Kamis, 22 Januari 2015

ECLIPSE (Shoot 1)

Tittle: Eclipse
Main cast: Park Chanyeol | Wu Yifan | Shinae
Genre: Fusion Fantasy Saeguk
Length: Two Shoot

Don’t be siders! Don’t be plagiators!



Angin berhembus lembut ditepian hulu sungai Han. Suara gemericik air beradu dengan bebatuan dan terdengar seirama dengan suara alam. Seorang namja menunggangi kudanya dan menikmati pemandangan tersebut.

SRRNNNKK!!! Tiba-tiba suara pedang dicabut dari rangkanya terdengar. Sontak, Chanyeol terkejut dan membelalakkan mata.

“HHhhsshhh!!” seseorang mengayun pedang ke  arah Chanyeol yang masih di atas kudanya.

SRRNKK!! Chanyeol pun mencabut pedangnya. Ditangkisnya serangan mendadak itu. tubuhnya melompat dari atas kuda dan berjingkat untuk melawan orang misterius tersebut. Ringikkan kuda memekakan telinga yang mendengarnya.

BLAP BLAP!! Beberapa pukulan mengenai dada Chanyeol, ia sempat merintih menahan sakit. Namun ia segera bangkit dan menyerang.

GLAK!! SHHRKK!! Chanyeol berhasil menjatuhkan pedang lawannya dan membuatnya tersungkur di tanah.
“Huh! Siapa kau!” seru Chanyeol, mata pedang tajamnya mengarah pada leher sosok bertopeng hitam.
“Kemampuanmu jauh lebih baik daripada aku,” ucap sosok itu yang seraya membuka topengnya.
“Hah! Yang mulia! Joseonghamnida Mama (maafkan aku yang mulia),” ucap Chanyeol sambil berlutut di depan Wufan, sang putra mahkota.
“Hiya! Tak ada siapapun disini, panggillah aku seperti biasa,” celetuk Wufan yang membenarkan posisi duduknya, sementara Chanyeol masih tetap berlutut.

“Mianhae, Wufan Hyung, aku tak tahu jika itu dirimu. Lagipula, bagaimana bisa seorang putra mahkota pergi sendiri meninggalkan istana?” ucap Chanyeol.
“Aku bosan berada di istana, Chanyeol-ah. terlebih setelah kau pergi meninggalkan istana,” jawab Wufan.
“Memang sudah peraturan istana jika seorang pangeran harus meninggalkan kerajaan ketika putra mahkota hendak diangkat menjadi seorang raja,” ucap Chanyeol dengan dahi yang mengerut.
“Nde, aku mengerti, tapi setidaknya, aku ingin kau menjadi pejabat pemerintah ketika aku naik tahta. Oleh karena itu, janganlah kau pergi jauh meninggalkan joseon ini,” ucap Wufan, keringatnya mengalir melalui pelipisnya.
“Hyung-ah, sudah berapa kali ku katakan jika keluarga kerajaan tidak diperbolehkan menjadi pejabat pemerintah,” ucap Chanyeol, ia beringsut dan berdiri mendekati kudanya.
“Chanyeol-ah…” celetuk Wufan.
“Yang Mulia..!!” seru para pengawal dan kepala polisi istana. Mereka datang untuk menjemput putra mahkota.
“Segera antar yang mulia pulang ke istana,” ucap Chanyeol pada para pengawal. Setelah itu, ia menaiki kudanya dan meninggalkan Wufan.
“Chanyeol-ah, kuharap kau tidak pergi meninggalkan joseon! Arraseo!!” seru Wufan pada Chanyeol yang mulai menjauh dan tak terlihat lagi.
WWSSHH!! Tiba-tiba angin berhembus kencang. Debu-debu berterbangan kesana-kemari. Daun-daun berguguran.
“Ada apa ini!!” seru tuan Nam, ketua polisi istana. Semua prajurit pun merapatkan barisan diantara kuda putra mahkota. Seketika langit berubah menjadi gelap.
Di tempat yang berbeda, Chanyeol pun merasakan hal yang sama. Kudanya meringik. Angin berhembus kencang bahkan menggugurkan daun-daun serta mematahkan rantingnya. Seketika langit berubah gelap. Matahari tertutup benda asing. Dan Gelap!
Ngiikk!!! Kuda Chanyeol kembali meringik, kakinya terselip diantara bebatuan. Badan kuda tak mampu menyeimbangkan posisinya. Chanyeol pun kebingungan mengendalikan Jong, kuda kesayangannya.
“Jong-ie…. Waeyo?” celetuk Chanyeol panik.
BLAPP!! kuda itu menjatuhkan tuannya. Chanyeol terpental menghantam bebatuan dan terjatuh ke sungai yang dalam.
BYURR!!! Tubuh Chanyeol jatuh hingga menyentuh dasar sungai. Gelembung-gelembung udara menyembul bagaikan buih melalui mulutnya. Matanya masih sedikit terbuka, walau hanya melihat gelapnya dasar sungai karena matahari masih tertutup benda asing.
“Mwoya? Apa aku akan mati seperti ini?” batin Chanyeol yang tubuhnya terasa ringan bagaikan kapas. Pedang ditangannya telah terlepas begitu saja. Kedua matanya hampir terpejam. Buih-buih yang keluar dari mulutnya perlahan menghilang.
BLup…blup..blup… Tiba-tiba terdengar suara buih yang lain.
HUG! Lengan seseorang meraih tubuh Chanyeol yang terombang-ambing di gelapnya dasar sungai. Sosok itu mengangkat tubuh Chanyeol untuk muncul ke permukaan.
BYURR!!! Ia berhasil muncul ke permukaan bersama tubuh Chanyeol. seketika itu pula gerhana matahari usai. Langit kembali cerah dan terang. Sosok itu membawa tubuh Chanyeol ke sebuah goa yang berada di sekitaran tebing dekat sungai.
“Ahjussi! Sadarlah!” seru yeoja yang menyelamatkan Chanyeol. wajah Chanyeol masih tampak pucat dan tubuhnya terasa begitu dingin. Yeoja itu pun mengulurkan kedua tangannya ke wajah Chanyeol. ia memejamkan mata dan memberikan energi hangat pada tubuh Chanyeol.
Hggk!! Hggk!! Tiba-tiba Chanyeol terbatuk dan mulai membuka mata perlahan. Chanyeol menangkap kedua tangan yeoja yang menyentuh wajahnya.
“Apa ini surga?” celetuk Chanyeol yang terbaring dekat dengan perapian.
“Ahjussi? Kau sadar? Gwenchana?” tanya yeoja itu, wajahnya bersinar begitu cantik.
“Hiya! Apa kau bidadari surga?” tanya Chanyeol yang melihat sosok yeoja bergaun putih didepannya.
“Nde, aku memang bidadari yang turun ke bumi karena murka kaisar langit padaku,” ucap yeoja itu. seketika, Chanyeol melepaskan kedua tangan yeoja yang digenggamnya.
“Mwo? haha, Apa kau bergurau? Siapa kau!” seru Chanyeol yang bangkit dan menjauh dari yeoja itu.
“Aku Shinae, ahjussi, apa kau ingat gerhana matahari yang tadi terjadi?” tanya Shinae.
“Hiya! Jangan panggil aku dengan sebutan ahjussi!” seru Chanyeol marah.
“Ah, mianhae, gereomyo, aku harus memanggilmu apa, tuan?” tanya Shinae.
“Park Chanyeol, itu namaku. Aku adalah pangeran negeri ini.” Jawab Chanyeol.
“jinjjayo? Chanyeol-ssi, geure, kalau begitu aku dapat meminta bantuanmu,” ucap Shinae. Perapian yang tadi menyala-nyala pun mulai mati.
Wuuffhh! Shinae melempar udara ke arah perapian itu, seketika api menyala kembali.
“Hah!!” seru Chanyeol terkejut.
“Waeyo? Apa kau mulai percaya jika aku adalah bidadari?” tanya Shinae.
“Shinae-ssi? gereom, apa yang membuat kaisar langit marah padamu?” tanya Chanyeol. shinae pun beringsut mendekati Chanyeol yang duduk bersandar di dinding goa.
“Itu karena aku menyukai anak manusia,” jawab Shinae.
“Mwo!” ucap Chanyeol terkejut.
“Putra mahkota negeri ini. Apabila aku mampu mendapatkan cinta tulusnya, maka aku akan menjadi manusia seutuhnya,” jawab Shinae.
“Apa yang terjadi jika kau tidak mendapatkan cintanya?” tanya Chanyeol.
“Aku harus kembali ke khayangan dan menerima hukuman,” jawab Shinae.
“Hukuman apa itu?” tanya Chanyeol.
“Mollayo…” celetuk Shinae. Yeoja itu pun termenung.
Senja mulai tiba. Kawanan kelelawar mulai bergerak keluar goa. Suara petang mulai menyambut malam. Chanyeol memutuskan untuk pulang kerumahnya.
“Kajja! Hari mulai gelap,” ucap Chanyeol.
“Kau ingin mengajakku kemana? Bertemu putra mahkota?” tanya Shinae.
“Nde,” jawab Chanyeol singkat, ia pun meraih tangan Shinae dan menggandengnya keluar goa.
 “Jeongmalyo? Khamsahamnida Chanyeol-ssi!” seru Shinae sambil menjinjing hanboknya.
FLSHHH! Kuda cokelat itu melaju. Chanyeol meletakkan kedua tangan Shinae untuk melingkar pada perutnya agar tak terjatuh. Rambut  panjang Shinae tampak terkibas kearah belakang.
---SKIP---
--di rumah—
Perjalanan yang sedikit panjang membuat Shinae yang baru jatuh ke bumi merasa lelah. Yeoja itupun tak mampu menopang tubuhnya ketika turun dari kuda.
BRRAKK!
“Hiya! Shinae-ssi? gwenchana?” tanya Chanyeol yang refleks menolong Shinae. Di raihnya tubuh yeoja yang menolongnya itu. ia merasakan hanbok basah dan dingin melekat pada tubuh Shinae ketika memapahnya.
“Nde, Chanyeol-ssi, gomawo. Sepertinya energiku terkuras habis,” jawab Shinae yang berusaha berdiri tegak. Dalam pikiran Chanyeol, ia teringat ketika Shinae terjun ke sungai dan menolongnya. Di tatapnya yeoja yang berjalan disampingnya. Butir keringat terlihat jelas mencuat pada dahi dan mengalir melalui pelipis Shinae.
“Hhhhsshhh! Hhhhshh!” terdengar nafas Shinae yang menyembul ke udara malam yang dingin. Matanya tampak sayu, keringatnya semakin banyak keluar, hingga yeoja itu pun tak mampu berjalan sendiri memasuki gerbang rumah meski dipapah oleh Chanyeol.
“Shinae-ssi! Shinae-ya!!” seru Chanyeol. Ia pun segera menggendong tubuh Shinae memasuki rumahnya.
“Ahjumma! Bantu aku!” seru Chanyeol pada salah satu pembantu rumahnya. Ia hanya tinggal sendiri, sedangkan sang Ibu, selir Hee Bin (selir tingkat satu), tetap tinggal di istana bersama Raja.
“Nde, yang mulia,” ucap Ahjumma.
Chanyeol membaringkan tubuh Shinae dalam sebuah bilik. Tampak olehnya jika yeoja itu menggigil.
“Biar saya mengganti pakaian nona ini, yang mulia,” ucap ahjumma.
“Geure, aku akan membawakan air hangat untuknya,” ucap Chanyeol yang kemudian beringsut untuk mengambil air hangat.
--setelah beberapa menit—
Chanyeol kembali dengan membawa air hangat untuk Shinae.
“Ah!” celetuk Chanyeol yang tanpa mengetuk pintu langsung menghambur memasuki kamar. Ketika itu ahjumma belum selesai mengganti pakaian Shinae. Chanyeol pun berbalik badan.
“Apa aku sudah boleh masuk ahjumma?” tanya Chanyeol.
“Nde, yang mulia,” jawab Ahjumma. Ahjumma pun membasuh wajah Shinae dengan air hangat yang dibawa Chanyeol. Tubuh Shinae telah dibalut dengan kain berlipat-lipat, akan tetapi suhu tubuhnya masih saja terasa begitu dingin ketika disentuh.
Hari mulai larut. Angin malam perlahan menerobos masuk melalui ventilasi. Rintik hujan mulai terdengar diluar.
“Ahjumma, kau istirahatlah,” ucap Chanyeol.
“Tapi yang mulia?” ucap ahjumma.
“Aku akan menjaga nona Shinae,” ucap Chanyeol lagi.
“Arraseo…” ahjumma pun beringsut pergi.
Angin semakin bertiup kencang. Hujan semakin lebat.
WWSHHH!! Tiba-tiba angin memadamkan lilin-lilin pada kamar itu. chanyeol pun beringsut untuk menghidupkannya kembali.
“Joseonghamnida MaMa!! Joseonghamnida (Maafkan aku, Kaisar!)” Ucap Shinae, matanya masih terpejam. Wajahnya tampak pucat dan berkeringat. Ia bermimpi dijatuhi hukuman oleh kaisar langit karena gagal mendapatkan cinta tulus putra mahkota.
“Shinae-ssi! gwenchana?” ucap Chanyeol yang mendapati yeoja itu mengigau. Ia pun meraih tubuh Shinae dan memeluknya. Mata Shinae masih terpejam namun mulutnya yang terus menyebut kaisar langit pun perlahan berhenti.
“Shinae-ya…” celetuk Chanyeol yang perlahan melepaskan pelukannya dan membaringkan Shinae kembali. Dipandangnya wajah Shinae dengan begitu lekat. Seketika, ia kembali teringat dengan kejadian yang baru terjadi, ketika ia jatuh ke dasar sungai dan bidadari itu menolongnya. Tanpa sadar, Chanyeol menyentuh wajah Shinae mulai dari dahi hingga ke dagu.
“Bagaimana jika aku mengurungkan niat untuk membawamu bertemu putra mahkota,” ucap Chanyeol yang masih memandangi yeoja yang terbaring itu.
-----SKIP-----
Pagi menjelang, Chanyeol masih tertidur dengan bersandar pada dinding kamar. Perlahan, Shinae terbangun, dipandangnya namja tampan yang masih terpejam itu.
“Manusia berhati mulia,” celetuk Shinae, ia beringsut mendekat pada Chanyeol.
“Apakah semua manusia bumi baik seperti orang ini, kaisar?” batin Shinae, ia memandangi wajah Chanyeol dengan begitu dekat.
“Jinjja! Ternyata kau cukup tampan,” ucap Shinae lirih, tangannya menyentuh bulu mata Chanyeol.
HAPP!! Tiba-tiba Chanyeol menggenggam tangan Shinae dan matanya terbuka.
“Omo!!” seru Shinae yang terkejut, tubuhnya melonjak ke arah belakang.
“Hiya!! Kenapa kau mengejutkanku?” tanya Shinae.
“Anni… kau yang mengganggu tidurku, Shinae-ya.” Jawab Chanyeol.
“Mw-mwo? ah, mianhae,” ucap Shinae.
“Yang Mulia, semuanya sudah siap,” ucap ahjumma dari luar kamar.
“Nde, ahjumma!” ucap Chanyeol.
GRRPP!! Ahjumma membuka pintu dan memasuki kamar. Wanita tua itu membawa sebuah hanbok beserta alat riasnya.
“Ini nona,” ucap Ahjumma yang memberikan benda-benda itu pada Shinae.
“Ini?” tanya Shinae.
“Palliwa! Aku ingin segera membalas budimu yang telah menolongku.” Jawab Chanyeol.
“Mwo?”
“Aku akan membawamu memasuki istana,” jawab Chanyeol.
“Jeongmalyo? Khamsahamnida Chanyeol-ssi!” seru Shinae senang. Setelah itu, Chanyeol beringsut meninggalkan Shinae.
“Chakaman!” ucap Chanyeol, ia kembali menghampiri Shinae. Diulurkan tangannya ke dahi yeoja itu.
“Mwoya?” tanya Shinae.
“Geure, kurasa kau sudah sembuh,” jawab Chanyeol yang kemudian melepaskan sentuhan tangannya pada dahi Shinae. Ia pun benar-benar meninggalkan Shinae dalam kamarnya. Setelah Chanyeol meninggalkannya, tangan Shinae menyentuh dahinya sendiri.
“Hiya….ini pertama kalinya ada yang memperhatikanku,” batin Shinae.
--SKIP---
Chanyeol tengah duduk sambil menikmati hidangan dan teh hijau yang disiapkan Ahjumma. Pagi itu, cuaca tampak cerah meski semalam hujan cukup lebat.
GRRPP! Pintu dibuka oleh ahjumma.
“Silahkan nona,” celetuk ahjumma yang mempersilahkan Shinae masuk. Perlahan, Shinae melangkah memasuki ruangan. Tangannya menjinjing hanbok merah muda yang dikenakannya. Senyuman manis tergurat pada bibirnya, sebelah tangannya membenarkan posisi jepit bunga pada rambut panjangnya.
Hhhggkk! Tiba-tiba Chanyeol terbatuk karena tersedak teh hijau.
“Eotheyo, bukankah nona Shinae sangat cantik, yang mulia?” tanya Ahjumma. Namun Chanyeol tak menjawab, ia masih memandangi Shinae yang berdiri dihadapannya.
“Chanyeol-ssi!” seru Shinae yang melihat Chanyeol tertegun.
“Ah, nde! Duduklah,” ucap Chanyeol.
“Saya permisi, yang mulia.” Ucap ahjumma.
“Bagaimana? Apakah putra mahkota akan menyukaiku?” tanya Shinae. Namun, Chanyeol tak menjawab, ia justru menyodorkan semangkuk nasi beserta lauk pada yeoja itu.
“Makanlah,” celetuk Chanyeol.
“Geureyo…” ucap Shinae. Yeoja itu pun menikmati hidangan yang disiapkan untuknya.
“Ahh jinjja,” celetuk Chanyeol yang tangannya seraya membersihkan saus yang mengotori sudut bibir Shinae. Yeoja itu pun terkejut, kedua matanya menatap Chanyeol.
“Manusia ini sungguh baik, kaisar…” batin Shinae sambil memandangi Chanyeol.
“Hhhhhfff!!” tiba-tiba Chanyeol menghela nafas, ia tersadar akan apa yang telah ia lakukan.
“Mianhae Shinae-ya, kau jangan sampai salah paham dengan ini,” ucap Chanyeol.
“Ah, anniya…gomawoyo, aku terlalu ceroboh,” ucap Shinae yang tersenyum dan melanjutkan makannya.
“Hiyaa….mwoya…? ada apa denganku ini, huh?” batin Chanyeol yang memegangi dadanya.
---SKIP---
“Kajja!” ucap Chanyeol yang sudah membawa kudanya. Shinae pun menjinjing hanbok dan berjalan menghampiri Chanyeol.
“Ah! eothoke…” keluh Shinae yang tak kunjung berhasil naik ke atas kuda.
HAPP! Chanyeol membantunya naik dengan kedua tangannya.
“Gomawoyo,” ucap Shinae yang sedikit tersipu malu, karena bahkan seorang bidadari tak mampu naik ke atas kuda.
“Gereom, kenapa tak kau tunjukkan lagi padaku kekuatanmu?” tanya Chanyeol sedikit mengejek.
“Hiya!! Separuh kekuatanku dicabut oleh kaisar langit, sedangkan sisanya….”jawab Shinae yang tak melanjutkan ucapannya.
“Wae?” tanya Chanyeol yang belum naik ke atas kuda.
“Untuk menyelamatkan kehidupanmu,” jawab Shinae. Seketika ekspresi Chanyeol berubah, suasana menjadi hening.
“Hiya! Cepatlah naik!” seru Shinae pada Chanyeol.
“Ah, nde..” celetuk Chanyeol, ia semakin merasa berhutang budi pada yeoja itu.
-------------------------
--tiba di istana—
“Chanyeol-ah!” seru Wufan yang tengah berolahraga panah. Chanyeol pun melambai, Shinae mengekor dibelakangnya.
“Salam yang mulia,” ucap Chanyeol.
“Cuaca begitu cerah, memanahlah bersamaku Chanyeol-ah,” ajak Wufan, ia belum menyadari kehadiran seorang yeoja.
“Nde, gereomyo…” celetuk Chanyeol, Shinae pun keluar dari balik tubuh Chanyeol.
“Anneyonghaseo, yang mulia,” ucap Shinae.
“Yeputa..” batin Wufan.
“Yang mulia, Shinae-ssi adalah orang yang menyelamatkanku kemarin,” ucap Chanyeol.
“Mwo? apa yang terjadi denganmu?” tanya Wufan yang terkejut.
“Aku terjatuh ke dasar sungai ketika gerhana terjadi,” jawab Chanyeol.
“Jeongmalyo? Bagian mana yang terluka? Huh?” tanya Wufan, ia memeriksa keadaan adiknya.
“Anniymida, Mama. Chanyeol-ssi baik-baik saja.” Ucap Shinae.
“khamsahamnida, Shinae-ssi,” ucap Wufan.
“Nde, yang mulia,” ucap Shinae.
“Gereom, apa kau ingin coba?” ucap Wufan yang seraya memberikan busur dan anak panah pada Shinae.
“Suatu kehormatan bagi saya untuk mencobanya yang mulia,” jawab Shinae yang menerima busur dan anak panah dengan kedua tangan.
KRRKK!! Tali busur ditarik kuat oleh Shinae, matanya memicing untuk membidik papan kayu yang berjarak sekian meter di depannya.
“Aku tak yakin kau bisa, haha,” celetuk Chanyeol yang menertawakan yeoja itu.
“Lihatlah!” seru Shinae. Tangannya melepaskan anak panah itu.
GLAKK! Anak panah terjatuh di atas tanah.
“Haha! Bahkan sampai pun tidak!” seru Chanyeol yang terus menertawakan Shinae. Yeoja itu tampak kesal, raut mukanya ditekuk dan memandang marah kearah Chanyeol. Wufan yang berdiri disamping Chanyeol pun beringsut menghampiri Shinae.
“Akan kuajari kau cara memanah dengan benar,” ucap Wufan yang seraya menyentuh tangan Shinae yang menggenggam busur. Shinae pun terkejut, ditatapnya kedua mata Wufan yang juga menatapnya.
“Yang mulia…” ucap Shinae lirih. Wufan pun tersenyum pada Shinae.
“Apa yang mereka lakukan….” Batin Chanyeol, kakinya hendak melangkah menghampiri. Namun ia menghentikannya dan berbalik pergi meninggalkan Shinae bersama putra mahkota. Kepalanya sempat menengok kembali kearah Wufan, dilihatnya senyuman Shinae yang terlihat begitu manis dihadapan Wufan.
----SKIP----
Hari mulai petang. Chanyeol berjalan mondar-mandir di beranda rumahnya.
“Aishh..apa saja yang dia lakukan disana?” ucap Chanyeol yang menggerutu.
“Apa dia menginap di istana?” Chanyeol menggerutu lagi.
“Yang mulia, apa yang membuatmu risau?” tanya ahjumma.
“Yang mulia…” ucap Ahjumma lagi karena Chanyeol tak memberinya tanggapan.
“Wae!!” seru Chanyeol kesal.
“Ah, mianhae ahjumma,” ucap Chanyeol lagi yang merasa tak sopan pada ahjumma, pembantu rumah yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri.
“Apa yang mulia memikirkan nona itu?” tanya ahjumma.
“Mwo? memikirkannya?” ucap Chanyeol yang berbalik bertanya.
“Ah,…anni…aku memikirkan cara untuk merebut tahta dari kakakku, ahjumma!” ucap Chanyeol yang membelalakan mata dan mengepalkan tangan.
“Yang mulia…! Itu sama saja dengan pengkhianatan,” ucap ahjumma.
“Hiya! Ahjumma! Aku hanya bergurau, arraseo!” seru Chanyeol yang diikuti tawanya.
“Ahjumma!!” seru sebuah suara dari arah gerbang. sosok itu menghambur masuk dan memeluk ahjuma di depan Chanyeol.
“Nona Shinae? Apa yang membuatmu tampak bahagia?” tanya ahjumma.
“Yang mulia putra mahkota mengajakku berburu di hutan lusa,” jawab Shinae.
“Jeongmalyo? Tapi nona, hutan itu tempat yang berbahaya,” ucap ahjumma.
“Biarlah! Biar saja dia diterkam harimau atau dipatuk ular ahjumma,” ucap Chanyeol menyeringai dan beringsut masuk rumah.
“Hiya! Chanyeol-ssi!” seru Shinae.
“Geure, ahjumma, apa kau mau menemaniku ke pasar esok? Putra mahkota memberiku ini,” ucap Shinae sambil menunjukkan beberapa ikat koin.
“Tentu nona,” jawab ahjumma. Chanyeol mendengarkan percakapan ahjuma dengan Shinae dari balik pintu.
--SKIP---
“Ahjumma! Kajja!” seru Shinae, ia telah berdiri di depan pintu. Tangannya langsung menggandeng lengan ahjumma dan bergegas pergi.
“ahjumma! Kau ingin pergi kemana?” tanya Chanyeol yang menghambur keluar dari kandang Jong, kuda kesayangannya. Namun ahjumma tidak mendengar ucapan majikannya, Shinae terlalu bersemangat membawa ahjuma bersamanya.
---------------------------------------------------------------------------------------------
Suasana pasar di bantaran sungai Han nampak begitu ramai. Terdapat beberapa penjual dan pembeli yang tengah melakukan negosiasi. Masih berlaku sistem barter di era ini, walaupun uang sesungguhnya sudah disepakati sebagai alat tukar yang sah. Beberapa rumah membuka kedai makan yang pasti menyediakan soju bagi para pelanggan yang menginginkannya.
“Ah, ahjumma…” celetuk Shinae yang menarik lengan ahjumma kearah penjual perhiasan rambut dan hanbok.
“Eotte?” tanya Shinae yang mencoba jepit rambut berbentuk matahari.
“Cantik nona, terlebih kau yang mengenakannya,” jawab ahjumma.
“Jinjjayo, kajja!” ajak Shinae ke tempat lain.
“Apa kau tak ingin membelinya nona?” tanya ahjumma.
“Anniya… aku sudah punya ini,” jawab Shinae yang menunjukkan jepit rambut berbentuk bunga di rambutnya. Jepit itu pemberian ahjumma ketika ia pertama menginap di rumah Chanyeol. Shinae pun menuju sebuah toko kain bersama ahjumma. Di saat yang bersamaan, Chanyeol muncul dan mengamati dari jauh.
“Aku ingin membuat pakaian untuk berburu bersama putra mahkota, ahjumma,” celetuk Shinae.
“Geure, kita harus memilih warna yang cocok untukmu nona,” ucap ahjumma.
Setelah lama mengitari pasar, Shinae dan ahjumma merasa lelah. Mereka pun mampir sebentar ke sebuah kedai minum.
“Biar aku saja yang mengambil jahitan bajumu besok, nona,” ucap ahjumma.
“Waeyo? Aku ikut bersamamu ahjumma.” Ucap Shinae.
BRAKK! Tiba-tiba seorang pria berpakaian lusuh datang ke kedai.
“Ahjuma!! Aku minta sojunya satu botol!” Seru Dong Wook, seorang petugas polisi berpangkat rendah.
“Andweyo! apa kau pikir aku mengizinkanmu mabuk disiang hari, Dong Wook-ssi?” ucap ahjumma pemilik kedai.
“Hiya!! Apa kau ingin bermain-main denganku, huh!!” seru Dong Wook.
SRANKKK!! Tiba-tiba sebilah pedang dicabut dari rangkanya. Ujung pedang itu mengarah pada Ahjuma kikir pemilik kedai.
“Mw-mwoya?? Mworago?” celetuk Ahjuma terkejut, kedua tangannya bersandar pada meja untuk menahan tubuhnya yang doyong ke belakang karena berusaha menghindar sayatan pedang tajam pada lehernya. Semua orang hanya melihat dengan ngeri.
“Hiya! Ahjussi!” seru Shinae.
“Nona! Jangan ikut campur urusan mereka,” ucap ahjuma yang menyentuh lengan Shinae.
“Kupikir semua manusia bumi itu baik, Cuhh” ucap Shinae lirih dan meludah dihadapan Dong Wook.
“Hiya! Apa kau menghinaku!! Jinjja!” seru Dong Wook yang seketika melepaskan ahjuma pemilik kedai dari pedangnya.
“Wajahmu begitu cantik, nona! Tidakkah kau menyayangi kecantikanmu itu?” tanya Dong Wook yang semakin mendekat pada Shinae. Yeoja itu pun terpojok ke sudut kedai.
SRRNKK!!! Pedang Dong Wook mengarah pada wajah Shinae.
“Mwoya!!” seru Shinae.
“Apa kau takut? Nona?” ucap Dong Wook.
“Anni… manusia tak tau diuntung, cuhh…” Shinae meludah tepat di wajah Dong Wook.
“Hiya!!” seru Dong Wook marah. Pedangnya menyentuh kulit wajah Shinae. Yeoja itu pun memejamkan mata.
GLAAKK!! Seseorang menjauhkan tubuh Dong Wook dari Shinae dengan menendangnya.
“Yang mulia putra mahkota tiba…!!” seru prajurit istana, semua orang pun menunduk memberi salam hormat.
“Shinae-ya! Gwenchana?” tanya Wufan yang menyentuh wajah Shinae dengan kedua tangannya.
“Segera urus prajurit rendahan itu!” seru putra mahkota. Dong Wook berhasil dilumpuhkan oleh prajurit istana.
“Khamsahamnida, yang mulia putra mahkota,” ucap Shinae.
“Ah, wajahmu…” ucap Wufan, tangannya terkena lelehan darah yang keluar dari samping kiri wajah Shinae. Yeoja itu sedikit tergores pedang Dong Wook.
“Gwenchana yang mulia, gwenchana.” Ucap SHinae yang menutupi lukanya.
“Shinae-ya..!” seru Chanyeol yang terengah datang.
“Chanyeol-ssi!!” seru Shinae yang menghambur kearah Chanyeol sambil menutupi lukanya.
“Segera bawa aku pulang,” pinta Shinae lirih pada Chanyeol.
“Waeyo? Bukankah ada putra mahkota disini?” celetuk Chanyeol.
“Cepatlah! Tak perlu banyak cakap!” Ucap Shinae.
“Khamsahamnida yang mulia, kau sudah menolongku. Gereom, aku harus segera pulang,” ucap Shinae yang kemudian memberi salam dan pergi bersama Chanyeol dan ahjumma.
“Shinae-ssi!!” seru Wufan yang bingung terhadap sikap Shinae.
“Apa kita perlu mengejarnya yang mulia?” tanya salah seorang prajurit istana.
“Tak perlu, kurasa dia aman bersama Chanyeol,” jawab Wufan.
---SKIP---
Tiba dirumah, ahjumma langsung bergegas ingin mengambil kain beserta obat untuk luka Shinae.
“Ahjumma! Tak perlu!” seru Shinae, tangannya masih menutupi lukanya.
“Tapi nona…” ucap ahjuma.
“Kubilang tak perlu, istirahatlah saja, kau pasti lelah, ahjumma,” ucap Shinae. Ahjumma pun menuruti permintaan Shinae, ia meninggalkan Shinae yang tengah bersama Chanyeol.
“Waeyo?” tanya Chanyeol. Shinae pun membuka tangan yang menutupi lukanya.
“Wajahmu…” celetuk Chanyeol.
“Nde, aku bisa sembuh dari luka dalam hitungan detik,” ucap Shinae yang menunjukkan kulit wajahnya yang kembali seperti semula, hanya bercak-bercak darah yang tersisa.
“Itu sebabnya kau menghindari putra mahkota? Kau tak ingin ia tahu jika kau bukan manusia?” tanya Chanyeol.
“Ssssttt!” Ucap Shinae, tangannya menghentikan mulut Chanyeol yang tengah berucap. Kedua matanya menatap Chanyeol dengan berkaca-kaca.
Hhhhgkk! Hhhgkk!! Shinae menangis.
“Aku hanya ingin menjadi manusia seperti kalian,” ucap Shinae.
“Shinae-ya…” celetuk Chanyeol, ia pun meraih tubuh yeoja itu dan memeluknya.
“Jalan!” ucap Wufan dari atas kudanya. Ternyata ia mengikuti Shinae kerumah Chanyeol. maksud hati ingin menanyakan kabar Shinae, namun terpaksa ia harus beringsut pergi ketika melihat Chanyeol tengah memeluk Shinae yang menangis.
------SKIP----------
Langit terlihat mendung hari itu. namun Shinae telah siap dengan pakaiannya untuk berburu bersama putra mahkota.
“Nona, apa kau benar ingin pergi berburu?” tanya ahjumma pada Shinae yang tengah merias wajah.
“Waeyo?” tanya Shinae.
“Apa kau mengkhawatirkannya, ahjumma?” tanya Chanyeol yang seketika menghambur memasuki kamar.
“Nde, yang mulia,” jawab ahjumma.
“Geure, aku akan mengawalnya untukmu,” ucap Chanyeol.
“Andweyo! Sudah ada banyak prajurit istana disana!” seru Shinae.
“Nona… para prajurit istana itu ada untuk melindungi putra mahkota, jika begitu, lalu siapa yang melindungimu?” ucap ahjumma yang begitu menyayangi Shinae seperti anaknya sendiri.
“Geureyo, ahjumma. Gomawo, kau begitu mengkhawatirkanku,” ucap Shinae yang memeluk ahjumma.
“Yang mulia putra mahkota tiba…..” seru sebuah suara dari luar rumah.
“Kajja!” ucap Chanyeol pada Shinae.
“Nona, jaga dirimu baik-baik, arraseo?” ucap ahjumma.
“Nde…” jawab Shinae yang kemudian beringsut keluar bersama Chanyeol.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
“Yang mulia! Apa kau mengizinkanku ikut berburu bersamamu?” tanya Chanyeol pada Hyungnya. Ia sudah membawa Jong-I keluar kandang.
“Mwo? Ah….geure…” jawab Wufan.
“Kajja! Shinae-ya..” ucap Wufan yang meminta Shinae naik kuda bersamanya.
“Ah, nde, yang mulia.” Ucap Shinae yang sempat melihat kearah Chanyeol.
“Gereom, lukamu sudah sembuh rupanya, Shinae-ya..” ucap Wufan yang menoleh kebelakang untuk melihat wajah yeoja yang bersamanya.
“Nde, Chanyeol-ssi memberiku ramuan yang sangat mujarab untuk menyembuhkan luka,” ucap Shinae.
“Ah….begitu…” ucap Wufan. Setelah itu perjalanan menuju hutan pun ditempuh.
-----tiba di hutan---
KRRSSSK!! Terdengar sebuah suara di semak-semak hutan.
“Hwahh…tak biasanya kita seberuntung ini,” ucap Wufan senang karena diketahui seekor rusa berada di semak-semak itu. ia pun mengambil anak panah di belakang tubuhnya. Chanyeol hanya mengamati Shinae dari kejauhan.
“Tetaplah di belakangku Shinae-ya..” ucap Wufan.
KRRKK!! Anak panah mulai ditarik.
SHUTT! Anak panah itu dilepaskan. Namun seketika itu rusa berlari menjauh.
“Ah!!” seru Wufan yang merasa kesal karena bidikannya tak tepat sasaran. Shinae pun tersenyum simpul memandangi putra mahkota yang tampak kesal.
KRRSSKK! Terdengar suara lagi dari semak-semak.
“Kali ini aku tak akan kehilanganmu rusa…” ucap Wufan.
“Yang mulia, aku ingin mencobanya,” celetuk Shinae, ia pun mengambil anak panah dan mengaitkannya pada busur.
“Geure,..” ucap Wufan yang menyerahkan rusa itu untuk dibidik oleh Shinae.
KRRRKK!! Tali busur ditarik oleh Shinae, matanya memicing kearah rusa yang mulai resah.
SHUT!!
GLAK!! Rusa itu terjatuh. Namun begitu sang rusa masih dapat berlari. Para prajurit pun menghambur untuk mengejar rusa yang telah terluka di bagian punggungnya.
“Lihat yang mulia! Aku mengenainya!” seru Shinae senang.
“Nde, berterima kasihlah pada orang yang mengajarimu memanah,” ucap Wufan bangga.
CRRKK!! Tiba-tiba sebuah shuriken melayang kearah putra mahkota, wajahnya pun sedikit tergores hingga menimbulkan bercak darah. Para prajurit pun bersiaga, megeluarkan pedangnya, begitu pula dengan Chanyeol yang seketika menghambur ke depan Wufan dan Shinae. Seketika beberapa kawanan ninja berpakaian hitam muncul dari berbagai arah.
“Siapa kalian!” seru Wufan.
“Kau tak perlu tahu kami!” ucap salah seorang ninja.
“Hiya! Beraninya kau berbicara kerasa pada yang mulia putra mahkota!” seru Chnayeol. Seketika Chanyeol menghempas tubuh ninja itu dengan satu tendangan. Kemudian, perkelahian pun terjadi.
Rimbun pepohonan yang mengepung membuat Chanyeol dan para prajurit kesulitan untuk melindungi Wufan.
“Yang mulia!!” seru Chanyeol, ia bergegas kearah Wufan yang diserang oleh beberapa ninja. Sedangkan Shinae hanya bertahan dengan panahnya. Ayunan pedang mengarah pada leher Wufan.
SRNKK!!! Pedang Chanyeol menangkisnya. Ia menepis pedang yang diarahkan pada leher Wufan oleh ninja itu. Wufan terduduk menahan sakit pada dadanya akibat tendangan yang ia terima, Shinae pun menghambur kearah Wufan.
PRNK!! Terdengar suara gesekan antara pedang dengan pedang. Chanyeol memberi perlawanan pada ninja bertopeng hitam itu. Ia memperhatikan sorot mata ninja yang tengah ia hadapi.
BLAP!! Chanyeol memberikan tendangan pada dada ninja yang bertarung dengannya hingga ninja itu tersungkur diatas tanah. Seketika itu ia menghambur kearah Wufan dan Shinae, ia pun menyerang beberapa ninja yang berusaha melukai putra mahkota dan Shinae. Pedang ditangannya ia ayunkan untuk menebas para ninja misterius. hingga beberapa diantaranya pun tergeletak berlumuran darah. Namun tiba-tiba seorang ninja melemparkan kunai kearah Wufan.
SHUT!!
“Andwe!!” seru Shinae.
JLEP!! Kunai tajam itu menancap pada pangkal leher Shinae.
“Hggkk!!” Shinae menahan sakit pada lehernya. Mulutnya merintih. Matanya tampak sayu hampir terpejam, namun ia masih bisa melihat wajah Wu Fan yang mencemaskannya. Tangannya menyentuh wajah Wu Fan.
“Yang mulia…” ucap Shinae lirih.
“Shinae-ya!!” seru Wufan.
“Arghhh!!!” seru Chanyeol yang marah. Di tebasnya leher ninja yang melempar kunai tersebut.
“Shinae-ya!!” seru Chanyeol yang menghambur kearah yeoja yang tergeletak berleumuran darah diatas tanah. Wufan memangku kepala Shinae di atas pahanya.
“Andweyo, Shinae-ya… kau harus tetap hidup,” ucap Wufan, air mukanya tampak kacau dan cemas.
“Aku harus mencabutnya!” ucap Chanyeol. tangannya telah meraih tangkai kunai itu.
“An-dwe…” ucap Shinae terbata dan sedikit menggelengkan kepala. Karena jika kunai itu dicabut, maka luka pada leher Shinae akan sembuh, jika itu terjadi maka putra mahkota akan mengetahui jika ia bukan manusia.
“Shinae-ya!!! Apa kau ingin mati seperti ini!!” seru Chanyeol, air matanya meluluh melalui pipi dan bercampur dengan keringat.
“Apa yang kau katakan Chanyeol-ah!!” seru Wufan.
“Shinae-ya, mianhae…aku harus melakukannya,” ucap Chanyeol, seraya dengan itu kunai yang menancap pun dicabut olehnya.
“Chanyeol-ah!!” ucap Shinae. Seketika, dengan ajaib, luka yang sangat dalam itu sembuh dan kembali seperti semula. Wufan terbelalak dan melepaskan tangannya dari tubuh Shinae.
PTARR!! Tiba-tiba petir menyambar, langit mendung pun menurunkan rintiknya hingga mnejadi semakin lebat. Mayat para prajurit istana yang berlumuran darah pun tersapu oleh air hujan yang turun.
“Nuguya! Bagaimana bisa!!” seru Wufan yang terkejut.
“Yang mulia….” Ucap Shinae yang bangkit. Sedangkan Chanyeol hanya berdiri diam, air hujan menetes ke tanah melalui dagunya.
“Kau! Kau bukan manusia! Kau telah mempermainkanku!” seru Wufan yang terlihat kecewa. Ia beringsut kearah kudanya. Wajahnya memaling dan tak menengok kebelakang lagi.
“Hhhgkk!! Hhhgkk!! Mianhae yang mulia….” Ucap Shinae lirih.

--to be continue-

Gimana  chingu?? yuk....lanjut baca shoot 2 ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar