Kamis, 22 Januari 2015

ECLIPSE (Shoot 1)

Tittle: Eclipse
Main cast: Park Chanyeol | Wu Yifan | Shinae
Genre: Fusion Fantasy Saeguk
Length: Two Shoot

Don’t be siders! Don’t be plagiators!



Angin berhembus lembut ditepian hulu sungai Han. Suara gemericik air beradu dengan bebatuan dan terdengar seirama dengan suara alam. Seorang namja menunggangi kudanya dan menikmati pemandangan tersebut.

SRRNNNKK!!! Tiba-tiba suara pedang dicabut dari rangkanya terdengar. Sontak, Chanyeol terkejut dan membelalakkan mata.

“HHhhsshhh!!” seseorang mengayun pedang ke  arah Chanyeol yang masih di atas kudanya.

SRRNKK!! Chanyeol pun mencabut pedangnya. Ditangkisnya serangan mendadak itu. tubuhnya melompat dari atas kuda dan berjingkat untuk melawan orang misterius tersebut. Ringikkan kuda memekakan telinga yang mendengarnya.

BLAP BLAP!! Beberapa pukulan mengenai dada Chanyeol, ia sempat merintih menahan sakit. Namun ia segera bangkit dan menyerang.

GLAK!! SHHRKK!! Chanyeol berhasil menjatuhkan pedang lawannya dan membuatnya tersungkur di tanah.
“Huh! Siapa kau!” seru Chanyeol, mata pedang tajamnya mengarah pada leher sosok bertopeng hitam.
“Kemampuanmu jauh lebih baik daripada aku,” ucap sosok itu yang seraya membuka topengnya.
“Hah! Yang mulia! Joseonghamnida Mama (maafkan aku yang mulia),” ucap Chanyeol sambil berlutut di depan Wufan, sang putra mahkota.
“Hiya! Tak ada siapapun disini, panggillah aku seperti biasa,” celetuk Wufan yang membenarkan posisi duduknya, sementara Chanyeol masih tetap berlutut.

“Mianhae, Wufan Hyung, aku tak tahu jika itu dirimu. Lagipula, bagaimana bisa seorang putra mahkota pergi sendiri meninggalkan istana?” ucap Chanyeol.
“Aku bosan berada di istana, Chanyeol-ah. terlebih setelah kau pergi meninggalkan istana,” jawab Wufan.
“Memang sudah peraturan istana jika seorang pangeran harus meninggalkan kerajaan ketika putra mahkota hendak diangkat menjadi seorang raja,” ucap Chanyeol dengan dahi yang mengerut.
“Nde, aku mengerti, tapi setidaknya, aku ingin kau menjadi pejabat pemerintah ketika aku naik tahta. Oleh karena itu, janganlah kau pergi jauh meninggalkan joseon ini,” ucap Wufan, keringatnya mengalir melalui pelipisnya.
“Hyung-ah, sudah berapa kali ku katakan jika keluarga kerajaan tidak diperbolehkan menjadi pejabat pemerintah,” ucap Chanyeol, ia beringsut dan berdiri mendekati kudanya.
“Chanyeol-ah…” celetuk Wufan.
“Yang Mulia..!!” seru para pengawal dan kepala polisi istana. Mereka datang untuk menjemput putra mahkota.
“Segera antar yang mulia pulang ke istana,” ucap Chanyeol pada para pengawal. Setelah itu, ia menaiki kudanya dan meninggalkan Wufan.
“Chanyeol-ah, kuharap kau tidak pergi meninggalkan joseon! Arraseo!!” seru Wufan pada Chanyeol yang mulai menjauh dan tak terlihat lagi.
WWSSHH!! Tiba-tiba angin berhembus kencang. Debu-debu berterbangan kesana-kemari. Daun-daun berguguran.
“Ada apa ini!!” seru tuan Nam, ketua polisi istana. Semua prajurit pun merapatkan barisan diantara kuda putra mahkota. Seketika langit berubah menjadi gelap.
Di tempat yang berbeda, Chanyeol pun merasakan hal yang sama. Kudanya meringik. Angin berhembus kencang bahkan menggugurkan daun-daun serta mematahkan rantingnya. Seketika langit berubah gelap. Matahari tertutup benda asing. Dan Gelap!
Ngiikk!!! Kuda Chanyeol kembali meringik, kakinya terselip diantara bebatuan. Badan kuda tak mampu menyeimbangkan posisinya. Chanyeol pun kebingungan mengendalikan Jong, kuda kesayangannya.
“Jong-ie…. Waeyo?” celetuk Chanyeol panik.
BLAPP!! kuda itu menjatuhkan tuannya. Chanyeol terpental menghantam bebatuan dan terjatuh ke sungai yang dalam.
BYURR!!! Tubuh Chanyeol jatuh hingga menyentuh dasar sungai. Gelembung-gelembung udara menyembul bagaikan buih melalui mulutnya. Matanya masih sedikit terbuka, walau hanya melihat gelapnya dasar sungai karena matahari masih tertutup benda asing.
“Mwoya? Apa aku akan mati seperti ini?” batin Chanyeol yang tubuhnya terasa ringan bagaikan kapas. Pedang ditangannya telah terlepas begitu saja. Kedua matanya hampir terpejam. Buih-buih yang keluar dari mulutnya perlahan menghilang.
BLup…blup..blup… Tiba-tiba terdengar suara buih yang lain.
HUG! Lengan seseorang meraih tubuh Chanyeol yang terombang-ambing di gelapnya dasar sungai. Sosok itu mengangkat tubuh Chanyeol untuk muncul ke permukaan.
BYURR!!! Ia berhasil muncul ke permukaan bersama tubuh Chanyeol. seketika itu pula gerhana matahari usai. Langit kembali cerah dan terang. Sosok itu membawa tubuh Chanyeol ke sebuah goa yang berada di sekitaran tebing dekat sungai.
“Ahjussi! Sadarlah!” seru yeoja yang menyelamatkan Chanyeol. wajah Chanyeol masih tampak pucat dan tubuhnya terasa begitu dingin. Yeoja itu pun mengulurkan kedua tangannya ke wajah Chanyeol. ia memejamkan mata dan memberikan energi hangat pada tubuh Chanyeol.
Hggk!! Hggk!! Tiba-tiba Chanyeol terbatuk dan mulai membuka mata perlahan. Chanyeol menangkap kedua tangan yeoja yang menyentuh wajahnya.
“Apa ini surga?” celetuk Chanyeol yang terbaring dekat dengan perapian.
“Ahjussi? Kau sadar? Gwenchana?” tanya yeoja itu, wajahnya bersinar begitu cantik.
“Hiya! Apa kau bidadari surga?” tanya Chanyeol yang melihat sosok yeoja bergaun putih didepannya.
“Nde, aku memang bidadari yang turun ke bumi karena murka kaisar langit padaku,” ucap yeoja itu. seketika, Chanyeol melepaskan kedua tangan yeoja yang digenggamnya.
“Mwo? haha, Apa kau bergurau? Siapa kau!” seru Chanyeol yang bangkit dan menjauh dari yeoja itu.
“Aku Shinae, ahjussi, apa kau ingat gerhana matahari yang tadi terjadi?” tanya Shinae.
“Hiya! Jangan panggil aku dengan sebutan ahjussi!” seru Chanyeol marah.
“Ah, mianhae, gereomyo, aku harus memanggilmu apa, tuan?” tanya Shinae.
“Park Chanyeol, itu namaku. Aku adalah pangeran negeri ini.” Jawab Chanyeol.
“jinjjayo? Chanyeol-ssi, geure, kalau begitu aku dapat meminta bantuanmu,” ucap Shinae. Perapian yang tadi menyala-nyala pun mulai mati.
Wuuffhh! Shinae melempar udara ke arah perapian itu, seketika api menyala kembali.
“Hah!!” seru Chanyeol terkejut.
“Waeyo? Apa kau mulai percaya jika aku adalah bidadari?” tanya Shinae.
“Shinae-ssi? gereom, apa yang membuat kaisar langit marah padamu?” tanya Chanyeol. shinae pun beringsut mendekati Chanyeol yang duduk bersandar di dinding goa.
“Itu karena aku menyukai anak manusia,” jawab Shinae.
“Mwo!” ucap Chanyeol terkejut.
“Putra mahkota negeri ini. Apabila aku mampu mendapatkan cinta tulusnya, maka aku akan menjadi manusia seutuhnya,” jawab Shinae.
“Apa yang terjadi jika kau tidak mendapatkan cintanya?” tanya Chanyeol.
“Aku harus kembali ke khayangan dan menerima hukuman,” jawab Shinae.
“Hukuman apa itu?” tanya Chanyeol.
“Mollayo…” celetuk Shinae. Yeoja itu pun termenung.
Senja mulai tiba. Kawanan kelelawar mulai bergerak keluar goa. Suara petang mulai menyambut malam. Chanyeol memutuskan untuk pulang kerumahnya.
“Kajja! Hari mulai gelap,” ucap Chanyeol.
“Kau ingin mengajakku kemana? Bertemu putra mahkota?” tanya Shinae.
“Nde,” jawab Chanyeol singkat, ia pun meraih tangan Shinae dan menggandengnya keluar goa.
 “Jeongmalyo? Khamsahamnida Chanyeol-ssi!” seru Shinae sambil menjinjing hanboknya.
FLSHHH! Kuda cokelat itu melaju. Chanyeol meletakkan kedua tangan Shinae untuk melingkar pada perutnya agar tak terjatuh. Rambut  panjang Shinae tampak terkibas kearah belakang.
---SKIP---
--di rumah—
Perjalanan yang sedikit panjang membuat Shinae yang baru jatuh ke bumi merasa lelah. Yeoja itupun tak mampu menopang tubuhnya ketika turun dari kuda.
BRRAKK!
“Hiya! Shinae-ssi? gwenchana?” tanya Chanyeol yang refleks menolong Shinae. Di raihnya tubuh yeoja yang menolongnya itu. ia merasakan hanbok basah dan dingin melekat pada tubuh Shinae ketika memapahnya.
“Nde, Chanyeol-ssi, gomawo. Sepertinya energiku terkuras habis,” jawab Shinae yang berusaha berdiri tegak. Dalam pikiran Chanyeol, ia teringat ketika Shinae terjun ke sungai dan menolongnya. Di tatapnya yeoja yang berjalan disampingnya. Butir keringat terlihat jelas mencuat pada dahi dan mengalir melalui pelipis Shinae.
“Hhhhsshhh! Hhhhshh!” terdengar nafas Shinae yang menyembul ke udara malam yang dingin. Matanya tampak sayu, keringatnya semakin banyak keluar, hingga yeoja itu pun tak mampu berjalan sendiri memasuki gerbang rumah meski dipapah oleh Chanyeol.
“Shinae-ssi! Shinae-ya!!” seru Chanyeol. Ia pun segera menggendong tubuh Shinae memasuki rumahnya.
“Ahjumma! Bantu aku!” seru Chanyeol pada salah satu pembantu rumahnya. Ia hanya tinggal sendiri, sedangkan sang Ibu, selir Hee Bin (selir tingkat satu), tetap tinggal di istana bersama Raja.
“Nde, yang mulia,” ucap Ahjumma.
Chanyeol membaringkan tubuh Shinae dalam sebuah bilik. Tampak olehnya jika yeoja itu menggigil.
“Biar saya mengganti pakaian nona ini, yang mulia,” ucap ahjumma.
“Geure, aku akan membawakan air hangat untuknya,” ucap Chanyeol yang kemudian beringsut untuk mengambil air hangat.
--setelah beberapa menit—
Chanyeol kembali dengan membawa air hangat untuk Shinae.
“Ah!” celetuk Chanyeol yang tanpa mengetuk pintu langsung menghambur memasuki kamar. Ketika itu ahjumma belum selesai mengganti pakaian Shinae. Chanyeol pun berbalik badan.
“Apa aku sudah boleh masuk ahjumma?” tanya Chanyeol.
“Nde, yang mulia,” jawab Ahjumma. Ahjumma pun membasuh wajah Shinae dengan air hangat yang dibawa Chanyeol. Tubuh Shinae telah dibalut dengan kain berlipat-lipat, akan tetapi suhu tubuhnya masih saja terasa begitu dingin ketika disentuh.
Hari mulai larut. Angin malam perlahan menerobos masuk melalui ventilasi. Rintik hujan mulai terdengar diluar.
“Ahjumma, kau istirahatlah,” ucap Chanyeol.
“Tapi yang mulia?” ucap ahjumma.
“Aku akan menjaga nona Shinae,” ucap Chanyeol lagi.
“Arraseo…” ahjumma pun beringsut pergi.
Angin semakin bertiup kencang. Hujan semakin lebat.
WWSHHH!! Tiba-tiba angin memadamkan lilin-lilin pada kamar itu. chanyeol pun beringsut untuk menghidupkannya kembali.
“Joseonghamnida MaMa!! Joseonghamnida (Maafkan aku, Kaisar!)” Ucap Shinae, matanya masih terpejam. Wajahnya tampak pucat dan berkeringat. Ia bermimpi dijatuhi hukuman oleh kaisar langit karena gagal mendapatkan cinta tulus putra mahkota.
“Shinae-ssi! gwenchana?” ucap Chanyeol yang mendapati yeoja itu mengigau. Ia pun meraih tubuh Shinae dan memeluknya. Mata Shinae masih terpejam namun mulutnya yang terus menyebut kaisar langit pun perlahan berhenti.
“Shinae-ya…” celetuk Chanyeol yang perlahan melepaskan pelukannya dan membaringkan Shinae kembali. Dipandangnya wajah Shinae dengan begitu lekat. Seketika, ia kembali teringat dengan kejadian yang baru terjadi, ketika ia jatuh ke dasar sungai dan bidadari itu menolongnya. Tanpa sadar, Chanyeol menyentuh wajah Shinae mulai dari dahi hingga ke dagu.
“Bagaimana jika aku mengurungkan niat untuk membawamu bertemu putra mahkota,” ucap Chanyeol yang masih memandangi yeoja yang terbaring itu.
-----SKIP-----
Pagi menjelang, Chanyeol masih tertidur dengan bersandar pada dinding kamar. Perlahan, Shinae terbangun, dipandangnya namja tampan yang masih terpejam itu.
“Manusia berhati mulia,” celetuk Shinae, ia beringsut mendekat pada Chanyeol.
“Apakah semua manusia bumi baik seperti orang ini, kaisar?” batin Shinae, ia memandangi wajah Chanyeol dengan begitu dekat.
“Jinjja! Ternyata kau cukup tampan,” ucap Shinae lirih, tangannya menyentuh bulu mata Chanyeol.
HAPP!! Tiba-tiba Chanyeol menggenggam tangan Shinae dan matanya terbuka.
“Omo!!” seru Shinae yang terkejut, tubuhnya melonjak ke arah belakang.
“Hiya!! Kenapa kau mengejutkanku?” tanya Shinae.
“Anni… kau yang mengganggu tidurku, Shinae-ya.” Jawab Chanyeol.
“Mw-mwo? ah, mianhae,” ucap Shinae.
“Yang Mulia, semuanya sudah siap,” ucap ahjumma dari luar kamar.
“Nde, ahjumma!” ucap Chanyeol.
GRRPP!! Ahjumma membuka pintu dan memasuki kamar. Wanita tua itu membawa sebuah hanbok beserta alat riasnya.
“Ini nona,” ucap Ahjumma yang memberikan benda-benda itu pada Shinae.
“Ini?” tanya Shinae.
“Palliwa! Aku ingin segera membalas budimu yang telah menolongku.” Jawab Chanyeol.
“Mwo?”
“Aku akan membawamu memasuki istana,” jawab Chanyeol.
“Jeongmalyo? Khamsahamnida Chanyeol-ssi!” seru Shinae senang. Setelah itu, Chanyeol beringsut meninggalkan Shinae.
“Chakaman!” ucap Chanyeol, ia kembali menghampiri Shinae. Diulurkan tangannya ke dahi yeoja itu.
“Mwoya?” tanya Shinae.
“Geure, kurasa kau sudah sembuh,” jawab Chanyeol yang kemudian melepaskan sentuhan tangannya pada dahi Shinae. Ia pun benar-benar meninggalkan Shinae dalam kamarnya. Setelah Chanyeol meninggalkannya, tangan Shinae menyentuh dahinya sendiri.
“Hiya….ini pertama kalinya ada yang memperhatikanku,” batin Shinae.
--SKIP---
Chanyeol tengah duduk sambil menikmati hidangan dan teh hijau yang disiapkan Ahjumma. Pagi itu, cuaca tampak cerah meski semalam hujan cukup lebat.
GRRPP! Pintu dibuka oleh ahjumma.
“Silahkan nona,” celetuk ahjumma yang mempersilahkan Shinae masuk. Perlahan, Shinae melangkah memasuki ruangan. Tangannya menjinjing hanbok merah muda yang dikenakannya. Senyuman manis tergurat pada bibirnya, sebelah tangannya membenarkan posisi jepit bunga pada rambut panjangnya.
Hhhggkk! Tiba-tiba Chanyeol terbatuk karena tersedak teh hijau.
“Eotheyo, bukankah nona Shinae sangat cantik, yang mulia?” tanya Ahjumma. Namun Chanyeol tak menjawab, ia masih memandangi Shinae yang berdiri dihadapannya.
“Chanyeol-ssi!” seru Shinae yang melihat Chanyeol tertegun.
“Ah, nde! Duduklah,” ucap Chanyeol.
“Saya permisi, yang mulia.” Ucap ahjumma.
“Bagaimana? Apakah putra mahkota akan menyukaiku?” tanya Shinae. Namun, Chanyeol tak menjawab, ia justru menyodorkan semangkuk nasi beserta lauk pada yeoja itu.
“Makanlah,” celetuk Chanyeol.
“Geureyo…” ucap Shinae. Yeoja itu pun menikmati hidangan yang disiapkan untuknya.
“Ahh jinjja,” celetuk Chanyeol yang tangannya seraya membersihkan saus yang mengotori sudut bibir Shinae. Yeoja itu pun terkejut, kedua matanya menatap Chanyeol.
“Manusia ini sungguh baik, kaisar…” batin Shinae sambil memandangi Chanyeol.
“Hhhhhfff!!” tiba-tiba Chanyeol menghela nafas, ia tersadar akan apa yang telah ia lakukan.
“Mianhae Shinae-ya, kau jangan sampai salah paham dengan ini,” ucap Chanyeol.
“Ah, anniya…gomawoyo, aku terlalu ceroboh,” ucap Shinae yang tersenyum dan melanjutkan makannya.
“Hiyaa….mwoya…? ada apa denganku ini, huh?” batin Chanyeol yang memegangi dadanya.
---SKIP---
“Kajja!” ucap Chanyeol yang sudah membawa kudanya. Shinae pun menjinjing hanbok dan berjalan menghampiri Chanyeol.
“Ah! eothoke…” keluh Shinae yang tak kunjung berhasil naik ke atas kuda.
HAPP! Chanyeol membantunya naik dengan kedua tangannya.
“Gomawoyo,” ucap Shinae yang sedikit tersipu malu, karena bahkan seorang bidadari tak mampu naik ke atas kuda.
“Gereom, kenapa tak kau tunjukkan lagi padaku kekuatanmu?” tanya Chanyeol sedikit mengejek.
“Hiya!! Separuh kekuatanku dicabut oleh kaisar langit, sedangkan sisanya….”jawab Shinae yang tak melanjutkan ucapannya.
“Wae?” tanya Chanyeol yang belum naik ke atas kuda.
“Untuk menyelamatkan kehidupanmu,” jawab Shinae. Seketika ekspresi Chanyeol berubah, suasana menjadi hening.
“Hiya! Cepatlah naik!” seru Shinae pada Chanyeol.
“Ah, nde..” celetuk Chanyeol, ia semakin merasa berhutang budi pada yeoja itu.
-------------------------
--tiba di istana—
“Chanyeol-ah!” seru Wufan yang tengah berolahraga panah. Chanyeol pun melambai, Shinae mengekor dibelakangnya.
“Salam yang mulia,” ucap Chanyeol.
“Cuaca begitu cerah, memanahlah bersamaku Chanyeol-ah,” ajak Wufan, ia belum menyadari kehadiran seorang yeoja.
“Nde, gereomyo…” celetuk Chanyeol, Shinae pun keluar dari balik tubuh Chanyeol.
“Anneyonghaseo, yang mulia,” ucap Shinae.
“Yeputa..” batin Wufan.
“Yang mulia, Shinae-ssi adalah orang yang menyelamatkanku kemarin,” ucap Chanyeol.
“Mwo? apa yang terjadi denganmu?” tanya Wufan yang terkejut.
“Aku terjatuh ke dasar sungai ketika gerhana terjadi,” jawab Chanyeol.
“Jeongmalyo? Bagian mana yang terluka? Huh?” tanya Wufan, ia memeriksa keadaan adiknya.
“Anniymida, Mama. Chanyeol-ssi baik-baik saja.” Ucap Shinae.
“khamsahamnida, Shinae-ssi,” ucap Wufan.
“Nde, yang mulia,” ucap Shinae.
“Gereom, apa kau ingin coba?” ucap Wufan yang seraya memberikan busur dan anak panah pada Shinae.
“Suatu kehormatan bagi saya untuk mencobanya yang mulia,” jawab Shinae yang menerima busur dan anak panah dengan kedua tangan.
KRRKK!! Tali busur ditarik kuat oleh Shinae, matanya memicing untuk membidik papan kayu yang berjarak sekian meter di depannya.
“Aku tak yakin kau bisa, haha,” celetuk Chanyeol yang menertawakan yeoja itu.
“Lihatlah!” seru Shinae. Tangannya melepaskan anak panah itu.
GLAKK! Anak panah terjatuh di atas tanah.
“Haha! Bahkan sampai pun tidak!” seru Chanyeol yang terus menertawakan Shinae. Yeoja itu tampak kesal, raut mukanya ditekuk dan memandang marah kearah Chanyeol. Wufan yang berdiri disamping Chanyeol pun beringsut menghampiri Shinae.
“Akan kuajari kau cara memanah dengan benar,” ucap Wufan yang seraya menyentuh tangan Shinae yang menggenggam busur. Shinae pun terkejut, ditatapnya kedua mata Wufan yang juga menatapnya.
“Yang mulia…” ucap Shinae lirih. Wufan pun tersenyum pada Shinae.
“Apa yang mereka lakukan….” Batin Chanyeol, kakinya hendak melangkah menghampiri. Namun ia menghentikannya dan berbalik pergi meninggalkan Shinae bersama putra mahkota. Kepalanya sempat menengok kembali kearah Wufan, dilihatnya senyuman Shinae yang terlihat begitu manis dihadapan Wufan.
----SKIP----
Hari mulai petang. Chanyeol berjalan mondar-mandir di beranda rumahnya.
“Aishh..apa saja yang dia lakukan disana?” ucap Chanyeol yang menggerutu.
“Apa dia menginap di istana?” Chanyeol menggerutu lagi.
“Yang mulia, apa yang membuatmu risau?” tanya ahjumma.
“Yang mulia…” ucap Ahjumma lagi karena Chanyeol tak memberinya tanggapan.
“Wae!!” seru Chanyeol kesal.
“Ah, mianhae ahjumma,” ucap Chanyeol lagi yang merasa tak sopan pada ahjumma, pembantu rumah yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri.
“Apa yang mulia memikirkan nona itu?” tanya ahjumma.
“Mwo? memikirkannya?” ucap Chanyeol yang berbalik bertanya.
“Ah,…anni…aku memikirkan cara untuk merebut tahta dari kakakku, ahjumma!” ucap Chanyeol yang membelalakan mata dan mengepalkan tangan.
“Yang mulia…! Itu sama saja dengan pengkhianatan,” ucap ahjumma.
“Hiya! Ahjumma! Aku hanya bergurau, arraseo!” seru Chanyeol yang diikuti tawanya.
“Ahjumma!!” seru sebuah suara dari arah gerbang. sosok itu menghambur masuk dan memeluk ahjuma di depan Chanyeol.
“Nona Shinae? Apa yang membuatmu tampak bahagia?” tanya ahjumma.
“Yang mulia putra mahkota mengajakku berburu di hutan lusa,” jawab Shinae.
“Jeongmalyo? Tapi nona, hutan itu tempat yang berbahaya,” ucap ahjumma.
“Biarlah! Biar saja dia diterkam harimau atau dipatuk ular ahjumma,” ucap Chanyeol menyeringai dan beringsut masuk rumah.
“Hiya! Chanyeol-ssi!” seru Shinae.
“Geure, ahjumma, apa kau mau menemaniku ke pasar esok? Putra mahkota memberiku ini,” ucap Shinae sambil menunjukkan beberapa ikat koin.
“Tentu nona,” jawab ahjumma. Chanyeol mendengarkan percakapan ahjuma dengan Shinae dari balik pintu.
--SKIP---
“Ahjumma! Kajja!” seru Shinae, ia telah berdiri di depan pintu. Tangannya langsung menggandeng lengan ahjumma dan bergegas pergi.
“ahjumma! Kau ingin pergi kemana?” tanya Chanyeol yang menghambur keluar dari kandang Jong, kuda kesayangannya. Namun ahjumma tidak mendengar ucapan majikannya, Shinae terlalu bersemangat membawa ahjuma bersamanya.
---------------------------------------------------------------------------------------------
Suasana pasar di bantaran sungai Han nampak begitu ramai. Terdapat beberapa penjual dan pembeli yang tengah melakukan negosiasi. Masih berlaku sistem barter di era ini, walaupun uang sesungguhnya sudah disepakati sebagai alat tukar yang sah. Beberapa rumah membuka kedai makan yang pasti menyediakan soju bagi para pelanggan yang menginginkannya.
“Ah, ahjumma…” celetuk Shinae yang menarik lengan ahjumma kearah penjual perhiasan rambut dan hanbok.
“Eotte?” tanya Shinae yang mencoba jepit rambut berbentuk matahari.
“Cantik nona, terlebih kau yang mengenakannya,” jawab ahjumma.
“Jinjjayo, kajja!” ajak Shinae ke tempat lain.
“Apa kau tak ingin membelinya nona?” tanya ahjumma.
“Anniya… aku sudah punya ini,” jawab Shinae yang menunjukkan jepit rambut berbentuk bunga di rambutnya. Jepit itu pemberian ahjumma ketika ia pertama menginap di rumah Chanyeol. Shinae pun menuju sebuah toko kain bersama ahjumma. Di saat yang bersamaan, Chanyeol muncul dan mengamati dari jauh.
“Aku ingin membuat pakaian untuk berburu bersama putra mahkota, ahjumma,” celetuk Shinae.
“Geure, kita harus memilih warna yang cocok untukmu nona,” ucap ahjumma.
Setelah lama mengitari pasar, Shinae dan ahjumma merasa lelah. Mereka pun mampir sebentar ke sebuah kedai minum.
“Biar aku saja yang mengambil jahitan bajumu besok, nona,” ucap ahjumma.
“Waeyo? Aku ikut bersamamu ahjumma.” Ucap Shinae.
BRAKK! Tiba-tiba seorang pria berpakaian lusuh datang ke kedai.
“Ahjuma!! Aku minta sojunya satu botol!” Seru Dong Wook, seorang petugas polisi berpangkat rendah.
“Andweyo! apa kau pikir aku mengizinkanmu mabuk disiang hari, Dong Wook-ssi?” ucap ahjumma pemilik kedai.
“Hiya!! Apa kau ingin bermain-main denganku, huh!!” seru Dong Wook.
SRANKKK!! Tiba-tiba sebilah pedang dicabut dari rangkanya. Ujung pedang itu mengarah pada Ahjuma kikir pemilik kedai.
“Mw-mwoya?? Mworago?” celetuk Ahjuma terkejut, kedua tangannya bersandar pada meja untuk menahan tubuhnya yang doyong ke belakang karena berusaha menghindar sayatan pedang tajam pada lehernya. Semua orang hanya melihat dengan ngeri.
“Hiya! Ahjussi!” seru Shinae.
“Nona! Jangan ikut campur urusan mereka,” ucap ahjuma yang menyentuh lengan Shinae.
“Kupikir semua manusia bumi itu baik, Cuhh” ucap Shinae lirih dan meludah dihadapan Dong Wook.
“Hiya! Apa kau menghinaku!! Jinjja!” seru Dong Wook yang seketika melepaskan ahjuma pemilik kedai dari pedangnya.
“Wajahmu begitu cantik, nona! Tidakkah kau menyayangi kecantikanmu itu?” tanya Dong Wook yang semakin mendekat pada Shinae. Yeoja itu pun terpojok ke sudut kedai.
SRRNKK!!! Pedang Dong Wook mengarah pada wajah Shinae.
“Mwoya!!” seru Shinae.
“Apa kau takut? Nona?” ucap Dong Wook.
“Anni… manusia tak tau diuntung, cuhh…” Shinae meludah tepat di wajah Dong Wook.
“Hiya!!” seru Dong Wook marah. Pedangnya menyentuh kulit wajah Shinae. Yeoja itu pun memejamkan mata.
GLAAKK!! Seseorang menjauhkan tubuh Dong Wook dari Shinae dengan menendangnya.
“Yang mulia putra mahkota tiba…!!” seru prajurit istana, semua orang pun menunduk memberi salam hormat.
“Shinae-ya! Gwenchana?” tanya Wufan yang menyentuh wajah Shinae dengan kedua tangannya.
“Segera urus prajurit rendahan itu!” seru putra mahkota. Dong Wook berhasil dilumpuhkan oleh prajurit istana.
“Khamsahamnida, yang mulia putra mahkota,” ucap Shinae.
“Ah, wajahmu…” ucap Wufan, tangannya terkena lelehan darah yang keluar dari samping kiri wajah Shinae. Yeoja itu sedikit tergores pedang Dong Wook.
“Gwenchana yang mulia, gwenchana.” Ucap SHinae yang menutupi lukanya.
“Shinae-ya..!” seru Chanyeol yang terengah datang.
“Chanyeol-ssi!!” seru Shinae yang menghambur kearah Chanyeol sambil menutupi lukanya.
“Segera bawa aku pulang,” pinta Shinae lirih pada Chanyeol.
“Waeyo? Bukankah ada putra mahkota disini?” celetuk Chanyeol.
“Cepatlah! Tak perlu banyak cakap!” Ucap Shinae.
“Khamsahamnida yang mulia, kau sudah menolongku. Gereom, aku harus segera pulang,” ucap Shinae yang kemudian memberi salam dan pergi bersama Chanyeol dan ahjumma.
“Shinae-ssi!!” seru Wufan yang bingung terhadap sikap Shinae.
“Apa kita perlu mengejarnya yang mulia?” tanya salah seorang prajurit istana.
“Tak perlu, kurasa dia aman bersama Chanyeol,” jawab Wufan.
---SKIP---
Tiba dirumah, ahjumma langsung bergegas ingin mengambil kain beserta obat untuk luka Shinae.
“Ahjumma! Tak perlu!” seru Shinae, tangannya masih menutupi lukanya.
“Tapi nona…” ucap ahjuma.
“Kubilang tak perlu, istirahatlah saja, kau pasti lelah, ahjumma,” ucap Shinae. Ahjumma pun menuruti permintaan Shinae, ia meninggalkan Shinae yang tengah bersama Chanyeol.
“Waeyo?” tanya Chanyeol. Shinae pun membuka tangan yang menutupi lukanya.
“Wajahmu…” celetuk Chanyeol.
“Nde, aku bisa sembuh dari luka dalam hitungan detik,” ucap Shinae yang menunjukkan kulit wajahnya yang kembali seperti semula, hanya bercak-bercak darah yang tersisa.
“Itu sebabnya kau menghindari putra mahkota? Kau tak ingin ia tahu jika kau bukan manusia?” tanya Chanyeol.
“Ssssttt!” Ucap Shinae, tangannya menghentikan mulut Chanyeol yang tengah berucap. Kedua matanya menatap Chanyeol dengan berkaca-kaca.
Hhhhgkk! Hhhgkk!! Shinae menangis.
“Aku hanya ingin menjadi manusia seperti kalian,” ucap Shinae.
“Shinae-ya…” celetuk Chanyeol, ia pun meraih tubuh yeoja itu dan memeluknya.
“Jalan!” ucap Wufan dari atas kudanya. Ternyata ia mengikuti Shinae kerumah Chanyeol. maksud hati ingin menanyakan kabar Shinae, namun terpaksa ia harus beringsut pergi ketika melihat Chanyeol tengah memeluk Shinae yang menangis.
------SKIP----------
Langit terlihat mendung hari itu. namun Shinae telah siap dengan pakaiannya untuk berburu bersama putra mahkota.
“Nona, apa kau benar ingin pergi berburu?” tanya ahjumma pada Shinae yang tengah merias wajah.
“Waeyo?” tanya Shinae.
“Apa kau mengkhawatirkannya, ahjumma?” tanya Chanyeol yang seketika menghambur memasuki kamar.
“Nde, yang mulia,” jawab ahjumma.
“Geure, aku akan mengawalnya untukmu,” ucap Chanyeol.
“Andweyo! Sudah ada banyak prajurit istana disana!” seru Shinae.
“Nona… para prajurit istana itu ada untuk melindungi putra mahkota, jika begitu, lalu siapa yang melindungimu?” ucap ahjumma yang begitu menyayangi Shinae seperti anaknya sendiri.
“Geureyo, ahjumma. Gomawo, kau begitu mengkhawatirkanku,” ucap Shinae yang memeluk ahjumma.
“Yang mulia putra mahkota tiba…..” seru sebuah suara dari luar rumah.
“Kajja!” ucap Chanyeol pada Shinae.
“Nona, jaga dirimu baik-baik, arraseo?” ucap ahjumma.
“Nde…” jawab Shinae yang kemudian beringsut keluar bersama Chanyeol.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
“Yang mulia! Apa kau mengizinkanku ikut berburu bersamamu?” tanya Chanyeol pada Hyungnya. Ia sudah membawa Jong-I keluar kandang.
“Mwo? Ah….geure…” jawab Wufan.
“Kajja! Shinae-ya..” ucap Wufan yang meminta Shinae naik kuda bersamanya.
“Ah, nde, yang mulia.” Ucap Shinae yang sempat melihat kearah Chanyeol.
“Gereom, lukamu sudah sembuh rupanya, Shinae-ya..” ucap Wufan yang menoleh kebelakang untuk melihat wajah yeoja yang bersamanya.
“Nde, Chanyeol-ssi memberiku ramuan yang sangat mujarab untuk menyembuhkan luka,” ucap Shinae.
“Ah….begitu…” ucap Wufan. Setelah itu perjalanan menuju hutan pun ditempuh.
-----tiba di hutan---
KRRSSSK!! Terdengar sebuah suara di semak-semak hutan.
“Hwahh…tak biasanya kita seberuntung ini,” ucap Wufan senang karena diketahui seekor rusa berada di semak-semak itu. ia pun mengambil anak panah di belakang tubuhnya. Chanyeol hanya mengamati Shinae dari kejauhan.
“Tetaplah di belakangku Shinae-ya..” ucap Wufan.
KRRKK!! Anak panah mulai ditarik.
SHUTT! Anak panah itu dilepaskan. Namun seketika itu rusa berlari menjauh.
“Ah!!” seru Wufan yang merasa kesal karena bidikannya tak tepat sasaran. Shinae pun tersenyum simpul memandangi putra mahkota yang tampak kesal.
KRRSSKK! Terdengar suara lagi dari semak-semak.
“Kali ini aku tak akan kehilanganmu rusa…” ucap Wufan.
“Yang mulia, aku ingin mencobanya,” celetuk Shinae, ia pun mengambil anak panah dan mengaitkannya pada busur.
“Geure,..” ucap Wufan yang menyerahkan rusa itu untuk dibidik oleh Shinae.
KRRRKK!! Tali busur ditarik oleh Shinae, matanya memicing kearah rusa yang mulai resah.
SHUT!!
GLAK!! Rusa itu terjatuh. Namun begitu sang rusa masih dapat berlari. Para prajurit pun menghambur untuk mengejar rusa yang telah terluka di bagian punggungnya.
“Lihat yang mulia! Aku mengenainya!” seru Shinae senang.
“Nde, berterima kasihlah pada orang yang mengajarimu memanah,” ucap Wufan bangga.
CRRKK!! Tiba-tiba sebuah shuriken melayang kearah putra mahkota, wajahnya pun sedikit tergores hingga menimbulkan bercak darah. Para prajurit pun bersiaga, megeluarkan pedangnya, begitu pula dengan Chanyeol yang seketika menghambur ke depan Wufan dan Shinae. Seketika beberapa kawanan ninja berpakaian hitam muncul dari berbagai arah.
“Siapa kalian!” seru Wufan.
“Kau tak perlu tahu kami!” ucap salah seorang ninja.
“Hiya! Beraninya kau berbicara kerasa pada yang mulia putra mahkota!” seru Chnayeol. Seketika Chanyeol menghempas tubuh ninja itu dengan satu tendangan. Kemudian, perkelahian pun terjadi.
Rimbun pepohonan yang mengepung membuat Chanyeol dan para prajurit kesulitan untuk melindungi Wufan.
“Yang mulia!!” seru Chanyeol, ia bergegas kearah Wufan yang diserang oleh beberapa ninja. Sedangkan Shinae hanya bertahan dengan panahnya. Ayunan pedang mengarah pada leher Wufan.
SRNKK!!! Pedang Chanyeol menangkisnya. Ia menepis pedang yang diarahkan pada leher Wufan oleh ninja itu. Wufan terduduk menahan sakit pada dadanya akibat tendangan yang ia terima, Shinae pun menghambur kearah Wufan.
PRNK!! Terdengar suara gesekan antara pedang dengan pedang. Chanyeol memberi perlawanan pada ninja bertopeng hitam itu. Ia memperhatikan sorot mata ninja yang tengah ia hadapi.
BLAP!! Chanyeol memberikan tendangan pada dada ninja yang bertarung dengannya hingga ninja itu tersungkur diatas tanah. Seketika itu ia menghambur kearah Wufan dan Shinae, ia pun menyerang beberapa ninja yang berusaha melukai putra mahkota dan Shinae. Pedang ditangannya ia ayunkan untuk menebas para ninja misterius. hingga beberapa diantaranya pun tergeletak berlumuran darah. Namun tiba-tiba seorang ninja melemparkan kunai kearah Wufan.
SHUT!!
“Andwe!!” seru Shinae.
JLEP!! Kunai tajam itu menancap pada pangkal leher Shinae.
“Hggkk!!” Shinae menahan sakit pada lehernya. Mulutnya merintih. Matanya tampak sayu hampir terpejam, namun ia masih bisa melihat wajah Wu Fan yang mencemaskannya. Tangannya menyentuh wajah Wu Fan.
“Yang mulia…” ucap Shinae lirih.
“Shinae-ya!!” seru Wufan.
“Arghhh!!!” seru Chanyeol yang marah. Di tebasnya leher ninja yang melempar kunai tersebut.
“Shinae-ya!!” seru Chanyeol yang menghambur kearah yeoja yang tergeletak berleumuran darah diatas tanah. Wufan memangku kepala Shinae di atas pahanya.
“Andweyo, Shinae-ya… kau harus tetap hidup,” ucap Wufan, air mukanya tampak kacau dan cemas.
“Aku harus mencabutnya!” ucap Chanyeol. tangannya telah meraih tangkai kunai itu.
“An-dwe…” ucap Shinae terbata dan sedikit menggelengkan kepala. Karena jika kunai itu dicabut, maka luka pada leher Shinae akan sembuh, jika itu terjadi maka putra mahkota akan mengetahui jika ia bukan manusia.
“Shinae-ya!!! Apa kau ingin mati seperti ini!!” seru Chanyeol, air matanya meluluh melalui pipi dan bercampur dengan keringat.
“Apa yang kau katakan Chanyeol-ah!!” seru Wufan.
“Shinae-ya, mianhae…aku harus melakukannya,” ucap Chanyeol, seraya dengan itu kunai yang menancap pun dicabut olehnya.
“Chanyeol-ah!!” ucap Shinae. Seketika, dengan ajaib, luka yang sangat dalam itu sembuh dan kembali seperti semula. Wufan terbelalak dan melepaskan tangannya dari tubuh Shinae.
PTARR!! Tiba-tiba petir menyambar, langit mendung pun menurunkan rintiknya hingga mnejadi semakin lebat. Mayat para prajurit istana yang berlumuran darah pun tersapu oleh air hujan yang turun.
“Nuguya! Bagaimana bisa!!” seru Wufan yang terkejut.
“Yang mulia….” Ucap Shinae yang bangkit. Sedangkan Chanyeol hanya berdiri diam, air hujan menetes ke tanah melalui dagunya.
“Kau! Kau bukan manusia! Kau telah mempermainkanku!” seru Wufan yang terlihat kecewa. Ia beringsut kearah kudanya. Wajahnya memaling dan tak menengok kebelakang lagi.
“Hhhgkk!! Hhhgkk!! Mianhae yang mulia….” Ucap Shinae lirih.

--to be continue-

Gimana  chingu?? yuk....lanjut baca shoot 2 ^^

SHADOW (FF One Shoot)

Tittle: SHADOW
Main Cast: Oh Sehun | Park Chanyeol | Kwan Jiu
Genre: Romance Mistery
Type: ONE SHOOT


 ~SHADOW~
-Kwan Jiu Pov-
PTARR!! Petir menyambar di langit. Aku pun terlonjak karena terkejut, kututupi kedua telingaku dengan tangan, aku pun mempercepat langkah kaki ini. Ku langkahkan kaki dengan pasti. Sebuah jalanan aspal sepi yang di kanan kirinya terdapat pohon pinus lah yang menemani kesunyianku.
BRPP! BRP! BRP!! Alas sepatuku beradu dengan aspal jalan.
WWFHH!!! Angin menyembul dan mengibaskan rambutku.
PTARR!! Petir kembali menyambar. Awan mendung telah bergelayut gelap dan siap memuntahkan airnya.
BRRSS!! Tiba-tiba air hujan mengguyur dengan derasnya. Aku meneduhkan diri di bawah salah satu pohon sekitaran area itu.

“Ah…eothoke….” Gumamku. Rambut panjangku mulai jatuh basah. Mantel hitamku juga tak cukup menepis hawa dingin karena angin yang berhembus kencang. Titik-titik air jatuh dari sela-sela ranting pohon. Aku menjulurkan tangan untuk menyentuh titik-titik itu. Tanpa sadar, setitik air luluh dari mataku.
“Jangan menangis.” Celetuk sebuah suara. Aku pun menengok ke arah suara tersebut. Tiba-tiba aku melihat sesosok namja tinggi yang berdiri tepat di samping kananku dan juga menjulurkan tangan untuk menyentuh hujan. Aku pun terkejut.
“Oppa…!” celetukku.
“Mianhae...” ucap namja tinggi itu yang kemudian memelukku. Mungkin memang berat untuk melupakan semua kejadian yang membuatku pilu. Namun bagaimana lagi, aku benar-benar telah jatuh hati padanya.
~SHADOW~
FLASHBACK
-AUTHOR POV-
Hujan mengguyur senja itu. Kwan Jiu yang mengenakan payung dan menjinjing sebuah kotak kue. Ia berjalan menuju taman kampus untuk memberi kejutan pada Chanyeol di hari jadi hubungan mereka yang kedua.
“Jiu-ya! Eodiga?” Tanya Sehun yang melihat Jiu berjalan menuju taman.
“Sehun-ah!” ucap Jiu yang mengangkat kotak kue untuk memperlihatkannya pada Sehun, sahabatnya. Sehun pun tampak tersenyum pada Jiu. Yeoja itu juga mengembangkan senyum manisnya dan kembali melangkah menuju taman.
“Jiu-ya…” gumam Sehun yang memandangi Jiu berjalan menjauh.
“Andaikan kau tahu perasaanku yang sebenarnya, Jiu-ya?” Batin Sehun yang tak lain sahabat Jiu sejak SMA, dan kini mereka kuliah di jurusan yang berbeda. Sehun mengambil konsentrasi dokter kejiwaan/psikiater, sedangkan Jiu mengambil konsentrasi ilmu komunikasi untuk mencapai cita-citanya menjadi seorang jurnalis handal.
Langkah Jiu pun sampai di sebuah taman kampus yang dihiasi cekungan danau yang airnya tampak menghijau. Terdapat beberapa gazebo di sekitaran danau. Jiu pun mengedar pandang ke beberapa gazebo tersebut. Gerimis yang mengguyur masih belum mereda senja itu.
“Ah! Oppa!” seru Jiu yang tersenyum dan hendak menghambur ke salah satu gazebo. Namun seketika senyumannya meredup. Di lihatnya Chanyeol tengah bersama seorang yeoja. Namja itu membelai rambut yeoja yang tak dikenal Jiu dan yeoja itu pun mendaratkan ciuman di pipi Chanyeol.
BRAKK!! Kotak kue yang di bawa Jiu pun terlepas dari tangannya. Seketika Chanyeol menengok kearah Kwan Jiu.
“Jiu-ya! Kwan Jiu!!” seru Chanyeol yang seraya mengejar Jiu yang berlari.
“Kau jahat! Kau jahat, Oppa!” gumam Jiu yang mengepalkan tangan di dekat hidung untuk menahan tangisannya. Hujan tak kunjung reda, justru semakin deras lama kelamaan. Jiu pun tak mampu memikirkan untuk menggenggam payung itu lagi. Seketika itu ia menjatuhkan payungnya.
BRP! BRP! BRP! Langkah kaki Jiu membuat beberapa genangan yang dilalui mencuatkan airnya.
“Jiu-ya?” gumam Sehun yang melihat sahabatnya melintas tanpa payung. Ia pun mengejar yeoja itu. Namun, di saat bersamaan, Sehun berpapasan dengan Chanyeol.
“Biar aku!” ucap Sehun yang menyentuh dada Chanyeol untuk menghentikan langkahnya. Setelah itu, Sehun lah yang meneruskan mengejar Kwan Jiu.
“Jiu-ya!” seru Sehun. Ia mengedar pandang ke sekitar. Langkahnya mengejar Jiu hingga keluar kampus.
“Hhhss! Hhss!” terdengar nafas Sehun terengah, tangannya pun mengusap bulir air hujan yang membasahi wajahnya. Tiba-tiba ia melihat sosok yeoja dari sudut matanya. Yeoja itu tampak tengah duduk di sebuah halte sepi sambil menenggelamkan wajahnya dengan kedua tangan. Rambut panjangnya tampak basah. Kemeja putih dan celana panjang yang dikenakan juga tampak basah kuyup.
“Jiu-ya?” celetuk Sehun yang duduk di sebelah Jiu. Beberapa kendaraan terlihat lalu lalang di jalan raya menerobos hujan lebat itu. Sehun semakin menggeser duduknya untuk mendekat pada Jiu. Hingga tangannya pun menyentuh bahu kanan Jiu dengan perlahan.
HUG!! Seketika Kwan Jiu memeluk Sehun dan menangis di bahu sahabatnya itu. Pada saat yang bersamaan, ternyata Chanyeol masih mengejar Jiu. Hingga pada akhirnya ia melihat yeojanya yang telah bersama Sehun di sebuah halte.
“Hhhhsh! Hhsshhh! Jiu-ya….” Gumam Chanyeol dengan nafas terengah. Air hujan yang mengguyur pun menetes melalui dagunya dan terjatuh ke tanah.
“HHhhgkk! Hhhgkk!! Apa aku tak pantas untuk dicintai, Sehun-ah?” ucap  Jiu sambil menangis hingga sesenggukan.
“Jiu-ya..?” celetuk Sehun sambil menepuk-nepuk punggung Jiu dan akhirnya juga membalas pelukan itu.
END FLASHBACK
~SHADOW~
-Kwan Jiu Pov-
“Kau tahu? gadis itu adalah gadis bisu yang kuceritakan padamu, Jiu-ya?” ucap Chanyeol.
“Mianhae Oppa, aku yang terlalu bodoh dan tak mau mendengarkan penjelasanmu. Aku hanya tak ingin kehilanganmu.” Ucapku yang kemudian memeluknya erat, tak ingin rasanya aku melepaskan pelukan itu.
Tiba-tiba hujan mereda, awan mendung menyingkir pergi, matahari pun menyembul dan memantulkan sinarnya pada ranting pohon yang basah. Aku berjalan berdua dengan kekasihku, Park Chanyeol, menyusuri aspal jalan yang basah menuju sebuah halte bus.
GREMM!! Bus yang kami tunggu pun berhenti di depan halte. Kami pun menaiki bus tersebut. Chanyeol terus menggandeng tanganku. Mataku mengedar pandang, kulihat tak ada satupun penumpang lain kecuali kami berdua.
“Apa hanya kita penumpang bus ini?” gumamku.
“Waeyo?” Tanya Chanyeol yang mendengar perkataanku, jelas saja, ia duduk tepat di sampingku.
“Anniyo….” Jawabku singkat. setelah itu, aku pun tertidur sambil menyandarkan kepala pada bahu Chanyeol. Kurasakan tangannya membelai wajahku, aku hanya terus terpejam dan menikmati sentuhannya. Hingga sepertinya beberapa halte telah kami lalui, namun tak ada satu penumpangpun yang naik kecuali kami.
“Jiu-ya! Kwan Jiu!” seru sebuah suara dalam telingaku. Aku pun terbangun dan membuka mata.
“Waeyo?” Tanya Chanyeol yang mendapatiku tiba-tiba terbangun.
“Seperti ada yang memanggilku, Oppa!” ucapku.
“Tak ada orang lain selain kita.” Ucap Chanyeol.
GREMMM!!! Bus pun berhenti.
“Kajja!” ucap Chanyeol yang menggandeng tanganku untuk turun.
“Dimana ini?” tanyaku yang melihat hamparan ilalang menyembul-nyembul tertiup angin.
“Bukankah kau tak ingin kehilanganku?” Tanya Chanyeol.
“Nde, Oppa!” jawabku. Namja itu pun menggandeng tanganku untuk menyusuri padang ilalang. kami berjalan kearah matahari senja yang hampir temaram. Aku berjalan di belakang Chanyeol yang terus menggandeng tanganku.
“Kwan Jiu!!” seru sebuah suara lagi yang memanggil namaku, aku pun menengok ke belakang. Kulihat sosok namja yang menghambur kearahku.
HUG!! Tiba-tiba ia memelukku dan mendekap erat tubuh ini hingga genggaman tangan Chanyeol pun terlepas dari tanganku.
“Khajima! Khajimayo (jangan pergi).” Ucap namja yang ternyata Oh Sehun. Wajahnya tampak kacau dan cemas.
“Mianhae, Sehun-ah, aku harus pergi bersama Chanyeol Oppa.” ucapku tepat di telinga Sehun.
“Andweyo!” ucap Sehun.
“Tak ada alasan untukmu menahannya pergi bersamaku, Sehun-nie.” celetuk Chanyeol yang menjulurkan tangannya untuk meraih tanganku lagi.
“Oppa…” gumamku yang kemudian beringsut untuk meraih tangan Chanyeol.
“Jiu-ya, khajima…!” ucap Sehun yang seraya meraih tubuhku. Tiba-tiba sesuatu yang lembut terasa menyentuh bibir ini hingga akupun terpejam.
WFFHHH!!! Angin kencang mendadak menyembul dan menerpa tubuhku. Seketika kedua mataku terbuka.
Beep! Beep! Beep! Terdengar suara yang berasal dari elektrokardiogram/pendeteksi detak jantung di samping tubuhku. Sebuah nasal kanula/ masker oksigen juga terpasang pada hidung dan mulutku. Tanganku bergerak dan meraih sosok yang tertidur di samping tubuhku.
“Sehun-ah?” gumamku. Nafasku menyembul pada masker itu. Kulihat, Sehun terlonjak kaget dan seraya memeriksa keadaanku. Jas putih dokternya memantul pada mataku, ia adalah dokter magang di rumah sakit itu.
“Jiu-ya! Gwenchana?” sergah Sehun. Rupanya ia menemaniku di rumah sakit selama aku mengalami koma tiga hari ini.
“Chanyeol Oppa??? eothoke….?” Gumamku yang memandang nanar kearah Sehun.
“Jiu-ya….” Gumam Sehun yang seraya mendekatkan wajahnya dan mencium keningku. Seketika air mata luluh dari sudut mataku. Aku mulai mengingat semuanya.
FLASHBACK
-AUTHOR POV-
Malam itu, Chanyeol meminta Jiu menemuinya di sebuah gang. Ada sesuatu yang ingin namja itu sampaikan dan jelaskan pada Kwan Jiu. Beberapa kali ia mengirim pesan pada Jiu untuk datang.
“Jiu-ya…jebalyo, ada yang ingin kujelaskan padamu.” Gumam Chanyeol yang berdiri sambil mondar-mandir di jalanan sepi. Jalanan itu berjarak tak jauh dari rumah Jiu, hanya saja letaknya yang berada di lereng bukit, sehingga jalanan itu begitu sepi.
Langit terlihat mendung dan hendak memuntahkan airnya.
GRRMM!! GRMM!! Tiba-tiba terdengar segerombolan suara motor yang di geber menuju jalan itu. Mereka tiba-tiba turun dari motor dan menghampiri Chanyeol yang berdiri mondar-mandir di dekat mobilnya.
BASSHTT!! Sebuah tinjuan melayang kearah wajah Chanyeol.
“Mwoya??” seru Chanyeol.
“Siapa yang mengijinkanmu memarkir mobil di area ini, huh?” ucap salah seorang anggota geng motor.
“Ini jalan umum, siapapun berhak!” seru Chanyeol.
BASHHT!! Pukulan dari anggota lain juga melayang kearah Chanyeol. Namja itu berusaha untuk membalas pukulan-pukulan itu. Akan tetapi jumlah mereka yang terlampau banyak, membuat Chanyeol kualahan. Tubuhnya di kunci oleh dua orang anggota geng motor, sedangkan anggota lain menghajarnya bertubi-tubi.
“Argghh!!” keluh Chanyeol yang mendapatkan pukulan tepat di ulu hati.
BRAK!! Chanyeol pun terjatuh ke tanah. Sudut bibirnya telah mencuatkan darah karena pukulan.
BASHTT!! Beberapa tendangan juga menghujam tubuh Chanyeol yang hampir tak berdaya.
PTARR!!! Kilatan cahaya petir yang menyambar tak menyudahi perlakuan geng motor terhadap Chanyeol.
“Oppa!!!” seru sebuah suara yang tiba-tiba menyembul di langit malam. Para anggota geng motor pun menengok kearah yeoja yang berteriak. Salah satu diantara mereka pun mengayunkan balok kearah belakang kepala Chanyeol.
“Andweyo!!” seru yeoja yang ternyata Kwan Jiu.
GLAKK!! Balok itu menghujam kepala Chanyeol hingga namja itu tersungkur diatas aspal jalan.
“Oppa!!” seru Jiu yang seraya berlari kearah Chanyeol.
GREMM!! GREMM!! Para anggota geng motor itu memacu motornya dan meninggalkan tubuh Chanyeol yang telah tergeletak tak berdaya.
Seketika cairan berwarna merah merembes di antara rambut Chanyeol yang hitam. Tangan Jiu gemetar saat mendapatinya.
“Hhhhhgk! Hhhggk! Oppa!” seru Jiu yang menatap mata Chanyeol yang mulai meredup sinarnya.
“Jiu-ya…jangan menangis.” Celetuk Chanyeol. Namja itu menghapus air mata yeoja yang memangku kepalanya. Usapan tangan Chanyeol membuat wajah Jiu terkena noda darah dari tangannya.
“Oppa….” gumam Jiu yang menggenggam tangan Chanyeol yang mengusap wajahnya.
“Hhhhh!!” tiba-tiba sebuah tarikan nafas dalam terdengar dari hidung Chanyeol dan membuat lehernya tampak mencekung.
“Oppa!” seru Jiu yang mendekap tubuh Chanyeol.
“Jiu-ya…percayalah, aku tak pernah mengkhianatimu…” ucap Chanyeol yang diikuti helaan nafas panjangnya, seraya dengan itu, matanya tertutup.
“Oppa! khajima!!!” teriak Jiu. Air matanya jatuh pada pelipis Chanyeol yang tubuhnya ia dekap. Air mata itu pun menyeka darah yang mengering di sekitarnya.
“Oppa!!! HHhhhgk Hhhhhggk!! Andweyo..” seru Jiu. Tangisannya memekakan malam sepi di tepi jalanan yang juga sunyi tanpa ada satupun kendaraan yang lalu lalang. Titik-titik air pun terjatuh dari langit kelam. Airnya menetes, menghujani Jiu yang masih memeluk Chanyeol. Butir itu semakin banyak dan lebat hingga menyeka darah yang tadi berleleran pada wajah putih Chanyeol. Hujan yang menggenang di sekitar tubuh Chanyeol pun berubah merah.
BRP! BRRP! BRPP! Tiba-tiba sebuah langkah kaki terdengar mendekat pada Kwan Jiu.
“Hhhss! Hhss!” nafas itu terdengar walau hujan mengguyur.
“Jiu-ya…” celetuk namja yang berlari mendekat yang ternyata Oh Sehun. Namja itu semakin mendekat untuk melihat keadaan Chanyeol yang berada dalam dekapan Jiu. Sehun menyentuh leher Chanyeol untuk memeriksa nadinya. Dahinya pun mengernyit ketika tak dapat merasakan denyut apapun.
CRRKK!! Tiba-tiba tubuh Sehun terduduk di atas jalan dengan genangan air diatasnya. Namja itu terhuyung lemah dan tak mampu berkata-kata lagi. Mulutnya menganga dan matanya menatap Chanyeol yang mulai memucat.
“Oppa!! khajima…!” ucap Jiu.
---SKIP---
Area pemakaman mulai sepi dari para pelayat. Ibu Chanyeol yang tadi sempat berulang kali pingsan pun juga sudah beringsut dari depan makam putranya. Wanita paruh baya itu sempat mencium kening Kwan Jiu sebelum benar-benar meninggalkan makam.
“Gomawo Jiu-ya, kau sudah memberinya cinta, dan kau adalah orang yang sangat dicintai olehnya.” Ucap Ibu Park Chanyeol pada Kwan Jiu.
“Ahjuma…” celetuk Jiu yang seketika menengok memandang Ibu Chanyeol yang telah berjalan pergi sambil di bantu oleh Sehun. Mata Kwan Jiu yang sendu berpadu dengan hidungnya yang memerah karena menangis sejak semalam. Namun angin di area pemakaman mulai mengeringkan bekas tangisan Jiu. Kala itu, langit tampak semakin menghitam dan mendung.
PTARR!! Tiba-tiba sebuah kilat menyambar di langit mendung.
WWFFH!! Sebuah angin tiba-tiba menyembul pada telinga Jiu.
“Aku akan selalu bersamamu, Jiu-ya…” ucap sebuah suara yang seraya membuat Kwan Jiu tersentak membelalakkan mata. Yeoja itu menengok ke arah angin yang menyembul pada telinganya. Matanya mengedar melihat ke sekeliling. Namun ia tak menemukan satu sosok pun disana. Hanya tinggal ia sendiri di makam itu. Akan tetapi Jiu pun tak mengindahkan suara yang tadi didengarnya. Ia lantas menyentuh nisan Chanyeol dan mulai beranjak pergi.
“Khajima!” bisik sebuah suara lagi yang menyembul pada telinga Kwan Jiu. Yeoja itu pun  tersentak dan seraya menyentuh bulu kuduknya yang tiba-tiba berdiri.
PTARR!! Petir pun kembali menyambar di langit. Kwan Jiu terlonjak karena terkejut, ia menutupi kedua telinganya dengan tangan dan  semakin mempercepat langkah kakinya sambil sesekali menengok ke belakang namun tetap tak dilihatnya seorang pun di tempat itu.
Ia langkahkan kaki dengan cepat dan pasti. Sebuah jalanan aspal sepi yang di kanan kirinya terdapat pohon pinus lah yang menemani kesunyiannya.
BRPP! BRP! BRP!! Alas sepatu Jiu beradu dengan aspal jalan.
WWFHH!!! Angin kembali menyembul dan mengibaskan rambut Jiu.
PTARR!! Petir kembali menyambar. Awan mendung telah bergelayut gelap dan siap memuntahkan airnya.
BRRSS!! Tiba-tiba air hujan mengguyur dengan derasnya. Yeoja itu hendak pun meneduhkan diri di bawah salah satu pohon sekitaran area pemakaman. Ia menyeberang jalan dengan tergesa.
TINN!!! Tiba-tiba sebuah mobil melaju kencang kearah Jiu.
BRAKK!!! Tubuh Jiu terpental melalui bagian atas mobil dan akhirnya terjatuh di atas aspal yang basah dan sedikit tergenang air hujan. Genangan air bersemu merah karena darah yang mengucur dari kepala Jiu. Tiba-tiba mata Jiu melihat setitik cahaya yang berpendar di depan matanya. Sesosok namja tinggi yang ia kenal melambai kearahnya.
“Oppa…” gumam Jiu yang matanya mulai meredup.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Terlihat Sehun kembali ke pemakaman setelah mengantar ibu Chanyeol. Ia merasa khawatir karena Jiu tak kunjung kembali ke rumah.
GRMM!!! Mobil yang menabrak Jiu pun melarikan diri. Seketika itu Sehun membawa mobilnya kearah Jiu yang tergeletak di atas aspal jalan.
“Jiu-ya? Kwan Jiu?” seru Sehun yang mendapati Jiu tak sadarkan diri. Ia pun lekas membawanya ke rumah sakit.
END FLASHBACK
-Kwan Jiu Pov-
“Jiu-ya…kau harus sembuh, masih ada orang yang mencintaimu.” Ucap Sehun tepat di telingaku.
“Sehun-ah….” gumamku yang menatap kedua mata Sehun. Namja itu pun mencium keningku lagi.
--SKIP—
-Satu Tahun Kemudian-
-Author Pov-
Salju musim dingin menyelimuti sebuah taman di kota Seoul. Malam itu seorang yeoja tengah duduk di salah satu bangku panjang yang terdapat di sana. Tubuhnya di balut mantel warna cream lembut dan sepasang sarung tangan yang tampak begitu hangat. Sesekali ia menggosok-gosokkan kedua tangannya dan meniupkan udara dari dalam mulutnya. Yeoja bernama Kwan Jiu itu pun merogoh saku mantelnya untuk mengambil ponsel.
“Ah…kenapa kau lama sekali, Sehun-ah!” keluh Jiu yang nafasnya terlihat menyembul di udara malam. Ia pun berdiri dan berjalan mondar mandir untuk menghilangkan rasa dingin. Di genggamnya ponsel yang menunjukkan pukul delapan malam itu. Ia tengah mencoba melakukan panggilan telepon pada namja bernama Sehun.
“Setidaknya jawablah teleponku, arrachi!” gumam Jiu yang masih terus mondar-mandir dan menggerakkan tangannya untuk menepis hawa dingin yang menusuk tulang.
BRPP!! Tiba-tiba tubuh Jiu menabrak sosok tinggi saat ia berbalik arah.
“Hhhhh!!” celetuk Jiu yang menarik nafasnya karena terkejut. Ponsel yang tengah melakukan panggilan telepon pun terjatuh ke tanah. Seketika itu Jiu hendak berbalik dan beringsut dari hadapan namja yang tiba-tiba berdiri di depannya. Terlihat beberapa orang lalu lalang memandangi Jiu dengan sebelah mata. Beberapa diantaranya berbisik dan mengira yeoja itu gila.

HAPP!! Tangan namja itu mencengkeram tangan Jiu yang tubuhnya hendak beringsut pergi.
“Chanyeol Oppa!!” seru Jiu, suaranya terdengar oleh Sehun yang menerima panggilan telepon Jiu.
“Jiu-ya!” seru Sehun dalam telepon.
Yeoja itu pun melepaskan cengkeraman tangan Chanyeol. ia menghambur kearah jalan raya. Di lihatnya lampu lalu lintas yang belum menghijau bagi pejalan kaki. Dari sudut mata Jiu, ia melihat Chanyeol yang terus menatap kearahnya.
BRP! BRP! Jiu melangkahkan kaki untuk menyeberang jalan dengan tergesa, padahal lampu lalu lintas belum menghijau baginya.
TIN!!!! Sebuah klakson panjang dan memekakan telinga terdengar dari mobil yang melaju kearah Jiu. Yeoja itu pun terkejut dan membelalakan mata.
HAP!!! Tiba-tiba seseorang meraih tubuh Jiu dan membawanya ke arah lain.
“Hhhss! Hhhss! Hhhss!” terdengar beberapa potong nafas terengah menyembul dari mulut Sehun, namja yang menyelamatkan Jiu. Namja itu tepat berada di bawah tubuh Jiu. Jiu pun dapat melihat jelas lekukan wajah Oh Sehun.
Deg! Seketika, Jiu terlonjak karena jantungnya berdegub kencang.
“Sehun-ah? gwenchana??” Tanya Jiu yang seraya bangkit dari atas tubuh Sehun yang tergeletak di atas aspal.
“Pabbo-ya!!” seru Sehun yang seraya bangkit.
“Mianhae…” celetuk Jiu. Yeoja itu menengok kearah Chanyeol yang tadi menemuinya di taman. Terlihat disana jika namja itu masih berdiri sambil memandangi Jiu yang bersama Sehun.
“Jiu-ya? Apa kau masih melihat sosok Chanyeol seonbae?” Tanya Sehun yang sempat mendengar Jiu mengucapkan nama Chanyeol dalam ponsel.
“Nde, Sehun-ah? Sampai kapan aku akan terus seperti ini?” celetuk Jiu. Ia mengalami sedikit depresi hingga terbayang-bayang akan sosok Chanyeol yang telah tiada.
“Tenanglah, aku psikiater yang dapat kau andalkan.” Ucap Sehun yang seraya meraih bahu Jiu dan menyeberang jalan dengan benar. Sekilas, Jiu kembali menengok kearah Chanyeol yang berdiri di taman, namun matanya sudah tak menangkap sosok itu lagi.
“Jiu-ya? Saranghae….” Celetuk Sehun lirih. Seketika itu langkah Jiu terhenti tepat di bawah sinar lampu jalan.
“Sehun-ah….?” ucap Jiu yang menatap kedua mata Sehun dengan lekat. Tangannya menyentuh dada, ada sesuatu yang bergerak-gerak aneh dalam dadanya.
Deg! Deg! Jantung Jiu berdebar lagi.
Sehun yang melihat Jiu tertegun diam pun beringsut perlahan dan meraih bahu Jiu lalu menjatuhkan yeoja itu dalam pelukannya.
“Perlahan kau akan mencintaiku lalu melupakannya.” Ucap Sehun yang memeluk Jiu dan membelai rambutnya. Jiu masih memegangi dadanya dan memandang lurus ke belakang tubuh Sehun.
“Oppa….?” celetuk Jiu yang melihat sosok Chanyeol berdiri di seberang. Yeoja itu pun memejamkan matanya dan menenggelamkan wajahnya di bahu Sehun.
“Sehun-ah, bantu aku untuk mencintaimu dan melupakannya.” Ucap Jiu yang merentangkan tangannya dan membalas pelukan Sehun. Malam itu, salju pertama pun turun.

-------------------------------------------THE END--------------------------------------------------------------