yang menghambur keluar dari kandang Jong, kuda
kesayangannya. Namun ahjumma tidak mendengar ucapan majikannya, Shinae terlalu
bersemangat membawa ahjuma bersamanya.
---------------------------------------------------------------------------------------------
Suasana pasar
di bantaran sungai Han nampak begitu ramai. Terdapat beberapa penjual dan
pembeli yang tengah melakukan negosiasi. Masih berlaku sistem barter di era
ini, walaupun uang sesungguhnya sudah disepakati sebagai alat tukar yang sah.
Beberapa rumah membuka kedai makan yang pasti menyediakan soju bagi para
pelanggan yang menginginkannya.
“Ah, ahjumma…” celetuk Shinae
yang menarik lengan ahjumma kearah penjual perhiasan rambut dan hanbok.
“Eotte?” tanya Shinae yang
mencoba jepit rambut berbentuk matahari.
“Cantik nona, terlebih kau yang
mengenakannya,” jawab ahjumma.
“Jinjjayo, kajja!” ajak Shinae ke
tempat lain.
“Apa kau tak ingin membelinya
nona?” tanya ahjumma.
“Anniya… aku sudah punya ini,”
jawab Shinae yang menunjukkan jepit rambut berbentuk bunga di rambutnya. Jepit
itu pemberian ahjumma ketika ia pertama menginap di rumah Chanyeol. Shinae pun
menuju sebuah toko kain bersama ahjumma. Di saat yang bersamaan, Chanyeol
muncul dan mengamati dari jauh.
“Aku ingin membuat pakaian untuk
berburu bersama putra mahkota, ahjumma,” celetuk Shinae.
“Geure, kita harus memilih warna
yang cocok untukmu nona,” ucap ahjumma.
Setelah lama mengitari pasar,
Shinae dan ahjumma merasa lelah. Mereka pun mampir sebentar ke sebuah kedai
minum.
“Biar aku saja yang mengambil
jahitan bajumu besok, nona,” ucap ahjumma.
“Waeyo? Aku ikut bersamamu
ahjumma.” Ucap Shinae.
BRAKK! Tiba-tiba seorang pria
berpakaian lusuh datang ke kedai.
“Ahjuma!! Aku
minta sojunya satu botol!” Seru Dong Wook, seorang petugas polisi berpangkat
rendah.
“Andweyo! apa
kau pikir aku mengizinkanmu mabuk disiang hari, Dong Wook-ssi?” ucap ahjumma
pemilik kedai.
“Hiya!! Apa kau
ingin bermain-main denganku, huh!!” seru Dong Wook.
SRANKKK!!
Tiba-tiba sebilah pedang dicabut dari rangkanya. Ujung pedang itu mengarah pada
Ahjuma kikir pemilik kedai.
“Mw-mwoya??
Mworago?” celetuk Ahjuma terkejut, kedua tangannya bersandar pada meja untuk
menahan tubuhnya yang doyong ke belakang karena berusaha menghindar sayatan
pedang tajam pada lehernya. Semua orang hanya melihat dengan ngeri.
“Hiya! Ahjussi!”
seru Shinae.
“Nona! Jangan
ikut campur urusan mereka,” ucap ahjuma yang menyentuh lengan Shinae.
“Kupikir semua
manusia bumi itu baik, Cuhh” ucap Shinae lirih dan meludah dihadapan Dong Wook.
“Hiya! Apa kau
menghinaku!! Jinjja!” seru Dong Wook yang seketika melepaskan ahjuma pemilik
kedai dari pedangnya.
“Wajahmu begitu
cantik, nona! Tidakkah kau menyayangi kecantikanmu itu?” tanya Dong Wook yang
semakin mendekat pada Shinae. Yeoja itu pun terpojok ke sudut kedai.
SRRNKK!!! Pedang
Dong Wook mengarah pada wajah Shinae.
“Mwoya!!” seru
Shinae.
“Apa kau takut?
Nona?” ucap Dong Wook.
“Anni… manusia
tak tau diuntung, cuhh…” Shinae meludah tepat di wajah Dong Wook.
“Hiya!!” seru
Dong Wook marah. Pedangnya menyentuh kulit wajah Shinae. Yeoja itu pun
memejamkan mata.
GLAAKK!!
Seseorang menjauhkan tubuh Dong Wook dari Shinae dengan menendangnya.
“Yang mulia
putra mahkota tiba…!!” seru prajurit istana, semua orang pun menunduk memberi
salam hormat.
“Shinae-ya!
Gwenchana?” tanya Wufan yang menyentuh wajah Shinae dengan kedua tangannya.
“Segera urus
prajurit rendahan itu!” seru putra mahkota. Dong Wook berhasil dilumpuhkan oleh
prajurit istana.
“Khamsahamnida, yang
mulia putra mahkota,” ucap Shinae.
“Ah, wajahmu…”
ucap Wufan, tangannya terkena lelehan darah yang keluar dari samping kiri wajah
Shinae. Yeoja itu sedikit tergores pedang Dong Wook.
“Gwenchana yang
mulia, gwenchana.” Ucap SHinae yang menutupi lukanya.
“Shinae-ya..!”
seru Chanyeol yang terengah datang.
“Chanyeol-ssi!!”
seru Shinae yang menghambur kearah Chanyeol sambil menutupi lukanya.
“Segera bawa aku
pulang,” pinta Shinae lirih pada Chanyeol.
“Waeyo? Bukankah
ada putra mahkota disini?” celetuk Chanyeol.
“Cepatlah! Tak
perlu banyak cakap!” Ucap Shinae.
“Khamsahamnida
yang mulia, kau sudah menolongku. Gereom, aku harus segera pulang,” ucap Shinae
yang kemudian memberi salam dan pergi bersama Chanyeol dan ahjumma.
“Shinae-ssi!!”
seru Wufan yang bingung terhadap sikap Shinae.
“Apa kita perlu
mengejarnya yang mulia?” tanya salah seorang prajurit istana.
“Tak perlu,
kurasa dia aman bersama Chanyeol,” jawab Wufan.
---SKIP---
Tiba dirumah,
ahjumma langsung bergegas ingin mengambil kain beserta obat untuk luka Shinae.
“Ahjumma! Tak
perlu!” seru Shinae, tangannya masih menutupi lukanya.
“Tapi nona…”
ucap ahjuma.
“Kubilang tak
perlu, istirahatlah saja, kau pasti lelah, ahjumma,” ucap Shinae. Ahjumma pun
menuruti permintaan Shinae, ia meninggalkan Shinae yang tengah bersama
Chanyeol.
“Waeyo?” tanya
Chanyeol. Shinae pun membuka tangan yang menutupi lukanya.
“Wajahmu…”
celetuk Chanyeol.
“Nde, aku bisa
sembuh dari luka dalam hitungan detik,” ucap Shinae yang menunjukkan kulit
wajahnya yang kembali seperti semula, hanya bercak-bercak darah yang tersisa.
“Itu sebabnya
kau menghindari putra mahkota? Kau tak ingin ia tahu jika kau bukan manusia?”
tanya Chanyeol.
“Ssssttt!” Ucap
Shinae, tangannya menghentikan mulut Chanyeol yang tengah berucap. Kedua
matanya menatap Chanyeol dengan berkaca-kaca.
Hhhhgkk!
Hhhgkk!! Shinae menangis.
“Aku hanya ingin
menjadi manusia seperti kalian,” ucap Shinae.
“Shinae-ya…”
celetuk Chanyeol, ia pun meraih tubuh yeoja itu dan memeluknya.
“Jalan!” ucap
Wufan dari atas kudanya. Ternyata ia mengikuti Shinae kerumah Chanyeol. maksud
hati ingin menanyakan kabar Shinae, namun terpaksa ia harus beringsut pergi
ketika melihat Chanyeol tengah memeluk Shinae yang menangis.
------SKIP----------
Langit terlihat
mendung hari itu. namun Shinae telah siap dengan pakaiannya untuk berburu
bersama putra mahkota.
“Nona, apa kau
benar ingin pergi berburu?” tanya ahjumma pada Shinae yang tengah merias wajah.
“Waeyo?” tanya
Shinae.
“Apa kau
mengkhawatirkannya, ahjumma?” tanya Chanyeol yang seketika menghambur memasuki
kamar.
“Nde, yang
mulia,” jawab ahjumma.
“Geure, aku akan
mengawalnya untukmu,” ucap Chanyeol.
“Andweyo! Sudah
ada banyak prajurit istana disana!” seru Shinae.
“Nona… para
prajurit istana itu ada untuk melindungi putra mahkota, jika begitu, lalu siapa
yang melindungimu?” ucap ahjumma yang begitu menyayangi Shinae seperti anaknya
sendiri.
“Geureyo,
ahjumma. Gomawo, kau begitu mengkhawatirkanku,” ucap Shinae yang memeluk
ahjumma.
“Yang mulia
putra mahkota tiba…..” seru sebuah suara dari luar rumah.
“Kajja!” ucap
Chanyeol pada Shinae.
“Nona, jaga
dirimu baik-baik, arraseo?” ucap ahjumma.
“Nde…” jawab
Shinae yang kemudian beringsut keluar bersama Chanyeol.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
“Yang mulia! Apa
kau mengizinkanku ikut berburu bersamamu?” tanya Chanyeol pada Hyungnya. Ia
sudah membawa Jong-I keluar kandang.
“Mwo?
Ah….geure…” jawab Wufan.
“Kajja!
Shinae-ya..” ucap Wufan yang meminta Shinae naik kuda bersamanya.
“Ah, nde, yang
mulia.” Ucap Shinae yang sempat melihat kearah Chanyeol.
“Gereom, lukamu
sudah sembuh rupanya, Shinae-ya..” ucap Wufan yang menoleh kebelakang untuk
melihat wajah yeoja yang bersamanya.
“Nde,
Chanyeol-ssi memberiku ramuan yang sangat mujarab untuk menyembuhkan luka,”
ucap Shinae.
“Ah….begitu…”
ucap Wufan. Setelah itu perjalanan menuju hutan pun ditempuh.
-----tiba di
hutan---
KRRSSSK!!
Terdengar sebuah suara di semak-semak hutan.
“Hwahh…tak
biasanya kita seberuntung ini,” ucap Wufan senang karena diketahui seekor rusa
berada di semak-semak itu. ia pun mengambil anak panah di belakang tubuhnya.
Chanyeol hanya mengamati Shinae dari kejauhan.
“Tetaplah di
belakangku Shinae-ya..” ucap Wufan.
KRRKK!! Anak
panah mulai ditarik.
SHUTT! Anak
panah itu dilepaskan. Namun seketika itu rusa berlari menjauh.
“Ah!!” seru
Wufan yang merasa kesal karena bidikannya tak tepat sasaran. Shinae pun
tersenyum simpul memandangi putra mahkota yang tampak kesal.
KRRSSKK!
Terdengar suara lagi dari semak-semak.
“Kali ini aku
tak akan kehilanganmu rusa…” ucap Wufan.
“Yang mulia, aku
ingin mencobanya,” celetuk Shinae, ia pun mengambil anak panah dan
mengaitkannya pada busur.
“Geure,..” ucap
Wufan yang menyerahkan rusa itu untuk dibidik oleh Shinae.
KRRRKK!! Tali
busur ditarik oleh Shinae, matanya memicing kearah rusa yang mulai resah.
SHUT!!
GLAK!! Rusa itu
terjatuh. Namun begitu sang rusa masih dapat berlari. Para prajurit pun
menghambur untuk mengejar rusa yang telah terluka di bagian punggungnya.
“Lihat yang
mulia! Aku mengenainya!” seru Shinae senang.
“Nde, berterima
kasihlah pada orang yang mengajarimu memanah,” ucap Wufan bangga.
CRRKK!!
Tiba-tiba sebuah shuriken melayang kearah putra mahkota, wajahnya pun sedikit
tergores hingga menimbulkan bercak darah. Para prajurit pun bersiaga,
megeluarkan pedangnya, begitu pula dengan Chanyeol yang seketika menghambur ke
depan Wufan dan Shinae. Seketika beberapa kawanan ninja berpakaian hitam muncul
dari berbagai arah.
“Siapa kalian!”
seru Wufan.
“Kau tak perlu
tahu kami!” ucap salah seorang ninja.
“Hiya! Beraninya
kau berbicara kerasa pada yang mulia putra mahkota!” seru Chnayeol. Seketika
Chanyeol menghempas tubuh ninja itu dengan satu tendangan. Kemudian,
perkelahian pun terjadi.
Rimbun pepohonan
yang mengepung membuat Chanyeol dan para prajurit kesulitan untuk melindungi
Wufan.
“Yang mulia!!”
seru Chanyeol, ia bergegas kearah Wufan yang diserang oleh beberapa ninja.
Sedangkan Shinae hanya bertahan dengan panahnya. Ayunan pedang mengarah pada
leher Wufan.
SRNKK!!! Pedang
Chanyeol menangkisnya. Ia menepis pedang yang diarahkan pada leher Wufan oleh
ninja itu. Wufan terduduk menahan sakit pada dadanya akibat tendangan yang ia
terima, Shinae pun menghambur kearah Wufan.
PRNK!! Terdengar
suara gesekan antara pedang dengan pedang. Chanyeol memberi perlawanan pada
ninja bertopeng hitam itu. Ia memperhatikan sorot mata ninja yang tengah ia
hadapi.
BLAP!! Chanyeol
memberikan tendangan pada dada ninja yang bertarung dengannya hingga ninja itu
tersungkur diatas tanah. Seketika itu ia menghambur kearah Wufan dan Shinae, ia
pun menyerang beberapa ninja yang berusaha melukai putra mahkota dan Shinae.
Pedang ditangannya ia ayunkan untuk menebas para ninja misterius. hingga
beberapa diantaranya pun tergeletak berlumuran darah. Namun tiba-tiba seorang
ninja melemparkan kunai kearah Wufan.
SHUT!!
“Andwe!!” seru
Shinae.
JLEP!! Kunai
tajam itu menancap pada pangkal leher Shinae.
“Hggkk!!” Shinae
menahan sakit pada lehernya. Mulutnya merintih. Matanya tampak sayu hampir
terpejam, namun ia masih bisa melihat wajah Wu Fan yang mencemaskannya.
Tangannya menyentuh wajah Wu Fan.
“Yang mulia…”
ucap Shinae lirih.
“Shinae-ya!!”
seru Wufan.
“Arghhh!!!” seru
Chanyeol yang marah. Di tebasnya leher ninja yang melempar kunai tersebut.
“Shinae-ya!!”
seru Chanyeol yang menghambur kearah yeoja yang tergeletak berleumuran darah
diatas tanah. Wufan memangku kepala Shinae di atas pahanya.
“Andweyo,
Shinae-ya… kau harus tetap hidup,” ucap Wufan, air mukanya tampak kacau dan
cemas.
“Aku harus
mencabutnya!” ucap Chanyeol. tangannya telah meraih tangkai kunai itu.
“An-dwe…” ucap
Shinae terbata dan sedikit menggelengkan kepala. Karena jika kunai itu dicabut,
maka luka pada leher Shinae akan sembuh, jika itu terjadi maka putra mahkota
akan mengetahui jika ia bukan manusia.
“Shinae-ya!!!
Apa kau ingin mati seperti ini!!” seru Chanyeol, air matanya meluluh melalui
pipi dan bercampur dengan keringat.
“Apa yang kau
katakan Chanyeol-ah!!” seru Wufan.
“Shinae-ya,
mianhae…aku harus melakukannya,” ucap Chanyeol, seraya dengan itu kunai yang
menancap pun dicabut olehnya.
“Chanyeol-ah!!”
ucap Shinae. Seketika, dengan ajaib, luka yang sangat dalam itu sembuh dan
kembali seperti semula. Wufan terbelalak dan melepaskan tangannya dari tubuh
Shinae.
PTARR!!
Tiba-tiba petir menyambar, langit mendung pun menurunkan rintiknya hingga
mnejadi semakin lebat. Mayat para prajurit istana yang berlumuran darah pun
tersapu oleh air hujan yang turun.
“Nuguya! Bagaimana
bisa!!” seru Wufan yang terkejut.
“Yang mulia….”
Ucap Shinae yang bangkit. Sedangkan Chanyeol hanya berdiri diam, air hujan
menetes ke tanah melalui dagunya.
“Kau! Kau bukan
manusia! Kau telah mempermainkanku!” seru Wufan yang terlihat kecewa. Ia beringsut
kearah kudanya. Wajahnya memaling dan tak menengok kebelakang lagi.
“Hhhgkk!!
Hhhgkk!! Mianhae yang mulia….” Ucap Shinae lirih.
--to be
continue-
Gimana chingu?? yuk....lanjut baca shoot 2 ^^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar